공유

Menolak Semua Setelah Kehilangan
Menolak Semua Setelah Kehilangan
작가: Jasmin

Bab 1

작가: Jasmin
Pada hari ketiga dirawat di rumah sakit, aku menatap langit-langit berwarna abu-abu putih dalam diam.

Perutku yang dulu bulat kini kembali rata.

Anak perempuan yang kutunggu selama enam bulan tak akan pernah lahir.

Ternyata, ketika hati hancur sampai tak tertahankan, rasanya seperti tercekik.

Air mata hangat mengalir dari sudut mataku, membasahi rambutku. Aku pun menoleh ke arah wanita hamil di ranjang sebelah.

Dia begitu bahagia. Dari masuk rumah sakit hingga kelahiran anaknya, keluarganya selalu menemani dan merawatnya dengan penuh perhatian.

Namun, selama tiga hari aku dirawat di rumah sakit, suami dan anakku hanya datang sekali, dan pergi dengan terburu-buru.

Karena mereka harus segera pergi menonton pertunjukan perdana Sabrina Wanida.

Ponselku bergetar, ada pesan dari Sabrina, lengkap dengan sebuah video.

Video itu direkam di sebuah restoran mewah dekat teater.

Sabrina masih mengenakan riasan panggung yang rapi di wajahnya. Duduk di sampingnya, menunduk memotong steik untuknya adalah suamiku yang tampan, Arsen Jundika. Kepala Keluarga Jundika, pria yang menguasai kerajaan mafia yang besar.

Selama enam tahun pernikahan, dia tak pernah begitu perhatian padaku.

Pada hari ulang tahunku, aku memoles kukuku dan ingin dia membantu mengupas udang untukku. Tapi dia tidak melakukannya sendiri, melainkan menyuruh pelayan yang melakukannya.

Sebagai suamiku, bahkan hal kecil seperti itu pun dia enggan lakukan untukku.

Namun, sekarang dia malah bersedia memotong steik untuk Sabrina.

Semua alasan yang dia buat mungkin hanya karena aku bukan orang yang pantas untuk dia lakukan itu.

Hatiku sudah lama menjadi kebas, tetapi videonya masih terus diputar.

Sabrina tersenyum manis ke arah kamera, memakan steik yang diberikan Arsen kepadanya, lalu mengambil sepotong brokoli dan memberikannya kepada Kenan Jundika.

Dia berkata, "Kenan, kamu harus makan sayuran supaya tumbuh tinggi, agar nanti bisa kuat seperti ayahmu."

Brokoli adalah sayuran yang paling dibenci Kenan.

Dulu, jika aku tidak sengaja meletakkan sepotong kecil brokoli di piringnya, dia akan menangis dan memberontak, sedih sekali.

Akhirnya, aku terpaksa berjanji tidak akan memberinya brokoli lagi, barulah dia mau berbicara denganku.

Namun, sekarang Kenan sedang dengan lahap memakan brokoli yang diberikan Sabrina kepadanya, bahkan sambil tersenyum.

Dia memakan satu per satu potongan brokoli hingga habis satu piring.

Matanya yang cerah penuh dengan rasa percaya dan kebahagiaan.

Dia berkata di depan kamera, "Aku paling sayang sama Bu Sabrina!"

Sabrina sengaja bertanya, "Tapi sebelumnya kamu bilang yang paling kamu cinta itu Ibumu;"

Mendengar itu, wajah Kenan langsung menunjukkan ekspresi jijik.

"Itu setahun yang lalu. Sekarang aku sama sekali tidak menyukainya!"

Dia lalu berkata dengan marah, "Aku benci dia! Dia cuma memaksaku belajar piano, melukis, dan belajar! Aku anak ayah, pewaris keluarga. Tidak masalah kalau aku tidak bisa apa-apa!"

Anak laki-laki yang kulahirkan dengan susah payah, sekarang dengan leluasa menghinaku di depan orang asing.

Ayahnya, suamiku, duduk diam mendengarkan, tanpa ekspresi. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Sabrina.

Akhirnya aku mengerti. Betapa bodohnya aku berharap mendapatkan cinta dari ayah dan anak seperti mereka.

Mulai sekarang, aku tidak ingin lagi ada hubungan apa pun dengan keluarga yang dingin dan kejam seperti ini!

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 8

    Sinar matahari menembus daun palem, sehingga kalung di leherku terasa sedikit hangat. Rayan sedang berbicara dengan beberapa tokoh ternama di dunia arkeologi, sesekali melemparkan pandangan lembut padaku.Suasana pesta pertunangan begitu anggun dan meriah, seolah semua masa lalu memang hanyalah mimpi yang jauh.Hingga pelayan dengan hormat menyerahkan sebuah surat kilat dari Swiss.Amplop kertas kraft itu tidak ada tanda tangan apa pun, tetapi aura dingin yang terpancar darinya sangat kukenal.Aku berjalan ke sudut sepi di dekat air mancur, lalu membuka amplop itu.Tulisan di lembar pertama tampak seperti terukir dengan keras di setiap goresannya.[Melina, Keluarga Wanida telah digabungkan ke dalam industri Keluarga Jundika minggu lalu.][Sabrina telah diasingkan selamanya ke Eropa Timur, dia tidak akan pernah muncul di depanmu lagi selamanya.][Kamar tidurmu di rumah masih tetap seperti semula. Pintu rumah akan selalu terbuka untukmu. Bukan sebagai nyonya rumah, tapi sebagai jalan pul

