Share

Bab 6

Author: Semi
Saat pintu terbuka, Keluarga Gondo yang sedang mengangkat gelas untuk merayakan, agak terkejut melihat kedatangan mereka berdua.

Namun, mereka segera menyadari apa yang sedang terjadi dan buru-buru maju sambil tersenyum. "Hans datang ya? Kamu ke sini untuk merayakan ulang tahun Sonia, 'kan? Ayo, tamu terhormat sepertimu harus duduk di sebelah gadis yang berulang tahun."

Sekelompok orang mendorong Hans ke tempat duduknya, meninggalkan Stella di ambang pintu.

Orang-orang di ruangan itu mulai asyik mengobrol, dan tidak seorang pun memperhatikannya.

Stella berdiri sendirian di dalam bayangan, mengepalkan tinjunya, hendak berbalik dan pergi.

Namun, dia baru saja melangkahkan kakinya ketika Sonia memanggilnya kembali.

"Stella, kenapa nggak duduk di sini? Jangan-jangan kamu masih marah padaku?"

Semua mata langsung tertuju pada Stella, jadi dia terpaksa berbalik.

Melihat tidak ada kursi kosong lagi, dan tidak tahu harus duduk di mana, jadi dia pun pergi ke dapur untuk memindahkan sebuah kursi, lalu duduk di pojok.

Hans segera berdiri dan ingin duduk di sana, tetapi ditarik kembali oleh ibu dan ayah mertuanya.

"Hans, kamu duduk di sini saja. Dia dari kecil sudah punya sifat tertutup, dan selalu suka duduk di pojok."

"Entah apa yang membuatnya punya sifat tertutup seperti itu. Dia bahkan nggak mengubah sifatnya setelah bertahun-tahun. Nggak usah pedulikan dia. Ayo, kita minum-minum."

Hans tidak mendesak lebih lanjut dan mengambil gelas anggurnya.

Suasana kembali meriah. Semua orang mengobrol dan tertawa, saling membenturkan gelas dan bertukar ucapan selamat.

Melihat Hans yang seperti dulu mengupas udang untuk Sonia, membantunya minum anggur, dan berbisik satu sama lain dari waktu ke waktu, Stella langsung memalingkan muka.

Dia mengambil sendoknya, tetapi tidak mengambil lauk apa pun, dan perlahan menelan nasi putihnya.

Setelah beberapa gelas minuman, Hans mulai merasakan efek alkohol.

Keluarga Gondo mendesak Sonia untuk mengajak Hans berjalan-jalan di taman agar meredakan efek alkohol.

Hans juga tidak menolak.

Melihat mereka pergi, Stella juga berdiri, bersiap untuk pergi ke kamar mandi.

Para anggota Keluarga Gondo, yang beberapa saat lalu masih tersenyum puas, seketika mengubah ekspresi mereka menjadi muram begitu melihat tindakannya.

"Berhenti di situ! Biarkan mereka berdua bernostalgia. Kamu duduk diam di sana saja!"

"Kamu sudah menikah dengan Keluarga Setiawan dan menjadi Nyonya Setiawan selama tiga tahun, tapi Sonia dan Hans punya perasaan dalam sejak kecil. Sekalipun pergi ke sana, kamu juga nggak bisa mengikuti pembicaraan mereka. Jadi, untuk apa kamu ganggu mereka?"

Stella benar-benar tidak mengerti. Bagi keluarganya, dia yang notabene putri bungsu mereka ini termasuk apa?

Mungkin karena sudah mau pergi, nyali yang kuat tiba-tiba muncul dalam dirinya.

Untuk pertama kalinya, dia mempertanyakan keluarganya yang telah mengabaikannya sejak kecil, dan lebih menyayangi Sonia selama lebih dari satu dekade itu.

"Karena kalian merasa aku nggak pantas untuk Hans, mengapa kalian nggak membatalkan aliansi pernikahan saat Sonia melarikan diri waktu itu?"

Melihat Stella masih berani mengungkit hal ini, ayahnya langsung membanting tangannya ke meja.

"Sonia hanya khilaf sesaat, sebagai adiknya, sudah seharusnya kamu membantunya membereskan kekacauan ini, 'kan? Toh, bukannya kamu sendiri yang tanpa malu-malu naik ke panggung dan mengatakan ingin menikah dengan Hans? Kamu membuat kehebohan besar dan menghancurkan semua kesempatan Sonia untuk bersama Hans. Jadi, atas dasar apa kamu mengamuk di sini?"

Ternyata, Keluarga Gondo selama ini menyimpan dendam karena pernikahannya dengan Hans?

Jika mereka begitu keberatan, lantas mengapa mereka berulang kali memerintahkannya untuk mengawasi Hans agar bisa mengamankan proyek bisnis bernilai puluhan triliun itu?

Hawa dingin seketika menjalari sekujur tubuh Stella, seolah-olah dia jatuh ke dalam kawah es.

Dia menatap lekat-lekat keluarga yang memiliki hubungan darah dengannya itu, dengan tangan yang terkepal erat. "Jadi, kalian semua menganggap akulah yang menyebabkan Sonia menjadi sekarang ini?"

Ibunya meletakkan sendoknya dan menatapnya dengan wajah dingin.

"Kalau kamu nggak ikut campur, Hans pasti akan mengejar Sonia sampai ke Merika dan membujuknya kembali. Sonia juga nggak perlu menikahi pemuda miskin itu dan menderita selama bertahun-tahun! Status Nyonya Setiawan pada dasarnya bukanlah milikmu. Kamu harus mengembalikannya pada Sonia!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status