Share

Poundsterling Raining

Author: Juno Bug
last update publish date: 2026-02-15 04:29:27

​Malam itu, di balkon rumah Axel yang luas, musik pesta terdengar berdentum di lantai bawah. Damian duduk dengan segelas Tequila di tangannya, menatap hamparan taman yang gelap.

Axel berdiri di sampingnya, menenggak Gin n Tonic seolah itu adalah air putih.

Dendam masih terlihat jelas di matanya.

​"You need to help me out with this one," ujar Axel parau. "Dekati cewek itu, Man. Terus buat hatinya patah sejadi-jadinya begitu dia jatuh cinta sama kamu."

Damian berhenti memainkan es di gelasnya. Ia menatap Axel lurus. "You're not serious."

​"I'm deadly serious!" tukas Axel yakin. "Buat dia jatuh cinta sama kamu, Damian. Aku nggak sudi kalau dia cuma sekadar suka. Dia harus jatuh cinta sampai ketika waktunya kamu pergi ninggalin dia, dia bakal hancur."

​Damian terdiam cukup lama. Ada pergolakan batin yang berat; ia membenci skenario ini, tapi ia juga terikat pada 'hutang budi' ayahnya yang brengsek kepada keluarga Axel.

​"Apa nggak ada cara lain?" tanya Damian akhirnya. "Atau kau bisa suruh Louis saja? Dia sudah lebih dulu kenal dengan cewek itu."

​"Aku tidak suka Louis. Dan aku hanya percaya padamu untuk urusan ini," tukas Axel dingin. Ia menepuk pundak Damian. "Pilihannya cuma dua: buat dia jatuh cinta, atau buat dia berlutut minta maaf padaku. Imbalannya akan sebanding dengan usahamu, Damian."

​Axel menepuk pundak Damian sebelum meninggalkannya sendirian di balkon. Damian menarik napas panjang, mengutuk takdirnya yang lagi-lagi harus menjadi "robot" bagi ambisi Axel yang picik.

°°°°

​Beberapa hari kemudian, Fraya sedang menyendiri di taman sekolah saat seorang cewek berkacamata menepuk bahunya.

​"Hai. Halo...?"

​Fraya melepas earphone-nya. "Maaf, aku nggak dengar."

​Cewek itu tersenyum lebar seraya menyerahkan secarik kertas yang dilipat  dengan asal.

"You're really lucky, girl!" ujarnya sambil cekikikan sebelum berlalu pergi.

​Fraya mengernyit, menatap kertas itu dengan kening berkeriting.

"Thanks, i... guess," ujar Fraya masih kebingungan menatap kertas dan cewek yang sudah berlalu tadi dalam heran.

Fraya lantas membuka secarik kertas yang dipegangnya, dan keningnya makin keriting waktu membaca isinya. Di dalamnya tertulis:

Temui aku di ruang serba guna gedung timur setelah jam periodik ke-3. Jangan telat, Fraya.

- D

​Meski curiga, rasa penasaran membawa Fraya ke ruang serba guna yang kosong itu. Tak lama, Damian Harding muncul. Sosok yang disebut-sebut sebagai dewa sekolah itu berdiri dengan aura pongah, kemejanya sedikit terbuka, menatap Fraya dari jarak sepuluh langkah.

​"I bet you're the one who summoned me?" Fraya membuka percakapan.

​"Yup. You surprised?" suara Damian terdengar dingin.

​"Do i look surprised to you right now?" balas Fraya santai, meski hatinya waspada.

​Damian mendekat, duduk di salah satu meja di depan Fraya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih tebal.

"Terima ini. Kamu akan dapat lebih dari ini kalau kamu mau minta maaf ke temanku, Axel Rosewood. Anggap saja ini uang muka. Tiga puluh ribu poundsterling."

​Fraya melongo. Otaknya seolah membeku. Ia tidak menyangka akan dihina dengan cara seperti ini—seolah harga dirinya bisa dibeli.

​"Tenang saja, jangan panik begitu. Ini baru uang muka. Kamu bakal dapat tiga kali lipat dari ini kalau bisa ikuti perintahku," tambah Damian dengan tatapan meremehkan.

​Fraya menerima amplop itu. Ia membukanya, melihat tumpukan uang yang belum pernah ia pegang seumur hidupnya. Namun, alih-alih tergiur, rasa marah yang lebih besar justru membuncah.

