Home / Romansa / Menjahit Hati yang Retak / bab 184 rindukan kasih ibu

Share

bab 184 rindukan kasih ibu

Author: kim sujin
last update Last Updated: 2026-01-07 07:51:56

Mata Nolan sempat berbinar penuh semangat, tapi seiring ia mendengar kata-kata Zoey, cahaya itu perlahan meredup.

Zoey tak berlama-lama. Ia langsung berjalan menuju ruang kelas kecil.

Sementara itu, di ruang kepala sekolah, Fitch memeluk putranya erat dan dengan lembut mengusap puncak kepalanya.

"Sakit nggak?"

"Daddy, nggak. Nggak sakit," jawab Nolan pelan.

"Bocah tolol itu sengaja dorong kamu."

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan mutlak.

Nolan tidak menjawab, hanya menundukkan kepala perlahan.

Fitch sudah melihat detail dari rekaman CCTV dan bahkan membaca gerakan bibir si anak yang mendorong Nolan. Anak itu membisikkan tiga kata ke telinga putranya: “Anak aneh.” Jelas, dorongan itu disengaja.

Hari itu adalah hari pertama Nolan masuk kelas, dan dia langsung jadi pusat perhatian di antara anak-anak lainnya.

Fitch sendiri cukup terampil membaca gerak bibir, dan dari rekaman itu, dia tahu persis apa yang dikatakan anak itu.

Perasaan di antara anak-anak memang murni—begitu juga dengan k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 187 semuanya terlalu mendadak

    Zoey sudah berada di kelas selama satu jam saat perasaan tak enak mulai merayap—seolah ada sesuatu yang ia lupa lakukan hari ini. Tapi sekeras apa pun ia mencoba mengingat, tak satu pun yang terlintas jelas di pikirannya.Malam sebelumnya terlalu kacau—orang tuanya mendadak menang hadiah besar dari undian, ditambah lagi keputusan Henry soal studi ke luar negeri. Semua itu cukup membuat pikirannya goyah.Ia ingat harus makan siang dengan kedua keluarga nanti, jadi ia cepat-cepat menelpon Curtis untuk mengingatkan, lalu kembali menuju ruang kantornya.Meski ia bertanggung jawab atas kelas, taman kanak-kanak di Zion City ini tergolong elit, dengan sistem guru yang bergilir, dan untungnya, siang itu adalah giliran istirahatnya.Begitu memasuki ruang kerjanya, ia mendapati seseorang sedang duduk di meja kerjanya—Fitch.Sejak kemarin, setelah mengantar Nolan, pria itu tampaknya betah berkeliaran di sekolah, seperti tak punya pekerjaan lain. Cukup aneh untuk seseorang sekaya dia, yang seha

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 186 Mommy nggak mau aku?

    Zoey sangat menginginkan tidur, tapi suara deru mesin mobil di luar membangunkannya.Ia bangkit dan menyingkap tirai. Di vila seberang rumahnya, tampak aktivitas yang sibuk. Orang-orang mondar-mandir membawa barang keluar-masuk, seperti sedang mengosongkan rumah secara diam-diam di tengah malam.Zoey mengernyit. Apakah tetangga mereka pindah? Tapi dia sama sekali tak pernah dengar kabar kalau rumah itu akan dijual.Kemudian ia melihat para pekerja membersihkan dan menata tempat itu, membawa masuk perabotan mewah satu per satu.Zoey berdiri sejenak di balkon, penasaran siapa yang akan menempati rumah megah itu.Akhirnya, ia kembali ke tempat tidur dan tertidur.Keesokan paginya, saat sedang sarapan di lantai bawah, ia mendengar Miranda berbicara sambil menyiapkan koper, “Rumah seberang udah ada penghuninya. Ibu sempat tanya-tanya—ternyata rumah itu nggak pernah benar-benar dijual. Ada orang kaya yang langsung datang, kasih empat juta tunai. Jauh di atas harga pasaran. Penjualnya lang

