MasukSuara tangisan bayi terdengar saat Adrian dan Reina membuka pintu sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu ada sepasang suami istri dan satu wanita paruh baya di sana.
Si suami sedang menggendong seorang bayi, dan istrinya masih setengah duduk di ranjang perawatan selesai melahirkan. “Adrian, kamu sudah datang, Nak?” sapa wanita paruh baya itu. Adrian tersenyum tipis. “Hai Mam, gimana keadaanmu Kak?” sahutnya sambil menyapa kakak perempuannya. “Seperti kelihatannya, aku selamat melahirkan keponakanmu.” Wanita yang berbaring tadi adalah kakak perempuan Adrian. Sheila Purnama, kakak perempuan satu-satunya Adrian. “Hai Rein, makasih ya sudah datang.” Sheila melihat ke arah wanita di sebelah adiknya. “Selamat atas kelahiran anak pertamanya Kak Sheila dan Kak Bara.” Reina memberikan sebuah kado pada Sheila. Dia melirik ke arah Bara sekilas sambil tersenyum. “Nak Reina ini, kenapa repot-repot sekali,” ujar Mama Adrian, Delina. “Nggak repot kok, Ma,” sahut Reina lalu memeluk Delina dengan lembut seperti memeluk mamanya sendiri. Adrian tidak begitu tertarik, sebenarnya dia tidak memiliki perasaan apapun dengan Reina, tunangannya. Hanya karena orang tuanya yang memohon untuk menikah dengan keluarga mereka. Adrian terpaksa menerimanya, lagipula dia juga tidak memiliki kekasih. Namun, saat bertemu dengan Kanaya lagi. Perasaan Adrian mulai goyah. “Apa yang terjadi? Dia sampai ke dokter kandungan. Mungkinkah malam itu…” gumam Adrian dalam hati memikirkan Kanaya yang dilihatnya masuk ke dalam ruang pemeriksaan kandungan tadi. Adrian mulai teringat kejadian bulan lalu dengan Kanaya. Apa mungkin sesuatu sudah terjadi? *** Dokter memberikan sebuah foto hasil USG kepada Kanaya, dia meletakkannya di atas meja. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Wajahnya mulai kelihatan cemas, Kanaya sudah meremas tangannya di bawah meja. “Usianya sudah masuk minggu ke lima.” “M-minggu ke lima, dok?” Perasaan Kanaya campur aduk saat dokter mengatakannya. “Iya Bu,” jawab dokter yang bernama Risa itu. Dia melihat ke arah Kanaya yang sedari tadi menunduk dengan gelisah. Dokter Risa mulai menangkap sesuatu hal. “Bu Kanaya?” panggilnya lembut. Melihat Kanaya yang selalu menunduk membuat Dokter Risa menyimpulkan sesuatu. Kehamilan yang tidak diinginkan yang sering disebut accident pregnant. “Bu Kanaya?” panggilnya lagi, kali ini dengan nada lebih kencang. Kanaya langsung mengangkat kepalanya. “Ah! Iya dok?” jawabnya sambil gelapan. “Suami anda tidak mengantar anda?” “Maaf Dok?” Kanaya tersentak mendengar pertanyaan Dokter Risa. “Saya bertanya, apa suami anda tidak ikut ke sini?” ucap Dokter Risa. Kanaya kehilangan kata-kata, dia tidak tahu harus menjawab apa. Apa dia harus menjawab kalau dia belum memiliki suami. Lalu, bagaimana bisa dia hamil kalau tidak ada suami. Rasanya malu kalau mengatakan yang sebenarnya. “Ah… Itu…” jawabnya sambil menunduk lama memikirkan banyak alasan. Aduh gimana ini? Apa harus dia bilang kalau suaminya tidak bisa mengantar karena bekerja. Atau, haruskah dia bilang kalau suaminya ada di luar. Saat Kanaya sibuk memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaan Dokter Risa. Dia malah dikejutkan dengan ucapan Dokter Risa selanjutnya. “Di rumah sakit ini tidak melayani aborsi. Anda tahukan kalau aborsi itu ilegal?” “Maaf? Maksud dokter?” Kanaya mencoba memahami yang dikatakan Dokter Risa. “Kalau anda diam karena sedang memikirkan soal aborsi bayi anda. Silahkan pergi ke rumah sakit lain, karena di rumah sakit ini tidak melayani aborsi.” Kanaya menatap lurus Dokter Risa tanpa bisa mengatakan apapun. Dia cukup syok dengan tanggapan yang diberikan dokter itu. “Kenapa dia mengatakan soal aborsi? Apa maksudnya coba?” bisik Kanaya dalam hati. “Bu Kanaya, silahkan membuat keputusan segera sebelum perut anda membesar.” “Apa ada yang mau ditanyakan lagi? Kalau