Beranda / Rumah Tangga / Mertuaku Adalah Maut / Bab 4 - Mesra Dengan Suami Tukang Selingkuh

Share

Bab 4 - Mesra Dengan Suami Tukang Selingkuh

Penulis: Siez
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-04 09:23:07

Keesokan harinya, Hesti pulang ke rumah dengan senyuman mengembang penuh sandiwara. Ia harus bermain sandiwara secantik mungkin agar Dimas tidak mengetahui perubahan perilakunya nanti.

Ini hari sabtu. Memang seharusnya Dimas tak pergi ke kantor.

"Assalamualaikum!" sapa Hesti yang baru saja membuka pintu rumahnya.

"Wa'alaikumsalam!" balas Dimas yang memang sedang bersantai di ruang tamu sambil menonton siaran televisi kesukaannya itu.

Hesti dengan senyuman, langsung berjalan ke arah Dimas dan mencium tangan pria itu. Ya, sandiwara menjadi istri berbakti begitu lah.

"Mas ..." panggil Hesti manja.

"Ya, ada apa, Hes?" Tatapan Dimas masih terarah ke televisi. Ia bahkan tak terlalu menggubris kedatangan Hesti.

"Besok kan hari minggu terus ada libur tahun baru, apakah kamu mau jalan-jalan?" tawar Hesti.

"Jalan kemana? Apa kamu tak lelah? Ini saja kamu baru pulang dari luar kota loh. Aku rasa lebih baik kamu istirahat saja sih di rumah." Dimas heran dengan ajakan Hesti.

"Aku kangen banget sama Mas. Kan sudah tiga hari aku gak pulang ke rumah. Jadi ... Aku ingin ajak mas jalan-jalan. Ingin mesra-mesraan sama Mas seperti pengantin baru lagi," rengek Hesti manja. Tentu saja Hesti memulai drama istri manja saat dia melihat Laila yang berada di dapur dan pastinya pelakor itu melihat Hesti dan Dimas.

Walaupun Hesti jijik, tetap harus ia lakoni untuk menang. Strategi dari Arga, mengalah untuk menang.

"Ayo lah, Mas. Kita berdua saja. Masa kamu gak kangen sama aku? Mumpung liburan nih."

"Gak ajak Laila sekalian kah? Kasihan kan dia di rumah sendirian. Bengong sendiri gitu selama liburan natal dan tahun baru."

"Yah ... Tapi aku gak beli tiket untuk Laila. Maunya honeymoon saja sama kamu, Mas." jawab Hesti manja dan merengek.

"Kamu memang membeli tiket kemana dan berapa hari?" Dimas melihat ke arah Hesti.

"Aku beli tiket ke Malaysia, Mas. Uhmm ya empat hari lah."

Memang Hesti memilih destinasi luar negeri supaya Laila tidak ikut mereka pergi. Hesti tahu kalau Laila tak punya paspor. Kalau masih di Indonesia, pasti Laila merengek ingin ikut mereka.

"Koq kamu gak tanya aku dulu sebelum kamu beli tiket?"

"Kan mau kasih kejutan, Mas. Aku dapat bonus akhir tahun nih lumayan banyak dari bos karena berhasil membantu bos memenangkan beberapa perkara di pengadilan dengan f*e cukup besar." Hesti sangat excited.

Dimas menarik nafas dalam-dalam.

"Nanti Laila sendirian di rumah." Dimas masih mencari alasan. Tak enak juga meninggalkan istri barunya di rumah sendirian.

"Lah dia kan uda besar, Mas. Sudah bisa masak sendiri, ke pasar bisa jalan kaki sendiri. Apa susahnya? Dia juga kan tidak cacat, masa harus didampingi kita terus? Ya paling kasih uang jajan saja selama empat hari kita tak ada. Ayolah ... Kan aku kangen banget sama Mas." Terdengar Hesti agak kesal dan Dimas bisa merasakan itu. "Masa mas gak ada rasa kangen dengan aku?"

Walaupun Hesti jijik karena ini bukanlah dirinya sendiri dan harus pergi bersama dengan suaminya yang berselingkuh, tapi harus ia lakoni. Trik berikut dari Arga, adu domba antara suaminya dan pelakor. Ini bermain dengan menggunakan otak, dengan tipu muslihat. Bukan dengan emosi sesaat.

Dimas masih diam, tak enak dengan Laila yang berada di dapur. Pasti saja Laila mendengar apa yang dikatakan oleh Hesti.

"Mas ... Masa mau dibatalin? Sayang loh tiketnya ... Apalagi tiket akhir tahun, kan lumayan mahal, Mas."

"Apa tak bisa di refund saja tiketnya?"

"Tidak bisa, Mas. Kena potongan besar sekali. Memangnya kenapa sih mas? Koq kayaknya gak mau liburan sama aku banget? Memangnya mas sudah gak cinta sama aku?"

"Kamu bicara apa sih, Hes?"

