LOGIN"Aku hari ini tinggal di hotel dan aku sangat butuh konsultasi dengan kamu. Please datang! Aku blank!"
"Tentang apa?"
"Perceraian?"
"Hah! Hesti yang bucin terhadap Dimas malah bicara perceraian? Apa tidak salah?" Arga heran bukan main.
"Tak perlu banyak bicara, Ar. Datang ke hotel X sekarang ya. Aku butuh bantuan kamu."
"Ok. Hmm ... berikan waktu tiga puluh menit. Aku mau mandi dulu. Gerah sekali."
"Sip. Thanks, Ar. Sorry merepotkan kamu."
"No prob! Kamar nomor berapa?"
"7801"
"Ok. Aku siap-siap dulu."
Hesti pun menutup sambungan telepon dengan Arga.
Sesuai dengan janjinya Arga, pengacara tampan, bos dan juga merupakan teman baik dari Hesti itu sampai di hotel dan di kamar Hesti tepat tiga puluh menit kemudian.
"Ada apa?" tanya Arga yang baru sampai di depan pintu kamar Hesti.
"Masuk dulu."
Arga menanggukkan kepalanya lalu mengikuti Hesti ke dalam kamar.
"Duduk, Ar."
Arga pun duduk di salah satu ranjang di kamar Hesti.
"Hmm ... aku ingin bercerai dengan Mas Dimas." tukas Hesti dengan ekspresi datarnya, seperti sudah hilang perasaan terhadap Dimas dan ingin menghancurkan Dimas sesegera mungkin.
"Alasannya?"
"Dia berselingkuh. Dan aku sudah punya bukti dia berselingkuh. Aku ada video dia di ranjang dengan Laila." Hesti terlihat sangat tegar walaupun hatinya sangat sakit oleh pengkhianatan Dimas.
"Hah! Laila? Bukankah kamu mengatakan kalau Laila itu sepupunya Dimas? Koq bisa jadi Dimas itu selingkuh dengan sepupunya sendiri? Apa tidak salah?" Arga lebih bingung lagi dengan cerita dari Hesti.
"Ternyata bohong. Semua itu adalah kebohongan besar yang diciptakan untuk membohongi aku dan sialnya ... aku memang tertipu." Hesti menggelengkan kepalanya penuh rasa kesal karena dibohongi.
"Terus, Laila itu siapa?"
"Istri kedua bajingan itu. Hmm ... kalau dari percakapan mereka, mereka itu baru satu bulan menikah."
Sabar ... tarik nafas, Hes."
"Tarik nafas sampai kentut pun percuma. Aku sudah sabar dan bisa mengendalikan diri koq."
"Hehe .. bagus. Uh ... pasti dua orang itu lagi hot banget ya di ranjang. Pengantin baru ... Hidup hanya mereka berdua, yang lain ngontrak."
"YES! Gila ... aku keluar kota, bekerja keras dan mereka asyik-asyik bercinta di atas ranjang pengantinku? Ranjang pengantinku! Seperti mereka tertawa di atas kebodohanku yang terlalu percaya akan hubungan mereka yang sepupu itu!" tukas Hesti penuh emosi.
"Sudah aku peringatkan sebelumnya, bukan? Kalau ada wanita muda di rumah selain anak atau ibu kamu, maka wanita itu patut dicurigai. Apalagi kamu sering tugas keluar kota."
"Ya ... sayangnya aku tak mendengar himbauan kamu itu. Aku pikir bajingan itu begitu mencintai aku sampai tak mungkin rasanya untuk dia berselingkuh. Apalagi dengan sepupu dia sendiri. Mereka memang pintar berbohong atau ... Aku yang terlalu bodoh karena mencintai Dimas?"
Ingin rasanya Hesti mengutuk dirinya sendiri yang terlalu naif dan percaya akan ketulusan cinta dari Dimas.
"Kamu yang terlalu mencintai Dimas, Hes. Segala yang berlebihan memang tak bagus. Lagipula ... namanya juga kucing diberikan ikan asin. Pasti langsung dicaplok dong. Mana ada kucing yang menolak ikan asin?"
Hesti tersenyum miris. Rumah tangga yang ia bangun dari nol bersama dengan Dimas harus berakhir hanya karena hasrat dan syahwat suaminya itu.
"Yap ... begitulah suamiku yang sialan itu."
"Lantas, apa yang mau kamu lakukan?"
"Ya ... aku mau cerai! Aku tak suka untuk dimadu. Lebih baik berpisah saja."