​Fraya mengeluarkan tumpukan uang itu, membuang amplopnya ke lantai, dan menatap Damian tepat di matanya. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia mulai menebarkan lembaran-lembaran poundsterling itu ke udara. Uang-uang itu terbang berhamburan di antara mereka.

​"Apa yang kamu lakukan!?" Damian langsung berdiri, wajahnya memerah karena kaget sekaligus marah.

​"Kamu bilang uang ini untukku, kan? Jadi aku bisa melakukan apa pun sesukaku," ujar Fraya ceria, meski tatapannya sedingin gunung es. Ia melemparkan beberapa lembar terakhir tepat di depan wajah Damian.

​Fraya melangkah maju, memperpendek jarak hingga hanya tersisa beberapa senti di antara mereka.

​"Tell your dumbshit friend," desis Fraya tajam ke arah mata Damian. "Aku lebih baik menelan api neraka daripada harus minta maaf kepadanya."

​Tanpa menoleh lagi, Fraya melenggang pergi, meninggalkan Damian yang berdiri membeku di tengah hujan uang—tenggelam dalam murka dan malu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setelah insiden di ruang serbaguna itu, Fraya berjalan dengan langkah cepat, hampir berlari, menyusuri lorong gedung timur yang sepi. Napasnya masih memburu, dan telapak tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena sisa-sisa adrenalin yang meledak setelah ia melemparkan uang puluhan ribu poundsterling tepat ke wajah Damian Harding.

​"Gila," gumam Fraya pada dirinya sendiri. "Aku baru saja membuang uang yang mungkin bisa membelikan Mama sebuah mobil baru di Jakarta."

​Namun, di balik penyesalan logis yang lewat sekilas, ada rasa bangga yang membuncah. Fraya tidak pernah membiarkan siapa pun menginjak harga dirinya, apalagi dengan cara serendah itu. Baginya, Damian dan Axel adalah dua sisi dari koin yang sama: laki-laki yang berpikir bahwa dunia bisa ditekuk hanya dengan selembar cek.

​Fraya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, tempat satu-satunya di mana ia merasa aman dari jangkauan gosip dan tatapan menghakimi. Namun, baru saja ia berbelok di dekat loker, ia melihat Florence sedang berdiri termenung menatap ke luar jendela.

​"Flo?" panggil Fraya pelan.

​Florence menoleh. Wajahnya masih pucat, dan matanya masih menyisakan sedikit sembap, namun ia terlihat lebih tenang dibanding beberapa hari yang lalu.

"Alexa? Kamu dari mana saja? Tadi aku nyari kamu ke kantin tapi tidak ada."

​Fraya terdiam sejenak. Ia tidak ingin menambah beban Florence dengan menceritakan bahwa Damian baru saja mencoba menyogoknya demi sebuah maaf untuk Axel.

"Hanya... mencari udara segar di gedung timur. Kamu sendiri sedang apa di sini?"

​Florence tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan. "Tadi aku tidak sengaja berpapasan dengan Louis. Dia menanyakan kabarmu. Katanya, atmosfer di kelas Lanjutan agak aneh sejak kejadian di bar itu."

​Fraya mendengus kecil. "Aneh bagaimana? Mereka merasa terancam karena ada cewek Asia yang berani meninju hidung pangeran mereka?"

​"Mungkin," Florence terkekeh sedikit, dan itu membuat Fraya merasa lega.

"Tapi Alexa, kamu harus hati-hati. Axel bukan tipe orang yang membiarkan sesuatu berlalu begitu saja. Dan Damian... dia teman terbaik Axel. Mereka punya cara tersendiri untuk membalas dendam."

​Fraya hanya mengangguk samar, namun di dalam kepalanya, bayangan mata tajam Damian yang memerah karena marah tadi kembali muncul. Fraya tahu, peperangan ini baru saja dimulai.

°°°°

Sementara itu, di dalam ruang serbaguna yang kini lantainya dipenuhi lembaran uang poundsterling, Damian Nicholas Harding masih berdiri mematung. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup dengan dentuman keras, lalu mengalihkan pandangannya ke lantai.

​Lembaran tiga puluh ribu poundsterling itu kini tampak seperti sampah tak berharga yang berserakan di sekitar kakinya.

​"Sialan," desis Damian. Suaranya rendah, namun penuh dengan amarah yang tertahan.

​Selama delapan belas tahun hidupnya, Damian terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Jika ia tersenyum, wanita akan berlutut. Jika ia membayar, masalah akan hilang.

