Masuk
"Terperangkap di istana oleh monster ciptaanku sendiri. Nafas mereka terasa panas di kulitku—sebagian ingin menghancurkanku, sebagian ingin memilikiku sepenuhnya. Saat benci dan gairah menjadi satu, bagaimana seorang Kaisar sepertiku bertahan dari jerat empat pria yang lebih hewan daripada manusia ini?"
_ _ _
"Yang Mulia Kaisar... apakah Anda puas dengan permainan kami?"
Suara berat itu membelah keheningan, memicu ledakan yang masih bergema di setiap inci sarafnya—sebuah sensasi aneh antara hancur dan terlahir kembali.
Shen Wei membuka matanya dengan napas tersangkut.
Hal pertama yang menyerang indranya bukanlah cahaya neon laboratorium yang steril, melainkan tirai sutra merah darah yang membentang megah, menciptakan atmosfer yang pengap oleh aroma kayu cendana dan dupa kuno yang memuakkan.
Di mana aku?
Kesadarannya merayap kembali seperti sengatan listrik.
Shen Wei merasakan kulit telanjangnya bersentuhan dengan seprai sutra yang kusut.
Refleksnya meledak, tangannya menyambar kain kuning bercorak naga, menariknya dengan gerakan panik untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
Jantungnya berdentum keras melawan tulang rusuknya saat matanya membelalak, memindai kegelapan yang dihuni oleh empat sosok predator.
Di sana, di bawah remang cahaya lilin, mereka berdiri—empat mahakarya genetika yang tampak mustahil.
Pria pertama memiliki wajah malaikat, namun telinga kelinci putih yang panjang di atas kepalanya bergerak-gerak dengan ritme yang menggoda.
Di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap dengan otot-otot yang memancarkan kekuatan, telinga harimau belang dan ekor panjang yang mencambuk udara pelan di belakangnya memberikan kesan buas yang nyata.
Pria ketiga, pemuda dengan kecantikan sedingin es, memiliki telinga runcing keperakan dan sorot mata serigala yang seolah bisa menembus tengkoraknya.
Dan yang terakhir... Shen Wei menelan ludah dengan susah payah saat melihat sosok pucat dengan sisik keperakan yang berkilauan di lehernya, sementara ekor ular yang masif melingkar malas di atas lantai marmer yang dingin.
"Ka-kalian..." Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
Empat pasang mata itu menatapnya serempak.
Ada senyum yang tersungging di sana—senyum yang tampak intim dan patuh, namun di balik kedalamannya, Shen Wei bisa merasakan kegelapan yang siap menelannya bulat-bulat.
"Yang Mulia... apakah Anda marah? Apakah kami masih belum cukup memuaskan Anda?" si telinga kelinci berbisik, suaranya lembut namun sanggup membuat bulu kuduk Shen Wei berdiri.
Memuaskan?
Dunia Shen Wei jungkir balik. Memori dari dua kehidupan bertabrakan dengan brutal di kepalanya.
Dia ingat laboratoriumnya di abad ke-21. Dia ingat tabung reaksi yang salah—dia ingat mengambil sampel sel harimau, serigala, kelinci, dan ular alih-alih sel manusia unggul.
Dia ingat kepanikan saat ledakan itu merobek realitasnya.
Namun, di celah ingatan itu, sebuah identitas lain menyusup seperti racun.
Dia adalah Kaisar Wenxian.
Penguasa wanita Dinasti Yuehua yang dikenal bertangan besi. Penguasa Lembah Seribu Hewan yang membenci ras yaoguai dengan segenap jiwanya, namun cukup mesum untuk menjadikan mereka peliharaan di peraduannya.
Dan keempat pria di hadapannya ini... mereka bukan sekadar selir. Dalam memori asli Wenxian, mereka adalah algojonya.
