เข้าสู่ระบบ"Ayah, Ibu, aku setuju kuliah di luar negeri." Ketika mendengar putri mereka akhirnya setuju, orang tua yang berada jauh di sana pun merasa lega. "Fellis, akhirnya kamu ngerti. Ayah dan Ibu senang sekali. Kamu buat persiapan ya. Kami akan segera mengatur semuanya untukmu. Sebulan lagi, keluarga kita akan berkumpul kembali." Berbeda dengan orang tuanya yang berbahagia, nada bicara Fellis justru terdengar sangat datar. "Ya, aku tahu." Setelah berbasa-basi sesaat, panggilan diakhiri. Di luar jendela gelap gulita. Fellis tidak menyalakan lampu. Matanya merah, tetapi tidak ada emosi yang terpancar.
ดูเพิ่มเติมBecca hit the cold floor hard, her knees brushing against the rough surface, her hands trembling as she held her stomach.
Pain shot through her, but it was nothing compared to the ache in her heart. The grand doors of the Alpha’s mansion towered behind her, their golden handles glinting under the moonlight. But the beauty of the castle was a stark contrast to the cruelty of the man standing above her. Alpha Desmond. He looked down at her with disgust, his piercing blue eyes sharp and unforgiving. His dark hair fell over his face to make him look even more terrifying as his muscular body was towering over her. He was every bit the powerful ruler their pack revered—strong, merciless, and utterly ruthless. “Get out of my sight, Omega.” His voice was cold, void of any emotion. The words sliced through her like a blade. Becca clutched her breast, her breath coming in short gasps. “Alpha, please… I—” Desmond let out a cruel laugh, the sound echoing in the courtyard where his warriors and high-ranking wolves stood, watching the humiliation unfold. “You don’t get to beg,” he sneered. “You’re filth. A weak, useless Omega who thought she could really be my mate. I REJECT you!!” The gathered wolves murmured in agreement, their whispers sharp and unkind. “She actually thought an Alpha would truly want her?” “Disgusting. Look at her groveling.” “She should be grateful he even pretended to acknowledged her.” Becca’s fingers dug into the dirt as she tried to push herself up. Tears blurred her vision, but she refused to let them fall. “But the Moon Goddess—” Desmond’s foot slammed into her shoulder, sending her crashing onto her back. A pained gasp left her lips as she stared up at him in shock. “Do not speak of the Moon Goddess to me,” he snarled. “I don’t care if she had said you’re my mate. I don’t want you. You are a disgrace to my bloodline.” Her heart shattered. She had known the bond between them was fragile. She had sensed his resentment. But she had never imagined he would reject her so publicly, so brutally. She forced herself up on her elbows, her vision getting blurred. “Desmond, please… rejecting me will ruin me. If an Omega is rejected—” “I don’t care,” he interrupted, his voice laced with finality. “I reject you, Becca. You are no mate of mine. You never were. Now, leave before I have you thrown out like the trash you are.” Becca felt the world go upside down. A sharp, searing pain shot through her chest, her wolf howling in agony. The mate bond shattered inside her, ripping her soul apart. The warriors standing around them chuckled, shaking their heads. “She actually thought he would keep her.” “She deserves this.” “Pathetic.” Becca let out a broken sob as she curled into herself, the pain unbearable. But no one cared. Not Desmond. Not the warriors. Not the pack that had raised her. She had lost everything. And she hated them for it. She hated him for it. As she lay there, her heart filled with anger, with pain, with loathing— Becca jolted awake from her nightmare which had been a very painful memory. Her breath came in rapid pants as she stared at the ceiling of her tiny room, her chest rising and falling erratically. It had been a dream. No. A nightmare. A haunting memory. One that visited her every night without fail. She rubbed her face with shaky hands, trying to steady herself. But