LOGIN"Hai, kamu Fraya Alexandrea, ya?"
Ketiga orang yang tengah duduk melingkar di meja kafetaria itu serentak menoleh. Seorang cowok bertubuh agak pendek dengan rambut oranye mencolok berdiri tepat di sebelah Fraya. Fraya, yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk spageti di piringnya tanpa selera, mendongak dan mengangguk samar. "Ada apa?" tanya Fraya pendek. "Kamu dipanggil Mrs. Crabtree ke ruangannya. Sekarang." Kalimat itu sukses membuat Fraya melenguh panjang. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas, sementara cowok berambut ginger tadi langsung berlalu tanpa menunggu jawaban. "Memangnya kamu sedang bermasalah dengan Mrs. Crabtree?" Florence bertanya penuh selidik, melihat Fraya yang mulai mendorong nampan makannya dan berdiri dengan wajah ditekuk. "Bahasa Jermanku jelek parah," tandas Fraya sambil menyambar tas ranselnya dari gantungan kursi. "Sekolah ini memang aneh banget! Masa salah satu syarat untuk dapat surat rekomendasi dari kepala sekolah buat daftar ke Oxford harus lulus Bahasa Jerman? Kita kan lagi di Inggris, bukan di Berlin!" Asa yang duduk di sebelah Florence membetulkan letak kacamatanya. Ia menatap wajah cemberut Fraya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalau kamu mau, aku bisa kok memberikan tutor untuk Bahasa Jermanmu, Fay." Fraya menyampirkan tali ranselnya ke pundak dan tersenyum enggan. "Thank you, Asa. Tapi Mrs. Crabtree bilang dia sudah mencarikan guru tutor khusus untukku. Sepertinya itu alasan dia memanggilku sekarang. Aku pergi dulu, ya." Fraya melambaikan tangan, melangkah pergi meninggalkan kafetaria yang bising. Florence menoleh ke arah Asa, mendapati cowok itu masih terpaku menatap punggung Fraya yang perlahan menghilang di balik pintu. "Naksirmu itu kelihatan banget, tahu!" goda Florence sambil menyuap mashed potato. Asa langsung membelalak kaget, wajahnya memerah seketika. "Siapa juga yang naksir Fraya!" sahutnya salah tingkah, mendadak sangat sibuk membolak-balik buku tebal di samping piringnya. Florence menahan tawa. "Memangnya tadi aku menyebut nama Fraya?" °°°° Jika semua orang melihat Damian hari ini, mereka pasti akan mengira cowok itu sudah kehilangan akal sehatnya. Damian benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum—bahkan terkadang terkekeh sendiri—saat membayangkan kembali wajah kaget Fraya di ruang pusat tutor tadi. "Maaf, Mrs. Crabtree, Anda tidak salah orang, kan?" tanya Fraya dengan nada tak percaya saat Mrs. Crabtree memperkenalkannya dengan guru tutor barunya: Damian Nicholas Harding. Damian harus mengerahkan seluruh sisa kontrol dirinya untuk tetap berdiri tenang, mengamati reaksi cewek di depannya yang mulai tergagap. "Anda tidak salah, Miss Alexandrea. Mulai hari ini, Mr. Harding-lah yang akan menjadi tutormu selama setahun ke depan. Kalian bisa memulai pembelajarannya kapan saja, tidak harus di ruangan ini," jelas Mrs. Crabtree telak, membuat Fraya seketika mati kutu. Sebelum pergi, Mrs. Crabtree memberikan perintah terakhir pada Damian yang masih berusaha menahan tawa. "Pastikan untuk selalu memantau perkembangan Bahasa Jermannya setiap bulan. Minimum nilai delapan puluh adalah standar yang harus dia capai semester ini." Begitu Mrs. Crabtree menghilang di balik pintu, Fraya langsung menghampiri Damian secepat kilat. "Ini pasti akal-akalanmu, kan?! Kamu bayar Mrs. Crabtree berapa supaya dia menunjukmu jadi tutorku?!" hardik Fraya sambil menudingkan telunjuk tepat di depan hidung Damian. Matanya melotot tajam. "Akal-akalan bagaimana?" Damian berlagak polos sambil bersedekap. "Kamu tidak tahu kalau di sekolah ini, yang kemampuan Bahasa Jermannya di atas rata-rata tanpa perlu usaha cuma aku? Kalau kamu mau dapat surat rekomendasi, Mrs. Crabtree sudah benar menunjukku." Fraya menghembuskan napas keras-keras hingga helaian rambut di sisi wajahnya terbang. "Dengar, ya. Aku tahu kamu masih ingin balas dendam padaku. Ayo lakukan dengan cara yang jujur. Anything but this. You cannot japordize my plan by trying to messing up everything i have prepared for Oxford!" Damian menatapnya dengan raut congkak yang sangat kental, khas Damian sekali, "Jadi, Oxford adalah rencana utamamu? Kenapa tidak