FAZER LOGINDi sebuah desa terpencil bernama Ashvale, dia hanyalah Kael, seorang anak miskin yang dicap sebagai anak haram. Nama aslinya adalah Kaelan, satu-satunya pewaris Kerajaan Aetherion, sekaligus pemilik Tulang Dewa Kuno, sebuah kekuatan yang telah menghapus seluruh ingatannya. Ketika dunia berusaha menginjak-injaknya, naluri seorang penguasa mulai bangkit dalam dirinya. Dengan kekuatan yang mampu menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya dan kecerdasan yang melampaui pemahaman manusia, dia mengubah setiap penghinaan menjadi kekaguman. Dari seorang anak yang tak pernah dianggap berharga, Kaelan bangkit menjadi sosok yang bahkan mampu membuat para raja berlutut di hadapannya.
Ver mais"Aahhh ... sakit."
Seorang pria paruh baya meringis kesakitan. Dia memegangi tangannya yang membengkak seperti terkena sengatan bisa ular. "Paman, kenapa dengan tangan, Paman?" tanya seorang remaja yang berusia sekitar tiga belas tahunan. Dia menatap pria di depannya dan tampak bungung, karena tiba-tiba pria itu meringis kesakitan. "Tidak apa-apa, tangan Paman baik-baik saja." Pria itu berbohong seraya menyembunyikan tangannya di belakang. Beberapa saat tadi dia menjabat tangan remaja itu, tapi saat tersentuh, tangannya tiba-tiba terasa remuk seperti ditekan palu. Remaja itu bernama Kaelan, dia adalah pangeran dari Kerajaan Aetherion. Kerajaan yang disegani dunia di era modern ini. "Benar, tangan Paman tidak apa-apa?" tanya Kaelan dengan wajah polos. Dia lupa, dirinya sangat berbeda dengan anak seusianya, bahkan dengan orang dewasa sekali pun tidak ada yang dapat bersentuhan dengannya kecuali Ayah dan Ibunya. Tubuhnya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, dia pernah mencoba memukul gong dengan tangan kosong, gong yang terbuat dari logam tembaga itu langsung hancur berkeping-keping hanya dengan satu pukulan. Kaelan memiliki kekuatan itu dari lahir. Dia tidak hanya lahir dengan kekuatan tubuh yang sangat dahsyat, tapi otak yang sangat jenius. Namun, kekuatan itu bukan membawa berkah baginya, justru menjadi petaka. "Tuan Muda, sepertinya untuk pelajaran kali ini akan ditunda dulu. Paman lupa ada hal penting yang belum dikerjakan,” ucap pria yang biasa dipanggil Master Aldric, guru besar di Keraton. "Iya, Paman. Tidak apa-apa, bisa lain kali," jawab Kaelan dengan tenang. Namun, tidak dengan hatinya. “Sial, ada apa dengan tubuhku ini? Gara-gara tubuhku yang aneh, aku harus belajar di luar kerajaan. Bahkan sekarang, menggenggam pulpen pun tidak bisa!" gerutunya, karena setiap dia memegang pulpen, pulpen itu langsung hancur menjadi serpihan kecil. Dari jendela Istana bagian lantai atas, dua orang berdiri menatap Kaelan yang menunduk sedih di halaman. Mereka adalah Raja Alaric dan Ratu Seraphina, orang tua Kaelan. "Kanda, sepertinya kondisi anak kita semakin memburuk," ucap Ratu Seraphina, wanita cantik dalam balutan sutra dengan corak emas dan mahkota yang di hiasi berlian. Ratu Seraphina begitu sedih, putra satu-satunya, yang akan dinobatkan menjadi putra mahkota kondisinya semakin memburuk. Raja Alaric mengangguk, wajahnya pun tampak gusar. "Kekuatan itu terus menggerogoti tubuh anak kita. Kanda sudah mencoba berdiskusi dengan tabib Istana, semuanya sepakat, Kaelan memiliki tubuh Dewa kuno. Sayang sekali, Kanda belum menemukan cara melatih tubuh itu dengan