Share

Bab 2

Penulis: Syifah Baraq
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 20:00:13

Perumahan Houston, perumahan yang selalu tampak seperti dunia lain—tenang, mewah, dan penuh dengan orang-orang elit yang seperti tidak pernah punya masalah hidup. 

Dulu Monik tinggal di kawasan ini, bahkan bertetangga dengan keluarga Antares. Tapi setelah ayahnya meninggal, Monik dan ibunya terpaksa menjual rumah mereka dan pindah ke perumahan biasa, dekat rumah Niken.

Meski begitu, para penjaga di rumah keluarga Antares masih hafal dengan wajah Monik. Dari kecil dia memang sering bermain di rumah Antares, bahkan sudah digadang-gadang akan menjadi istrinya Antares. 

Monik sih senang saja, tapi Antares? Ya datar, seperti biasa—mengiyakan tidak,

menolak pun tidak.

Setibanya di gerbang, Monik masuk begitu saja. Para penjaga hanya mengangguk sopan.

“Selamat siang, Non Monik. Cari Tuan Antares, ya?” sapa Bi Iyem, kepala pelayan rumah

itu.

“Tau aja, Bi. Ada Kak Antares sama Mama CIndy?”

“Ada semua, tapi Nyonya lagi ada tamu.”

“Oh, yaudah aku ke kamar Kak Antares dulu.”

Monik berjalan masuk tanpa peduli Angela dan Niken yang masih terpaku melihat

lingkungan rumah itu dari luar.

Niken menunjuk sebuah Ferrari hitam yang terparkir mencolok di garasi samping.

“Gila… cakep banget mobilnya. Kayaknya bukan punya Kak Antares.”

Angela menelan ludah. “Iya. Punya tamu Tante Cindy kali.”

Tanpa sadar mereka berdua membayangkan pemilik mobil itu—pasti tampan, gagah, dan

beraroma mahal.

“Non, gak masuk?” tanya BI Iyem yang membubarkan lamunan dua sejoli ini. Mereka hanya nyengir-nyengir kemudian berjalan masuk mengekori Bi Iyem.

**

Angela menarik Niken ke taman samping yang adem, tempat biasa mereka nongkrong kalau di rumah Antares. Bi Iyem bahkan ikut nimbrung sambil membawa gorengan, lalu pelayan-pelayan muda juga ikut duduk bersama mereka. 

Dalam lima menit, gosip berantai dimulai. Mereka lupa Monik sedang entah di mana. Gosip dengan gorengan hangat jauh lebih menarik saat ini.

Tiga puluh menit berlalu, tawa mereka pecah berkali-kali sampai Angela tiba-tiba

memegangi perut.

“Aduh, gue ke toilet ya,” katanya.

Bi Iyem berniat mengantar, tapi Angela menolak. Dia sudah hafal letaknya. Setengah berlari, dia tidak memperhatikan jalan—dan menghantam sesuatu yang keras.

Bruk.

“Tembok sialan!” umpat Angela sambil mengusap hidung.

“Permisi, tembok?” Suara berat seorang pria menyahut.

Angela langsung menoleh—dan ternganga. Itu bukan tembok. Itu pria.

Pria setinggi langit, tegap, dadanya bidang, lengan kekarnya terlihat bahkan dari balik

kemeja longgarnya. Wajahnya bule, tampan, brewok tipis, mata hijau tajam—tidak kalah dari aktor Hollywood kesukaannya. 

Dalam hati Angela: Ini mah Chris Hemsworth lewat.

“Hei!” bentak pria itu, suara baritonnya begitu memabukkan.

“Sialan, suaranya aja bikin bergetar gini… sleep call pasti enak,” batinnya.

“Nona.” Suaranya mengeras. “Kamu bilang saya tembok?”

“Eh—bukan gitu, om. Kirain tembok… soalnya badan om keras banget.” Angela bahkan

menunjuk dada pria itu. “Apalagi bagian ini.”

