Short
Ucapan Selamat Malam yang Memisahkan Kita

Ucapan Selamat Malam yang Memisahkan Kita

Oleh:  MickeyTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
120Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Yansen Sonata memiliki sebuah kebiasaan yang sudah dipertahankannya selama delapan tahun. Dia selalu menelepon tepat waktu pada setiap pukul sebelas malam. Panggilan itu selalu berdurasi tiga menit. “Kiara mengalami insomnia. Kata dokter, harus ada yang menemaninya ngobrol sebelum tidur.” “Kenapa harus kamu?” “Kiara bisa terluka pada kecelakaan waktu itu juga demi menyelamatkanku. Dia sudah menyelamatkan nyawaku.” Selama delapan tahun, sudah lebih dari 2.900 panggilan berdurasi tiga menit. Aku sudah berusaha meyakinkan diriku untuk belajar menerima semuanya. Saat ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, Yansen akhirnya menyempatkan waktu untuk menebus bulan madu kami yang tertunda. Sehari sebelum perjalanan itu berakhir, Yansen sedang mandi di kamar mandi, sedangkan aku sedang berbaring di ranjang hotel sambil memilih foto-foto yang kami ambil bersama. Tiba-tiba, sebuah pesan muncul di ponsel Yansen. Isinya adalah video yang dikirim Kiara. Di atas layar terlihat Kiara sedang berbaring di ranjang pernikahan kami. Dia mengenakan piyamaku sambil menyandarkan kepalanya di bantal milikku, lalu tersenyum ke arah kamera. “Kak, boleh nggak kita bicara satu menit lebih lama hari ini? Aku sangat merindukanmu. Tiga menit lagi sudah waktunya untuk teleponan.”

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Pukul 10.59, setelah Yansen Sonata keluar dari kamar mandi tepat waktu, aku menyerahkan ponselnya kepadanya.

Dia baru selesai mandi, rambutnya masih meneteskan air. Dia melihat layar sekilas seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu mengambilnya. “Kenapa kamu melihat ponselku?”

“Ponselmu berbunyi, jadi aku melihatnya.”

“Dia cuma datang beberapa hari ini untuk membantu kita memberi makan kucing. Dia merasa capek, makanya dia berbaring sebentar di tempat tidur.”

“Kemudian, dia tidur di atas ranjang kita?”

Yansen mengikat erat tali jubah mandi. Dia terdiam selama beberapa detik. “Bukannya ranjang memang digunakan untuk tidur?” Selesai berbicara, dia mengambil ponselnya untuk menelepon di balkon.

Malam itu, Yansen tidak pernah mengungkit masalah ini lagi.

Setelah naik ke tempat tidur, Yansen membalikkan tubuh, menarik selimut ke arahnya, lalu membelakangiku. Aku menatap bagian belakang kepalanya di dalam kegelapan.

Tak lama kemudian, napas Yansen menjadi teratur. Aku membalikkan badan, tetapi semalaman tidak bisa tidur.

Kami pulang ke rumah pada sore hari berikutnya.

Begitu masuk, Yansen meletakkan koper, lalu mengatakan bahwa ada urusan di perusahaan, jadi dia mesti pergi.

Aku masuk ke kamar utama dan berdiri di sisi tempat tidur sembari menatapnya cukup lama.

Seprai sudah diganti menjadi warna abu-abu putih, bukan yang kubeli. Seprai yang lama ternyata diselipkan di sudut terdalam lemari hingga kusut.

Kiara mengenakan piyamaku, berbaring di atas ranjangku, bahkan mengotori sepraiku. Di dalam kulkas bertambah sekotak biskuit. Wadah-wadah makanan ditata dengan sangat rapi. Di sampingnya tertempel secarik memo berwarna merah muda. [ Kak, ini rasa cranberry favoritmu, lho. ]

Di dalam lemari dapur, ada satu set peralatan makan berwarna merah muda dengan pinggiran berlapis emas. Alas cangkirnya disulam dengan tangan bertuliskan: [ Khusus untuk Kiki. ]

Peralatan makan putih milikku didorong ke bagian paling dalam. Piring-piringnya sudah tertutup lapisan debu. Setelah kuperhatikan dengan saksama, ternyata bagian pinggirnya juga sudah pecah.

Set piring ini kubeli pada tahun pertama pernikahan kami. Awalnya ada empat buah, tetapi sekarang hanya tersisa tiga yang masih utuh. Aku memotret semuanya.

Saat Yansen pulang malam itu, aku menunjukkan satu per satu foto kepadanya. Dia hanya meliriknya, lalu mengembalikan ponsel itu kepadaku. “Aku nggak tahu dengan semua itu.”

“Bagaimana dengan seprai?”

“Katanya terlalu licin. Tidurnya nggak nyaman, makanya diganti.”

“Tidurnya nggak nyaman? Tapi ini ranjang kita.”

Satu detik kemudian, Yansen malah mengerutkan keningnya. “Tere, dia cukup kasihan karena hidup sendiri. Apa kamu nggak bisa memakluminya?”

“Kata dokter, belakangan ini suasana hatinya sedang nggak stabil. Aku takut terjadi sesuatu sama dia. Anggap saja demi aku, jadi kamu jangan perhitungan lagi dengan dia.” Setelah selesai berbicara, Yansen mengambil ponselnya dan berjalan ke balkon.

Wanita itu kasihan, makanya aku harus memakluminya. Emosi wanita itu tidak stabil, jadi aku harus mengalah.

Semua hal yang harus dilakukan dibebankan kepadaku, sementara semua rasa iba dan kepeduliannya diberikan kepada wanita itu. Hatiku sungguh terasa getir. Aku pun berjalan ke kamar tamu dengan terdiam.

Tidak lama kemudian, waktu sudah menunjukkan tepat pukul sebelas malam.

Pintu balkon dibuka. Aku mendengar suara tawa rendah Yansen.

“Apa kamu gembira hari ini?”

“Hmm, aku juga merindukanmu.”

Tiga menit. Tidak terlalu singkat, tetapi juga tidak terlalu lama.

Setelah itu, pintu balkon ditutup. Suara langkah kaki terdengar dari balkon menuju ke depan pintu kamar tamu. Yansen hanya berhenti sebentar, kemudian berjalan menjauh.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status