Share

Bab 2

Author: Jasmin
Hari di mana aku keluar dari rumah sakit, tiba-tiba hujan deras mengguyur langit. Saat aku kembali ke rumah Keluarga Jundika, aku sudah basah kuyup.

Begitu Kenan melihatku, dia langsung menutup hidung dengan jijik. "Kamu bau sekali! Karpetnya jadi kotor!"

Sebenarnya, bau hujan yang bercampur tanah tidak terlalu menjijikkan.

Dia melakukan itu hanya untuk membuat Sabrina senang. Sabrina yang mengenakan piama sutra terbaikku, sedang duduk di kursi utama ruang tamu.

Benar saja, aktingnya yang berlebihan membuat Sabrina menutup mulutnya sambil tertawa geli.

Dia melipat tangan dengan sikap seperti seorang nyonya rumah.

Aku memilih untuk mengabaikannya, lalu berbalik dan naik ke lantai atas.

Detik berikutnya, Arsen keluar dari ruang kerjanya. Di belakangnya ada dua orang bawahannya yang mengenakan setelan hitam.

Dia pun mengerutkan kening, suaranya penuh ketidaksabaran. "Sabrina hari ini sengaja datang untuk mengajari Kenan etika keluarga mafia. Kamu tidak hanya tidak berterima kasih, tapi juga menunjukkan muka masam?"

Aku berdiri di tangga, menjawab dengan dingin, "Baiklah, kalau begitu aku serahkan dia padamu. Mari kita bercerai."

Arsen langsung menangkapku. "Melina, kamu tahu apa yang sedang kamu katakan? Sebagai nyonya bos mafia, apa kamu pikir pernikahan itu main-main? Jangan semudah itu menyebut perceraian!"

Sabrina juga berdiri, nada bicaranya terlihat menasihati, tetapi sebenarnya menegurku tak pengertian, "Melina, Arsen begitu mencintaimu, tapi kamu malah bicara soal perceraian, itu sungguh menyakiti hatinya!"

"Kalau ini karena aku membuat keluargamu tidak harmonis, aku akan pergi sekarang dan tidak akan pernah muncul lagi!"

Sabrina berbalik dan berjalan pergi. Arsen menatapku sekali lalu berbalik mengejarnya.

Sementara aku naik ke lantai atas tanpa menoleh ke belakang.

Di kamar, aku memasukkan semua barang ke dalam satu koper.

Aku pun meletakkan surat cerai yang sudah ditandatangani dan dokumen pemutusan hubungan ibu-anak di atas meja rias.

Terakhir, aku melepas cincin di jariku yang melambangkan identitas nyonya bos mafia.

Arsen tidak datang untuk menasihatiku. Dia mengira aku hanya sedang merajuk, dan dalam beberapa hari aku pasti akan menyesal serta minta maaf.

Saat ini Sabrina mengunggah sebuah foto di media sosial. Di mana tampak ruang tamu vila, dan dia duduk di samping Kenan menemaninya bermain game.

Keterangan di foto bertuliskan: [Anak-anak adalah yang paling peka. Dia pasti akan bersama orang yang baik padanya.]

Kurang dari semenit setelah foto diunggah, ibu dan adik perempuan Arsen, Dania Jundika dengan antusias memberi tanda suka.

Aku juga ikut memberi tanda suka seadanya.

Setelah menyegarkan halaman, postingan itu hilang. Mungkin Arsen yang menyuruh orang untuk menghapusnya. Dia tidak suka foto anaknya dipublikasikan di media sosial.

Aku malas ambil pusing, lalu menyeret koper turun ke lantai bawah.

Arsen melihatku menyeret koper, wajahnya benar-benar makin muram. "Letakkan kopermu kembali. Kamu boleh merajuk, tapi harus ada batasnya;"

Sabrina juga pura-pura menasihati sambil berlinang air mata, "Melina, pura-pura kabur dari rumah tidak apa-apa. Tapi bagaimana kalau Kenan meniru dan jadi nakal?"

Lalu dia pura-pura meraih tanganku dan membisikkan, "Suamimu, anakmu, mereka semua tidak mencintaimu lagi. Apa kamu masih mau tinggal di sini dan hidup di bawah bayanganku?"