Pria itu menepis tangan Angela dengan cepat. 

“Lancang sekali anak zaman sekarang!” 

Ia berjalan pergi, aura dingin mengikuti tiap langkahnya.

Angela menatap punggungnya, terpana.

“Om saya bener kok… bener-bener fall in love!” teriak Angela.

Pria itu tidak menoleh sedikit pun.

“Sial! Gue mau ke toilet!” Angela langsung masuk kamar mandi terburu-buru. Setelah selesai Angela langsung kembali ke taman samping, ternyata Niken sudah berada di ruang keluarga– info dari Bi Iyem–. Tanpa babibu lagi, Angela berlari ke ruang keluarga.

Di ruang keluarga. 

Angela terpaku, tidak bisa mengalihkan pandangan. Dan—jantungnya jungkir balik—pria itu ada di sana, duduk santai di kursi sudut ruangan sambil minum santai.

Cindy masuk sambil tersenyum cerah melihat Monik.

“Cantiknya mama, yuk ke salon! Rambut kamu kayaknya udah panjang deh Monik Sayang. Jel dan Niken ikut, ya?”

Monik dan Niken mengangguk riang. Sementara Angela… tidak bergerak. Matanya masih terpaku pada pria itu.

Niken dan Monik mengikuti arah tatapan Angela. Ia dan Monik saling pandang lalu geleng-geleng kepala kompak.

“Pantesan bengong. Liat yang begitu mah, gue juga bengong,” gumam Niken pelan.

Cindy memperhatikan Angela lalu menyeringai iseng.

“Kamu naksir, Jel?” bisiknya.

Angela memekik pelan, pipinya memanas.

“Idih, ini anak demennya sama om-om,” komentar Monik.

“Kalau om-nya begitu mah gue juga demen,” timpal Niken, yang langsung mendapatkan cubitan maut Angela. “Auu! Sakit, Jel!”

“Punya gue itu!” Angela memelotot.

Cindy hanya tertawa.

“Kenalin, Jel. Pria yang kamu lirik dari tadi itu adik tante. Namanya Edward Houston.”

Angela tertegun. “Wah adiknya tente ternyata,” lirihnya dalam hati.

“Edward satu-satunya anak laki-laki keluarga Houston,” lanjut Cindy. “Dia memang terlihat dingin, pendiam, tapi hatinya… luar biasa kalau sudah sayang.”

Angela melirik Edward yang masih tenang memandangi jendela, tidak peduli dengan

keributan kecil di belakangnya. Semakin dilihat, semakin susah Angela bernapas.

“Dia… single?” tanya Angela perlahan.

Cindy mengangguk. “Iya sekarang single. Tapi dulu pernah menikah dan punya anak satu.”

Angela mangguk-mangguk, dia semakin terpukau.

Monik menimpali dengan bisik-bisik, “Seleramu banget ini, om-om bule.”

Angela tidak peduli. Ia tidak bisa berhenti melihat Edward.

Cara pria itu duduk. Cara ia memegang gelas. Tatapannya yang fokus, dingin, tapi

berwibawa. Aura dewasanya berbeda dari pria mana pun yang pernah Angela lihat.

“Baiklah.” Cindy menepuk bahu Angela. “Tante dukung kalau kamu mau coba dekat

sama Edward.”

“Mama?!” Antares muncul tiba-tiba dengan tatapan tidak percaya. “Angela itu masih bocil, Ma. Mana pantas dijodohin sama Om Edward?”

Angela memutar bola mata. “Lo takut ya nanti gue jadi tante lo?”

“Males banget lah gue punya tante kayak lo! Lagian… lo bukan tipe Om Edward.”

Angela mendengus. “Lihat aja nanti.”

Ia menoleh ke Edward sambil setengah berteriak. “Ya kan, Om?!”

Edward akhirnya menoleh. Tatapannya dingin. Sangat dingin. Tapi di mata Angela… itu justru semakin membuatnya penasaran. Angela tersenyum kecil.

