LOGIN“I'll be gentle, Mil. Aku akan melakukannya dengan perlahan,” bisik Jonathan serak tepat di depan bibir Mili.Sensasi embusan napas hangat pria itu mengirimkan gelombang getar yang membuat darahnya berdesir-desir hebat. Sebelum Mili sempat merespons, jemari panjang dan hangat Jonathan yang berada di pinggangnya mulai bergerak. Dengan satu usapan lembut namun tegas, Jonathan mengangkat tubuh Mili yang awalnya duduk menyamping di pangkuannya, memutarnya perlahan hingga kini Mili duduk menghadap lurus ke arahnya.Mili kikuk bukan main. Ia ingin turun saja, merasa risih berat karena posisi duduknya yang dirasa terlalu vulgar untuknya. Ia duduk di pangkuan Jonathan dengan kedua kaki melingkar di sisi tubuh pria itu.Apalagi saat ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana.“J-Jo … mau turun,” rengek Mili. Mendadak ngeri sendiri.“Turun kemana, hmm?” tanya Jonathan. Pria itu malah mengeratkan pelukannya di pinggang Mili.Tak ada jarak di antara keduanya. Dada mereka menempel satu
"J-Jo!" jerit Mili tertahan, refleks memegangi bahu tegap Jonathan demi menjaga keseimbangan. Satu tangan besar Jonathan baru saja membelai lehernya dan hampir membuatnya terlonjak karena geli.Jonathan tersenyum tipis. Jemari Jonathan perlahan berpindah ke bahu, lalu menyusuri lengan hingga ke pinggang Mili. Kemudian, pria itu menarik tubuh Mili semakin merapat hingga tak ada celah di antara tubuh mereka. Tangan Jonathan yang satunya terulur pelan, menyingkap helai demi helai rambut Mili yang kini terurai bebas setelah ikat rambutnya dilepas. Sentuhan jemarinya yang hangat mengusap lembut garis rahang Mili, berpindah mengusap ceruk leher gadis itu hingga membuat bulu kuduk Mili semakin berdiri."Mau ke mana, hum?" bisik Jonathan serak tepat di depan bibir Mili, merasakan gerak gelisah setengah berontak gadis itu. Manik matanya yang pekat mengunci pandangan Mili, memancarkan gairah yang begitu kentara dan intens. "Napas kamu berantakan, Mili. Jantung kamu juga detaknya keras sekali di
Jonathan menatap Roy dengan wajah serius. Mulutnya terbuka dan tertutup. Seperti hendak bicara, tetapi tertahan, bingung harus bicara apa.“Katakan saja, Pak Jo, saya harus apa?” ucap Roy. Ia yang sudah ikut Jonathan cukup lama sudah paham setiap ekspresi pria itu.Jonathan berkacak pinggang, lalu menunjuk ponselnya. “Itu … Mili bilang sesuatu tadi. Dia kirim pesan yang yaaahh … hmmm…”“Spicy text, Pak Jo?” tebak Roy.“Aaahhh! Ya! Kurang lebih seperti itu. Tapi … dari mana kamu tahu kalau Mili kasih spicy text?” tanya Jonathan curiga.Roy pun terkekeh. “Bukankah hal lumrah bagi pasangan saling berkirim pesan yang menggoda? Apalagi suami istri? Dan Pak Jo terlihat bahagia setelah menerima pesan itu.”“Apa? Terlihat bahagia? Aku? Memangnya aku terlihat seperti itu?” tanya Jonathan bingung karena ia sendiri merasa biasa-biasa saja.“Bukan cuma bahagia, Pak Jo. Tapi juga bersinar-sinar,” sahut Roy santai, sama sekali tak gentar melihat sorot mata atasannya yang mendadak menajam.Jonathan
Mili terbangun dan mendapati dua tangan kekar melingkar di bahunya. Embusan napas hangat pun terasa menyapu leher. Dan ia bisa merasakan dada Jonathan menempel di punggungnya, lengkap dengan detak jantung yang berdegup teratur.Mili melepas hati-hati tangan Jonathan, lalu berguling menjauh. Ia tatap sejenak Jonathan yang terlihat damai tentram dalam tidurnya.Gadis itu menghela napas. Sampai detik ini, ia masih saja tak percaya jika Jonathan adalah suaminya.“Sampai kapan pernikahan ini akan berlangsung?” gumam Mili. Baginya, status pernikahannya tertap saja seperti bukan pernikahan sesungguhnya.Ia pun bergegas turun dari tempat tidur. Hari ini ia harus bekerja. Izin tak masuk sudah terlalu lama. Meski Puspa memberikan kelonggaran, tetapi ia tetap merasa tak enak dan tak profesional.Pagi buta, Mili sudah pergi ke supermarket di lantai paling dasar tower apartemen. Menyiapkan sarapan dan aneka makanan untuk Jonathan yang akan ditinggalnya. Tak lupa berbagai perlengkapan dari mulai a
Roy memilih balik kanan. Buru-buru kabur dari sana. Antisipasi takut jadi tumbal perseteruan suami istri.Sementara itu, tanpa berpikir panjang, Mili mengerahkan seluruh tenaga di kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Jonathan sekuat-kuatnya.BRUK! "AAAGHH! KAKIKU!"Jonathan terpelanting, lalu ambruk terlentang di lantai. Kaki kanannya yang terkilir terbentur keras pada kaki sofa, memicu rasa nyeri luar biasa yang membuat wajah pria itu seketika pucat pasi dan meringis menahan sakit.Mili yang hendak merepet memarahi Jonathan terdiam. Ia yang tadinya sibuk menutupi dadanya dengan napas memburu dan muka membara, sontak terperangah melihat Jonathan tergeletak di lantai mendadak memejamkan mata rapat-rapat. Napasnya terengah-engah lambat, tubuhnya tampak lemas seperti orang pingsan."Jo?! Jonathan!” Mili buru-buru menghampiri Jonathan.“Jo? Ya Tuhan! Kamu pingsan? Jangan pingsan! Pak Roy?” Mili memekik panik, ia berharap meminta tolong pada Roy, tetapi pria itu sudah menghilang.“
Mili masih sesenggukan saat naik ke mobil. Jonathan tak menegurnya sama sekali. Membiarkan gadis itu menangis sepuas hati, mengeluarkan seluruh rasa sedihnya. Tangis gadis itu bertambah pecah saat Roy mulai melajukan mobil dan Aminah muncul di pintu.Aminah menatap dari ambang pintu sambil menyeka matanya. Melambai perlahan pada mobil yang sudah mulai melaju.“Pak Roy! Stop! Stop!” seru Mili.Roy pun menghentikan mobil.Mili membuka pintu dan bergegas keluar. Berlari kembali ke rumah sambil menangis.“Neneeek!”Mili menyongsong sang nenek dan memeluknya erat-erat.“Aku janji aku gak akan kecewain Nenek lagi. Aku janji, Neeek. Ini terakhir kali aku buat Nenek sedih. Aku janji!” Mili berkata disela derai tangisnya.Aminah membalas pelukan Mili. Tangannya mengusap-usap punggung cucunya tersebut.“Sudah! Sudah! Nenek maafkan. Sudah jangan menangis lagi,” ucap Aminah. Meminta Mili berhenti menangis, tetapi ia sendiri tak kuasa menahan air mata yang perlahan membasahi pipi keriputnya.“Suda