sempurna. Jadi kekuatan tubuh Dewa kuno memberontak, dan efeknya bisa kita lihat sendiri." "Kanda, apakah tidak ada cara mengatasi itu?" tanya Ratu Seraphina dengan cemas, dia tahu suaminya akhir-akhir ini terus berada di ruang perpustakaan, membuka setiap kitab-kitab peninggalan leluhur Kerajaan Aetherion. "Ada, Kanda menemukan catatan dari kitab-kitab para leluhur masalah Tubuh Dewa Kuno. Tapi itu beresiko." "Resikonya apa, Kanda?" tanya Ratu Seraphina yang sejak tadi menatap Kaelan dengan khawatir. KRAK "Sial, kenapa ini juga tidak bisa?" Kaelan memegang ranting pohon yang cukup besar, namun sesuai dugaan ranting itu pun langsung patah. "Aku sudah tidak punya teman dari kecil, dan sekarang keadaan ini semakin parah! Apa semesta membenciku? Dosa apa aku, sampai semesta mengasingkan aku dengan cara seperti ini? AKU MUAAAKKK!!" Kaelan berteriak marah ke atas langit, seperti sedang protes atas takdirnya. Dia memiliki otak yang sangat cerdas. Berbagai pelajaran yang dianggap sulit oleh orang lain, tapi baginya … semua sangat mudah. Dengan kecerdasan yang dia miliki, harusnya dia menjadi orang yang dikagumi banyak orang. Bukan hidup menyendiri, menjauh dari orang-orang. Sudah banyak yang mengira bahwa Kaelan adalah pangeran yang angkuh dan tidak ingin bergaul dengan anak lain, tapi semua itu salah. Kaelan juga ingin bergaul dengan bebas dengan anak-anak lain di istana, ingin belajar seperti yang lain juga. Tapi karena titik yang ada di tengkuk lehernya, kekuatan yang tidak bisa di kendalikan, Kaelan memilih untuk menjauh. Sang Ratu yang sejak tadi memperhatikan Kaelan, tiba-tiba mengalihkan pandangannya, menatap Raja Alaric dengan wajah memohon. “Kanda, resiko apa?” Dia masih penasaran dengan ucapan yang tidak dilanjutkan suaminya. “Resikonya, ingatan putra kita juga akan tersegel. Walaupun sementara, apa Dinda sanggup?” Raja Alaric sangat memahami perasaan istrinya. Mungkin bagi dia anaknya hilang ingatan sementara bukan perkara besar, tapi bagi istrinya berbeda. Perasaan seorang ibu itu jauh lebih kuat daripada perasaan seorang ayah. “Tuan Muda…” Saat Kaelan masih termenung dengan wajah kusam, tiba-tiba suara seorang wanita terdengar. Wanita itu bernama Evelyn. Usianya sekitar 35 tahun, dia adalah orang yang mengurus Kaelan dari bayi. “Evelyn, ada apa?” tanya Kaelan tanpa menoleh. “Tuan Muda, kenapa murung begitu? Apakah hal seperti biasa terjadi lagi?” tanya Evelyn. “Lebih buruk, sekarang jauh lebih buruk!” Evelyn sudah memahami keanehan tubuh Kaelan, bagaimanapun dia yang mengurus Kaelan dari lahir. “Daripada sedih bagaimana kalau kita ke pasar, jalan-jalan dan mencari jajanan enak. Bukannya Tuan Muda suka buah yang seperti gulali bentuk sate itu?” “Maksud Evelyn, tang hulu?” “Benar. Evelyn dengar di pasar sekarang ada festival jajanan. Ayo kita pergi, Tuan Muda. Di sana mungkin suasana hati Tuan Muda bisa membaik.” “Baik, ayo kita pergi. Aku juga sedikit bosen terus berada di istana.” Mereka pun bergegas ke pasar. Hanya menempuh beberapa menit, Kaelan dan Evelyn akhirnya tiba. Mata mereka takjub melihat lampion-lampion bwrwarna warni yang bergoyang tertiup angin. Aroma makanan menyeruak membuat mata Kaelan berbinar kesana kemari karena bingung memilih makanan apa yang akan dia beli. “Tuan Muda, itu tang hulu nya.” Tunjuk Evelyn pada salah satu pedangang. Kaelan