“Challenge accepted,” gumamnya pelan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjebak Cinta Om-Om Impian   BAB 7

    Angela masih berkutak dengan data perusahaan milik Edward. Seharian full dia mengerjakan pekerjaan itu, mengolah data keuangan.Senyumnya merekah setiap data yang berhasil dia olah. Pekerjaan yang dia suka selalu saja membuat dia bahagia."Lagi apa sayang?" Mamanya menyapa, mengusap pucuk kepalanya dari arah belakang."Ngolah data." Singkat dan padat."Kamu kerja? Uangmu habis? Ada keperluan besar di kampus kah? Kok gak bilang mama?" Terlihat khawatir kemudian duduk di samping putri semata wayangnya itu. Angela menatap mamanya, kemudia tersenyum. "Ini caraku menggaet calon mantu mama."Mama Angela mengerutkan dahinya. Menatap penuh tanya, tapi dia tau Angela tak akan mengerjakan hal yang sia-sia."Ceriakan sama mama, seperti apa pemuda itu?" Mulai kepo dengan percintaan putrinya.Angela menghentikan kerjaannya. Matanya menatap ke arah luar jendela. Senyum manis mengembang di wajah imutnya."Dia, pria dewasa yang keras kepala. Dingin, terlihat kuat tapi sebenarnya rapuh. Misterius, bi

  • Menjebak Cinta Om-Om Impian   BAB 6

    "Ngapain kamu ke sini!" Suara bariton itu mengagetkan Angela yang tengah menidurkan Axel, anak semata wayang Edward. Angela menoleh ke arah pintu masuk. "Nidurin Axel," jawabnya santai. "Di punya baby sitter sendiri, gak usah repot." "Gak repot, aku suka." Edward mendengus, kemudin beranjak keluar. Angela mengekorinya di belakang. Merek berjalan menuju ruang keluarga. Edward mengambil posisi duduk di kursi single yang menghadap ke arah kamar Axel. Angela memilih duduk di sampingnya. "Rumah Om bagus, nyaman, klasik dan hangat," basa-basi Angela. "Mau apa kamu ke sini?" Angel menatap pria yang hanya mengenakan kaos oblong hitam itu. Wajahnya terlihat santai, dan tetap mempesona. "Berterima kasih." "Tidak perlu, pulang lah!" "Om gak suka aku di sini?" "Kamu bukan siapa-siapa, aku gak kenal kamu." "Kalau gitu kenalan sama aku, yaa?" Edward menatap kesal ke Angela, tapi gadis yang ditatap malah senyum senyum manja padanya. "Aku tidk tertarik dengan anak ingus

  • Menjebak Cinta Om-Om Impian   BAB 5

    Pagi begitu cerah, kicauan burung membangunkan Angela. Sudah 3 hari dia tidak keluar dari rumah. Masa pemulihan dari insiden malam itu.Sebenarnya ini bukan kali pertama dia mendapatkan hal tak menyenangkan seperti itu, tapi malam itu dia sendirian, hal yang tak pernah dia bayangkan saat dia sendirian.Angela menatap lekat-lekat langit kamarnya, sosok Edward sudah benar-benar menghantuinya. Pelukan pria bertubuh kekar itu begitu nyaman, menimbulkan kerinduan mendalam.Drrttt DrttttSuara getaran handphone membuat Angela sedikit beranjak, menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Tangannya merayap mengambil handphone yang berada di atas nakas samping tempat tidur.Pesan singkat dari Tante Cindy, membuat Angela langsung sadar."Angela, bagaimana kabarmu? Oh ya, ini alamat rumah Edward. Setelah sehat, mampirlah ke sana, di sana ada BI Ina yang akan membantumu. Tante sudah bilang sama dia."Senyum mengembang lebar di wajahnya. Bersorak riang dalam hati. Langkah pertama mendapatkan h

