Compartir

Redroom

Autor: Choco_muffin
last update Última actualización: 2026-01-16 16:46:15
“Berani kamu mengabaikan pesan saya?”

Kalimat itu membuat Cleona tersentak. Ia yang tengah berdiri di teras rumah langsung mendongak. Matanya membelalak begitu mendapati Batara bersandar santai di pintu mobil hitamnya, terparkir tepat di depan pagar. Matahari siang yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya ke kaca mobil, membuat suasana terasa hangat sekaligus menekan.

“Untuk apa Bapak di sini?” tanya Cleona, suaranya tertahan. Tangannya refleks mencengkeram ujung tas selempangnya.

Ba
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menjebak Cucu Presdir   Kotak Misterius

    “Ona … kalau pulang, Ibu nitip roti tawar, ya.”Itu kalimat terakhir Danila saat Cleona berpamitan untuk menemui Cia. Hari itu, mereka berencana bersama-sama mendatangi kantor polisi sebagai saksi atas penemuan mayat kemarin.Seandainya Cleona tahu itu akan menjadi hari terakhirnya bersama sang ibu, ia akan menukar apa pun agar bisa tetap tinggal di rumah.Kini, di hadapannya, di atas ranjang pasien, tubuh Danila terbujur kaku. Wajahnya pucat dan dingin. Beberapa kabel yang masih menancap di tubuh itu perlahan dilepas, satu per satu.“Ibu…” Tangannya gemetar saat menyentuh kulit yang tak lagi hangat.“Tolong jangan tinggalkan Ona.” Air mata Cleona jatuh, membasahi wajah sang ibu.Cia mendekat dan mengusap lembut bahu Cleona. Tak ada kata. Hanya sentuhan pelan, seolah berharap itu cukup untuk menguatkan sahabatnya yang tenggelam dalam duka.Suara tangis Cleona menjadi satu-satunya bunyi di ruang ICU itu. Hawa dingin terasa semakin menusuk.Sementara itu, Batara menunggu di luar, berdir

  • Menjebak Cucu Presdir   Kehilangan

    Siang itu, di depan ruang IGD, dua wanita bersahabat duduk berdampingan. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki yang lalu-lalang menjadi latar di tengah keheningan.“Bener,” ulang Cia pelan, menatap Cleona lekat. “Lo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Batara?”Cleona terpaksa menceritakan bagaimana ia bisa berakhir datang bersama Batara. Ia menyusun cerita yang aman—cukup masuk akal untuk dipercaya, tapi tidak sepenuhnya jujur. Ada bagian yang sengaja ia sisakan, terutama soal perjanjian antara dirinya dan atasannya itu.Ia mengangguk kecil. “Bener. Gue nggak sengaja pingsan di jalan. Dan… Pak Batara yang nemuin.”Cia mengangkat alis. “Terus?”“Nggak ada apa-apa lagi,” jawab Cleona cepat, nyaris terlalu cepat. “Cuma itu.”Ada jeda. Cia menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencari celah di wajah Cleona. Namun yang ia temukan hanya kelelahan—mata sembap, tangan gemetar dan napas yang terdengar berat.“Oke deh…” Cia akhirnya menghela napas. “Gue percaya.”Cleona tersenyum tipis

  • Menjebak Cucu Presdir   Rencana Tersembunyi

    Pagi itu seharusnya tenang. Cahaya mentari menembus jendela besar, menyinari meja yang masih tersisa aroma spaghetti dan jus strawberry. Tapi bagi Cleona, semua terasa hampa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup cepat, seolah batu besar menimpa tubuhnya.“Maaf, Pak… saya harus ke rumah sakit sekarang,” ucapnya gemetar, kepala menunduk. Air matanya menetes tanpa ia sadari.Batara mengerutkan alis. Kursi di belakangnya bergeser saat ia bangkit, menatap Cleona yang hampir menyentuh knop pintu. Dengan gerakan mantap, tangannya meraih lengan wanita itu, menahan sejenak. Tatapan mereka bertemu—ada campuran khawatir dan… sesuatu yang lain, sulit dijelaskan.“Biar saya antar,” ucapnya tegas. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”Cleona menelan ludah, pikirannya kacau. Ia ingin menolak, tapi panik untuk ibunya jauh lebih besar. Perlahan ia mengangguk, pasrah, membiarkan Batara sekali lagi mengambil alih kendali hidupnya.Tak lama, Batara muncul dari tangga, mengenakan sweter abu-abu yang sederha