Harvard saja? Mengingat kamu besar di Amerika." Melihat kening Fraya yang berkerut dalam, dada Damian terasa sesak menahan tawa yang hampir meledak. Ia semakin menikmati saat Fraya mulai mencak-mencak. "Memangnya apa lagi tujuanku masuk ke sekolah sialan ini kalau bukan karena Oxford! Dan soal aku mau kuliah di mana, orang kaya sepertimu tidak usah ikut campur!" Fraya langsung berbalik, meninggalkan Damian dengan langkah besar-besar yang mengentak lantai koridor, persis anak kecil yang sedang merajuk. Damian mengusap wajahnya, lalu akhirnya membiarkan tawanya pecah tanpa suara. Sebelum Fraya benar-benar menghilang, Damian memanggilnya sekali lagi. "Kita mulai hari Jumat! Di pinggir lapangan baseball. Akan kukirimkan daftar perlengkapan yang harus kau bawa!" "Do you even have my number, yet?!" teriak Fraya dari kejauhan, yang jelas saja tidak mendapat jawaban apa-apa dari cowok brengsek itu. °°°°° Damian tenggelam dalam tawanya lagi. Gadis itu memang cerdas. Tentu saja dia tidak bisa dibodohi begitu saja. Namun, dugaan Fraya memang benar. Seorang Damian Harding tidak mungkin mau menjadi tutor sukarela untuk murid baru. Ia tidak kekurangan uang hingga harus mengambil pekerjaan sampingan yang tidak pernah terlintas di benaknya. Namun, karena informasi yang didapatnya sangat valid bahwa Fraya lemah di Bahasa Jerman, Damian tidak membuang kesempatan. Mrs. Crabtree sebenarnya sudah punya calon tutor lain, tapi Damian tidak butuh usaha keras untuk membujuk guru itu agar memberikan tugas tersebut kepadanya. Ia butuh jalan untuk "menyelinap" ke kehidupan Fraya, menjalankan perintah Axel—yang sampai detik ini masih Damian doakan supaya dirinya mati saja di neraka. "Kamu tahu, aku bawa persediaan kalau kamu mau mencicipi sedikit di siang hari." Damian menghentikan tawanya saat Robert Hastings, atau yang biasa dipanggil Robby, menyodorkan sebuah botol pipih yang Damian tahu pasti isinya vodka. "Tidak, aku sedang tidak ingin, Man. Kita masih ada latihan setelah ini! Aku butuh kamu sadar penuh selama latihan!" seru Damian pada Robby. Robert meneguk sedikit minumannya lalu menutup botol itu kembali. "Tenang, Bro. Sedikit saja buat penambah semangat. Aku jamin kamu akan melihatku sadar total di lapangan." Tak lama kemudian, pintu terbuka kasar. Sosok yang paling tidak ingin ditemui Damian hari ini muncul dan melempar tas sekolahnya ke sembarang arah, menciptakan bunyi gaduh. Robert Hastings sampai harus menjulingkan mata melihat kelakuan Axel Rosewood. "Progresnya sudah sampai mana?" tanya Axel tanpa basa-basi, langsung menghempaskan diri di sebelah Damian. Damian menghela napas diam-diam. "Bukannya kamu bilang tidak akan tanya-tanya soal progres dan hanya ingin hasil akhir? Aku sedang mengerjakannya. Kamu cuma perlu tunggu dan lihat. Ini butuh waktu, apalagi kami memulainya dengan saling membenci." Alis Axel terangkat. "Dia tidak menyukaimu? Serius? Siapa di dunia ini yang tidak suka Damian Harding? Kurasa itu baru pertama kali terjadi." Damian memilih diam. Ia juga mengakui dalam hati, ini memang kali pertama ada gadis yang benar-benar kebal terhadap pesonanya. Itulah yang membuatnya sangat penasaran. "Baiklah kalau begitu. Tapi aku butuh update setidaknya sebulan sekali. Jangan buat aku menunggu terlalu lama. Aku mau lihat dia hancur secepat mungkin." Setelah berkata begitu, Axel berdiri untuk menghampiri Robby yang sedang sibuk membolak-balik majalah. Tawa yang tadi sempat meringankan beban di pundak Damian kini sirna seketika. Kedatangan Axel selalu membawa mendung di wajahnya. "Oh iya," Axel berbalik sambil menyesap sebatang rokok—mungkin hasil jarahan dari Robby. "Aku sudah bicara dengan Ayahku. Siang ini sekretarisnya sudah mengatur pertemuan dengan Ayahmu." Damian merasakan dorongan kuat untuk melayangkan tinjunya pada lengan sofa yang ia duduki. Tangannya terkepal sangat keras. Axel tidak tahu bahwa sepupu sekaligus teman karibnya ini tengah mati-matian menahan diri agar tidak menghajarnya saat itu juga. °°°° Jumat Sore Fraya menaruh—atau lebih tepatnya, menghempaskan—kamus tebal Bahasa Jerman ke atas meja kayu di pinggir lapangan. Bunyinya begitu keras hingga Damian yang sudah menunggu lima belas menit di