Home / Romansa / Milford Hall: His Sweet Obsession / Between Adjectives and Misguided Heartbeat

Share

Between Adjectives and Misguided Heartbeat

Author: Juno Bug
last update publish date: 2026-02-16 15:22:12

Damian akhirnya berhenti tertawa, meski sisa-sisa binar jenaka masih terlihat jelas di matanya yang biru. Ia meraih kotak makan biru yang tadi dilemparkan Fraya dan membukanya perlahan. Aroma manis cookies cokelat buatan rumah langsung menyeruak, jauh lebih menggoda daripada makanan katering mewah yang biasa ia santap.

​"Setidaknya kamu punya selera yang bagus untuk urusan kue," gumam Damian sambil mengambil satu keping. Ia menggigitnya, lalu mengangguk puas.

"Oke. Karena 'asupanku' sudah terpenuhi, mari kita mulai sebelum kamu benar-benar menusukku dengan gunting."

​Fraya hanya mendengus, namun ia akhirnya duduk di hadapan Damian. Ia membuka kamus tebalnya dengan gerakan kasar, seolah-olah kertas di dalamnya adalah musuh bebuyutan.

​"Kita mulai dari mana? Grammatik? Atau langsung ke percakapan?" tanya Fraya ketus.

​Damian menumpu dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membolak-balik halaman buku catatan Fraya. Ia diam-diam memperhatikan tulisan tangan gadis itu-rapi, kecil-kecil, dan penuh dengan catatan kaki yang detail. Tipikal murid ambisius.

​"Kita mulai dari hal yang paling dasar, Fraya. Mengapa lidahmu selalu kelu saat mengucapkan kata kerja berakhiran -en?" Damian menggeser kursinya sedikit lebih dekat. "Coba ikuti aku. Ich liebe dich."

​Fraya mengernyitkan dahi. "Aku tidak bodoh, Damian. Aku tahu arti kalimat itu. Pilih contoh lain yang tidak mengandung unsur rayuan murahan."

​"Itu hanya contoh tata bahasa, Miss Alexandrea. Jangan terlalu percaya diri," sahut Damian santai, meski sebenarnya ia sedang menahan senyum. "Cepat, katakan."

​Fraya menghela napas panjang, lalu bergumam dengan aksen yang masih sangat kaku, "Ich liebe dich. Puas?"

​Damian terdiam sejenak. Mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Fraya-meski dalam konteks belajar-ternyata memberikan efek yang aneh di dadanya. Ada getaran kecil yang tidak seharusnya ada di sana.

​Ia mengalihkan pandangan dari buku dan menatap Fraya yang kini sedang sibuk mencatat sesuatu. Di bawah sinar matahari sore yang mulai menguning di pinggir lapangan baseball, sosok di depannya tampak... berbeda. Beberapa helai rambut hitam yang keluar dari kunciran asalnya berkibar tertiup angin, jatuh di sisi wajahnya yang mulus. Sinar matahari itu seolah menonjolkan warna kulit gadingnya yang sehat.

​Damian baru menyadari satu hal yang selama dua minggu ini ia abaikan karena rasa pongahnya: Fraya Alexandrea benar-benar cantik. Bukan kecantikan yang mencolok dan penuh polesan seperti gadis-gadis pengikutnya, melainkan kecantikan yang alami, berani, dan tajam. Ada kekuatan di matanya yang membuat Damian mendadak lupa dengan daftar instruksi Axel.

​"Kenapa diam saja?" Fraya mendongak, mendapati Damian yang sedang menatapnya tanpa berkedip. "Wajahku ada yang salah?"

​Damian berdehem, segera mengembalikan ekspresi datarnya.

"Aksenmu. Masih sangat buruk. Seperti robot yang kehabisan baterai."

​"Son of a bitch," umpat Fraya, kembali menunduk ke bukunya. Damian nyaris saja mau meledak dalam tawa mendengar Fraya mengumpat seperti pelan seperti itu.

​Satu jam berlalu dengan perdebatan kecil di sela-sela materi. Damian ternyata adalah guru yang sangat teliti-dan menyebalkan. Ia akan menyuruh Fraya mengulang satu kata sampai sepuluh kali hanya karena penekanan huruf yang sedikit meleset.

​"Ulangi lagi. Wirtschaftswissenschaften," perintah Damian.

​"Wirt-schafts-wissen-schaf-ten. Ya Tuhan, kenapa bahasa ini panjang sekali, sih!" Fraya menjatuhkan kepalanya ke atas meja, emosi sekaligus frustrasi.

​Damian terkekeh pelan. Ia tidak sadar tangannya bergerak sendiri, hendak mengusap puncak kepala Fraya, namun ia segera menariknya kembali sebelum jemarinya menyentuh rambut hitam itu.

​"Itu artinya ekonomi. Kamu mau masuk Oxford, kan? Kamu harus terbiasa dengan kata-kata rumit," ujar Damian lembut-terlalu lembut untuk ukuran seorang Damian Harding.

