Share

Bab 3

Penulis: Camilia
Aku hampir berlari meninggalkan gedung sekolah. Setelah meloncat masuk ke mobil yang datang menjemputku pulang, barulah jantungku yang berdegup kencang perlahan mereda.

Ponsel di sakuku bergetar. Itu kakakku.

"Blaire! Gimana, gimana? Soal yang terakhir kali aku bilang ke kamu, sudah dipikirkan belum?" Suara kakakku yang jernih dan penuh desakan terdengar dari ujung telepon.

"Nilaimu sebagus itu …. Kalau kamu bersikukuh ingin tetap belajar finansial di dalam negeri …. Duh pelajaran nggak guna begitu cuma buat boros uang saja! Datang ke Belanda buat belajar komunikasi saja. Anggap saja kamu datang buat temani aku ya?"

Aku menggenggam ponsel, tetapi di depan mataku justru terbayang kotak buku lama milik ibuku. Di dalamnya tersusun rapi catatan-catatan tentang aksi-aksi heroiknya saat menjadi jurnalis dulu.

Sejak kecil, aku selalu suka membolak-balik buku-buku itu, merasa ibuku adalah orang paling berani di dunia. Terpengaruh olehnya, aku jatuh cinta pada profesi itu dan bertekad belajar komunikasi.

Namun, hanya karena Nicky ingin masuk Universitas Bakrie dan mengambil jurusan finansial, aku mengubah arah studiku demi bisa bersamanya.

"Kak." Aku memotong bujuk rayunya yang tak ada habisnya. Suaraku masih agak serak, tetapi terdengar sangat jelas. "Aku sudah memutuskan untuk pergi."

Di seberang telepon langsung hening. Setelah beberapa detik, kakakku baru balik bertanya dengan tidak percaya, "Serius? Kamu yakin? Kalau begitu ... Nicky gimana? Kamu bisa melepasnya?"

Nicky ya .... Aku menunduk menatap gelas minum kosong di tanganku, tiba-tiba teringat kejadian pagi ini saat jam istirahat.

Tenggorokanku kering sekali, tetapi dispenser air di sekolah rusak. Aku tak kunjung bisa mengisi air.

Namun, aku justru melihat Nicky dengan hati-hati menyerahkan airnya kepada Cliona, lalu berkata pelan, "Minumnya pelan-pelan. Hati-hati panas."

Saat itu aku sibuk mengerjakan soal-soal yang salah sampai tidak memikirkannya lebih jauh.

Di momen ini, sosoknya bertumpuk dengan ingatanku tentang remaja yang dulu selalu langsung menyadari kebutuhanku, lalu segera bangkit untuk mengambilkan air bagiku.

Perhatian yang dulu hanya aku miliki seorang diri, kini telah diberikan utuh kepada orang lain. Aku berbicara ke ponsel. Suaraku sangat pelan, tetapi amat tegas.

"Dia sudah punya orang yang dia sukai. Aku nggak akan mendekat lagi." Setelah mengatakan itu, aku menutup telepon dan menyelipkan gelas kosong itu ke bagian terdalam tasku.

Setelah sampai di rumah, aku memberi tahu ayah dan ibuku tentang rencanaku untuk kuliah ke luar negeri.

Begitu mengetahuinya, mereka sangat gembira dan segera menyiapkan segala keperluan keberangkatanku.

Kemudian, mereka bilang dengan nilaiku, begitu lulus SMA, aku sudah bisa langsung berangkat untuk mulai kuliah.

Jarak menuju kelulusan tinggal tiga bulan. Aku tiba-tiba mengembuskan napas lega. Asal bertahan tiga bulan saja, aku tidak akan lagi punya hubungan apa pun dengan Nicky.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 12

    Kami menetap di sebuah kota pesisir yang tenang.Aku diterima bekerja sebagai konsultan berita internasional di sebuah media ternama, sementara Miguel membuka rumah sakit pribadinya.Kami pun memutuskan untuk menikah. Kami hanya mengundang keluarga terdekat dan beberapa sahabat seperjuangan, dengan lokasi di sebuah pulau.Pada hari pernikahan, matahari bersinar cerah dan angin laut berembus lembut. Aku mengenakan gaun panjang satin putih sederhana, rambutku disanggul longgar. Miguel memandangku. Kelembutan dan keyakinan di matanya lebih bermakna daripada seribu kata.Tanpa upacara yang rumit, di bawah kesaksian keluarga dan sahabat, kami saling mengucapkan janji sederhana.Tepat ketika pembawa acara mengumumkan upacara selesai dan Miguel menunduk hendak menciumku, dari luar halaman terdengar keributan disertai teriakan serak dan histeris."Blaire, kamu mau menikah? Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?"Semua orang menoleh ke arah suara itu. Aku melihat sosok yang dicegat satp

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 11

    Sejak saat itu, Nicky benar-benar tidak pernah lagi muncul dalam hidupku. Kabarnya, tak lama kemudian dia dipaksa keluarganya untuk kembali ke tanah air. Bagaimana persisnya, aku tidak lagi peduli.Hidupku dipenuhi oleh hal-hal yang tidak hanya lebih luas dan lebih berat, tetapi juga sarat makna. Aku berhasil mewujudkan impianku menjadi seorang jurnalis perang.Setelah lulus di Belanda dengan prestasi gemilang, aku secara aktif mengajukan diri untuk pergi ke sudut-sudut dunia yang dipenuhi asap mesiu dan tangisan orang-roang.Di tengah medan yang hancur, aku berjalan bersama warga sipil yang melarikan diri dengan panik. Di tengah angin pegunungan yang kering, aku merekam wajah-wajah lelah dan kosong para tentara. Di parit-parit yang tertutup salju dan es, aku mendengarkan kerinduan para prajurit muda pada kampung halaman mereka.Aku telah melihat terlalu banyak tatapan kosong orang-orang yang kehilangan segalanya, tangan-tangan gemetar yang mencari keluarga di antara reruntuhan, bunga