Sebelum aku sempat bereaksi, kepalanya terbentur sudut meja, darah mengalir dari dahinya.

"Melina, aku berbaik hati menasihatimu, tapi kamu justru .…"

Arsen menatapku dengan penuh kemarahan. "Kamu sampai tega memukul orang. Aku benar-benar terlalu memanjakanmu! Pergilah! Kalau berani, jangan kembali lagi!"

Aku menatap Arsen dengan tenang dan berkata dengan nada dingin, "Percaya atau tidak, aku tidak mendorongnya. Aku pun tidak akan kembali lagi!"

Aku meninggalkan rumah dan naik mobil.

Aku lalu berkata kepada sopir, "Ke bandara."

Mobil melaju perlahan meninggalkan tempat itu. Gerbang besi vila tertutup pelan di belakang, seolah-olah tak pernah dibuka untukku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 8

    Sinar matahari menembus daun palem, sehingga kalung di leherku terasa sedikit hangat. Rayan sedang berbicara dengan beberapa tokoh ternama di dunia arkeologi, sesekali melemparkan pandangan lembut padaku.Suasana pesta pertunangan begitu anggun dan meriah, seolah semua masa lalu memang hanyalah mimpi yang jauh.Hingga pelayan dengan hormat menyerahkan sebuah surat kilat dari Swiss.Amplop kertas kraft itu tidak ada tanda tangan apa pun, tetapi aura dingin yang terpancar darinya sangat kukenal.Aku berjalan ke sudut sepi di dekat air mancur, lalu membuka amplop itu.Tulisan di lembar pertama tampak seperti terukir dengan keras di setiap goresannya.[Melina, Keluarga Wanida telah digabungkan ke dalam industri Keluarga Jundika minggu lalu.][Sabrina telah diasingkan selamanya ke Eropa Timur, dia tidak akan pernah muncul di depanmu lagi selamanya.][Kamar tidurmu di rumah masih tetap seperti semula. Pintu rumah akan selalu terbuka untukmu. Bukan sebagai nyonya rumah, tapi sebagai jalan pul

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 7

    Arsen mulai melakukan pendekatan yang canggung sampai terasa konyol.Pagi hari saat aku membuka tirai tenda, seikat mawar gurun tergeletak di depan pintu.Tanpa ekspresi, aku memungutnya lalu menyerahkannya kepada seorang pekerja lokal yang lewat. "Berikan saja pada istrimu, dia pasti suka bunga."Keesokan harinya, tengah malam buta terdengar suara nyanyian yang fals dan berantakan.Arsen malah berdiri di bawah cahaya bulan, memegang buku puisi cinta yang sudah kusut, lalu bernyanyi terbata-bata.Aku mengangkat baskom air untuk mencuci dari jendela dan menyiramkannya ke bawah.Hari ketiga lebih keterlaluan lagi. Dia bahkan turun tangan sendiri membuat tiramisu. Padahal aku hanya pernah sekali, bertahun-tahun lalu, menyebut bahwa aku menyukainya. Hasilnya, rasa manis belum sempat kucicipi, malah percikan api mengenai tenda dan membakar salah satu sudutnya.Saat pengawal Rayan berlari memadamkan api, Arsen berdiri di tengah asap hitam. Wajahnya terkena tepung dan bubuk kakao, seperti ana

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 6

    Malam di gurun sangat dingin hingga menusuk tulang, tetapi aku suka lembur di laboratorium sementara. Hanya ada suara pisau perbaikan yang menggesek kayu dengan bunyi berdesir, serta napasku sendiri yang tenang.Sampai malam ini, semuanya berubah.Ketika suara tembakan merobek kesunyian, aku sedang menggunakan kapas untuk membersihkan noda terakhir di tepi peti kayu.Rayan sudah bergegas masuk dan langsung menarikku berdiri."Bukan perampokan." Dia merendahkan suaranya, tatapannya tajam. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Mereka menargetkanmu."Saat kami bersembunyi di ruang penyimpanan artefak yang diperkuat, di luar sudah kacau balau.Rayan menahan pintu besi dengan tubuhnya, lalu menarik keluar sebuah pistol kecil yang indah dari pinggangnya."Kamu .…" Aku tertegun."Keluarga Hartono bukan hanya punya museum," katanya sambil cepat memeriksa magasin senjatanya. "Ayahku pernah berkata, untuk melindungi harta berharga dan orang yang kita cintai, kita harus menggunakan selur

