MasukAngela sangat tergila-gila pada Edward. Seminggu ini dia tidak berhenti mendesak Monik untuk memberikan nomor ponsel pria itu, tetapi seperti biasa Monik hanya mengangkat bahu.
Antares juga ikut mengangkat bahu—bahkan nomor om-nya sendiri dia tidak punya. “Lu mikir dulu deh, Jel,” ujar Monik frustasi. “Kata Kak Antares, Om Edward itu bukan tipe yang ramah. Keluarganya sendiri aja nggak tahu apa-apa soal dia.” “Justru itu yang bikin penasaran!” gerutu Angela. Di ruang keluarga itu, Angela duduk sambil menghentakkan kakinya. Antares hanya menghela napas, sudah hafal keras kepalanya gadis itu. Mereka berempat sudah bersahabat sejak lama; tabiat Angela tidak pernah berubah. “Udah ah! Gue pulang!” Angela berdiri, meraih tasnya. “Nginep aja sini, udah malam,” bujuk Monik. “Enggak. Udah pesen gojek. Santai aja—lanjutin pacaran kalian.” “Kalau gitu, Kak Antares aja yang anterin lo, ya?” “Enggak usah!” Angela mendesis sambil menunjuk Antares. “Kamu gak takut gue sosor Antares biar dia kasih nomor Om Edward.” Menatap centil ke arah Antares. Monik menatap kekasihnya lama. “Kak… mending dia sosor kamu deh daripada kenapa-kenapa.” Antares nyaris keselek ludah sendiri. Angela malah ngakak. Suasana mencair sebentar. “Tenang, rumah gue deket. Doain aja yang baik,” ujar Angela sambil menunjukkan layar aplikasinya. “Kalian kenal siapa gue, kan?” Ya mereka memang sangat kenal Angela. Terlalu kenal malah. Setelah Angela pergi, Monik masih tampak gelisah. Ini tidak seperti biasanya. Angela sering pulang larut, tetapi malam ini Monik seperti mendapatkan firasat buruk. Antares mengusap kepalanya lembut. “Tenang saja, mama bilang dia udah suruh orang buat jagain Angela,” jelasnya. “Orang? Siapa? …jangan bilang…” Monik menggigit bibir. Tapi ia menggeleng sendiri. “Ah, nggak mungkin kan dia?” ** Dalam perjalanan, Angela sibuk stalking. Tidak ada satu pun jejak Edward di internet. Tidak I*******m, tidak F******k, tidak di G****e. “Gila… lo alien apa gimana sih, Om…” gerutunya. Motor tiba-tiba rem mendadak. “Maaf, Non… di depan ada preman.” Angela menengok—dan darahnya langsung membeku. Lima… tujuh… sepuluh orang? Mereka mendekat seperti kawanan serigala. “Bang, puter balik!” Abang gojek mengangguk, tapi belum sempat motor berbalik, lengan kekar seorang preman sudah menahan stang. “Mau ke mana cantik?” ejek mereka, tawa kasar pecah. Motor direbut paksa. Abang gojek ditarik, dihajar bertubi-tubi. Angela jatuh bersama motor, pahanya terjepit besi. “Bang, lari!” Angela menjerit sambil mencoba bangkit, tapi seseorang mencengkeram lengannya dan membekapnya dari belakang. Mereka menghajar abang gojek itu seperti binatang. Angela berteriak: “Hentikan! HENTIKAN BANGSAT!” Para preman hanya tertawa. Salah satunya mencoba menyentuh wajah Angela—Angela membalik cepat dan menendang selangkangannya. Preman itu meringkuk kesakitan. Perlawanan Angela memicu amukan. Dua orang maju, dia menepis dan menendang satu, dan memukul rahang yang lain. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Sebuah tendangan dari belakang membuat Angela jatuh, napasnya terenggah. Tangannya dicengkeram kuat, tubuhnya dikunci. “Hah… galak juga,” ujar salah satu preman, mencengkeram rahangnya. Angela meludah ke wajahnya, preman itu malah tersenyum dingin—lalu menjambak rambut Angela sampai tubuhnya terhuyung. Cardigan Angela ditarik kasar hingga terlepas. Dia jatuh lagi, lututnya lecet. “Teriak aja, Neng! Di sini sepi!” “LEPAS! BAJINGAN!” Pukulan mendarat di wajah mulus Angela—keras. Rasa besi memenuhi mulutnya. “Jon! Bawa aja perempuan ini!” Preman kekar menyeret Angela keluar dari kerumunan. Angela meronta seperti orang kesetanan, memukul, menendang, tapi cengkeramannya terlalu kuat. Baru beberapa langkah— BLARR! Cahaya lampu mobil supercar menyinari mereka. Ferrari hitam mengerem keras di depan gerombolan preman. Angela terpaku. “Om…” napasnya tersengal. Pintu mobil terbuka. Sosok tinggi, besar, berdada bidang, keluar dengan tatapan gelap—tatapan yang membuat para preman terpaku sejenak. Namun sebelum mereka sempat bereaksi, orang-orang berpakaian hitam melompat dari kegelapan, menyerang seperti bayangan. Angela memanfaatkan kekacauan itu. Dia menggigit tangan preman yang menyeretnya sampai berdarah, lalu lari sekuat tenaga ke arah Edward. “OM EDWARD!!” teriaknya parau, putus asa, tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.Angela masih berkutak dengan data perusahaan milik Edward. Seharian full dia mengerjakan pekerjaan itu, mengolah data keuangan.Senyumnya merekah setiap data yang berhasil dia olah. Pekerjaan yang dia suka selalu saja membuat dia bahagia."Lagi apa sayang?" Mamanya menyapa, mengusap pucuk kepalanya dari arah belakang."Ngolah data." Singkat dan padat."Kamu kerja? Uangmu habis? Ada keperluan besar di kampus kah? Kok gak bilang mama?" Terlihat khawatir kemudian duduk di samping putri semata wayangnya itu. Angela menatap mamanya, kemudia tersenyum. "Ini caraku menggaet calon mantu mama."Mama Angela mengerutkan dahinya. Menatap penuh tanya, tapi dia tau Angela tak akan mengerjakan hal yang sia-sia."Ceriakan sama mama, seperti apa pemuda itu?" Mulai kepo dengan percintaan putrinya.Angela menghentikan kerjaannya. Matanya menatap ke arah luar jendela. Senyum manis mengembang di wajah imutnya."Dia, pria dewasa yang keras kepala. Dingin, terlihat kuat tapi sebenarnya rapuh. Misterius, bi
"Ngapain kamu ke sini!" Suara bariton itu mengagetkan Angela yang tengah menidurkan Axel, anak semata wayang Edward. Angela menoleh ke arah pintu masuk. "Nidurin Axel," jawabnya santai. "Di punya baby sitter sendiri, gak usah repot." "Gak repot, aku suka." Edward mendengus, kemudin beranjak keluar. Angela mengekorinya di belakang. Merek berjalan menuju ruang keluarga. Edward mengambil posisi duduk di kursi single yang menghadap ke arah kamar Axel. Angela memilih duduk di sampingnya. "Rumah Om bagus, nyaman, klasik dan hangat," basa-basi Angela. "Mau apa kamu ke sini?" Angel menatap pria yang hanya mengenakan kaos oblong hitam itu. Wajahnya terlihat santai, dan tetap mempesona. "Berterima kasih." "Tidak perlu, pulang lah!" "Om gak suka aku di sini?" "Kamu bukan siapa-siapa, aku gak kenal kamu." "Kalau gitu kenalan sama aku, yaa?" Edward menatap kesal ke Angela, tapi gadis yang ditatap malah senyum senyum manja padanya. "Aku tidk tertarik dengan anak ingus
Pagi begitu cerah, kicauan burung membangunkan Angela. Sudah 3 hari dia tidak keluar dari rumah. Masa pemulihan dari insiden malam itu.Sebenarnya ini bukan kali pertama dia mendapatkan hal tak menyenangkan seperti itu, tapi malam itu dia sendirian, hal yang tak pernah dia bayangkan saat dia sendirian.Angela menatap lekat-lekat langit kamarnya, sosok Edward sudah benar-benar menghantuinya. Pelukan pria bertubuh kekar itu begitu nyaman, menimbulkan kerinduan mendalam.Drrttt DrttttSuara getaran handphone membuat Angela sedikit beranjak, menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Tangannya merayap mengambil handphone yang berada di atas nakas samping tempat tidur.Pesan singkat dari Tante Cindy, membuat Angela langsung sadar."Angela, bagaimana kabarmu? Oh ya, ini alamat rumah Edward. Setelah sehat, mampirlah ke sana, di sana ada BI Ina yang akan membantumu. Tante sudah bilang sama dia."Senyum mengembang lebar di wajahnya. Bersorak riang dalam hati. Langkah pertama mendapatkan h
