Chapter: Bab 12 Video yang Mengubah SegalanyaAlena masih berdiri di depan jendela ketika suara mobil terdengar memasuki halaman rumah. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi Adrian belum juga pulang sejak meninggalkannya beberapa jam lalu. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Alena mengembuskan napas panjang. Sejak malam itu, pikirannya terasa semakin penuh. Flashdisk yang ia sembunyikan, kemunculan Dimas, rekaman suara ayahnya, hingga video yang entah bagaimana bisa sampai kepada Adrian membuat semuanya semakin rumit. Ia tidak tahu harus percaya kepada siapa. Yang paling membuatnya takut adalah kemungkinan Adrian mengetahui semuanya sebelum ia sempat mencari tahu kebenarannya sendiri. Suara pintu rumah terbuka membuat Alena tersentak. Ia segera mengusap sudut matanya yang basah sebelum berbalik. Adrian masuk dengan wajah lelah. Jas yang dikenakannya sejak pagi masih melekat di tubuh, tetapi ekspresinya jauh lebih tegang daripada biasanya. Alena mencoba tersenyum. “Kau
Última actualización: 2026-09-23
Chapter: Bab 11 Bukti yang Menghancurkan KepercayaanPagi itu, Alena terbangun dengan perasaan tidak tenang. Sejak malam tadi, pikirannya terus kembali pada rekaman yang tersimpan di dalam flashdisk. Kalimat-kalimat yang ia dengar berulang kali terngiang di kepalanya.“Aku sudah melakukan semuanya sesuai rencana.”Lalu suara lain menyusul.“Bagaimana dengan Dimas?”“Dia tidak akan pernah kembali.”Alena duduk di tepi tempat tidur sambil menarik napas panjang. Ia masih belum tahu siapa dua orang dalam rekaman tersebut, tetapi satu hal semakin mengganggunya.Suara terakhir terdengar sangat familiar.Ia menggeleng pelan, berusaha menghentikan pikirannya sendiri.“Jangan berpikir macam-macam dulu.”Alena segera menyimpan flashdisk itu di tempat tersembunyi sebelum keluar dari kamar. Namun, begitu membuka pintu, langkahnya langsung terhenti.Adrian berdiri tepat di depan kamarnya.Alena terkejut.“Adrian?”“Aku sudah mengetuk beberapa kali.” Adrian menatapnya sebentar. “Kau tidak mendengarnya?”“Maaf. Aku memang tidak mendengar.”Adrian memp
Última actualización: 2026-09-23
Chapter: Bab 10 Rahasia yang Disembunyikan AlenaAlena masih berdiri terpaku setelah panggilan dari Adrian terputus. 365 hari itu tidak akan pernah sampai selesai. Kalimat tersebut terus terngiang di kepalanya. “Apa yang terjadi pada Adrian?” tanya Alena panik. Dimas menatapnya serius. “Dia sudah mulai mengetahui terlalu banyak. Orang-orang yang mengejar kita tidak akan berhenti sebelum semua bukti hilang.” Alena menggenggam flashdisk di tangannya semakin erat. “Kalau begitu, aku harus memberikan ini kepada Adrian.” “Jangan.” Alena menatap Dimas. “Kenapa?” “Karena kau belum tahu siapa yang bisa dipercaya.” Alena terdiam sejenak sebelum menjawab dengan tegas. “Adrian suamiku.” “Suami karena kontrak.” Ucapan Dimas membuat Alena terdiam. Pernikahan mereka memang dimulai karena sebuah kontrak. Namun, beberapa hari terakhir membuat perasaan Alena terhadap Adrian perlahan berubah. “Entah kenapa... aku percaya padanya.” Dimas menghela napas pelan. “Kalau begitu, jangan berikan flashdisk ini sekarang. Simpan sampai kau tah
Última actualización: 2026-09-22
Chapter: Bab 9 Pertemuan di Tempat TerlarangLangkah Alena terasa semakin berat ketika mendekati alamat yang dikirimkan oleh orang misterius itu. Tempat tersebut berada di pinggir kota, jauh dari keramaian, dengan sebuah bangunan tua yang berdiri di antara gudang-gudang kosong. Cat dindingnya sudah mengelupas dan beberapa jendelanya bahkan pecah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar tempat itu. Alena berhenti di depan pintu sambil menggenggam ponselnya erat. “Aku benar-benar datang ke tempat seperti ini sendirian...” Tangannya terasa dingin. Kakinya gemetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap melangkah karena teringat ancaman tentang ayahnya. Seketika, ia teringat pesan terakhir Adrian. Jangan pergi sendirian hari ini. Alena menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Kreeek... “Permisi?” Tidak ada jawaban. Alena melangkah masuk dengan hati-hati. Ruangan itu dipenuhi debu dan aroma lembap. Di atas sebuah meja tua terdapat kotak hitam dengan selembar kertas kecil yang tertempel
Última actualización: 2026-09-22
Chapter: Bab 8 Orang yang Seharusnya Sudah MatiMalam itu, Alena tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan perkataan Adrian. “Awalnya karena dendam.” Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang seharusnya. Alena membalikkan tubuh sambil menatap cincin pernikahan yang melingkar di jarinya. Tanpa sadar, ia mulai berpikir bahwa mungkin memang ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Namun, sekarang Alena tidak tahu lagi apa yang harus dipercayainya. Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu. Tok... tok... tok... “Ini aku.” Suara Adrian membuat Alena segera menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka. Adrian berdiri di sana dengan wajah serius. Tatapannya berhenti pada mata Alena yang terlihat sedikit merah. “Kau menangis?” “Tidak.” Adrian berjalan mendekat lalu menarik kursi di dekat tempat tidur. Ia duduk sambil memperhatikan Alena beberapa saat. “Jangan bohong.” Alena mengalihkan pandangan. “Aku hanya sedang banyak pikiran.” Adrian menghela napas pelan. “Jangan terlalu memikirkan perkataanku tadi. Aku hanya mengatakan apa
Última actualización: 2026-09-22
Chapter: Bab 7 Jejak Masa LaluPagi itu, Alena terbangun lebih awal dari biasanya. Ia masih berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar, tetapi pikirannya sudah dipenuhi percakapan dengan ayahnya kemarin. Jangan terlalu percaya pada keluarga Wijaya. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Alena akhirnya bangun dan berjalan menuju jendela. “Kenapa semuanya harus serumit ini?” gumamnya. “Karena kau terlalu banyak berpikir.” Alena langsung terkejut. Ia menoleh dan mendapati Adrian berdiri di dekat pintu balkon. “Jangan tiba-tiba muncul seperti hantu.” Adrian hanya mengangkat alis. “Ini rumahku.” “Bukan berarti kamu boleh mengagetkanku.” Sudut bibir Adrian terangkat sedikit. “Takut?” Alena memelototinya. “Tidak. Aku cuma kaget.” Adrian kemudian berjalan mendekat. Tatapannya sempat memperhatikan wajah Alena sebelum akhirnya ia bertanya, “Kau sudah sarapan?” “Belum.” “Kalau begitu, turun.” Alena menghela napas sebelum akhirnya mengangguk. “Baik.” Mereka pun berjalan turun bersama.
Última actualización: 2026-09-22