Tapi Fraya Alexandrea... gadis itu justru mengembalikan uangnya dengan cara yang paling menghina.

​Damian berjongkok, memungut selembar uang yang mendarat di dekat sepatunya. Ia meremas kertas itu hingga tak berbentuk. Pikirannya melayang pada rencana Axel. Awalnya, Damian melakukannya hanya karena merasa berhutang budi pada keluarga Rosewood.

Tapi sekarang? Baginya, ini sudah menjadi urusan pribadi.

​Ia ingin melihat Fraya kehilangan ketenangannya. Ia ingin melihat mata dingin itu berubah menjadi damba, lalu menjadi hancur.

​"Kamu ingin menelan api neraka, Fraya?" gumam Damian dengan seringai tipis yang tidak sampai ke mata. "Maka aku sendiri yang akan membawakan apinya untukmu."

​Damian berdiri, merapikan kemejanya, dan melangkah keluar ruangan tanpa memedulikan uang yang berserakan itu. Biarlah petugas kebersihan atau siapa pun menemukannya. Baginya, uang itu sudah tidak berarti lagi sejak Fraya mengabaikannya.

​Langkahnya membawanya ke depan kelas Biologi, tepat saat jam pelajaran usai. Ia menunggu di balik pilar, dan benar saja, sosok Fraya muncul bersama Florence. Damian tidak langsung mendekat. Ia hanya memerhatikan dari jauh, melihat bagaimana Fraya tertawa kecil menanggapi ucapan Florence.

​Ada sesuatu yang aneh dalam dada Damian saat melihat senyum itu. Senyum yang sama yang ia lihat di hari pertama Fraya masuk kelas. Senyum yang tulus, yang tidak pernah ditujukan untuknya.

​Tunggu saja, Fraya, batin Damian. Permainan baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Sweet of Secrecy

    Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sealed With a Promise

    ​"Apa-apaan sih ini!"​Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.​Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Abyss of Fear

    Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.​Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.​Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Shower's Dirty Secret

    Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.​Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya.​"Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Steam and Sin

    Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.​Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.​Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya.​"Mr. Moore, silakan

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   London, Lights and Lies

    Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mendeteksi pergerakan pasar saham sekecil apa pun, kini sedang menyisir grafik kurva perkembangan laba perusahaan di layar monitor. Angka-angka itu merangkak naik, hijau dan gemilang, menunjukkan dominasi dinasti Harding yang tak tergoyahkan.​Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya.​"Permisi Tuan. Dokter Ashford ada di line dua."​Pandangan Richard terangkat perlahan. Di ambang pintu, Karen berdiri dengan sikap sempurna-asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus menghilang.Richard tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan nama "Ashford" bergema di kepalanya sebagai pengingat ak

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Fallen Heir

    ​"Mr. Harding, apakah benar wafatnya Nyonya Arnelia Harding akan menjadi hantaman fatal yang melumpuhkan seluruh roda perputaran bisnis Harding Global?"​"Mr. Harding, apa sebenarnya pemicu di balik kematian mendadak Nyonya Arnelia? Apakah ada spekulasi medis yang sengaja ditutup-tutupi dari publik

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Trapped In The Hallway

    Fraya menutup pintu mobil di belakang tubuhnya, atau lebih tepatnya, membantingnya dengan cukup keras hingga dentumannya sanggup membuat Papa yang sedang duduk di balik kemudi tersentak kaget. ​"You okay, Honey?" Papa berseru dari balik kaca yang setengah terbuka. ​Fraya menarik napas panjang, men

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Calling Ovation

    Pelajaran Bahasa Jerman bagi Fraya tak ubahnya sebuah labirin tanpa ujung yang dipenuhi kerikil tajam. Meskipun sesi tutor bersama Damian mulai menunjukkan progres meningkat, Fraya belum bisa sepenuhnya bernapas lega. Nilai sempurna yang ia incar-tiket emas menuju Oxford-masih terasa seperti cakraw

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Beneath The Cruel Shadow

    ​Di balik kuasa absolut yang digenggamnya, Damian Harding menyadari satu ironi yang pahit: seluruh kekayaan di dunia ini tidak pernah bisa membeli satu detik pun kebahagiaan sejati. Sejak tarikan napas pertamanya, ia terlahir ke dunia yang sudah menanam tumpukan ekspektasi di pundaknya, bahkan seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status