​Fraya mengangkat kepalanya, menatap Damian dengan pandangan menyelidik.

"Kamu... kenapa tiba-tiba jadi baik?"

​Damian tersentak. Ia segera memundurkan kursinya, memasang kembali topeng keangkuhannya. "Aku hanya tidak ingin Mrs. Crabtree memecatku sebagai tutor karena muridnya terlalu lamban. Itu akan merusak reputasiku."

​Fraya mencibir. "Reputasi sebagai pangeran sempurna? Dasar narsis."

​Fraya mulai membereskan buku-bukunya karena hari sudah mulai gelap. "Jumat depan di sini lagi? Atau kamu mau menyuruhku membawakan lobster kali ini?"

​"Cookies tadi sudah cukup untuk sementara," sahut Damian sambil berdiri. Ia memerhatikan Fraya yang sedang menyampirkan tas ranselnya.

"Dan Fraya?"

​Fraya menoleh, alisnya terangkat. "Apa?"

​"Kunciran rambutmu... sedikit berantakan," ujar Damian pelan.

​Fraya refleks memegang kuncirannya, wajahnya sedikit memerah karena malu.

"Ini karena aku pusing belajar sama kamu!" Ia langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lapangan.

​Damian berdiri di sana, menatap punggung Fraya yang menjauh. Ia merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel yang bergetar.

Sebuah pesan dari Axel muncul di layar.

​Bagaimana progresnya?

​Damian menatap pesan itu dengan perasaan muak yang mendalam. Ia memasukkan ponselnya kembali tanpa membalas. Untuk saat ini, Damian seolah tengah tenggelam dalam area 'abu-abu'. Karena sebelum ini, Damian yakin kalau mengerjainya Fraya sampai cewek itu akhirnya luluh pada pesona Damian tidak perlu usaha lebih. Tapi setelah baru satu hari ini terlewati ada sesuatu dalam hati Damian yang anomali. Sesuatu asing yang hampir tidak pernah dirasakannya satu kalipun dalam hidup Damian.

Ada perasaan tidak yakin saat ini. Ia tidak yakin saat ini siapa yang sebenarnya sedang berada dalam bahaya-Fraya, atau justru dirinya sendiri yang mulai terjerat oleh pesona gadis yang seharusnya ia hancurkan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Playing With The Fire

    Damian nyaris membanting pintu ruang rekreasi saat ia melangkah masuk dengan napas memburu. Kedua tangannya mendekap erat tubuh Fraya, seolah-olah gadis itu adalah sesuatu yang sangat berharga sekaligus rapuh yang harus ia lindungi dari seluruh dunia.​Setelah mendudukkan Fraya dengan sangat hati-hati di atas sofa ruang rekreasi, Damian segera berlutut tepat di hadapan gadis itu.​Fraya sejak tadi hanya bisa menunduk. Rasa panas akibat tamparan Alana di pipinya masih terasa begitu menyengat, berdenyut menyakitkan. Fraya yakin, bekas jemari Alana masih meninggalkan jejak merah yang sangat jelas di kulit pipinya yang putih bersih.​Damian mendongak, berusaha mencari sepasang mata Fraya dengan pandangan yang sarat akan kekhawatiran.​“Baby, look at me…”​Fraya berdecak sambil menepis jemari Damian yang hendak menyentuh dagunya, “I told you for hundred times, stop calling me that.”​Damian terdiam, namun ia tidak membantah. Tangannya yang sempat terangkat untuk memaksa Fraya agar menatapn

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Sweet of Secrecy

    Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sealed With a Promise

    ​"Apa-apaan sih ini!"​Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.​Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Abyss of Fear

    Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.​Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.​Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Shower's Dirty Secret

    Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.​Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya.​"Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Steam and Sin

    Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.​Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.​Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya.​"Mr. Moore, silakan

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   London, Lights and Lies

    Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mend

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Fallen Heir

    ​"Mr. Harding, apakah benar wafatnya Nyonya Arnelia Harding akan menjadi hantaman fatal yang melumpuhkan seluruh roda perputaran bisnis Harding Global?"​"Mr. Harding, apa sebenarnya pemicu di balik kematian mendadak Nyonya Arnelia? Apakah ada spekulasi medis yang sengaja ditutup-tutupi dari publik

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Bittersweet Symphony

    Roda mobil bahkan belum benar-benar berhenti ketika Nicholas menyentak pintu dan melompat keluar. Ia tidak memedulikan apapun, apalagi suara berat Adam Whitmore-supir yang sudah mengabdi pada keluarga Harding selama belasan tahun-yang meneriakinya agar tetap di dalam.Nicholas tidak mendengar apa p

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Ace, My Ace

    ​Kemenangan mutlak dengan skor telak akhirnya berhasil diraih oleh Milford, mengungguli angka jauh di atas skor Eastwood High. Euforia disetiap tribun lapangan meledak dahsyat, memecah hening yang biasanya menyelimuti Milford Hall menjadi gemuruh yang memekakkan telinga pada saat peluit panjang dit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status