공유

Bab 5

작가: Semi
Stella mengalami mimpi yang sangat panjang.

Dalam mimpinya, dia dipaksa oleh keluarganya untuk belajar berenang, dan dia tenggelam di pantai, tetapi tidak ada yang menyadarinya.

Ombak menerjangnya dan menyeretnya keluar dari area berenang. Dia meronta-ronta di tengah ombak, menangis dengan panik, dan mengira dia akan mati di sana.

Di saat kritis itu, Hans mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya dan membawanya ke darat.

Melalui kabut tipis di depannya, dia bisa mendengar ekspresi cemas sekaligus panik pria itu.

"Stella?"

Saat membuka matanya lagi, Stella melihat ekspresi yang sama seperti dalam mimpinya.

Dia membuka mulutnya, suaranya serak. "Aku baik-baik saja."

Begitu mendengar suaranya, Hans segera memanggil dokter untuk memeriksanya dan menanyakan kondisinya beberapa kali.

Dokter itu mulai tidak sabar dan menegaskan sekali lagi.

"Luka nggak mengenai area vital, jadi cederanya nggak terlalu parah. Akan sembuh setelah beristirahat selama beberapa waktu."

Setelah berulang kali memastikan, Hans akhirnya merasa tenang.

Pria itu menyelimutinya, menuangkan segelas air untuknya, dan menatapnya dengan ekspresi yang sangat rumit.

"Kenapa kamu begitu bodoh? Kenapa menahan tusukan itu untukku?"

Bulu mata Stella bergetar saat adegan dari mimpinya terputar kembali dalam benaknya.

Setelah hening sejenak, dia menyesap air dan menceritakan bagaimana Hans pernah menyelamatkannya ketika dia berusia sepuluh tahun.

Namun kali ini, nada bicaranya sudah tidak lagi mengandung rasa malu seorang gadis muda yang sedang jatuh cinta.

Yang ada hanyalah rasa kecewa seiring berjalannya waktu, dan rasa lega karena telah melunasi utang budi.

Hans mendengarkan dengan ekspresi kosong. Nadanya terdengar ragu-ragu. "Jadi, yang kamu maksud sewaktu bilang kita impas itu adalah masalah ini?"

Melihat ekspresinya, Stella menyadari bahwa Hans sepertinya telah melupakan masalah itu.

Ternyata, momen yang menurutnya telah membuatnya terpikat dan tersentuh itu sama sekali tidak meninggalkan kesan apa pun bagi Hans.

Benar juga, saat itu seluruh hati dan fokusnya tercurah sepenuhnya pada Sonia.

Sekalipun Hans menyelamatkannya, itu juga karena dia adalah adiknya Sonia.

Selain itu, semuanya tidak penting.

Stella melengkungkan bibirnya membentuk senyum dan menjawab dengan nada bercanda, "Ya, sekalipun sesuatu terjadi padaku kelak, kamu juga nggak perlu merasa bersalah, hanya karena aku pernah melindungimu."

Entah mengapa, Hans merasa ada makna yang tersembunyi dalam kata-kata itu.

Tepat ketika dia ingin bertanya, ponselnya yang berada di atas meja berdering.

Begitu melihat nomor itu, dia langsung berdiri, mencari alasan, dan pergi.

"Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kamu istirahatlah dulu. Begitu pekerjaanku selesai, aku akan datang merawatmu lagi."

Stella juga sempat melirik layar ponsel itu, tetapi tidak membongkarnya.

Selama dirawat di rumah sakit beberapa hari ke depannya, Hans tidak muncul lagi.

Pria itu baru datang menjemputnya di hari kepulangannya dari rumah sakit.

Namun setelah masuk ke dalam mobil, Hans tidak mengambil jalan pulang, melainkan pergi ke kediaman Gondo.

Melihat vila di lereng bukit di kejauhan, Stella tiba-tiba merasa muram.

"Bukannya pulang ke rumah? Kenapa datang ke sini?"

Tangan Hans yang memegang kemudi berhenti sejenak, lalu dia pura-pura memasang sikap acuh tak acuh. "Hari ini ulang tahunnya Sonia. Kalian kakak beradik sudah lama nggak jumpa. Sudah seharusnya kumpul-kumpul, 'kan?"

Mata Stella berkilat. Dia telah memahami maksud pria itu.

Ternyata, dia menggunakan statusnya sebagai adik Sonia untuk pergi merayakan ulang tahun mantannya.

Stella menundukkan kepala, terdiam cukup lama, lalu memberikan alasan. "Aku nggak menyiapkan hadiah ...."

"Sudah aku siapkan, jadi nggak usah khawatir."

Tangan Stella sedikit gemetar, dan dia tidak berbicara lagi.

Setelah memarkir mobil di halaman, Stella mendengar suara-suara ramai yang berasal dari vila dan menoleh ke arah Hans. "Bagaimana kalau kamu sendiri yang masuk saja? Aku nggak begitu enak badan."

"Kalau begitu, ayo kita duduk sebentar, lalu pergi."

Hans tidak menjawabnya, dan langsung menariknya masuk.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status