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 185

    "Zoey, ini kesempatan yang selama ini aku tunggu, dan aku nggak mau melewatkannya."Pada titik itu, apalagi yang bisa disalahpahami oleh Zoey?Henry sudah mengambil keputusan. Kini, dia hanya menyampaikannya.Mereka berdua orang dewasa—sama-sama paham betapa pentingnya karier. Hubungan mereka juga masih sangat baru.Henry tidak akan mengorbankan kesempatan ini demi dirinya.Zoey merasakan perih yang halus namun tajam saat Henry melanjutkan, "Kamu mau ikut pindah ke luar negeri bersamaku?""Maaf, aku nggak bisa meninggalkan orang tuaku. Henry, maksudmu... kita putus?"Keheningan Henry berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya ia tersenyum kecut."Aku nggak mau putus denganmu, Zoey. Mungkin kamu nggak percaya, tapi aku benar-benar menyukaimu. Tapi kalau aku menyerah demi kamu, aku takut nanti aku bakal menyesal. Atau mulai mempertanyakan kenapa kamu ada dalam hidupku. Kita harus jadi diri kita sendiri dulu... sebelum bisa jadi pasangan yang utuh."Ia mengulurkan tangan perlahan, meng

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 184 rindukan kasih ibu

    Mata Nolan sempat berbinar penuh semangat, tapi seiring ia mendengar kata-kata Zoey, cahaya itu perlahan meredup.Zoey tak berlama-lama. Ia langsung berjalan menuju ruang kelas kecil.Sementara itu, di ruang kepala sekolah, Fitch memeluk putranya erat dan dengan lembut mengusap puncak kepalanya."Sakit nggak?""Daddy, nggak. Nggak sakit," jawab Nolan pelan."Bocah tolol itu sengaja dorong kamu."Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan mutlak.Nolan tidak menjawab, hanya menundukkan kepala perlahan.Fitch sudah melihat detail dari rekaman CCTV dan bahkan membaca gerakan bibir si anak yang mendorong Nolan. Anak itu membisikkan tiga kata ke telinga putranya: “Anak aneh.” Jelas, dorongan itu disengaja.Hari itu adalah hari pertama Nolan masuk kelas, dan dia langsung jadi pusat perhatian di antara anak-anak lainnya.Fitch sendiri cukup terampil membaca gerak bibir, dan dari rekaman itu, dia tahu persis apa yang dikatakan anak itu.Perasaan di antara anak-anak memang murni—begitu juga dengan k

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 183 pengasuh pribadi

    Zoey kembali ke ruang kerjanya, mengambil sebutir permen, lalu berjalan menuju ruang perawat. Di dalam, bocah kecil yang tadi mendorong Nolan masih menangis, air matanya mengalir deras seperti keran bocor.Zoey menepuk kepala anak itu lembut. "Kamu keluar dulu, ya. Ibu mau bicara sebentar sama Nolan."Anak itu mengangguk sambil terisak, lalu berjalan keluar dengan langkah berat.Zoey memandang Nolan yang duduk di ranjang—wajahnya jauh lebih tak nyaman daripada sebelumnya. Rasa bersalah menyelinap ke dalam dadanya."Nolan, masih sakit nggak? Mau permen?"Dia meraih tangan Nolan dan meletakkan permen itu di telapak kecilnya.Nolan menunduk, menatap permen berwarna merah muda itu. Bulu matanya merunduk, dan air mata kembali mengalir perlahan.Zoey tertegun, lalu langsung panik.Ia mengambil tisu dari samping dan buru-buru menghapus air mata Nolan."Maaf ya, Nolan. Tadi Ibu nggak bermaksud ngomong seperti itu. Ibu cuma... nggak setuju dengan cara Daddy kamu menangani semuanya. Ucapan I

  • Menjahit Hati yang Retak   bab 182 jangan lampiaskan ke Nolan

    "Aku tahu aku lalai kali ini, jadi aku bawa si kecil untuk minta maaf."Wajahnya tampak tulus saat berbicara kepada Tuan Haskins, "Anak-anak tetaplah anak-anak, Tuan Haskins. Bahkan di prasekolah, guru tidak bisa jadi malaikat pelindung setiap saat. Kadang mereka tersandung di lantai yang datar—kami tak bisa mencegah setiap lecet. Luka kecil itu bagian dari proses tumbuh besar, bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan."Nolan, yang duduk di atas ranjang, bisa merasakan ketegangan yang mulai meningkat. Ketidaknyamanannya makin menjadi, hingga ia berkata, "Daddy... Daddy, nggak sakit kok."Ucapannya berkata begitu, tapi sorot matanya menyimpan kesedihan yang hampir tumpah keluar.Wajah Fitch menggelap, suaranya berubah jadi datar dan tegas, "Aku mau ketemu orang tua anak itu.""Tuan Haskins, kalau Nolan begitu berharga, mungkin lebih baik dia disimpan dalam gelembung di rumah saja daripada sekolah prasekolah," balasnya sengit.Ucapannya tepat sasaran. Zoey bisa merasakan jari-jari No

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status