tidak ada, saya cukupkan sampai di sini. Pasien selan—” belum juga Dokter itu melanjutkan ucapannya, Kanaya sudah memotong. “Kenapa dokter bisa berpikiran seperti itu? Kenapa jahat sekali?” ujar Kanaya dengan mata yang tajam. “Maaf?” Dokter itu melihat ke arah Kanaya. Wajahnya seperti tak terima disebut jahat oleh Kanaya. “Bukannya anda ini seorang dokter kandungan? Tapi, kenapa menyarankan aborsi? Saya tahu saya memang hamil di luar nikah, dan ini memang bukan hal membanggakan. Tapi… mengatakan soal aborsi pada pasien yang datang. Bukannya itu jahat sekali.” Kanaya berkata dengan pelan namun tegas. “Bu Kanaya.. maksud saya…” Dokter Risa merasa bersalah. “Bayi di dalam kandungan saya, meski itu tidak diinginkan oleh ibunya sekalipun. Tapi, saya tidak bisa membiarkan sesuatu yang sudah hidup dalam diri saya untuk dihilangkan begitu saja. Dia juga berhak memiliki kehidupan. Apa saya salah?” Kanaya menatap lurus mata Dokter Risa. “Sepertinya anda sudah salah paham. Maksud saya bukan—” Kanaya langsung berdiri tak ingin lagi mendengarkan ucapan Dokter Risa. Menyebalkan sekali! Begitulah yang dirasakannya saat ini. Rasanya dia sudah direndahkan oleh dokter itu. Kanaya tahu apa yang dilakukannya adalah kesalahan, tapi… saran tentang aborsi itu sangatlah jahat. Kanaya keluar dari ruangan setelah mengambil hasil USG miliknya. Saat dia keluar dari ruangan itu. Betapa terkejutnya dia melihat Adrian yang berdiri di depan ruangan. Mata mereka bertemu seketika. Jantung Kanaya seolah berhenti. “K-kenapa Anda ada di sini?” ucapnya terbata. “Kamu sendiri kenapa ada di sini?” Bagaimana ini? Apa yang harus Kanaya katakan pada Adrian? ***Bagaimana caranya Kanaya percaya kalau hubungan antara Adrian dan Reina sudah berakhir, kalau di depan matanya wanita itu terlihat mesra dengan Adrian. Kanaya diminta Pak Damar mengantar kopi ke ruangan Adrian. Dia juga tidak tahu kenapa harus dirinya yang membawakan minuman ini ke ruangan wakil direktur. Karena ini permintaan Pak Damar, kepala divisi marketing. Kanaya tidak enak jika menolak. Kanaya menghentikan langkahnya di depan ruangan Adrian. Matanya langsung menangkap dua orang di dalam ruangan itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat ketika melihat apa yang terjadi. Dia melihat Adrian sedang mengunci Reina di sudut ruangan. Posisi mereka seperti sedang… berciuman. Seketika itu Kanaya membalikkan badannya. Entah kenapa dadanya terasa ada yang berlubang di sana. Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukan. “Apa aku harus masuk sekarang?” tanyanya dalam hati. Dia ingin melangkah pergi, tapi dia teringat tugas Pak Damar untuk membawakan minuman. Kanaya menghela napasnya
“Sarapan dulu, Nay. Ini sudah ibu siapkan!” seru Ibu Kanaya. Wanita paruh baya itu sudah membuat nasi goreng dan juga telur ceplok untuk sarapan anak-anaknya. Dia menatap menu sarapan itu di meja kecil depan televisi. Kanaya masih ada di kamarnya, memasukkan keperluan kantornya ke dalam tas. Dia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, celana kain warna khaky dengan atasan sederhana berwarna ivory. Wanita itu memoles sedikit lip tint di bibirnya sebelum keluar. Menyemprotkan parfum ke badannya, lalu setelah itu membuka pintu kamar. Matanya langsung disambut oleh Ibunya yang menata piring untuk mereka sarapan. Tiba-tiba saja pertanyaan Adrian semalam mengingatkannya. Apa yang disukai ibumu? Kanaya masih tidak tahu apa yang disukai wanita yang melahirkannya itu. Dia menggigit bibir bawahnya, apa perlu dia menanyakan langsung apa yang disukai ibunya sekarang?Dia mengangguk sesaat lalu melangkah mendekat pada sang ibu. Duduk di sisi meja, matanya lurus melihat sang Ibu menyendok nasi go