mengikuti telunjuk Evelyn, tampak beberapa orang sedang mengantri. “Disana sangat ramai, Evelyn. Bagaimana kalau kita kesana saja. Disana!” seru Kaelan lalu berlari meninggalkan Evelyn. “Tuan Muda. Tunggu!” “Cepat Evelyn, nanti seseorang melampaui kita.” Karena pasar itu sangat ramai, Kaelan tidak suka menunggu lama makanan kesukaannya tersaji. Evelyn yang mempunyai tubuh kecil berusaha berjalan di antara banyaknya pengunjung pasar, walaupun terhimpit. “Loh, Tuan Muda?” Evelyn mulai celingak celinguk mencari keberadaan Kaelan. Tapi wanita itu sama sekali tidak melihat sang pangeran. Evelyn mulai berlari kesana kemari dengan wajah yang khawatir. “Tuan Muda, anda dimana? Bagaimana ini?” Evelyn langsung mengambil jimat yang diberikan Raja Alaric untuk bisa merasakan keberadaan Kaelan saat Kaelan hilang dari pengawasannya. Dia memegang jimat itu sambil memejamkan matanya, tapi suasana pasar sangat ramai. Itu membuat konsentrasinya sulit fokus untuk bisa merasakan keberadaan Kaelan. Ketika Evelyn masih berusaha konsentrasi, Kaelan masih terus berlari. Namun dia berlari terlalu bersemangat dan mencari celah yang kosong agar tidak menabrak orang lain. Semakin jalan itu kosong, semakin dia berlari kencang. Saat dia sadar, dan berhenti berlari. Kaelan kebingungan, karena saat ini dia berada di gang sempit yang tidak ada orang sama sekali. “Sepertinya ada mangsa yang datang.” “Hahaha, dari pakaiannya, dia tidak terlihat miskin. Pasti dia punya banyak uang.” “Kita benar-benar beruntung, saat pasar dijaga ketat karena ada festival, eh ada bocah yang datang sendiri ke sarang kita.” Kaelan membalikkan tubuhnya, dia melihat ada lima pria yang beusia sekitar 30 tahunan muncul. Rambut mereka acak-acakan, pakaian lusuh dan wajah yang gelap. Selain itu, lengan bahkan hingga leher mereka penuh dengan tato. Dari penampilannya, sudah bisa terbaca bahwa kelima orang itu adalah preman. “Bocah, serahkan apa pun yang kamu miliki! Jika tidak…” “Jika tidak apa?” potong Kaelan. “Hahaha, jika tidak, kamu bisa melupakan untuk bisa meninggalkan tempat ini.” Kaelan berdiri dengan wajah suram. “Sebaiknya kalian menjauh dariku, suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aku takut terjadi apa-apa dengan kalian.” Lima pria itu saling lirik, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Bocah, kenapa aku yang minum tapi kamu yang mabuk?” “Sudah jangan banyak bicara omong kosong, karena bajingan kecil ini tidak mau patuh, lebih baik langsung meringkusnya!” Salah satu dari mereka berjalan santai, rokok yang masih menyala menempel di bibirnya, dan dia menghisapnya secara perlahan. “Bocah, ada jalan yang mulus dengan menyerahkan semua hartamu, kamu justru memilih jalan yang menuju kehancuran!” Orang itu mengulurkan tangannya, bermaksud meraih kerah baju Kaelan. Namun, sebelum tangan itu sampai, Kaelan sudah menggenggam pergelangan tangannya terlebih dahulu. KRAAKK!!! “Aahhh, tanganku!” “Gio, kenapa kamu? Lebay banget sampai berpura-pura kesakitan digenggam anak kecil!” tanya keempat temannya yang masih berdiri di belakang. “Sudah ku katakan suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja. Namun kalian tidak mau mendengar!” Kaelan melemparkan pria itu seperti membuang sampah. BAANG!!! Pria itu terlempar menghantam keempat temannya sendiri. Mereka tidak sempat menghindar karena terpana