Share

Bab 4

Penulis: Camilia
Keesokan harinya aku bangun sangat pagi, sengaja melewatkan waktu saat Nicky biasanya datang mencariku untuk berangkat sekolah bersama.

Saat dia masuk ke kelas, aku sudah menghafal halaman pertama kosakata. Di sampingnya, ada Cliona yang mulutnya sedang menggigit roti kacang merah, makanan favoritku.

Aku dan Nicky bertatapan, lalu dia menjelaskan dengan agak canggung, "Aku dengar dari sopir rumahmu kalau kamu sudah datang lebih awal. Tadinya aku mau bawain buat kamu, tapi Cliona lapar."

Aku kembali menundukkan kepala dengan tenang, membalik halaman buku. "Nggak apa-apa."

Dia berjalan mendekat dalam diam.

"Kamu jangan marah gara-gara ini. Kalau mau, aku pergi beli lagi buat kamu ya?"

Dia masih mengira aku adalah gadis kecil pemarah seperti dulu. Padahal aku sudah menjalani satu kehidupan penuh. Aku hanya menggeleng.

"Aku nggak marah."

Hanya satu roti kacang merah …. Aku bisa beli sendiri sebanyak yang aku mau. Sambil berpikir begitu, aku mengeluarkan roti kacang merah yang belum sempat kumakan dari laci, lalu memakannya di depan mereka.

Cliona yang semula berdiri di belakangnya dengan ekspresi agak puas pun langsung tertegun.

Melihat itu, Nicky sedikit mengembuskan napas lega. "Sepertinya ke depannya aku sudah nggak perlu bawain kamu roti lagi."

Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari tasnya. "Akhir-akhir ini matematikamu kurang bagus. Aku sengaja begadang merangkum poin-poin pentingnya. Ambil saja buat kamu pelajari."

Mungkin karena rasa bersalah, catatan Nicky kali ini jauh lebih rinci daripada sebelumnya. Bahkan orang bodoh pun bisa memahaminya.

Aku hanya menyerahkan buku catatan itu kepada Cliona sambil tersenyum lembut. "Menurutku kamu yang lebih membutuhkannya."

Mata Cliona langsung memerah. "Blaire, kamu menantangku?"

"Aku tahu matematikaku nggak sebagus punyamu, tapi aku juga tahu Nicky selalu membuatkan catatan matematika untukmu. Sekarang kamu menyerahkannya kepadaku di depan dia, sebenarnya kamu masih menyalahkanku karena kami saling menyukai, 'kan?"

Sambil berbicara, air matanya jatuh berderai. Aku tidak menyangka air matanya bisa jatuh secepat itu.

Nicky melangkah maju, memeluk Cliona untuk menenangkannya. "Aku tahu kamu kesal, tapi jangan mempersulit Cliona. Tubuhnya lemah. Dia nggak tahan diperlakukan seperti ini olehmu."

Aku hampir tertawa. Bagaimana dulu aku tidak menyadari kalau Nicky bisa sebuta dan sebodoh ini?

Cliona menarik-nariknya sambil terus menggeleng. "Jangan bertengkar dengan Blaire gara-gara aku. Ini memang salahku. Mungkin karena aku rendah diri, makanya aku salah paham pada Blaire. Maaf."

Saat Nicky masih mengernyit dan belum sempat berbicara, aku segera menyela, "Aku yang minta maaf. Aku nggak tahu tindakanku akan melukai perasaanmu."

Nicky tertegun. Bahkan Cliona pun membuka mulut, lalu menutupnya lagi, sama sekali tidak menyangka aku akan berkata seperti itu.

Aku menoleh ke arah Nicky, lalu menyelipkan buku catatan itu ke tangannya. "Jadi ke depannya, kalau nggak ada urusan penting, jangan lagi datang mencariku. Supaya Cliona nggak merasa nggak nyaman."

Selesai berkata begitu, aku kembali ke tempat dudukku dan kembali tenggelam dalam pelajaran. Sementara itu, Nicky masih berdiri di tempatnya, pikirannya melayang untuk waktu yang lama.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 12

    Kami menetap di sebuah kota pesisir yang tenang.Aku diterima bekerja sebagai konsultan berita internasional di sebuah media ternama, sementara Miguel membuka rumah sakit pribadinya.Kami pun memutuskan untuk menikah. Kami hanya mengundang keluarga terdekat dan beberapa sahabat seperjuangan, dengan lokasi di sebuah pulau.Pada hari pernikahan, matahari bersinar cerah dan angin laut berembus lembut. Aku mengenakan gaun panjang satin putih sederhana, rambutku disanggul longgar. Miguel memandangku. Kelembutan dan keyakinan di matanya lebih bermakna daripada seribu kata.Tanpa upacara yang rumit, di bawah kesaksian keluarga dan sahabat, kami saling mengucapkan janji sederhana.Tepat ketika pembawa acara mengumumkan upacara selesai dan Miguel menunduk hendak menciumku, dari luar halaman terdengar keributan disertai teriakan serak dan histeris."Blaire, kamu mau menikah? Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?"Semua orang menoleh ke arah suara itu. Aku melihat sosok yang dicegat satp