"Coba mas katakan sekarang sama aku. Mas itu cinta sama aku apa gak?"

"Ci-cinta dong."

"Gak ada wanita lain kan di hati mas yang menggantikan aku?" Hesti sangat sengaja.

"E-enggak. Kamu satu-satunya koq, Hes."

"Koq panggilnya Hes sih? Biasanya juga sayang apa darling." protes Hesti mencebikkan bibirnya.

"Iya, maaf ya Sayang. Mas terlalu lelah. Jadi otaknya agak error."

"Iya, aku maafkan koq. Jadi ... kita pergi dong ke Malaysia? Liburan berdua tanpa ada orang lain."

"Iya ... Iya." Dimas kalah.

"Yey!" Hesti langsung bersorak kesenangan dan memeluk erat Dimas.

Sementara di dapur, Laila kesela setengah mati.

'Mas Dimas itu bagaimana sih? Katanya cuma cinta sama aku, tapi koq malah bilang cinta sama Mbak Hesti sih? Terus mau honeymoon lagi sama Mbak Hesti. Ish ... Mas Dimas bohongin aku!' protes Laila di dalam hatinya.

"Ya udah, aku lapar. Hehe ... Aku mau cari makanan ke dapur ah."

Hesti pun meninggalkan Dimas sendirian dan berjalan ke arah dapur.

Laila yang mendengar Hesti akan masuk ke dapur, langsung berubah ekspresi menjadi biasa saja. Tak mungkin terlihat wajah kesal karena Hesti akan berlibur bersama dengan Dimas. Laila masih harus bermain sandiwara karenanya. Sebelum Dimas mengatakan kepada Hesti kalau Dimas itu sudah memperistri Laila juga.

"Hai, La." sapa Hesti dengan santainya kepada Laila.

"Eh Mbak Hesti sudah pulang." Laila pura-pura tersenyum dan ramah. Hesti bisa melihat itu.

"Kamu masak apa, La?"

"Masak sop ayam mbak. Terus tempe dan tahu."

"Oh ya? Wah enak nih ada masakan KAMPUNG! Senangnya mbak kalau ada kamu,"

"Kenapa tuh, Mbak?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 83 - Ingin Rasanya Egois

    "Biarkan aku berpikir dulu."Arga tak bisa memutuskan. Namun, hatinya sedikit sakit saat Erika mengatakan hal demikian tentang Raka. Rasanya tak tega jika ia terlalu egois terhadap Raka. Anak itu sama sekali tak bersalah. Hanya saja, ia masih serba salah terhadap Hesti. Ia juga tak mencintai Erika sama sekali. Bagaimana pula hasil pernikahan tanpa cinta? "Kenapa kamu tak bisa memutuskannya, Ar?" desak Erika. "Ini semua sangat mendadak dan ... aku tak mau gegabah untuk mengambil keputusan."Erika tersenyun sinis. "Aku dan Raka akan selalu menjadi yang tak kamu inginkan di dalam hidup. Aku mengerti itu. Mungkin ... aku hanya berharap saja kalau kamu akan berubah dan mencintai aku." Terasa seperti ucapan sinis saja dan Arga kesal mendengarnya. Ia bagaikan lelaki pengecut yang tak mau bertanggung jawab saja terhadap anaknya sendiri. "Pertemukan dulu aku dengan Raka dan berikan aku waktu untuk berpikir."

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 82 - Permohonan Erika

    "Hentikan pikiran gilamu, Erika!" bentak Arga."Hesti, Hesti dan selalu Hesti yang ada di kepala kamu, Ar! Itu juga penyebab aku pergi dari kamu! Itu juga penyebab kenapa aku tak memberitahukan tentang kehadiran Raka kepadamu. Aku takut, Ar! Aku takut kalau kamu tak bisa menerima kehadiran Raka dan akhirnya kamu meminta aku untuk menggugurkan kandungan." Erika membentak dengan penuh cucuran air mata."Aku tidak akan pernah sekeji itu, Erika.""Entahlah, siapa yang tahu. Apalagi kamu sangat mencintai Hesti. Ya ... anggaplah aku bodoh karena aku berpikir bahwa kamu bisa berubah. Tapi ternyata tidak bisa berubah."Arga menarik nafas dalam-dalam."Kamu hanya buta karena Hesti, Ar. Kamu sama sekali tak sadar kalau hidupmu sudah dimanipulasi oleh Hesti dengan segala kebaikannya yang pura-pura itu."Hesti dibicarakan dengan tidak baik dan Arga tak terima akan hal itu."Kamu yang memanipulasi hidupku! Jangan pernah menyalahkan Hesti atau berpikiran buruk tentang Hesti! Saat ini, aku hanya ing