Malam itu sungguh cerah, ribuan bintang menghampar memenuhi langit. Kanaya mendesah berat sambil melihat ke luar jendela. Kurang dari seminggu dia akan menikah dengan Adrian. Pria yang sedang menyetir di sebelahnya sekarang. Kanaya mencuri pandang ke arah pria yang sedang fokus menatap jalan itu. Adrian terlihat tenang, berbeda sekali dengan Kanaya yang penuh dengan kekhawatiran. Kenapa rasanya pundak Kanaya begitu berat. Menikah dengan Adrian dan hidup bersamanya, tak pernah ada di bayangan Kanaya. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nay?” Adrian sudah menghentikan mobilnya. Mereka sudah sampai di depan rumah kos Kanaya. Wanita itu sampai tak sadar sudah berapa lama dia melamun. “Ehem.” Kanaya berdehem mengalihkan kecanggungannya. “Hanya memikirkan ini dan itu.” Jawabnya. “Soal pernikahan?” Adrian seolah membaca pikirannya. “Kamu tidak perlu khawatir, Kanaya. Serahkan saja padaku.” Kanaya tidak bisa menjawabnya selain mengangguk. Setelah itu Adrian memegang tangannya. Kanaya te
Canggung. Rasanya Kanaya susah sekali bernapas saat ini. Tatapan orang tua Adrian seolah ingin melubangi dirinya. Apalagi tatapan dari Presdir LW Group itu seolah melihat Kanaya sebagai musuh yang masuk ke dalam teritorialnya. Januari Prakasa bersikap dingin saat Adrian mengenalkan Kanaya sebagai calon istrinya. Sedangkan Dewi, ibunda Adrian menatapnya dengan tatapan yang dalam meski sama tidak merespon saat Kanaya memperkenalkan dirinya. “Apa pekerjaan orang tuamu?” tanya Januari akhirnya buka suara. Kanaya mendongak, wajahnya terlihat menegang saat ditanya oleh Januar. Dia menelan ludah, lalu menarik napas panjang sebelum menjawab. “Ibu saya tidak bekerja, beliau seorang ibu rumah tangga.” Jawab Kanaya pelan. “Bagaimana dengan ayahmu?”Kanaya terdiam cukup lama, dia tidak ingin membahas soal ayahnya yang sudah pergi entah kemana meninggalkan keluarganya. Dia meremas tangannya yang sudah mulai berkeringat. Sampai akhirnya sebuah tangan muncul dan menggenggam erat tangannya. Ka
Pagi itu Kanaya berdiri di depan rumah kos nya, dengan dress selutut berwarna ivory. Dia sengaja menata rambutnya, menggerai dan menyematkan jepit mutiara di sisi kepalanya. Sesekali dia mengatur napasnya, menggembungkan mulutnya. “Brrr, aaa.. aa… aaa…” Kanaya melakukan senam mulut agar tidak terlalu tegang. Karena pagi ini Adrian mengajaknya bertemu dengan orang tuanya. Pada akhirnya hari itu tiba juga. Kanaya benar-benar gugup sekarang, padahal Adrian belum juga tiba. Kemarin, mereka bertemu dan Adrian mengajak Kanaya untuk berbelanja dan mencuci rambutnya ke salon agar penampilannya lebih baik sekarang. Pria itu juga membelikan Kanaya tas dan heels yang dikenakannya sekarang. Saat wanita itu membayangkan bagaimana nanti saat dia bertemu dengan kedua orang tua Adrian. Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, seorang pria turun dari arah lain dan menghampirinya. Pria itu Adrian, dengan kemeja warna navy, dia tak mengenakan dasi, penampilannya lebih santai namun tetap terlihat so
Mereka berempat keluar dari gedung karaoke hampir tengah malam. Kanaya, Lala, Nathan, dan Adrian mengakhiri malam mereka. Saat di luar gedung karaoke, Kanaya masih mengobrol dengan Lala. Nathan dan Adrian mengambil mobil mereka. Tak lama kemudian, kedua pria itu muncul di hadapan Kanaya dan Lala. Nathan langsung menarik tangan Kanaya. “Yuk! Aku antar kamu pulang,” katanya. Tapi, Kanaya mematung. Bukan karena menolak ajakan Nathan, tapi karena sebelah tangannya yang lain sudah ditarik oleh Adrian. Secara bersamaan Nathan dan Adrian sama-sama menarik tangan Kanaya. Membuat wanita itu kebingungan sendiri, begitupun Lala yang menoleh ke arah Nathan dan Adrian dengan tatapan heran. Karena tidak mau menimbulkan kecurigaan Lala. Kanaya menarik kedua lengannya dari Adrian dan Nathan. Kedua pria itu terlihat kecewa dan saling pandang dengan ekspresi tak bisa diartikan. “La, aku pulang bareng kamu aja ya?” ucap Kanaya pada Lala. “Boleh aja sih, tapi kan rumahku di dekat sini aja. Kosan k