"Hmm ... begitu ya. Eh ya ... tadi kamu memergoki mereka bercinta, bukan? Terus apakah kamu melakukan seperti adegan film? Kamu memaki mereka? Menjambak Laila?" Arga penasaran.
"Aku bukan artis dari film ikan terbang, Arga!" Hesti memutarkan kedua bola matanya.
"Haha ... aku pikir, kalau wanita sedang emosi karena dikhianati, maka ia langsung bersikap impulsif dan agresif."
Hesti merotasikan matanya lagi. "Kamu terlalu banyak nonton sinetron!"
"Haha ... tidak sih. Kan memang biasanya seperti itu. Seperti rumah tangga yang biasa kita hadapi di pengadilan. Ribut karena pelakor dan harta gono-gini. Bahkan mengorbankan anak."
"Aku tidak begitu dan untungnya ... aku belum punya anak dengan Dimas. Tuhan memang tahu yang terbaik untuk hidupku. Tak mengandung anak dari pria sialan tukang selingkuh itu."
Arga mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh ya, apa mertuamu tahu tentang hal ini?"
Hesti menghela nafas kasar. Rasanya ia juga ingin memaki mertuanya yang selama ini jahat kepada dirinya. Entah apa salah Hesti, yang past mertuanya itu sangat tak suka kepada dirinya. Bahkan Hesti aneh sendiri.
"Pasti tahu lah. Mereka itu kan satu daerah. Belum lagi, ibunya Dimas sendiri yang ikut mengantarkan Laila ke Jakarta dan tinggal bersamaku. Kalau dipikir-pikir, mereka memang pintar sandiwara. Mertuaku yang tecinta itu mengatakan, tolong rawat dan berbaik hati kepada Laila. Jangan sampai kurang makan dan kurang segalanya. Haha... " Hesti tertawa miris akan dirinya sendiri.
"Pathetic! Mereka bekerja sama untuk membodohi kamu."
"Sangat!"
"Tapi apa tujuannya juga bohong kepada kamu?"
"Mengambil harta atau entahlah apalagi yang hendak dia ambil dari aku dan pernikahan kami." Hesti tersenyum miris.
"Bukannya Dimas bekerja juga? Kenapa mau ambil harta kamu?"
"Kalau dari ucapan dia sih ... Dia mengatakan akam membereskan segalanya agar nanti, saat kami bercerai, dia tidak rugi sama sekali."
Arga menarik nafas dalam-dalam.
"Dimas sudah tidak tertolong."
"Begitulah" Hesti mengedikkan bahunya.
"Jadi, apa yang hendak kamu lakukan, Hes? Apa mau langsung menceraikan Arga saja? Maksudku ... langsung membuat surat pengajuan cerai agar bisa ke KUA langsung?"
"Aku ingin bercerai, tapi ingin membuat dia menderita dulu sebelum bercerai." Hesti menggelengkan kepalanya. Ia berubah pikiran karena terpikir dari mertuanya, ucapan Dimas dan kelakuan Dimas bersama dengan Laila. Terlalu mudah rasanya kalau mereka hanya bercerai.
Hesti yang akan banyak dirugikan oleh perceraian ini.
"Aku ingin membuatnya hancur berkeping-keping sampai miskin. Baru setelah itu, aku ceraikan dia."
"Waduh ... koq jadi gaya psikopat begitu sih, Hes. Aku ngeri."
"Ar ... kamu kan pengacara. Bisa bantu aku kah?"
"Bayar gak?" goda Arga.
"Bayar!"
"Haha ... mau dibantu apa?" Arga pun terkekeh geli sendiri mendengar jawaban Hesti yang sangat ketus.
"Pindahkan aset semua ke atas nama aku?"
"Hmm ... kamu ada surat pisah harta sebelum menikah?"
Hesti menggelengkan kepalanya.
"Artinya nanti tetap kalau ke nama kamu tuh ... jadinya harta gono-gini. Harta yang kamu miliki setelah menikah, tetap akan dibagi rata."
Hesti diam sebentar, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Arga. Ia bahkan lupa tentang hukum di Indonesia tentang harta gono-gini dan hukum tentang pisah harta.
Mungkin saat menikah dulu dengan Dimas, dia terlalu buru-buru dan berpikir kalau pernikahannya akan menjadi selamanya. Bukan seperti sekarang ini.
Hesti pikir, pernikahan mereka akan terjadi karena saling mencintai satu sama lain. Tapi ternyata Hesti salah besar.