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 5

    Aku tidak naik pesawat itu.Pada detik terakhir sebelum pemeriksaan keamanan, telepon dari Manajer Teddy masuk.Proyek Mojave ditunda, dan sebagai gantinya ada penemuan makam baru oleh sebuah tim arkeologi internasional di dekat Luxor, Mesir.Aku menggenggam ponsel sambil menatap ke arah gerbang keberangkatan, tiba-tiba merasa ini adalah sebuah tanda untuk benar-benar memutuskan diri dari masa lalu.Aku pun menggunakan visa kerja yang baru diurus untuk membeli tiket pesawat menuju Kairo, dengan nama samaran Nivia Setiawan.Di toilet bandara, aku menyiram kartu SIM lama ke dalam kloset dan membuang ponselku ke tempat sampah. Gerakanku begitu tegas sampai aku sendiri terkejut.Kamp arkeologi di selatan Kairo itu seperti pulau terpencil di tengah lautan pasir, terisolasi dari dunia luar.Aku bertanggung jawab memulihkan sebuah peti mati kayu berlukis.Di sini tidak ada yang tahu siapa aku. Aku adalah Nivia, seorang restorator yang pendiam tetapi cukup terampil.Rayan Hartono adalah ketua

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 4

    Suara keras asbak giok yang pecah menghantam lantai marmer membuat seluruh ruang rapat seketika terdiam.Di tengah serpihan yang beterbangan, Arsen sudah mencengkeram kerah bawahan yang sedang melapor itu. Urat di punggung tangannya menonjol, matanya merah seperti binatang buas yang terpojok."Periksa lagi." Suaranya ditekan sangat rendah, tetapi membuat semua orang yang hadir merinding."Dia tidak mungkin berada di pesawat itu. Tidak mungkin."Ini adalah pertama kalinya dalam dua puluh tahun terakhir, pemimpin Keluarga Jundika benar-benar merobek topeng ketenangannya di hadapan para mitra kerja.Wajah Sabrina memucat. Dia segera melangkah maju, mencoba menahan lengan pria itu."Arsen, tenang dulu, mungkin ....""Keluar."Sabrina malah didorong dengan kasar hingga terhuyung menabrak meja rapat. Sanggul rambut yang ditatanya dengan rapi pun terurai.Arsen bahkan tidak meliriknya sedikit pun, hanya menatap tajam bawahan itu."Kerahkan semua orang. Bandara, otoritas penerbangan, lokasi ja

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 3

    Aku lahir dari keluarga biasa, tetapi Keluarga Jundika tidak pernah meremehkanku. Setidaknya secara lahiriah.Keluarga yang menguasai kerajaan mafia yang sangat besar ini, memiliki aturan dan cara bertahan hidupnya sendiri.Untuk menyelesaikan pendidikan universitas, aku bekerja sambil kuliah, yaitu bekerja paruh waktu di Keluarga Jundika, dengan tugas utama merawat kakek Arsen, Tuan Reza, kepala Keluarga Jundika sebelumnya yang sedang sakit parah.Tuan Reza dari permukaan tampak sebagai kolektor barang antik dan arkeolog, tetapi kenyataannya, dia membangun jaringan intelijen pertama keluarga mafia melalui perdagangan barang antik.Dia memanfaatkan barang antik sebagai media untuk berbagai kegiatan ilegal, seperti penyelundupan dan pelelangan.Karena dia juga pernah meneliti barang antik, bidang keahlian kami cukup dekat, sehingga kami selalu punya topik pembicaraan yang tak habis-habisnya. Dia mengagumi ketajaman dan kesabaranku terhadap benda-benda bersejarah.Saat itu, Arsen baru sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status