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 7

    Arsen mulai melakukan pendekatan yang canggung sampai terasa konyol.Pagi hari saat aku membuka tirai tenda, seikat mawar gurun tergeletak di depan pintu.Tanpa ekspresi, aku memungutnya lalu menyerahkannya kepada seorang pekerja lokal yang lewat. "Berikan saja pada istrimu, dia pasti suka bunga."Keesokan harinya, tengah malam buta terdengar suara nyanyian yang fals dan berantakan.Arsen malah berdiri di bawah cahaya bulan, memegang buku puisi cinta yang sudah kusut, lalu bernyanyi terbata-bata.Aku mengangkat baskom air untuk mencuci dari jendela dan menyiramkannya ke bawah.Hari ketiga lebih keterlaluan lagi. Dia bahkan turun tangan sendiri membuat tiramisu. Padahal aku hanya pernah sekali, bertahun-tahun lalu, menyebut bahwa aku menyukainya. Hasilnya, rasa manis belum sempat kucicipi, malah percikan api mengenai tenda dan membakar salah satu sudutnya.Saat pengawal Rayan berlari memadamkan api, Arsen berdiri di tengah asap hitam. Wajahnya terkena tepung dan bubuk kakao, seperti ana

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 6

    Malam di gurun sangat dingin hingga menusuk tulang, tetapi aku suka lembur di laboratorium sementara. Hanya ada suara pisau perbaikan yang menggesek kayu dengan bunyi berdesir, serta napasku sendiri yang tenang.Sampai malam ini, semuanya berubah.Ketika suara tembakan merobek kesunyian, aku sedang menggunakan kapas untuk membersihkan noda terakhir di tepi peti kayu.Rayan sudah bergegas masuk dan langsung menarikku berdiri."Bukan perampokan." Dia merendahkan suaranya, tatapannya tajam. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Mereka menargetkanmu."Saat kami bersembunyi di ruang penyimpanan artefak yang diperkuat, di luar sudah kacau balau.Rayan menahan pintu besi dengan tubuhnya, lalu menarik keluar sebuah pistol kecil yang indah dari pinggangnya."Kamu .…" Aku tertegun."Keluarga Hartono bukan hanya punya museum," katanya sambil cepat memeriksa magasin senjatanya. "Ayahku pernah berkata, untuk melindungi harta berharga dan orang yang kita cintai, kita harus menggunakan selur

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 5

    Aku tidak naik pesawat itu.Pada detik terakhir sebelum pemeriksaan keamanan, telepon dari Manajer Teddy masuk.Proyek Mojave ditunda, dan sebagai gantinya ada penemuan makam baru oleh sebuah tim arkeologi internasional di dekat Luxor, Mesir.Aku menggenggam ponsel sambil menatap ke arah gerbang keberangkatan, tiba-tiba merasa ini adalah sebuah tanda untuk benar-benar memutuskan diri dari masa lalu.Aku pun menggunakan visa kerja yang baru diurus untuk membeli tiket pesawat menuju Kairo, dengan nama samaran Nivia Setiawan.Di toilet bandara, aku menyiram kartu SIM lama ke dalam kloset dan membuang ponselku ke tempat sampah. Gerakanku begitu tegas sampai aku sendiri terkejut.Kamp arkeologi di selatan Kairo itu seperti pulau terpencil di tengah lautan pasir, terisolasi dari dunia luar.Aku bertanggung jawab memulihkan sebuah peti mati kayu berlukis.Di sini tidak ada yang tahu siapa aku. Aku adalah Nivia, seorang restorator yang pendiam tetapi cukup terampil.Rayan Hartono adalah ketua

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 4

    Suara keras asbak giok yang pecah menghantam lantai marmer membuat seluruh ruang rapat seketika terdiam.Di tengah serpihan yang beterbangan, Arsen sudah mencengkeram kerah bawahan yang sedang melapor itu. Urat di punggung tangannya menonjol, matanya merah seperti binatang buas yang terpojok."Periksa lagi." Suaranya ditekan sangat rendah, tetapi membuat semua orang yang hadir merinding."Dia tidak mungkin berada di pesawat itu. Tidak mungkin."Ini adalah pertama kalinya dalam dua puluh tahun terakhir, pemimpin Keluarga Jundika benar-benar merobek topeng ketenangannya di hadapan para mitra kerja.Wajah Sabrina memucat. Dia segera melangkah maju, mencoba menahan lengan pria itu."Arsen, tenang dulu, mungkin ....""Keluar."Sabrina malah didorong dengan kasar hingga terhuyung menabrak meja rapat. Sanggul rambut yang ditatanya dengan rapi pun terurai.Arsen bahkan tidak meliriknya sedikit pun, hanya menatap tajam bawahan itu."Kerahkan semua orang. Bandara, otoritas penerbangan, lokasi ja

  • Menolak Semua Setelah Kehilangan   Bab 3

    Aku lahir dari keluarga biasa, tetapi Keluarga Jundika tidak pernah meremehkanku. Setidaknya secara lahiriah.Keluarga yang menguasai kerajaan mafia yang sangat besar ini, memiliki aturan dan cara bertahan hidupnya sendiri.Untuk menyelesaikan pendidikan universitas, aku bekerja sambil kuliah, yaitu bekerja paruh waktu di Keluarga Jundika, dengan tugas utama merawat kakek Arsen, Tuan Reza, kepala Keluarga Jundika sebelumnya yang sedang sakit parah.Tuan Reza dari permukaan tampak sebagai kolektor barang antik dan arkeolog, tetapi kenyataannya, dia membangun jaringan intelijen pertama keluarga mafia melalui perdagangan barang antik.Dia memanfaatkan barang antik sebagai media untuk berbagai kegiatan ilegal, seperti penyelundupan dan pelelangan.Karena dia juga pernah meneliti barang antik, bidang keahlian kami cukup dekat, sehingga kami selalu punya topik pembicaraan yang tak habis-habisnya. Dia mengagumi ketajaman dan kesabaranku terhadap benda-benda bersejarah.Saat itu, Arsen baru sa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status