even awake, she could still hear their laughter, still feel the sting of Desmond’s words, still feel the weight of rejection crushing her. Her wolf whimpered inside her, still broken and aching. But Becca had learned something in the past few months since that dreadful night. Being bound to an Alpha… being the mate of an Alpha… It was all fake. Mates were supposed to cherish each other. They were supposed to protect one another. But all Desmond had done was destroy her. She inhaled deeply, forcing herself to push the pain away. The past was in the past. She had a new life now. A life she was proud of. She turned to look at the clock on the wall. It was barely dawn. It was time to open her clinic. Becca stepped outside, the crisp morning air brushing against her skin. Her small house sat at the edge of the town, far from the grand estates of the warriors and high-ranking wolves. Attached to it was her clinic, a small building with a sign that read Becca’s Healing Center. It wasn’t much. But it was hers. She grabbed a broom and began sweeping the front steps, her movements firm and determined. She had worked hard to become a doctor/healer to build this clinic, to prove that she wasn’t useless. She had spent years learning about herbs, about medicine, about healing. If she couldn’t be an Alpha’s mate… she would be something greater. A healer. The pack may have cast her aside, but she would make sure they regretted it. Laughter echoed from the street. “She really thinks anyone will come to her?” “She’s pathetic. No wolf would trust a rejected Omega.” “She should just leave. No one wants her here.” Becca’s hands tightened around the broomstick. She turned, her gaze sharp as she regarded everyone within earshot. “Anyone who needs treatment, my clinic is open! If you’re injured or sick, I can help you!” she announced. A man scoffed loudly. “I’d rather die than be treated by a worthless Omega.” Becca felt something snap inside her. She crossed her arms, her tone sharp. “Well, then, don’t come crying to me when you’re lying half-dead in a ditch, begging for my help.” The man’s face twisted in anger, but before he could retort— A deep voice cut through the air. “I… need your help.” Becca turned sharply. A man stood behind her, dressed in a long black robe. His hood concealed most of his face, but she could see the way his body wavered, his breathing unsteady. Then— He collapsed. Becca rushed forward, catching him before he hit the ground. Her hands gripped his shoulders, his body heavy against her. He was burning up. Feverish. Her heart pounded. Who was he? And why did it feel like this moment would change everything?Jauh di dalam hatinya, Keith tahu bahwa apa yang dikatakan ibu Fellis itu benar. Dia sudah mencoba membujuk dirinya berkali-kali untuk melupakan semuanya. Namun, setiap kali dia memejamkan mata, kenangan tentang dirinya dan Fellis terus berputar di pikirannya.Seumur hidupnya, dia selalu mendambakan seseorang yang bisa mencintainya sepenuh hati. Dulu dia pikir orang itu adalah Gwen, tetapi Gwen hanya ingin menjadi temannya.Ketika Fellis pergi, dia baru menyadari bahwa orang yang dia cari selama ini sudah ada di sisinya, tetapi sudah dia sakiti hingga terluka parah.Perasaan bersalah dan penyesalan yang datang terlambat sepenuhnya menghancurkan logikanya. Dia hanya ingin memperbaiki hubungan itu dan membuat Fellis kembali. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa semua yang dia lakukan justru semakin menjauhkan Fellis darinya.Kini, dia berada di tengah kebingungan dan keputusasaan. Di satu sisi, ada rasa obsesinya yang tertanam dan di sisi lain, ada logika yang menyuruhnya melepaskan.Keith