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 11

    Sejak saat itu, Nicky benar-benar tidak pernah lagi muncul dalam hidupku. Kabarnya, tak lama kemudian dia dipaksa keluarganya untuk kembali ke tanah air. Bagaimana persisnya, aku tidak lagi peduli.Hidupku dipenuhi oleh hal-hal yang tidak hanya lebih luas dan lebih berat, tetapi juga sarat makna. Aku berhasil mewujudkan impianku menjadi seorang jurnalis perang.Setelah lulus di Belanda dengan prestasi gemilang, aku secara aktif mengajukan diri untuk pergi ke sudut-sudut dunia yang dipenuhi asap mesiu dan tangisan orang-roang.Di tengah medan yang hancur, aku berjalan bersama warga sipil yang melarikan diri dengan panik. Di tengah angin pegunungan yang kering, aku merekam wajah-wajah lelah dan kosong para tentara. Di parit-parit yang tertutup salju dan es, aku mendengarkan kerinduan para prajurit muda pada kampung halaman mereka.Aku telah melihat terlalu banyak tatapan kosong orang-orang yang kehilangan segalanya, tangan-tangan gemetar yang mencari keluarga di antara reruntuhan, bunga

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 10

    Di sudut foto itu, sebuah siluet samping dengan senyuman cerah seolah-olah membelah dunianya begitu saja. Itu Blaire!Hampir seketika, semua halusinasi yang selama ini menghantuinya surut seperti air pasang. Dia menatap tajam siluet samar itu. Rongga matanya yang kering kembali terasa panas.Dia menemukannya! Akhirnya, dia menemukan Blaire!Dia segera memesan tiket penerbangan paling awal ke Belanda. Di dalam pesawat, dia berulang kali membayangkan adegan pertemuan kembali. Dia ingin mengatakan pada Blaire bahwa dirinya telah salah, bahwa dia menyesal, bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Blaire.Dia percaya, selama dia muncul, selama dia cukup tulus, Blaire yang sejak kecil selalu mengikutinya dan hanya memandangnya, pasti akan melunak.Kemudian tibalah saat di mana dia berdiri di depan kafe itu, saat di mana dia akhirnya benar-benar melihat Blaire yang hidup dan nyata. Hatinya yang selama ini melayang tak menentu, yang berada di ambang kehancuran, secara ajaib kembali menemukan pijakan.

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 9

    Punggung itu terasa sangat familier. Dua tahun lalu, Nicky juga menyaksikan Blaire pergi dengan cara yang sama, tanpa ada satu pun cara untuk menghentikannya.Lengan kuat petugas keamanan bandara mencengkeramnya, sementara para penumpang di sekeliling memandang dengan tatapan terkejut bercampur sedikit rasa jijik. Nicky meronta, meraung memanggil sampai suaranya serak. Namun, dia hanya bisa menatap punggung yang dikenalnya itu menghilang di ujung lorong tanpa sedikit pun keraguan."Blaire ...!" Akhirnya, dia dilempar keluar dari lobi bandara, berdiri linglung di pinggir jalan yang dipenuhi orang lalu-lalang. Sinar matahari awal musim gugur di Kota Hibraw masih terasa hangat, tetapi yang dia rasakan justru dingin yang menusuk tulang.Dia benar-benar pergi. Ketika kemudian harus melapor ke Universitas Bakrie, dia dibawa ke sana secara paksa oleh keluarganya. Ibunya menampar wajahnya dengan keras."Sadarlah! Dulu kamu sendiri yang ingin membatalkan pertunangan dan mendorongnya pergi ke Be

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 8

    Kehidupan di Belanda sangat sibuk sekaligus menyenangkan. Lingkungan yang asing, beban studi yang berat, serta teman-teman dari seluruh dunia …. Semuanya membuatku kewalahan dan tumbuh dengan cepat.Aku berusaha keras belajar bahasa, berlama-lama di perpustakaan, ikut diskusi kelompok. Hari-hariku terisi penuh.Sesekali di tengah malam, aku teringat hal-hal di masa lalu, tetapi rasa perih itu kian memudar. Semakin banyak aku belajar, semakin aku yakin dengan pilihan menjadi jurnalis.Namun, agak berbeda dari ibuku, aku ingin menjadi jurnalis perang, mengungkap kebusukan dunia.Kemudian, akhir pekan tiba seperti biasa. Hari itu, aku dan beberapa teman sejurusan keluar dari perpustakaan, bersiap pergi ke kafe di pusat kota untuk duduk-duduk.Langit Amsterdam selalu kelabu. Angin yang membawa uap air kanal menerpa wajah, terasa agak dingin.Baru saja kami tiba di depan kafe, sebuah sosok yang begitu familier hingga membuat jantungku berhenti sejenak tiba-tiba saja menampakkan wujudnya dal

  • Menjauhi Calon Suami Di Masa Lalu   Bab 7

    Di atas meja belajar masih ada sebuah kotak cantik. Di dalamnya tersimpan pernak-pernik kecil yang Nicky berikan selama bertahun-tahun, juga setumpuk tebal surat yang dia tulis untukku.Aku membuka kotak itu, meliriknya sekilas, lalu tanpa ragu mengambilnya dan berjalan ke tempat sampah di halaman. Seketika, semuanya kulempar ke dalam."Blaire, kamu ...." Ibuku berdiri di ambang pintu, menatapku dengan agak terkejut."Barang nggak berguna, memang harus dibuang." Aku menepuk-nepuk tanganku, nadaku santai.Ibuku mendekat dan memelukku pelan. "Bagus. Kita harus memandang ke depan."Hari-hari menjelang keberangkatan ke luar negeri berlalu dengan sangat cepat. Aku menghabiskan sisa waktuku berkumpul dengan teman-teman, menemani keluarga, menyiapkan barang bawaan.Aku sengaja memblokir semua kabar tentang Nicky dan Cliona. Aku hanya tahu Nicky berkali-kali mencoba menghubungiku dan semuanya berakhir gagal.Hari ketika dia tahu aku membuang semua hadiah darinya dan surat-suratku, ibunya bilan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status