  • Menjebak Cinta Om-Om Impian   Bab 4

    Dalam pelukan Edward, Angela menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya gemetar hebat,memikirkan apa yang mungkin terjadi jika pria itu tidak muncul tepat waktu. Masadepannya… harga dirinya… mungkin hanya tinggal nama.Edward tidak berkata apa pun. Ia membiarkan gadis itu mencengkeram bajunya erat-erat, meresapi ketakutan yang masih menguasai tubuh Angela. Tatapannya naik pada anak buahnya; satu anggukan dari Edward sudah cukup sebagai perintah.Dor! Dor!Suara tembakan menggema menusuk malam. Angela tersentak dan refleks menoleh, tetapi Edward menahan kepalanya dengan satu tangan, menarik dirinya lebih dalam kepelukannya.“Jangan lihat,” bisiknya tegas, dingin.Angela membeku. Napasnya terhenti, pikiran berkelindan kacau bersama suara tembakan terakhir yang menguap ke udara. Lalu… sunyi. Hening total.Hanya suara jangkrik, angin malam, dan detak jantungnya sendiri yang berdegup terlalukencang.Beberapa menit kemudian, Edward menurunkan tangannya.“Masuk mobil. Aku antar kamu pulang.”Ange

  • Menjebak Cinta Om-Om Impian   Bab 3

    Angela sangat tergila-gila pada Edward. Seminggu ini dia tidak berhenti mendesak Monik untuk memberikan nomor ponsel pria itu, tetapi seperti biasa Monik hanya mengangkat bahu. Antares juga ikut mengangkat bahu—bahkan nomor om-nya sendiri dia tidak punya.“Lu mikir dulu deh, Jel,” ujar Monik frustasi. “Kata Kak Antares, Om Edward itu bukan tipeyang ramah. Keluarganya sendiri aja nggak tahu apa-apa soal dia.”“Justru itu yang bikin penasaran!” gerutu Angela.Di ruang keluarga itu, Angela duduk sambil menghentakkan kakinya. Antares hanyamenghela napas, sudah hafal keras kepalanya gadis itu. Mereka berempat sudah bersahabat sejak lama; tabiat Angela tidak pernah berubah.“Udah ah! Gue pulang!” Angela berdiri, meraih tasnya.“Nginep aja sini, udah malam,” bujuk Monik.“Enggak. Udah pesen gojek. Santai aja—lanjutin pacaran kalian.”“Kalau gitu, Kak Antares aja yang anterin lo, ya?”“Enggak usah!” Angela mendesis sambil menunjuk Antares. “Kamu gak takut gue sosor Antares biar dia kasih n

  • Menjebak Cinta Om-Om Impian   Bab 2

    Perumahan Houston, perumahan yang selalu tampak seperti dunia lain—tenang, mewah, dan penuh dengan orang-orang elit yang seperti tidak pernah punya masalah hidup. Dulu Monik tinggal di kawasan ini, bahkan bertetangga dengan keluarga Antares. Tapi setelah ayahnya meninggal, Monik dan ibunya terpaksa menjual rumah mereka dan pindah ke perumahan biasa, dekat rumah Niken.Meski begitu, para penjaga di rumah keluarga Antares masih hafal dengan wajah Monik. Dari kecil dia memang sering bermain di rumah Antares, bahkan sudah digadang-gadang akan menjadi istrinya Antares. Monik sih senang saja, tapi Antares? Ya datar, seperti biasa—mengiyakan tidak,menolak pun tidak.Setibanya di gerbang, Monik masuk begitu saja. Para penjaga hanya mengangguk sopan.“Selamat siang, Non Monik. Cari Tuan Antares, ya?” sapa Bi Iyem, kepala pelayan rumahitu.“Tau aja, Bi. Ada Kak Antares sama Mama CIndy?”“Ada semua, tapi Nyonya lagi ada tamu.”“Oh, yaudah aku ke kamar Kak Antares dulu.”Monik berjalan masuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status