  • Menjebak Cucu Presdir   Perburuan Di mulai

    Gudang tua itu pengap. Bau karat dan debu menempel di udara. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menjadi satu-satunya penerangan diruang itu. Dimas Saputra duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding. Tangannya memeluk erat sebuah ransel lusuh yang berisi beberapa pakaian dan makanan seadanya. Wajahnya tirus, matanya cekung, napasnya berat. Ketua penelitian laboratorium itu kini tak lebih dari buronan yang bersembunyi seperti tikus. “Brengsek… gue jadi sengsara begini,” gumamnya frustrasi. Matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya perlahan di tarik ke beberapa hari lalu, saat ia melapor—mengatakan bahwa seluruh riset kini diawasi langsung oleh Batara. Ia ingat jelas sambungan telepon itu belum benar-benar terputus. “Bunuh dia. Kita sudah tidak membutuhkannya.” Suara Dimitri. Darah Dimas langsung naik. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu cepat menghantam dada. Kursi di depannya ditendang keras sampai terjungkal.

  • Menjebak Cucu Presdir   Redroom

    “Berani kamu mengabaikan pesan saya?” Kalimat itu membuat Cleona tersentak. Ia yang tengah berdiri di teras rumah langsung mendongak. Matanya membelalak begitu mendapati Batara bersandar santai di pintu mobil hitamnya, terparkir tepat di depan pagar. Matahari siang yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya ke kaca mobil, membuat suasana terasa hangat sekaligus menekan. “Untuk apa Bapak di sini?” tanya Cleona, suaranya tertahan. Tangannya refleks mencengkeram ujung tas selempangnya. Batara tak menjawab. Ia meluruskan tubuh, melangkah mendekat dengan langkah panjang. Tangannya menangkap pergelangan tangan Cleona, lalu menariknya ke arah pintu mobil. “Pak—” tubuh Cleona ikut terseret. Ia nyaris kehilangan keseimbangan sebelum menghentakkan kaki, menahan diri tepat di ambang pintu yang sudah terbuka. “Ibu saya butuh saya hari ini,” ucapnya cepat, napasnya sedikit terengah. Batara menatapnya singkat, rahangnya mengeras. Tangannya di punggung Cleona menekan pelan namun memaksa

  • Menjebak Cucu Presdir   Investigasi

    “Astaga… lihat itu…!” Teriak seorang karyawan membuat semua kepala menengadah ke arah dinding kaca. Dalam hitungan detik, lorong GrahaPharm yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk penuh bisik dan langkah panik. Tubuh seorang manusia tergantung di rooftop. Diam. Tak bergerak. Bayangannya jatuh panjang di kaca, membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Di tengah hiruk-pikuk itu, Batara muncul. Tatapannya seperti pisau yang membelah kekacauan. Tenang. Tapi berbahaya. “Hubungi polisi,” perintahnya pada Niko, suaranya rendah namun mengintimidasi. Ia lalu menatap karyawan yang masih terpaku di tempat. “Kalian segera berkemas. Kantor harus steril.” Telunjuknya kemudian mengarah ke Cleona. “Kecuali kamu—dan seluruh petugas lab. Tetap di sini sampai polisi datang.” Sebelum ia kembali ke ruangannya, pandangannya sempat bertemu dengan Cleona yang tampak ketakutan. Ekspresi itu cukup membuat rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, suara sirene mendekat. Polisi memasu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status