"Uhm .. Rumahku ... "
"Bukannya masih cicil? Masih lama kan cicilannya?"
Hesti mengangguk pelan. Setelah tiga tahun menikah dan mengontrak rumah, akhirnya mereka bisa membeli rumah dengan cara cicil. Tentu saja DP rumah dari Hesti lebih besar daripada Dimas.
Selama itu pula Hesti dan Dimas memutuskan untuk tak punya anak dulu sebelum keadaan ekonomi stabil. Eh malah Dimas selingkuh di saat mereka sudah mulai stabil.
"Daripada sibuk pindahkan aset dan berujung tetap tidak untung di kamu, kenapa kamu tak membuat hidup mereka sengsara dulu? Bermain yang cantik begitu? Atau kalau kamu sudah sangat kesal kepadanya dan tak mau mempermainkan mereka, ya sudah, kamu bisa jual rumah yang kamu tempati itu. Nanti hasilnya bagi dua dengan suami kamu."
Hesti diam lagi.
"Kalau begitu, Aku ingin menjebak dan menyengsarakan mereka, Ar." Hesti membulatkan tekad.
"Tapi, apakah kamu bisa menguatkan hati agar bisa bermain secara profesional dengan sandiwara dua orang yang ada di rumah kamu itu?" Arga memastikan hati dari Hesti.
"Aku akan mencobanya! Semoga aku bisa dan kuat, Ar."
"Aku punya ide untuk bermain dengan dua orang jahat itu." Arga tersenyum, ia memiliki ide yang cukup licik untuk menyengsarakan dua orang jahat itu.
"Biarkan aku berpikir dulu."Arga tak bisa memutuskan. Namun, hatinya sedikit sakit saat Erika mengatakan hal demikian tentang Raka. Rasanya tak tega jika ia terlalu egois terhadap Raka. Anak itu sama sekali tak bersalah. Hanya saja, ia masih serba salah terhadap Hesti. Ia juga tak mencintai Erika sama sekali. Bagaimana pula hasil pernikahan tanpa cinta? "Kenapa kamu tak bisa memutuskannya, Ar?" desak Erika. "Ini semua sangat mendadak dan ... aku tak mau gegabah untuk mengambil keputusan."Erika tersenyun sinis. "Aku dan Raka akan selalu menjadi yang tak kamu inginkan di dalam hidup. Aku mengerti itu. Mungkin ... aku hanya berharap saja kalau kamu akan berubah dan mencintai aku." Terasa seperti ucapan sinis saja dan Arga kesal mendengarnya. Ia bagaikan lelaki pengecut yang tak mau bertanggung jawab saja terhadap anaknya sendiri. "Pertemukan dulu aku dengan Raka dan berikan aku waktu untuk berpikir."
"Hentikan pikiran gilamu, Erika!" bentak Arga."Hesti, Hesti dan selalu Hesti yang ada di kepala kamu, Ar! Itu juga penyebab aku pergi dari kamu! Itu juga penyebab kenapa aku tak memberitahukan tentang kehadiran Raka kepadamu. Aku takut, Ar! Aku takut kalau kamu tak bisa menerima kehadiran Raka dan akhirnya kamu meminta aku untuk menggugurkan kandungan." Erika membentak dengan penuh cucuran air mata."Aku tidak akan pernah sekeji itu, Erika.""Entahlah, siapa yang tahu. Apalagi kamu sangat mencintai Hesti. Ya ... anggaplah aku bodoh karena aku berpikir bahwa kamu bisa berubah. Tapi ternyata tidak bisa berubah."Arga menarik nafas dalam-dalam."Kamu hanya buta karena Hesti, Ar. Kamu sama sekali tak sadar kalau hidupmu sudah dimanipulasi oleh Hesti dengan segala kebaikannya yang pura-pura itu."Hesti dibicarakan dengan tidak baik dan Arga tak terima akan hal itu."Kamu yang memanipulasi hidupku! Jangan pernah menyalahkan Hesti atau berpikiran buruk tentang Hesti! Saat ini, aku hanya ing