Dalam pelukan Edward, Angela menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya gemetar hebat,memikirkan apa yang mungkin terjadi jika pria itu tidak muncul tepat waktu. Masadepannya… harga dirinya… mungkin hanya tinggal nama.Edward tidak berkata apa pun. Ia membiarkan gadis itu mencengkeram bajunya erat-erat, meresapi ketakutan yang masih menguasai tubuh Angela. Tatapannya naik pada anak buahnya; satu anggukan dari Edward sudah cukup sebagai perintah.Dor! Dor!Suara tembakan menggema menusuk malam. Angela tersentak dan refleks menoleh, tetapi Edward menahan kepalanya dengan satu tangan, menarik dirinya lebih dalam kepelukannya.“Jangan lihat,” bisiknya tegas, dingin.Angela membeku. Napasnya terhenti, pikiran berkelindan kacau bersama suara tembakan terakhir yang menguap ke udara. Lalu… sunyi. Hening total.Hanya suara jangkrik, angin malam, dan detak jantungnya sendiri yang berdegup terlalukencang.Beberapa menit kemudian, Edward menurunkan tangannya.“Masuk mobil. Aku antar kamu pulang.”Ange
Angela sangat tergila-gila pada Edward. Seminggu ini dia tidak berhenti mendesak Monik untuk memberikan nomor ponsel pria itu, tetapi seperti biasa Monik hanya mengangkat bahu. Antares juga ikut mengangkat bahu—bahkan nomor om-nya sendiri dia tidak punya.“Lu mikir dulu deh, Jel,” ujar Monik frustasi. “Kata Kak Antares, Om Edward itu bukan tipeyang ramah. Keluarganya sendiri aja nggak tahu apa-apa soal dia.”“Justru itu yang bikin penasaran!” gerutu Angela.Di ruang keluarga itu, Angela duduk sambil menghentakkan kakinya. Antares hanyamenghela napas, sudah hafal keras kepalanya gadis itu. Mereka berempat sudah bersahabat sejak lama; tabiat Angela tidak pernah berubah.“Udah ah! Gue pulang!” Angela berdiri, meraih tasnya.“Nginep aja sini, udah malam,” bujuk Monik.“Enggak. Udah pesen gojek. Santai aja—lanjutin pacaran kalian.”“Kalau gitu, Kak Antares aja yang anterin lo, ya?”“Enggak usah!” Angela mendesis sambil menunjuk Antares. “Kamu gak takut gue sosor Antares biar dia kasih n
Perumahan Houston, perumahan yang selalu tampak seperti dunia lain—tenang, mewah, dan penuh dengan orang-orang elit yang seperti tidak pernah punya masalah hidup. Dulu Monik tinggal di kawasan ini, bahkan bertetangga dengan keluarga Antares. Tapi setelah ayahnya meninggal, Monik dan ibunya terpaksa menjual rumah mereka dan pindah ke perumahan biasa, dekat rumah Niken.Meski begitu, para penjaga di rumah keluarga Antares masih hafal dengan wajah Monik. Dari kecil dia memang sering bermain di rumah Antares, bahkan sudah digadang-gadang akan menjadi istrinya Antares. Monik sih senang saja, tapi Antares? Ya datar, seperti biasa—mengiyakan tidak,menolak pun tidak.Setibanya di gerbang, Monik masuk begitu saja. Para penjaga hanya mengangguk sopan.“Selamat siang, Non Monik. Cari Tuan Antares, ya?” sapa Bi Iyem, kepala pelayan rumahitu.“Tau aja, Bi. Ada Kak Antares sama Mama CIndy?”“Ada semua, tapi Nyonya lagi ada tamu.”“Oh, yaudah aku ke kamar Kak Antares dulu.”Monik berjalan masuk