Suatu malam, kemarahan mereka meledak setelah dihina sebagai binatang rendahan, dan mereka mengakhiri hidup sang Kaisar dengan cara yang paling keji yang bisa dibayangkan.
Ya Tuhan... aku terbangun di dalam tubuh seorang tiran yang sedang menunggu giliran untuk dibantai.
"Yang Mulia?" si ekor harimau melangkah maju. Gerakannya sangat predator, matanya yang memiliki pupil vertikal menatapnya dengan intensitas yang menyesakkan.
"Wajah Anda pucat. Apakah permainan tadi terlalu melelahkan bagi tubuh Anda?"
Shen Wei ingin mundur, namun punggungnya sudah menempel pada sandaran ranjang yang keras.
Otak ilmuwannya berteriak, memaksanya untuk menganalisis situasi di tengah badai adrenalin.
Ledakan, mutasi, reinkarnasi... semuanya tidak logis, namun panas tubuh pria di depannya ini sangat nyata. Jika ia ingin hidup, ia harus memerankan dirinya sebagai Wenxian.
Ia mengatur napas, memaksakan otot wajahnya yang gemetar untuk membeku. Ia menatap mereka satu per satu—mahluk yang kini ia sadari sebagai hasil "rekayasa genetika" dunia kuno ini.
Ada kehangatan palsu di wajah mereka, sebuah kepatuhan yang dipaksakan, yang di bawahnya terkubur benci yang membara.
Pria berekor ular—yang paling pendiam—tiba-tiba mendesis. Lidahnya yang bercabang terjulur sekejap, mencicipi udara di antara mereka.
"Aroma Yang Mulia... terasa berbeda malam ini. Begitu asing."
Jantung Shen Wei nyaris berhenti. Indra mereka lebih tajam dari detektor mana pun. Mereka tahu aku bukan dia.
"Kalian..." Shen Wei berdeham, mencoba memanggil suara angkuh dan dingin milik Wenxian. "Kalian semua... keluar sekarang."
Keempatnya mematung. Kebingungan yang nyata melintas di wajah mereka.
"Keluar?" si telinga kelinci mengerutkan kening, tampak terluka secara artifisial.
"Tapi Yang Mulia, ini baru tengah malam. Biasanya Anda meminta kami untuk tetap berada di sini hingga fajar..."
Kalimatnya menggantung, sementara matanya melirik ranjang yang berantakan, mengingatkan Shen Wei pada situasi memalukan yang baru saja (mungkin) terjadi sebelum ia terbangun.
Wajah Shen Wei memanas.
Sebagai ilmuwan yang mengabdikan hidupnya di laboratorium, ia tidak pernah membayangkan akan berada dalam posisi seperti ini, telanjang, terjebak di antara empat pria mahluk setengah binatang yang haus akan perhatian sekaligus darahnya.
Ia tahu, setiap ketidakpuasan Wenxian di masa lalu selalu berujung pada siksaan bagi para yaoguai ini. Dan siksaan itulah yang memupuk benih pembunuhan yang akan datang.