melihat tangan mungil bisa melemparkan pria dewasa seperti tidak ada beban sama sekali. “Mustahil, ini tidak mungkin!” Orang yang paling memiliki tubuh besar bangun, karena tadi dia terjatuh akibat benturan temannya sendiri. Orang itu mengeluarkan belati dari pinggangnya dan memainkan gagang belati hingga belati itu berputar-putar seperti kincir angin. “Bocah, aku tidak tahu sihir apa yang kamu gunakan. Tapi sekarang sudah saatnya kamu mati!” Kaelan hanya mendengus ketika orang di hadapannya datang sambil memainkan belati. Saat belati itu di arahkan untuk menusuk jantungnya, Kaelan mengepalkan tangannya dan memukul belati itu secara langsung. BAANG!!! KRAAKK!!! Belati di tangan orang itu langsung pecah menjadi serpihan logam. Dia masih berdiri di situ, karena Kaelan hanya mematahkan belatinya tanpa melanjutkan pukulannya. Namun, melihat belatinya hancur dengan pukulan tangan kosong, orang itu diam mematung. Dia sangat ketakutan, bahkan saking ketakutannya, dari selangkangannya mulai meneteskan air keruh dengan bau busuk yang menyengat. Orang itu ngompol di celana. “Tuan Muda.” Saat suasana sangat tegang, Kaelan mendengar suara Evelyn. “Kalian harus berterima kasih karena pelayanku tiba. Jika tidak, orang-orang seperti kalian lebih baik mati daripada hidup meresahkan!” Kaelan berjalan melintasi kelima orang itu, mereka yang memiliki tampang bringas, berubah menjadi kucing pemalu. Kelima orang itu menundukkan kepalanya tidak ada yang berani menghentikan langkah Kaelan untuk meninggalkan gang sempit itu. Setelah berada di ujung gang, Kael melihat bayangan tubuh Evelyn. “Evelyn, aku di sini.” “Tuan Muda, kenapa Tuan Muda bisa berada di…” Namun, sebelum Evelyn berhasil menyelesaikan kata-katanya, dia melihat wajah Kaelan tiba-tiba sangat pucat. Dia memegangi dadanya karena menahan sakit. “Tuan Muda, apa yang terjadi?” Walaupun sangat panik, Evelyn langsung membopong Kaelan, dan membawanya kembali ke Keraton. Sesampainya di Istana, Evelyn langsung membawa Kaelan ke ruangan Raja Alaric. “Yang Mulia, tolong. Cepat selamatkan Tuan Muda!” teriak Evelyn dengan suara cemas. Raja Alaric dan Istrinya segera membalas menghampirii. Ketika dua pasang mata itu terjadi pada Kaelan, mereka langsung tidak berdaya. “Kanda, cepat selamatkan putra kita! Jika dia selamat, aku tidak keberatan Kaelan harus kehilangan ingatannya sementara.” Raja Alaric mengangguk. “Kanda mengerti. Kanda akan mulai menyegel Tubuh Dewa Kuno. Kekuatan ganas itu akan tersegel bersama ingatannya.” Raja Alaric menatap Kaelan dengan sedih. “Kaelan, maafkan Ayah, mulai sekarang kamu bisa bermain, kekuatan dalam tubuhmu akan tersegel selama sepuluh tahun. Ayah harap dalam rentang waktu itu, Ayah sudah berhasil menemukan solusi tanpa harus membuat ingatanmu hilang lagi!” Kaelan mulai disegel, yang tersegel bukan hanya kekuatan Tubuh Dewa Kuno saja, tapi ingatannya pun ikut tersegel. “Evelyn, aku percayakan dia padamu. Bawa dia ke kampungmu. Biarkan dia hidup tanpa kemewahan istana lagi. Kamu tidak perlu khawatir, sekarang dia normal. Kekuatannya sudah aku segel sehingga tidak akan membahayakan siapa pun.”“Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib
Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len
Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d
Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.