Satu hari kemudian, hasil test DNA pun keluar. Hasilnya sangat membuat Rocky kaget."Astaga, dia benar-benar anak bos." tukas Rocky sambil memperhatikan hasil test tersebut.Ia pun segera menghubungi Arga. "Bos.""Bagaimana?""Dia benar anakmu."Di sisi lain, jantung Arga berdetak sangat cepat, tangannya pun bergetar hebat."O-ok. Aku mengerti."Kepala Arga mendadak sakit. Sebelumnya, ia berharap kalau Raka bukan anaknya. Tapi, sekarang menjadi berbeda dari keinginannya. "Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini?" Tok! Tok! Tok!"Ma-masuk!"Muncullah seorang wanita dan itu adalah Hesti."Hes." tukas Arga dengan suara bergetar."Kenapa kamu, Ar?" Hesti langsung berjalan cepat menuju ke meja Arga. Ia melihat wajah Arga begitu pucat. Wanita itu sangat mengkhawatirkan kekasihnya.Arga langsung memeluk tubuh Hesti erat. Ia bingung."Kenapa? Katakan kepadaku. Jangan begini!" "Di-dia ... dia benar-benar anakku, Hes. Rocky sudah memastikannya." suara Arga bergetar hebat.Hesti mengelus k
"Aku tadi mengatakan kepada Erika, kalau memang Raka itu adalah anakku dengannya, maka aku akan melakukan co-parenting." jawab Arga jujur. Hesti bisa melihat kejujuran dan keputusasaan sekaligus dari mata Arga.Hesti menarik nafas dalam-dalam."Apakah tidak sebaiknya kalian menikah? Kalau anak yang bernama Raka itu memang adalah anak kandungmu, dia berhak untuk mendapatkan kasih sayang dan status dari kamu, Ar.""Tapi ... aku tidak bisa menikah dengan Erika, Hes."Hesti terdiam."Aku mengerti kalau memang anak itu lahir bukan karena keinginannya sendiri. Dia lahir karena kesalahan ibu dan ayahnya. Tapi ... dia juga tak bisa dipaksakan untuk mendapatkan keluarga yang utuh dimana pondasi dari keluarga itu bukanlah saling mencintai.""Maksudnya bagaimana?""Kamu ingat kan ... dulu aku pernah cerita tentang aku mabuk dan tiba-tiba bangun di hotel?"Hesti mengangguk."Itu semua karena Erika. Dia menjebak aku. Dan ... aku tak tahu apa yang telah dia lakukan kepadaku karena di kamar hotel i
Arga menghapus air mata yang tumpah di pipinya. Ia harus berpikir dengan jernih dan mendinginkan otaknya yang sudah terlalu panas."Rocky! Ya, aku harus menghubungi Rocky."Rocky adalah detektif kepercayaannya yang selama ini telah membantunya di berbagai kasus."Halo, Rocky!" sapa Arga yang sudah bisa menenangkan hatinya."Kenapa, Ar? Ada kasus yang bisa aku bantu?" "Bisa kita bertemu?""Bisa. Dimana?""Danau Y." jawab Arga."Ok. Tiga puluh menit lagi aku ke sana."Setelah 30 menit berlalu, Rocky pun datang."Ada apa, Bro? Sepertinya wajahmu sangat kusut." tanya Rocky yang duduk di samping mobil Arga."Apakah kamu masih ingat dengan Erika?""Ah ... aku ingat. Mantanmu yang freak dan manipulatif?"Arga menganggukkan kepalanya dengan perlahan."Ada apa dengan dia?" tanya Rocky."Dia mengatakan kalau dia telah melahirkan anakku."Rocky langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Kamu ingat kan rekaman cctv saat aku benar-benar kacau? Yang waktu di hotel itu."Rocky langsung mengang
"Ya, anak kita.""Tidak! Kamu berbohong!" Arga menggelengkan kepalanya.Erika mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto seorang anak laki-laki kepada Arga."Apakah kamu merasa kalau foto Raka seperti kamu saat masih kecil?"Arga terdiam."Kenapa? Masih tidak percaya?"Arga masih diam."Kamu bisa koq melakukan test DNA. Feel free!" balas Erika penuh percaya diri.Arga menarik nafas dalam-dalam."Kenapa kamu tak pernah mengatakannya kepadaku?" tanya Arga dengan suaranya yang bergetar hebat."Hmm ... aku baru tahu kalau aku hamil saat sudah sampai ke Australia." jawab Erika dengan santai.Pikiran Arga kacau."Jadi ... apakah kamu tak mau mengakui anakmu sendiri?"Arga diam seribu bahasa. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Pikirannya benar-benar kacau."Kenapa kamu tak bicara?""Apa yang harus aku katakan?" balas Arga."Menikahi aku segera? Membina hubungan keluarga ini segera?"Arga menggelengkan kepalanya."Kenapa? Kamu masih mau dengan Hesti? Padahal kita sudah punya anak







