แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Semi
Hans tidak kembali selama dua hari berikutnya.

Stella yang sedang memulihkan diri di rumah, sering melihat unggahan Sonia di media sosial.

Menyaksikan matahari terbenam di pantai, menonton kembang api di taman hiburan, dan hamparan bunga yang dilihat dari balon udara panas ....

Masing-masing fotonya secara halus memperlihatkan tangan Hans dengan buku-buku jarinya yang khas.

Menatap tahi lalat hitam yang familier di jari kelingkingnya, benak Stella dipenuhi berbagai macam pikiran.

Selama tiga tahun terakhir, dia bahkan merencanakan beberapa kencan dalam upaya untuk mendapatkan hati Hans.

Namun, Hans menolak setiap kalinya, dengan alasan terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan masalah itu perlahan terabaikan.

Setelah dilihat sekarang, sepertinya Hans hanya tidak ingin melakukan hal-hal yang biasa dilakukan sepasang kekasih, dengan seseorang yang tidak dia cintai.

Namun, tidak apa-apa. Tak lama lagi, Hans sudah bisa menjadi dirinya sendiri.

Stella tersenyum, bangkit, dan keluar.

Hari ini ada temannya yang berulang tahun. Temannya mengadakan pesta dan mengundangnya untuk datang.

Ketika Stella tiba di bar dan membuka pintu, dia mendapati Hans dan Sonia juga berada di sana.

Tatapan ketiga orang itu bertemu di udara, lalu ketiganya dengan serentak mengalihkan pandangan.

Stella menemukan tempat duduk di pojok, alih-alih bergabung dengan kerumunan.

Pelayan meletakkan segelas anggur di depan Stella. Melihat hal itu, Hans segera menghentikannya dan berkata, "Stella masih terluka. Dia minum air putih saja."

Mendengar itu, Sonia dan Stella sama-sama terkejut.

Orang-orang di sekitarnya terus menggodanya, mengatakan dia terlalu perhatian pada istrinya.

Hans tersenyum, tidak menjawab, dan mengganti topik pembicaraan. "Bukankah kita mau bermain game? Ayo mulai saja."

Stella kurang enak badan, jadi dia tidak ikut bergabung dan hanya mengamati dalam diam.

Setelah bermain lebih dari sepuluh ronde, Hans akhirnya kalah.

Kartu yang dia pilih adalah menelepon orang yang paling dia cintai.

Mendengar itu, semua orang di ruangan itu membelalakkan mata. Pandangan mereka tertuju pada Sonia dan Stella secara bergantian.

Hans juga terpaku, bergeming untuk waktu yang lama.

Melihat hal itu, sahabat-sahabat Hans berusaha mencoba meredakan kecanggungan, dengan mengatakan bahwa dia bisa minum anggur sebagai hukuman.

Hans mengambil anggur di atas meja dan menghabiskannya dalam sekali teguk.

Detik berikutnya, tepuk tangan riuh terdengar dari kerumunan.

Menoleh ke arah sumber suara, Stella bertemu dengan tatapan puas Sonia yang sulit disembunyikan itu.

Stella tahu bahwa Sonia diam-diam sedang pamer.

Dia memamerkan perasaan Hans yang begitu dalam padanya, dan juga cinta tak terucapkan itu.

Tak lama kemudian, babak baru permainan pun dimulai.

Hans kalah lagi. Kartu yang dia dapatkan kali ini adalah bersulang kepada orang yang paling dia berutang budi dalam hidupnya.

Pria itu tampak menghela napas lega, berjalan menghampiri Stella, dan mengangkat gelasnya. "Stella, terima kasih atas segalanya selama ini."

Namun, hanya Stella yang tahu bahwa 'terima kasih' yang diucapkan Hans adalah karena Stella telah berinisiatif mengambil tanggung jawab di pesta pernikahan dan menyelesaikan kekacauan untuknya.

Hans tahu dia tidak bisa memberikan cinta padanya, juga tahu Stella akan terperangkap dalam sangkar pernikahan dan dikritik oleh orang lain, jadi dia merasa bersalah.

Meskipun Stella melakukan semua ini dengan sukarela, dia tetap mengangkat gelas air putihnya dan dengan lembut membenturkan gelas mereka.

"Aku juga ingin berterima kasih padamu."

Terima kasih telah hadir dalam hidupku.

Mulai sekarang, kita tidak akan berhubungan lagi.

Suasana langsung menjadi riuh, dan semua orang mulai mendesak mereka untuk bersulang dengan lengan bersilang.

Sebelum Stella sempat menolak, dia melihat Sonia perlahan bangkit. "Aku masih ada urusan dan harus pergi duluan. Selamat bersenang-senang semuanya."

Sebelum ada seorang pun di ruangan itu yang sempat bereaksi, dia telah berbalik dan pergi.

Hans yang masih memegang gelas anggur itu terdiam sejenak.

Beberapa detik kemudian, pria itu meletakkan gelasnya, dan mengatakan ingin pergi ke toilet, lalu keluar pintu.

Suasana di ruangan itu kembali menjadi aneh ketika kedua orang itu tiba-tiba pergi.

Stella juga membuat alasan, mengambil tasnya, dan pergi.

Begitu keluar dari ruang VIP, dia melihat Sonia di lantai pertama.

Sekelompok preman dengan rambut yang dicat kuning memojokkannya dan menggodanya.

Stella mengerutkan kening dan bersiap untuk memanggil pemilik bar untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Namun begitu dia turun ke bawah, dia melihat Hans bergegas masuk dengan sebotol anggur dan memecahkannya di kepala pemimpin para preman.

Demi membalas dendam untuk pemimpin mereka, para preman mengumpulkan senjata dan mengepung Hans.

Kerumunan berteriak dan berhamburan, menciptakan kekacauan total.

Melihat Hans melawan lima orang sendirian, berlumuran darah, dan masih mencoba memprovokasi mereka dengan serangan mematikan, hati Stella bergetar hebat.

Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi membalas dendam untuk Sonia?

Para preman juga tidak menyangka akan berhadapan dengan orang yang begitu nekat. Semua tongkat kayu yang digunakan mereka telah patah.

Salah seorang dari mereka, dengan mata memerah, mengambil pisau buah dari atas meja.

Bilah tajam itu memantulkan lengkungan cahaya dingin, yang menyinari mata Hans.

Reaksi pertama Hans adalah mendorong Sonia ke dalam ruang VIP dan menutup pintu.

Ketika dia berbalik lagi, preman bersenjata pisau itu sudah berlari ke depannya.

Jaraknya terlalu dekat. Dia tidak punya waktu untuk menghindar dan secara naluriah mengangkat lengannya untuk menangkis.

Tepat saat pisau hendak menusuknya, seseorang menerjang ke depannya dan menghalangi serangan itu.

Dia hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat pisau itu menembus tubuh Stella. Pupil matanya membesar karena terkejut.

"Stella, kenapa kamu ...."

Sekujur tubuh Stella terasa lemas, tanpa sedikit tenaga pun.

Dia ambruk ke pelukan pria itu, menunduk untuk melihat darah yang mengalir dari dadanya, dan sesaat merasa linglung.

Kelopak matanya terasa berat hingga terkulai, dan kesadarannya juga perlahan memudar.

Sebelum kehilangan kesadaran, Stella menatapnya untuk terakhir kalinya dan berhasil mengucapkan beberapa kata.

"Ha ... Hans, mulai sekarang, ki ... kita impas."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status