Demi dewa-dewa di langit, tolong…
Satu bulan setelah kejut listrik defibrillator menarik jiwanya kembali dari ambang kematian, Shen Wei akhirnya diizinkan menginjakkan kaki di tempat yang ia sebut sebagai rumah sejati: “Kompleks Laboratorium Utama Institut Sains Tingkat Lanjut”.Di dunianya yang asli, ia bukanlah seorang permaisuri tiran, melainkan seorang kepala peneliti berusia 23 tahun. Seorang gadis prodige, genius, dan memiliki ambisi yang sanggup melompati batas etika sains demi sebuah penemuan mutakhir. Proyek yang membuatnya mengalami koma selama dua minggu adalah proyek bioteknologi tingkat tinggi yang sangat spekulatif—Project Genesis: Ultimate Embryo Selection. Sebuah eksperimen radikal untuk menciptakan rekayasa genetik terbaik untuk disuntikkan ke dalam rahim raksasa inkubator buatan. Namun, malam sebelum ledakan itu terjadi, akibat kelelahan dan tekanan tenggat waktu, Shen Wei melakukan kecerobohan fatal. Ia salah mengambil tabung benih. Bukannya memasukkan sampel genom manusia murni, ia justru mencam
Rasa sakit yang membelah kepala Shen Wei di Aula Kekaisaran mendadak berubah menjadi sensasi mati rasa yang aneh. Jeritan histeris Huo Yan, Lang Yue, dan Chongqing perlahan-lahan menjauh, meredup menjadi gaung distorsi frekuensi yang samar, sebelum akhirnya tenggelam sepenuhnya dalam kesunyian mutlak yang gelap gelita. Eksistensi Dinasti Yuehua, takhta emas, hingga konspirasi menteri korup seolah menguap begitu saja, menyisakan kekosongan dimensi yang dingin.Namun, kegelapan itu tidak bertahan lama.Bzzzt… bip… bip… bip…Sebuah bunyi mekanis yang ritmis dan asing mendadak menyusup ke dalam pendengarannya. Kesadaran Shen Wei yang semula melayang-layang ditarik paksa oleh sebuah guncangan hebat yang menghantam fisik jiwanya. Ia merasakan tekanan kuat pada dadanya, disusul oleh sensasi dingin yang mendadak menempel di kulit halusnya."Pengisian energi selesai! Dua ratus Joule! Clear!" Sebuah teriakan lantang bergaung di atas kepalanya.Blam!Seketika itu juga, tubuh Shen Wei tersenta
“Yang Mulia… Putri Wen Yi mencoba bunuh diri lagi, tapi pengawal berhasil menghentikannya.”Laporan dari utusan khusus Distrik Barat itu bergema di dalam ruang kerja pribadi Shen Wei, memecah keheningan sore yang tenang. Prajurit itu berlutut dengan kepala tertunduk khidmat, menunggu reaksi dari sang Kaisar tertinggi Dinasti Yuehua.Waktu memang telah berlalu dengan sangat cepat. Tiga bulan sejak reformasi birokrasi besar-besaran dimulai, tatanan politik kekaisaran perlahan-lahan mulai stabil di bawah kendali taktis Shen Wei. Dan di saat yang sama, hukuman bagi mantan Putri Wen Yi benar-benar terjadi tanpa ada pengurangan beban sepeser pun.Laporan yang baru saja diterima Shen Wei adalah tentang percobaan bunuh diri Wen Yi yang ke-99 kalinya. Sembilan puluh sembilan kali wanita angkuh itu berusaha mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara—mulai dari mencoba menenggelamkan diri di rawa berlumpur, memakan tanaman beracun di hutan karantina, hingga mencoba menggores nadinya dengan pecah
Langkah kaki Shen Wei terdengar beritme saat ia meninggalkan ambang pintu kamar Putri Wen Yi. Udara pagi di koridor luar Paviliun Pengobatan terasa bersih, perlahan mengusir sisa-sisa bau belerang dan asam sisa pertempuran fajar tadi. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh menuju taman dalam, sesosok tubuh tinggi berbalut jubah sutra merah menyala sudah berdiri bersandar pada pilar batu, menunggunya dengan ekspresi yang sulit diartikan.Lang Yue menghentikan kibasan pelan sembilan ekor serigalanya begitu melihat Shen Wei keluar. Sepasang mata rubahnya yang tajam menatap lurus, memancarkan bauran rasa tidak percaya atas keputusan radikal yang baru saja didengarnya dari dalam ruangan."Yang Mulia, apakah benar Anda akan melakukan hal itu?" tanya Lang Yue sang selir Serigala, suaranya beralih rendah, kehilangan nada narsistik yang biasa ia pamerkan."Ya. Aku harus membuatnya belajar tentang hidup," jawab Shen Wei tanpa keraguan sedikit pun. Ia menghentikan langkahnya, menatap lur
