MasukZoey menatap ponselnya dengan tidak percaya. Baru semalam, saat ia meninggalkan rumah sakit, Tyler telah memastikan kabar terburuk: Fitch sudah tiada. Tapi sekarang, pesan misterius itu seakan menggugurkan semua yang sudah ia yakini. Tanpa penjelasan panjang, hanya sebuah perintah ringkas dan lokasi: vila pribadi milik Ian Ramond. Pesannya jelas—dan dingin—mengisyaratkan bahwa Fitch entah bagaimana... masih hidup?
Suara Cornelia dari seberang telepon membuyarkan lamunannya.“Zoey, ini permintaan langsung dari Tuan Raymond agar kamu yang merawat Fitch. Kamu kenal dia dari mana?”Pertanyaan itu membuat jantungnya berdetak makin cepat. Ia menggenggam ponsel lebih erat, mencoba menenangkan napas yang mulai tak beraturan. “Kami pernah bertemu beberapa kali dalam urusan pekerjaan,” jawabnya selembut mungkin, berusaha terdengar tenang.Cornelia tidak terdengar curiga. Lagipula, sebagai asisten pribadi Maja, Zoey meFitch mengerutkan kening dan melangkah maju beberapa langkah, mencoba menarik Zoey ke arahnya.Namun Zoey segera mundur, menghindari sentuhannya dengan alis yang berkerut. Ia benar-benar tak bisa memahami Fitch lagi. Dengan kekayaan dan wajah tampan yang dimilikinya, mengapa pria ini terus-terusan memperumit hidupnya?Ekspresi Fitch menjadi semakin gelap saat melihat Zoey menghindarinya. Ia perlahan menarik kembali tangannya yang kosong, lalu terkekeh pelan—namun tidak ada tawa di matanya.Menangkap situasi yang tak menyenangkan itu, Henry, sebagai sesama pria, tak bisa menahan emosinya. "Zoey, dia menyakitimu?"Zoey hendak menggeleng, tapi Henry sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya, memeriksa bekasnya. Saat melihat tanda merah di sana—jelas bekas genggaman atau borgol—suaranya langsung berubah dingin. "Dia menyiksamu?"Zoey buru-buru menggeleng, tak ingin memperburuk keadaan. "Tidak, Henry, kami hanya—"Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, suara ding
Jari-jari kecil Nolan Haskins mencengkeram erat seprai tempat tidurnya. Meskipun masih muda, ia bisa melihat dengan jelas—Momy tidak menyukai Daddy. Sekarang ada seseorang yang mencoba merebut Momy, dan daddy terlihat panik.Nolan juga merasa panik, tapi yang lebih membuatnya takut adalah kemungkinan bahwa—meskipun Mommy tahu segalanya—Momy tidak akan mengubah keputusannya. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi, tidak tahu harus berkata apa.Fitch Haskins memeluk Nolan, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. “Tenang, Nak… coba istirahat dulu, ya.”Nolan menundukkan bulu matanya dan tetap diam.Fitch menyelimutinya dengan hati-hati lalu bangkit dan berjalan ke arah tangga.Begitu tiba di lantai bawah, matanya langsung jatuh pada Zoey March yang duduk di sofa. Satu tangannya diborgol ke rak di sampingnya, membuatnya tidak mungkin melarikan diri. Wajahnya terlihat tegang dan penuh tekanan. Saat Fitch mendekat, ekspresinya semakin gelap.Fitch duduk di sampingnya, terdiam selama s
Jantung Zoey berdegup kencang, telapak tangannya terasa kesemutan.Barulah setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan, Zoey melangkah mundur. Fitch menurunkan pandangannya, ujung jarinya menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya."Apa yang perlu ditakutkan? Aku tidak akan menyakitimu.""Tuan Haskins memang benar, tapi mungkin... jauh di dalam hati, aku merasa kau bisa saja menyakitiku?"Ia memang sudah melupakan, tapi tubuhnya masih mengingat tamparan yang pernah ia terima darinya saat makan malam Thanksgiving keluarga Haskins. Fitch menghentikan gerakannya, terdiam. Zoey tak ingin berpanjang kata dengannya, lalu berjalan mencari kursi untuk duduk. Fitch tampak membeku di tempatnya, kata-kata Zoey seperti belati yang menusuk tepat ke dadanya.Sekarang dia sudah jadi gadis yang cerdas, pikirnya. Ia mencoba memancing ingatannya, tapi Zoey membalasnya dengan hantaman yang lebih kuat. Sayangnya, Zoey benar-benar tak ingat, jadi ia tak pernah bisa menangkap maksud sebenarnya