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 81 - Hasil Test DNA

    Satu hari kemudian, hasil test DNA pun keluar. Hasilnya sangat membuat Rocky kaget."Astaga, dia benar-benar anak bos." tukas Rocky sambil memperhatikan hasil test tersebut.Ia pun segera menghubungi Arga. "Bos.""Bagaimana?""Dia benar anakmu."Di sisi lain, jantung Arga berdetak sangat cepat, tangannya pun bergetar hebat."O-ok. Aku mengerti."Kepala Arga mendadak sakit. Sebelumnya, ia berharap kalau Raka bukan anaknya. Tapi, sekarang menjadi berbeda dari keinginannya. "Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini?" Tok! Tok! Tok!"Ma-masuk!"Muncullah seorang wanita dan itu adalah Hesti."Hes." tukas Arga dengan suara bergetar."Kenapa kamu, Ar?" Hesti langsung berjalan cepat menuju ke meja Arga. Ia melihat wajah Arga begitu pucat. Wanita itu sangat mengkhawatirkan kekasihnya.Arga langsung memeluk tubuh Hesti erat. Ia bingung."Kenapa? Katakan kepadaku. Jangan begini!" "Di-dia ... dia benar-benar anakku, Hes. Rocky sudah memastikannya." suara Arga bergetar hebat.Hesti mengelus k

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 80 - Menerima

    "Aku tadi mengatakan kepada Erika, kalau memang Raka itu adalah anakku dengannya, maka aku akan melakukan co-parenting." jawab Arga jujur. Hesti bisa melihat kejujuran dan keputusasaan sekaligus dari mata Arga.Hesti menarik nafas dalam-dalam."Apakah tidak sebaiknya kalian menikah? Kalau anak yang bernama Raka itu memang adalah anak kandungmu, dia berhak untuk mendapatkan kasih sayang dan status dari kamu, Ar.""Tapi ... aku tidak bisa menikah dengan Erika, Hes."Hesti terdiam."Aku mengerti kalau memang anak itu lahir bukan karena keinginannya sendiri. Dia lahir karena kesalahan ibu dan ayahnya. Tapi ... dia juga tak bisa dipaksakan untuk mendapatkan keluarga yang utuh dimana pondasi dari keluarga itu bukanlah saling mencintai.""Maksudnya bagaimana?""Kamu ingat kan ... dulu aku pernah cerita tentang aku mabuk dan tiba-tiba bangun di hotel?"Hesti mengangguk."Itu semua karena Erika. Dia menjebak aku. Dan ... aku tak tahu apa yang telah dia lakukan kepadaku karena di kamar hotel i

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 79 - Mencari Kebenaran

    Arga menghapus air mata yang tumpah di pipinya. Ia harus berpikir dengan jernih dan mendinginkan otaknya yang sudah terlalu panas."Rocky! Ya, aku harus menghubungi Rocky."Rocky adalah detektif kepercayaannya yang selama ini telah membantunya di berbagai kasus."Halo, Rocky!" sapa Arga yang sudah bisa menenangkan hatinya."Kenapa, Ar? Ada kasus yang bisa aku bantu?" "Bisa kita bertemu?""Bisa. Dimana?""Danau Y." jawab Arga."Ok. Tiga puluh menit lagi aku ke sana."Setelah 30 menit berlalu, Rocky pun datang."Ada apa, Bro? Sepertinya wajahmu sangat kusut." tanya Rocky yang duduk di samping mobil Arga."Apakah kamu masih ingat dengan Erika?""Ah ... aku ingat. Mantanmu yang freak dan manipulatif?"Arga menganggukkan kepalanya dengan perlahan."Ada apa dengan dia?" tanya Rocky."Dia mengatakan kalau dia telah melahirkan anakku."Rocky langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Kamu ingat kan rekaman cctv saat aku benar-benar kacau? Yang waktu di hotel itu."Rocky langsung mengang

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 78 - Anak Siapa?

    "Ya, anak kita.""Tidak! Kamu berbohong!" Arga menggelengkan kepalanya.Erika mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto seorang anak laki-laki kepada Arga."Apakah kamu merasa kalau foto Raka seperti kamu saat masih kecil?"Arga terdiam."Kenapa? Masih tidak percaya?"Arga masih diam."Kamu bisa koq melakukan test DNA. Feel free!" balas Erika penuh percaya diri.Arga menarik nafas dalam-dalam."Kenapa kamu tak pernah mengatakannya kepadaku?" tanya Arga dengan suaranya yang bergetar hebat."Hmm ... aku baru tahu kalau aku hamil saat sudah sampai ke Australia." jawab Erika dengan santai.Pikiran Arga kacau."Jadi ... apakah kamu tak mau mengakui anakmu sendiri?"Arga diam seribu bahasa. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Pikirannya benar-benar kacau."Kenapa kamu tak bicara?""Apa yang harus aku katakan?" balas Arga."Menikahi aku segera? Membina hubungan keluarga ini segera?"Arga menggelengkan kepalanya."Kenapa? Kamu masih mau dengan Hesti? Padahal kita sudah punya anak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status