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 10

    Di sudut foto itu, sebuah siluet samping dengan senyuman cerah seolah-olah membelah dunianya begitu saja. Itu Blaire!Hampir seketika, semua halusinasi yang selama ini menghantuinya surut seperti air pasang. Dia menatap tajam siluet samar itu. Rongga matanya yang kering kembali terasa panas.Dia menemukannya! Akhirnya, dia menemukan Blaire!Dia segera memesan tiket penerbangan paling awal ke Belanda. Di dalam pesawat, dia berulang kali membayangkan adegan pertemuan kembali. Dia ingin mengatakan pada Blaire bahwa dirinya telah salah, bahwa dia menyesal, bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Blaire.Dia percaya, selama dia muncul, selama dia cukup tulus, Blaire yang sejak kecil selalu mengikutinya dan hanya memandangnya, pasti akan melunak.Kemudian tibalah saat di mana dia berdiri di depan kafe itu, saat di mana dia akhirnya benar-benar melihat Blaire yang hidup dan nyata. Hatinya yang selama ini melayang tak menentu, yang berada di ambang kehancuran, secara ajaib kembali menemukan pijakan.

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 9

    Punggung itu terasa sangat familier. Dua tahun lalu, Nicky juga menyaksikan Blaire pergi dengan cara yang sama, tanpa ada satu pun cara untuk menghentikannya.Lengan kuat petugas keamanan bandara mencengkeramnya, sementara para penumpang di sekeliling memandang dengan tatapan terkejut bercampur sedikit rasa jijik. Nicky meronta, meraung memanggil sampai suaranya serak. Namun, dia hanya bisa menatap punggung yang dikenalnya itu menghilang di ujung lorong tanpa sedikit pun keraguan."Blaire ...!" Akhirnya, dia dilempar keluar dari lobi bandara, berdiri linglung di pinggir jalan yang dipenuhi orang lalu-lalang. Sinar matahari awal musim gugur di Kota Hibraw masih terasa hangat, tetapi yang dia rasakan justru dingin yang menusuk tulang.Dia benar-benar pergi. Ketika kemudian harus melapor ke Universitas Bakrie, dia dibawa ke sana secara paksa oleh keluarganya. Ibunya menampar wajahnya dengan keras."Sadarlah! Dulu kamu sendiri yang ingin membatalkan pertunangan dan mendorongnya pergi ke Be

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 8

    Kehidupan di Belanda sangat sibuk sekaligus menyenangkan. Lingkungan yang asing, beban studi yang berat, serta teman-teman dari seluruh dunia …. Semuanya membuatku kewalahan dan tumbuh dengan cepat.Aku berusaha keras belajar bahasa, berlama-lama di perpustakaan, ikut diskusi kelompok. Hari-hariku terisi penuh.Sesekali di tengah malam, aku teringat hal-hal di masa lalu, tetapi rasa perih itu kian memudar. Semakin banyak aku belajar, semakin aku yakin dengan pilihan menjadi jurnalis.Namun, agak berbeda dari ibuku, aku ingin menjadi jurnalis perang, mengungkap kebusukan dunia.Kemudian, akhir pekan tiba seperti biasa. Hari itu, aku dan beberapa teman sejurusan keluar dari perpustakaan, bersiap pergi ke kafe di pusat kota untuk duduk-duduk.Langit Amsterdam selalu kelabu. Angin yang membawa uap air kanal menerpa wajah, terasa agak dingin.Baru saja kami tiba di depan kafe, sebuah sosok yang begitu familier hingga membuat jantungku berhenti sejenak tiba-tiba saja menampakkan wujudnya dal

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 7

    Di atas meja belajar masih ada sebuah kotak cantik. Di dalamnya tersimpan pernak-pernik kecil yang Nicky berikan selama bertahun-tahun, juga setumpuk tebal surat yang dia tulis untukku.Aku membuka kotak itu, meliriknya sekilas, lalu tanpa ragu mengambilnya dan berjalan ke tempat sampah di halaman. Seketika, semuanya kulempar ke dalam."Blaire, kamu ...." Ibuku berdiri di ambang pintu, menatapku dengan agak terkejut."Barang nggak berguna, memang harus dibuang." Aku menepuk-nepuk tanganku, nadaku santai.Ibuku mendekat dan memelukku pelan. "Bagus. Kita harus memandang ke depan."Hari-hari menjelang keberangkatan ke luar negeri berlalu dengan sangat cepat. Aku menghabiskan sisa waktuku berkumpul dengan teman-teman, menemani keluarga, menyiapkan barang bawaan.Aku sengaja memblokir semua kabar tentang Nicky dan Cliona. Aku hanya tahu Nicky berkali-kali mencoba menghubungiku dan semuanya berakhir gagal.Hari ketika dia tahu aku membuang semua hadiah darinya dan surat-suratku, ibunya bilan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status