sana nyaris meloncat kaget. Damian memerhatikan gadis di depannya. Hari ini rambut Fraya dikuncir asal-asalan, menampakkan wajah yang sekali lagi tampak siap meninju Damian kapan saja. Damian diam-diam menikmati momen ini. Ini baru hari pertama misi untuk mengusik ketenangan Fraya dimulai. Fraya tidak langsung duduk. Telunjuknya terangkat menuding angka satu di depan wajah Damian. "Satu kali lagi kamu menyuruhku yang bukan-bukan, aku pastikan kamu tidak akan bisa tidur dengan satu pun cewek di dunia ini!" Damian mengangkat sebelah alisnya dengan heran. "Maksudmu, kamu mau merusak 'aset'-ku hanya karena aku minta dibawakan cookies dan bir?" Fraya melotot tajam. "Kita ini di sekolah, you bastard! Tujuanku ke sini untuk benar-benar belajar, bukan melayani maumu seperti budak!" Damian menghela napas, melipat tangan di depan dadanya yang bidang. "Miss Alexandrea, kalau kamu mau teknik belajar kita sukses dan dapat surat rekomendasi dengan cepat, kamu harus memastikan pengajarmu dapat asupan yang baik. Bagaimana aku bisa fokus mengajar kalau muridnya tidak nurut?" Damian menjelaskan dengan nada sangat halus, tapi tentu saja Fraya tidak termakan rayuan itu. Gadis itu membuka resleting tasnya, menarik kotak makan berwarna biru, dan melemparkannya ke atas meja sekeras ia melempar kamus tadi. Damian masih menatap kotak makan itu dengan satu alis terangkat. "Ini kuenya?" Aura kebencian Fraya sudah melesat sampai puncak kepala. "Kalau kita tidak bisa mulai juga, aku hari ini bawa gunting. Kamu bunuh saja aku pakai gunting yang kubawa supaya aku tidak perlu repot-repot dikerjai olehmu!" Damian akhirnya tidak bisa menahan diri. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai bahunya terguncang. Sementara itu, Fraya hanya bisa menjulingkan mata sambil menghembuskan napas berat ke langit-langit. "Tuhan... masih satu tahun lagi aku harus berhadapan dengan si pirang biadab ini. Tolong aku, Tuhan."Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k
"Apa-apaan sih ini!"Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se
Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray
Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya."Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman
Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya."Mr. Moore, silakan
Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mendeteksi pergerakan pasar saham sekecil apa pun, kini sedang menyisir grafik kurva perkembangan laba perusahaan di layar monitor. Angka-angka itu merangkak naik, hijau dan gemilang, menunjukkan dominasi dinasti Harding yang tak tergoyahkan.Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya."Permisi Tuan. Dokter Ashford ada di line dua."Pandangan Richard terangkat perlahan. Di ambang pintu, Karen berdiri dengan sikap sempurna-asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus menghilang.Richard tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan nama "Ashford" bergema di kepalanya sebagai pengingat ak
"Mr. Harding, apakah benar wafatnya Nyonya Arnelia Harding akan menjadi hantaman fatal yang melumpuhkan seluruh roda perputaran bisnis Harding Global?""Mr. Harding, apa sebenarnya pemicu di balik kematian mendadak Nyonya Arnelia? Apakah ada spekulasi medis yang sengaja ditutup-tutupi dari publik
Fraya menutup pintu mobil di belakang tubuhnya, atau lebih tepatnya, membantingnya dengan cukup keras hingga dentumannya sanggup membuat Papa yang sedang duduk di balik kemudi tersentak kaget. "You okay, Honey?" Papa berseru dari balik kaca yang setengah terbuka. Fraya menarik napas panjang, men
Fraya menatap pantulan dirinya di depan cermin besar itu, sedikit mengernyit. Ada perasaan ganjil yang merayap saat ia melihat sosok di sana.Seorang gadis yang tampak... kelewat berdandan.Baginya, definisi cantik biasanya cukup dengan kuncir kuda praktis dan sapuan bedak tipis, namun sosok di ce
Pria itu berdiri dari ranjang pemeriksaan yang dingin, sebuah kontras yang menyengat bagi tubuh yang terbiasa dengan kemewahan tanpa kompromi. Gurat wajahnya adalah peta dari keputusan-keputusan sulit yang termakan usia, namun matanya masih setajam silet. Dikenakannya kembali kemeja birunya yang m