Melihat Fellis tampak ragu, Keith buru-buru memberikan penjelasan tambahan. "Sifatku yang menyendiri ini juga ada hubungannya dengan orang tuaku yang selalu sibuk bekerja. Mereka sering bepergian untuk rapat, terkadang sebulan penuh tanpa pulang. Karena luka ini nggak serius, kemungkinan besar mereka nggak akan datang."Melihat ekspresinya yang jujur, Fellis mulai sedikit percaya. "Kalau begitu, kamu nggak kasih tahu Gwen?" tanyanya.Pertanyaan itu membuat Keith sedikit panik. Dia merasa perlu sekali lagi menegaskan bahwa hubungannya dengan Gwen benar-benar sudah berakhir. "Dia sebenarnya nggak begitu peduli padaku. Aku yang dulu terlalu menyukainya. Dia hanya menikmati perhatian dan kasih sayangku, makanya dia selalu dekat denganku."Mendengar penjelasannya, Fellis terkejut. Jadi, Keith juga pernah berada di posisi seperti aku, menjadi pihak yang memberi segalanya dalam hubungan?Mengingat bagaimana Keith dulu mengejar-ngejar Gwen, sementara perempuan itu acuh tak acuh, Fellis merasak
Fellis terkejut dengan interpretasi Keith yang sepenuhnya salah dari pertanyaannya. Dia menatapnya dengan pandangan heran. "Aku nanya, apa kamu nggak peduli sama nyawamu?"Namun, Keith tidak berpaling. Tatapannya penuh kelembutan dan dia menjawab dengan tegas, "Kalau itu untukmu, aku bisa mengorbankan nyawaku."Fellis benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan mendengar kata-kata yang begitu dramatis dari mulut Keith. Kalau itu terjadi beberapa bulan lalu, mungkin dia akan tersentuh sampai menangis. Namun saat ini, dia hanya bisa terdiam.Melihat dia tetap diam, Keith tidak bisa menahan diri untuk berbicara lagi. "Mereka nggak melukaimu, 'kan? Aku datang terlambat. Apa kamu sangat ketakutan tadi?"Mendengar ucapannya, Fellis kembali teringat pada pertanyaan yang sempat dia pikirkan sebelum pergi ke kantor polisi. Dia memandang Keith dengan tatapan semakin curiga. "Kenapa kamu mengikutiku? Jangan bilang ini cuma kebetulan."Keith yang sama sekali tidak menyangka pertanyaan itu, langsung
Keith beruntung karena tusukan pisau itu tidak mengenai organ vital. Berkat penanganan yang cepat, nyawanya berhasil diselamatkan.Mendengar kabar bahwa dia dalam kondisi stabil, Fellis akhirnya bisa merasa lega. Setelah menelepon orang tuanya untuk menjelaskan situasinya, dia kembali ke ruang perawatan. Melihat Keith yang masih terbaring tidak sadarkan diri, dia menghela napas panjang.Di meja dekat ranjang, terlihat dompet dan kantong belanja yang ternoda darah. Warna merah itu membuat pikirannya kembali pada momen menegangkan tadi. Ketika pandangannya beralih ke wajah Keith yang putih pucat pasi, perasaannya menjadi campur aduk.Kenapa Keith bisa ada di dekat gang itu? Apakah dia diam-diam mengikutinya? Kalau iya, kenapa dia tidak menyadarinya sama sekali?Pertanyaan itu berputar di benaknya selama setengah jam, sampai akhirnya ayah dan ibu Fellis tiba di rumah sakit. Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa ibunya akan tetap di rumah sakit untuk menjaga Keith, sementara ayahnya meneman
Setelah meninggalkan rumah sakit, Keith melihat waktu masih belum terlalu larut. Jadi, dia berniat untuk pulang dan mengajak Fellis makan untuk menebus kesalahannya selama ini.Ruangan yang biasanya selalu terang malah tampak gelap gulita hari ini. Keith melihat jam tangan dan sekarang baru pukul 9.
Pesta baru selesai sekitar pukul 3 atau 4 sore hari. Setelah kembali ke apartemen, Fellis melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Dia mengangkat tangannya dan merobek selembar kalender.Hari kedua dari hitung mundur, Fellis bangun sangat pagi. Dia membersihkan seluruh apartemen,
Setelah pulang ke rumah, Fellis menerima pesan dari adik kelas Keith.[ Kak, kenapa Keith tiba-tiba ambil cuti sampai empat atau lima hari? Aku kirim pesan kasih dia, tapi dia nggak balas. Apa ada masalah? ]Tanpa perlu menebak, Fellis tahu alasan Keith mengambil cuti, tetapi dia tetap mencari alasa
Meskipun sudah berhasil keluar dari rumah hantu, Gwen masih takut dan terus menepuk dadanya. Dia tidak bisa melupakan betapa menakutkannya hal yang baru saja dialaminya.Begitu mengingat ciuman tadi, wajah Gwen langsung memerah. Dia menatap Keith dengan kesal dan menegur, "Keith, kamu terlalu impuls






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น