Fitch dengan hati-hati meletakkan anaknya di kursi penumpang. Zoey langsung meraih lengannya. “Biar aku yang gendong dia di kursi depan.”Fitch menatapnya sejenak, tapi tidak berkata apa-apa.Mobil melaju kencang menuju rumah sakit, dengan Nolan yang meringkuk dalam pelukan Zoey—seperti segumpal kerapuhan kecil yang menggigit hati.Begitu mereka tiba di UGD dan Nolan didorong masuk dengan ranjang roda, Zoey akhirnya tak bisa lagi menahan kekhawatirannya.“Tuan Haskins, apakah Nolan punya kondisi khusus lainnya? Kalau iya, mungkin dia memang tidak cocok untuk penitipan anak.”“Apa maksudmu?” tanya Fitch, alisnya langsung berkerut karena bingung.Zoey mengerutkan kening. “Aku hanya bicara berdasarkan pengamatan. Dia kelihatan tidak menikmati berinteraksi dengan anak-anak lain. Saat dia sakit, dia diam saja, tidak bilang apa-apa—dan itu bisa berbahaya. Mungkin lebih baik dia dirawat di rumah saja.”“Fitch,” lanjutnya, “kamu sendiri bisa lihat, kan? Dia nggak mau merepotkan siapa pun.”
Fitch langsung menyadari ada yang tidak beres dengan Zoey dan bertanya dengan suara lembut, “Kamu nggak enak badan?”Zoey tidak menjawab, hanya secara refleks meraih gelas air di depannya. Tapi air itu sudah terlalu lama dibiarkan, dan kini terasa dingin. Tepat saat ia hendak berbicara, Fitch tampaknya sudah lebih dulu membaca kebutuhannya. Ia memanggil pelayan dan meminta segelas air hangat.Bibir Zoey sudah memucat, dan ia bahkan tak punya tenaga untuk menepis pria yang selama ini ia benci.Fitch berdiri dan keluar, sementara Zoey menyandarkan dahinya di lipatan lengan, menunduk lemas di atas meja.Tak lama kemudian, Fitch kembali membawa sekotak ibuprofen. Ia membuka bungkusnya, lalu dengan lembut mengangkat kepala Zoey, menyuapkan satu butir obat ke mulutnya, lalu menyusulnya dengan seteguk air hangat.Bulu mata Zoey bergetar, dan tangannya sempat gemetar mencoba mendorongnya pergi.Namun Fitch kembali memanggil pelayan, meminta mereka merapikan kursi, lalu melepaskan jasnya da
Zoey sudah berada di kelas selama satu jam saat perasaan tak enak mulai merayap—seolah ada sesuatu yang ia lupa lakukan hari ini. Tapi sekeras apa pun ia mencoba mengingat, tak satu pun yang terlintas jelas di pikirannya.Malam sebelumnya terlalu kacau—orang tuanya mendadak menang hadiah besar dari undian, ditambah lagi keputusan Henry soal studi ke luar negeri. Semua itu cukup membuat pikirannya goyah.Ia ingat harus makan siang dengan kedua keluarga nanti, jadi ia cepat-cepat menelpon Curtis untuk mengingatkan, lalu kembali menuju ruang kantornya.Meski ia bertanggung jawab atas kelas, taman kanak-kanak di Zion City ini tergolong elit, dengan sistem guru yang bergilir, dan untungnya, siang itu adalah giliran istirahatnya.Begitu memasuki ruang kerjanya, ia mendapati seseorang sedang duduk di meja kerjanya—Fitch.Sejak kemarin, setelah mengantar Nolan, pria itu tampaknya betah berkeliaran di sekolah, seperti tak punya pekerjaan lain. Cukup aneh untuk seseorang sekaya dia, yang seha