Rasa frustasi yang teramat sangat menyelimuti setiap jengkal kesadaran Putri Wen Yi. Hinaan karena dikhianati oleh faksi pendukungnya sendiri baru saja meremukkan fondasi harga dirinya, namun fakta bahwa ia berutang nyawa pada Shen Wei adalah racun yang jauh lebih mematikan bagi egonya yang setinggi langit. Baginya, tatapan kasihan atau bahkan kepuasan taktis yang terpancar dari wajah Wenxian terasa seperti duri yang menusuk langsung ke ulu hatinya."Aku tidak sudi... Aku tidak sudi menjadi objek belas kasihanmu!" pekik Wen Yi, suaranya melengking frustasi, nyaris pecah karena histeria yang tak terbendung.Dengan mata yang membelalak liar dan napas yang memburu, ego besarnya yang terluka menuntut pelarian terakhir yang paling ekstrem: kematian. Jika ia tidak bisa hidup sebagai pemenang, ia menolak untuk hidup sebagai pecundang yang terhina di bawah kaki kakaknya. Dalam kebutaan emosi, Wen Yi tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar, bersiap mengatupkan rahangnya dengan kekuatan penuh
Aroma uap teh krisan yang tadi menenangkan saraf Shen Wei menguap begitu ia melangkah kembali menembus tirai sutra Paviliun Pengobatan. Sesi tombol jeda singkat bersama empat selir monsternya telah usai, dan kini otak ilmiahnya harus kembali beralih ke mode klinis yang dingin.Di sisi barat ruangan, She Ming baru saja meletakkan jarum perak terakhirnya ke dalam wadah alkohol. Di atas ranjang, kelopak mata Putri Wen Yi mulai bergerak-gerak samar. Efek dari formula alkali tingkat tinggi milik sang Alkemis Ular terbukti efektif memicu reboot total pada sistem metabolisme tubuh sang Putri yang sempat terkontaminasi asam parasit Gu."Ugh..." sebuah rintihan parau dan lemah lolos dari bibir pecah-pecah Wen Yi.Sepasang matanya perlahan terbuka, berkedip berkali-kali mencoba menghalau buram akibat hawa sihir yang sempat membekukan jaringan saraf penglihatannya. Namun, begitu fokus matanya pulih sepenuhnya, hal pertama yang tertangkap oleh retinanya adalah sosok megah berbalut jubah hitam ke
"Lang Yue, Huo Yan! Cepat bawa dia pergi!" perintah Shen Wei dengan nada yang lebih tinggi, mengabaikan denyut nyeri di dadanya melihat pengkhianatan di mata She Ming.Huo Yan tidak menunggu dua kali. Dengan satu gerakan kasar, ia mencengkeram bahu She Ming dan memiting tangannya ke belakang. Lang
"Chongqing! Sekarang! Serap sisa energinya sebelum dia menguasai kesadaran She Ming lagi!" perintah Shen Wei.Chongqing yang menyadari kesempatannya segera melompat ke atas ranjang. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di punggung She Ming, air mata masih mengalir di pipinya namun tatapannya tega
Shen Wei terdiam, menatap wajah She Ming yang tampak sangat pucat namun matanya berkilat penuh kemenangan kecil. Ia tahu She Ming mungkin sedang berakting atau setidaknya melebih-lebihkan, tapi melihat asap hitam yang semakin pekat di dadanya, Shen Wei tidak punya pilihan."Diam kalian semua!" bent
BRAK!Pintu paviliun terbuka sebelum Shen Wei sempat mengeluarkan satu kata pun. Huo Yan berdiri di ambang pintu, auranya yang dominan seketika memenuhi ruangan yang lembap itu. Hidung sang Harimau bergerak halus, mengendus udara yang masih pekat dengan aroma energi dingin yang ditinggalkan She Mi







