MasukMalam itu, di balkon rumah Axel yang luas, musik pesta terdengar berdentum di lantai bawah. Damian duduk dengan segelas Tequila di tangannya, menatap hamparan taman yang gelap.
Axel berdiri di sampingnya, menenggak Gin n Tonic seolah itu adalah air putih. Dendam masih terlihat jelas di matanya. "You need to help me out with this one," ujar Axel parau. "Dekati cewek itu, Man. Terus buat hatinya patah sejadi-jadinya begitu dia jatuh cinta sama kamu." Damian berhenti memainkan es di gelasnya. Ia menatap Axel lurus. "You're not serious." "I'm deadly serious!" tukas Axel yakin. "Buat dia jatuh cinta sama kamu, Damian. Aku nggak sudi kalau dia cuma sekadar suka. Dia harus jatuh cinta sampai ketika waktunya kamu pergi ninggalin dia, dia bakal hancur." Damian terdiam cukup lama. Ada pergolakan batin yang berat; ia membenci skenario ini, tapi ia juga terikat pada 'hutang budi' ayahnya yang brengsek kepada keluarga Axel. "Apa nggak ada cara lain?" tanya Damian akhirnya. "Atau kau bisa suruh Louis saja? Dia sudah lebih dulu kenal dengan cewek itu." "Aku tidak suka Louis. Dan aku hanya percaya padamu untuk urusan ini," tukas Axel dingin. Ia menepuk pundak Damian. "Pilihannya cuma dua: buat dia jatuh cinta, atau buat dia berlutut minta maaf padaku. Imbalannya akan sebanding dengan usahamu, Damian." Axel menepuk pundak Damian sebelum meninggalkannya sendirian di balkon. Damian menarik napas panjang, mengutuk takdirnya yang lagi-lagi harus menjadi "robot" bagi ambisi Axel yang picik. °°°° Beberapa hari kemudian, Fraya sedang menyendiri di taman sekolah saat seorang cewek berkacamata menepuk bahunya. "Hai. Halo...?" Fraya melepas earphone-nya. "Maaf, aku nggak dengar." Cewek itu tersenyum lebar seraya menyerahkan secarik kertas yang dilipat dengan asal. "You're really lucky, girl!" ujarnya sambil cekikikan sebelum berlalu pergi. Fraya mengernyit, menatap kertas itu dengan kening berkeriting. "Thanks, i... guess," ujar Fraya masih kebingungan menatap kertas dan cewek yang sudah berlalu tadi dalam heran. Fraya lantas membuka secarik kertas yang dipegangnya, dan keningnya makin keriting waktu membaca isinya. Di dalamnya tertulis: Temui aku di ruang serba guna gedung timur setelah jam periodik ke-3. Jangan telat, Fraya. - D Meski curiga, rasa penasaran membawa Fraya ke ruang serba guna yang kosong itu. Tak lama, Damian Harding muncul. Sosok yang disebut-sebut sebagai dewa sekolah itu berdiri dengan aura pongah, kemejanya sedikit terbuka, menatap Fraya dari jarak sepuluh langkah. "I bet you're the one who summoned me?" Fraya membuka percakapan. "Yup. You surprised?" suara Damian terdengar dingin. "Do i look surprised to you right now?" balas Fraya santai, meski hatinya waspada. Damian mendekat, duduk di salah satu meja di depan Fraya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih tebal. "Terima ini. Kamu akan dapat lebih dari ini kalau kamu mau minta maaf ke temanku, Axel Rosewood. Anggap saja ini uang muka. Tiga puluh ribu poundsterling." Fraya melongo. Otaknya seolah membeku. Ia tidak menyangka akan dihina dengan cara seperti ini—seolah harga dirinya bisa dibeli. "Tenang saja, jangan panik begitu. Ini baru uang muka. Kamu bakal dapat tiga kali lipat dari ini kalau bisa ikuti perintahku," tambah Damian dengan tatapan meremehkan. Fraya menerima amplop itu. Ia membukanya, melihat tumpukan uang yang belum pernah ia pegang seumur hidupnya. Namun, alih-alih tergiur, rasa marah yang lebih besar justru membuncah. Fraya mengeluarkan tumpukan uang itu, membuang amplopnya ke lantai, dan menatap Damian tepat di matanya. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia mulai menebarkan lembaran-lembaran poundsterling itu ke udara. Uang-uang itu terbang berhamburan di antara mereka. "Apa yang kamu lakukan!?" Damian langsung berdiri, wajahnya memerah karena kaget sekaligus marah. "Kamu bilang uang ini untukku, kan? Jadi aku bisa melakukan apa pun sesukaku," ujar Fraya ceria, meski tatapannya sedingin gunung es. Ia melemparkan beberapa lembar terakhir tepat di depan wajah Damian. Fraya melangkah maju, memperpendek jarak hingga hanya tersisa beberapa senti di antara mereka. "Tell your dumbshit friend," desis Fraya tajam ke arah mata Damian. "Aku lebih baik menelan api neraka daripada harus minta maaf kepadanya." Tanpa menoleh lagi, Fraya melenggang pergi, meninggalkan Damian yang berdiri membeku di tengah hujan uang—tenggelam dalam murka dan malu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setelah insiden di ruang serbaguna itu, Fraya berjalan dengan langkah cepat, hampir berlari, menyusuri lorong gedung timur yang sepi. Napasnya masih memburu, dan telapak tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena sisa-sisa adrenalin yang meledak setelah ia melemparkan uang puluhan ribu poundsterling tepat ke wajah Damian Harding. "Gila," gumam Fraya pada dirinya sendiri. "Aku baru saja membuang uang yang mungkin bisa membelikan Mama sebuah mobil baru di Jakarta." Namun, di balik penyesalan logis yang lewat sekilas, ada rasa bangga yang membuncah. Fraya tidak pernah membiarkan siapa pun menginjak harga dirinya, apalagi dengan cara serendah itu. Baginya, Damian dan Axel adalah dua sisi dari koin yang sama: laki-laki yang berpikir bahwa dunia bisa ditekuk hanya dengan selembar cek. Fraya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, tempat satu-satunya di mana ia merasa aman dari jangkauan gosip dan tatapan menghakimi. Namun, baru saja ia berbelok di dekat loker, ia melihat Florence sedang berdiri termenung menatap ke luar jendela. "Flo?" panggil Fraya pelan. Florence menoleh. Wajahnya masih pucat, dan matanya masih menyisakan sedikit sembap, namun ia terlihat lebih tenang dibanding beberapa hari yang lalu. "Alexa? Kamu dari mana saja? Tadi aku nyari kamu ke kantin tapi tidak ada." Fraya terdiam sejenak. Ia tidak ingin menambah beban Florence dengan menceritakan bahwa Damian baru saja mencoba menyogoknya demi sebuah maaf untuk Axel. "Hanya... mencari udara segar di gedung timur. Kamu sendiri sedang apa di sini?" Florence tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan. "Tadi aku tidak sengaja berpapasan dengan Louis. Dia menanyakan kabarmu. Katanya, atmosfer di kelas Lanjutan agak aneh sejak kejadian di bar itu." Fraya mendengus kecil. "Aneh bagaimana? Mereka merasa terancam karena ada cewek Asia yang berani meninju hidung pangeran mereka?" "Mungkin," Florence terkekeh sedikit, dan itu membuat Fraya merasa lega. "Tapi Alexa, kamu harus hati-hati. Axel bukan tipe orang yang membiarkan sesuatu berlalu begitu saja. Dan Damian... dia teman terbaik Axel. Mereka punya cara tersendiri untuk membalas dendam." Fraya hanya mengangguk samar, namun di dalam kepalanya, bayangan mata tajam Damian yang memerah karena marah tadi kembali muncul. Fraya tahu, peperangan ini baru saja dimulai. °°°° Sementara itu, di dalam ruang serbaguna yang kini lantainya dipenuhi lembaran uang poundsterling, Damian Nicholas Harding masih berdiri mematung. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup dengan dentuman keras, lalu mengalihkan pandangannya ke lantai. Lembaran tiga puluh ribu poundsterling itu kini tampak seperti sampah tak berharga yang berserakan di sekitar kakinya. "Sialan," desis Damian. Suaranya rendah, namun penuh dengan amarah yang tertahan. Selama delapan belas tahun hidupnya, Damian terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Jika ia tersenyum, wanita akan berlutut. Jika ia membayar, masalah akan hilang. Tapi Fraya Alexandrea... gadis itu justru mengembalikan uangnya dengan cara yang paling menghina. Damian berjongkok, memungut selembar uang yang mendarat di dekat sepatunya. Ia meremas kertas itu hingga tak berbentuk. Pikirannya melayang pada rencana Axel. Awalnya, Damian melakukannya hanya karena merasa berhutang budi pada keluarga Rosewood. Tapi sekarang? Baginya, ini sudah menjadi urusan pribadi. Ia ingin melihat Fraya kehilangan ketenangannya. Ia ingin melihat mata dingin itu berubah menjadi damba, lalu menjadi hancur. "Kamu ingin menelan api neraka, Fraya?" gumam Damian dengan seringai tipis yang tidak sampai ke mata. "Maka aku sendiri yang akan membawakan apinya untukmu." Damian berdiri, merapikan kemejanya, dan melangkah keluar ruangan tanpa memedulikan uang yang berserakan itu. Biarlah petugas kebersihan atau siapa pun menemukannya. Baginya, uang itu sudah tidak berarti lagi sejak Fraya mengabaikannya. Langkahnya membawanya ke depan kelas Biologi, tepat saat jam pelajaran usai. Ia menunggu di balik pilar, dan benar saja, sosok Fraya muncul bersama Florence. Damian tidak langsung mendekat. Ia hanya memerhatikan dari jauh, melihat bagaimana Fraya tertawa kecil menanggapi ucapan Florence. Ada sesuatu yang aneh dalam dada Damian saat melihat senyum itu. Senyum yang sama yang ia lihat di hari pertama Fraya masuk kelas. Senyum yang tulus, yang tidak pernah ditujukan untuknya. Tunggu saja, Fraya, batin Damian. Permainan baru saja dimulai.Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk di halaman belakang rumahnya yang begitu luas. Mantel tebal yang dikenakannya membungkus tubuh dengan rapat, sebuah upaya untuk menghalau dingin yang sejak tadi mencoba menusuk hingga ke tulang.Ia merapatkan syalnya, hingga kain itu nyaris menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat.Harley, pelayan setia yang berdiri mematung di sampingnya, melirik sekilas. Mungkin dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya.Kalau memang sudah tahu kedinginan, kenapa Nyonya tetap memaksakan diri duduk di luar begini? Namun, ia tetap setia menunggu sang nyonya besar yang terkenal memiliki hati selembut malaikat itu.Arnelia mengalihkan pandangannya sejenak dari kerumunan anak-anak yang asyik bermain, lalu
Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.Sudah berapa hari ini pula, Fraya Alexandrea praktis menjelma menjadi pusat dari segala poros gosip yang berputar liar di koridor sekolah. Setiap kali ia baru turun dari mobil setelah Papa mengantarnya, Fraya pasti akan dilempari tatapan menghakimi yang menilai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah-olah semua pasang mata di sana tengah mencoba mencari tahu mantra apa yang digunakan gadis Indonesia itu sampai bisa membuat seorang Harding kehilangan akal sehat di tengah lapangan. Kalau saja dirinya lagi di Indonesia, pasti Fraya dicurigai sudah main dukun. Dengan kata lain, mengguna-guna Damian Harding.Namun, di antara riuh tatapan sinis itu, terselip pula binar kekaguman dari beberapa siswi yang
Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris magis. Ruangan itu tampak begitu hidup, kombinasi antara denyut musik yang sanggup merontokkan dinding, kerumunan manusia yang berdansa dalam euforia tanpa batas, serta dentingan botol-botol minuman mahal yang diacungkan tinggi-tinggi ke udara—seolah-olah setiap orang di sana baru saja berhasil menggenggam dunia dalam telapak tangan mereka.Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, Damian Harding menengadah. Kepalanya tersandar lesu pada sandaran sofa kulit, membiarkan matanya bermandikan cahaya lampu yang berkerlap-kerlip dan berputar gila di langit-langit. Ia tertegun, seolah sedang menghitung bintang di tengah buaian alkohol yang entah sudah botol keberapa yang berhasil ia tanda
"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga mau berhenti meskipun hanya untuk sejenak. Namun, Nicholas kecil telanjur kehilangan kendali atas kakinya sendiri. Di usia sembilan tahun, ambisinya sering kali lebih besar dari kekuatan fisiknya. Ia tersungkur hebat. Tubuh mungilnya terpelanting ke depan, mencium rumput sintetis dengan bunyi debum yang menyesakkan, hingga beberapa helai rumput tercabut paksa dari akarnya.Nicholas—bocah berambut emas dengan sepasang mata biru sedalam samudra—meringis. Rasa panas merayap di lutut dan sikunya, namun ada satu titik yang berdenyut jauh lebih menyakitkan: dagunya.Bocah itu tertegun saat melihat setetes warna merah pekat jatuh, mengotori hijaunya rumput. Disusul tetesan kedua, lalu ketiga. Bau
Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni sekolah pun akhirnya tiba. Hari pertama babak final pertandingan Lacrosse antara Milford Hall dan Easwood High. Pertandingan babak final ini rencananya akan diselenggarakan dua hari berturut-turut dengan Milford Hall sebagai tuan rumah.Atmosfer di Milford Hall mendadak berubah menjadi medan energi yang meluap-luap. Seluruh jajaran murid dan guru sepakat menghentikan aktivitas belajar-mengajar lebih awal, memberikan ruang bagi semangat yang membuncah untuk mengalir menuju lapangan hijau. Semua bergerak serentak, berbondong-bondong memenuhi setiap sudut tribun panjang dan besar yang telah disediakan. Teriakan membahana mulai memenuhi cakrawala lapangan Lacrosse, menciptakan keriuhan yang sanggup menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Antusiasme yang berada di titik didih ini membuat setiap jengkal kursi penonton mustahil untuk menyisakan ruang kosong.Warna-warna kebanggaan sekolah berkibar di mana-mana, menyambut partai final y
Pelajaran Bahasa Jerman bagi Fraya tak ubahnya sebuah labirin tanpa ujung yang dipenuhi kerikil tajam. Meskipun sesi tutor bersama Damian mulai menunjukkan progres meningkat, Fraya belum bisa sepenuhnya bernapas lega. Nilai sempurna yang ia incar-tiket emas menuju Oxford-masih terasa seperti cakrawala; tampak begitu indah namun seolah terus menjauh setiap kali ia mencoba melangkah mendekat.Jika sebelumnya Fraya sudah mulai menguasai tata bahasa Jerman yang rumitnya bikin sakit kepala, kali ini Fraya harus berhadapan dengan tembok besar bernama Hörverstehen atau metode mendengar dalam test Bahasa Jerman. Bagi Fraya, tahap ini yang masih sulit ia kuasai. Tahap ini merupakan momok paling sulit untuk Fraya. Setiap kali masuk ke sesi kuis dadakan berbasis audio, ia rasanya lebih ingin menghantamkan kepalanya saja ke tembok daripada harus menghadapi kegagalan lagi. Telinganya seolah kehilangan ketajaman. Kosakata yang ia tangkap lebih sering salah berakhir meleset jauh dari maksud asli y







