MasukPagi belum sepenuhnya terang ketika Panji tiba di halaman belakang rumah singgah. Bramantara sudah menunggunya di sana. Di atas tanah terdapat beberapa batu berukuran berbeda yang disusun membentuk lingkaran.
“Mulai hari ini, latihanmu akan berbeda,” ujar Bramantara. Panji berdiri di hadapannya. “Apa yang harus saya lakukan?” “Selama ini kau menggunakan energi biru untuk menyerang dan bertahan. Sekarang, kau harus belajar mengenda“Bramantara adalah orang yang menutup gerbang ketika Ardhana masih berada di dalamnya.” Kalimat Ragas membuat suasana mendadak tegang. Panji menoleh kepada Bram. Pria yang selama ini membimbingnya berdiri dengan senjata terhunus, sementara wajahnya terlihat menahan kemarahan. “Benarkah itu?” tanya Panji. Bram tidak segera menjawab. Ragas tertawa kecil melihat reaksi mereka. “Kau bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan anak sahabatmu sendiri?” “Diam, Ragas!” bentak Bram. Panji mengangkat tangan, menghentikannya. “Aku ingin mendengar jawabannya.” Bram menurunkan senjatanya perlahan. “Memang benar aku yang menutup gerbang pertama.” Panji mengepalkan tangan. “Jadi, kau meninggalkan ayahku di dalam?” “Aku tidak punya pilihan.” “Selalu itu alasanmu.” “Panji, dengarkan dulu—” “Tidak. Sekarang giliranmu menjelaskan semuanya.” Ragas menyela dengan suara penuh ejekan. “Tidak perlu membuang waktu. Bram telah mengorbankan Ardhana demi menyelamatkan dirinya sendiri
“Panji Adiwangsa... datanglah. Ayahmu masih menunggumu di sini.” Suara itu terus terngiang di kepala Panji, bahkan setelah cahaya pada kepingan logam menghilang. Ia menggenggam benda tersebut erat-erat. “Suara itu benar-benar seperti ayahku,” gumamnya. Bram segera mendekat. “Jangan percaya begitu saja. Sesuatu di balik gerbang bisa meniru suara orang yang sudah meninggal.” Panji menoleh tajam. “Bagaimana kau tahu?” “Karena kemampuan itu pernah digunakan oleh makhluk penjaga gerbang.” “Apakah makhluk itu bisa meniru ingatan seseorang juga?” Bram terdiam sejenak. “Bisa. Bahkan mereka mampu memperlihatkan sesuatu yang paling ingin dilihat korbannya.” Panji kembali menatap kepingan logam. Jika suara itu hanya tipuan, berarti ada sesuatu yang mengetahui hubunga
Dentuman keras kembali mengguncang bangunan. Panji segera berlari menuju halaman bersama Bram dan Sekar. Energi biru menyelimuti kedua tangannya. Asap hitam membumbung dari arah gerbang utama. Di tengah halaman, tiga makhluk bertubuh tinggi berdiri dengan mata merah menyala. “Makhluk itu berhasil masuk?” tanya Sekar. “Bukan masuk. Mereka dikirim untuk menghancurkan tempat ini,” jawab Bram sambil menghunus senjata spiritualnya. Salah satu makhluk mengangkat kepala. “Serahkan pewaris Ardhana!” Panji melangkah maju. “Kalau kalian mencariku, datanglah sendiri. Jangan menyerang orang lain.” Makhluk itu meraung dan menerjang. Panji membentuk perisai biru untuk menahan cakarnya. Benturan keras membuat tanah di bawah kakinya retak, tetapi ia berhasil bertahan. Dengan tangan kanan, ia mengumpulkan energi dan menghantam dada lawan. Makhluk itu terpental.
Panji berdiri diam di depan pintu kamar Sekar. Foto di tangannya masih memperlihatkan sosok Bram yang berdiri di belakang tubuh Ardhana. Namun, ada sesuatu yang janggal. Wajah pria dalam foto itu memang mirip Bram, tetapi sorot matanya tampak berbeda. Tawa pelan kembali terdengar dari dalam kamar. Panji mengangkat tangan kirinya. Energi biru mengalir tipis menyelimuti telapak tangannya, sementara tangan kanannya bersiap menyerang. “Sekar?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Ia membuka pintu perlahan. Kamar itu kosong. Jendela terbuka lebar, tirainya bergerak tertiup angin malam. Di atas ranjang, terdapat sebuah jimat yang telah terbelah menjadi dua. Panji mendekat. Ia merasakan sisa energi asing yang menempel pada jimat tersebut. Energinya hitam dan dingin, tetapi ada sesuatu yang lebih aneh. Jejak itu menyerupai energi Sekar. “Menarik,” gumamnya. Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas di belakangnya. Panji
Panji masih menatap kalimat yang muncul pada permukaan locket. ORANG YANG KAU CARI SEDANG BERADA DI ANTARAMU. Perlahan, ia mengalihkan pandangan kepada Bram. “Jelaskan semuanya.” Bram mengembuskan napas panjang. “Aku memang berada di samping Ardhana pada malam gerbang pertama ditutup. Tapi itu bukan berarti aku mengkhianatinya.” “Lalu kenapa pesan ayahku menyebutkan bahwa kau mengetahui siapa yang membunuhnya?” “Karena aku tahu siapa yang menyerangnya. Aku juga tahu siapa yang membuka jalan bagi musuh untuk menemukannya.” “Dan kau menyembunyikan semuanya dariku?” “Aku ingin memastikan kau cukup kuat sebelum mengetahui kebenarannya.” Panji tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di wajahnya. “Alasan yang bagus untuk membenarkan kebohongan.” Sekar berdiri di antara mereka, b
“Orang itu adalah...” Suara Ardhana mendadak terputus. Locket perak di tangan Panji berkedip beberapa kali sebelum kembali diam. Tidak ada kelanjutan pesan, hanya suara desis panjang yang memenuhi ruangan bawah tanah. Panji menatap benda itu dengan rahang mengeras. “Kenapa berhenti?” Ia menekan bagian tengah locket, mencoba mengaktifkan kembali rekaman tersebut. Namun, tidak ada respons. “Coba berikan kepadaku,” ujar Bram. Panji langsung menarik tangannya menjauh. “Jangan sentuh.” Bram terdiam. Wajahnya masih pucat, sementara Sekar berdiri beberapa langkah di belakang mereka dengan tatapan waspada. “Panji, dengarkan aku. Pesan itu belum tentu menunjukkan kebenaran sepenuhnya,” kata Bram. Panji tertawa hambar. “Bukankah sejak awal kau selalu bilang aku harus mencari tahu tentan







