INICIAR SESIÓNDemi sebuah wasiat terakhir dari sahabatnya yang telah tiada, Andina Julianti terpaksa menikah dengan Evandi Sebastian Gunawan—seorang pria dingin, kejam, dan tak pernah benar-benar melepaskan cintanya pada mendiang istrinya, Zahra. Pernikahan yang seharusnya menjadi jembatan perlindungan bagi Dara, putri kecil yang mereka jaga bersama, justru berubah menjadi ikatan penuh luka yang tak terucap. “Kalau saya nggak bisa dapat bahagia dari Akang, setidaknya saya dapat sesuatu yang bisa menyelamatkan hidup saya. Uang!" Bagi Andina, ini bukan tentang cinta. Ini tentang bertahan hidup. Tentang menukar harga diri dengan masa depan keluarga yang lebih layak. Sementara bagi Evan, Andina hanyalah pengganti—tanpa hati, tanpa arti. "Sudah saya duga kamu memang mata duitan. Tapi untuk ukuran perempuan matre, saya cukup terkejut kamu masih perawan." Namun, di balik hubungan yang dibangun atas dasar kesepakatan dingin dan kebutuhan, perlahan muncul keterikatan yang tak bisa lagi dikendalikan. Di antara hinaan, luka batin, dan transaksi yang tak pernah setara, benih rasa itu tumbuh… memerangkap keduanya dalam jerat nikmat yang menyakitkan. Karena dalam permainan ini, bukan hanya tubuh yang terikat, tapi juga hati yang diam-diam mulai saling mengikat.
Ver más"Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "Udah gila kamu, ya! Pergi san--aaargh!" Sejurus kemudian Kang Epen langsung memegangi kepala. "Nah, nah, pusing, kan? Mabok, sih semalem. Nggak boleh gitu lagi, ya, Kang. Khamr itu harom, bisa merusak akal!" Dia mendecih, lalu mengalihkan pandangan pada nakas di sampingku. Ada nampan berisi makanan dan minuman di sana. "Apa itu?" "Teh Jasmine-Madu sama Sayur Sop. Kata Simbok ini bisa meredakan pengar setelah kobam." Dia loading sejenak, lalu mengulurkan tangan. "Bawa sini!" Aku menurut, lalu meletakan nampan tersebut di sisi lain ranjang. Tenang, Gaes. Kasur orang kaya tak akan meleyot walau diguncang gempa buatan. Jadi, bisa dipastikan teh dan sop-nya aman. "Tiati pa
"Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat kehilangan kontak dengan semua orang yang berhubungan dengan Zahra karena tak tahu nomor Mirna untuk menanyakan tentang perkembangan Dara sepeninggal Mamanya. Selama enam bulan aku juga tak berani menanyakan, mengingat kondisi Kang Epen yang kuperhatikan dari kejauhan sangat kacau dan berantakan, tanpa diduga lelaki yang mulanya sulit dijangkau dan hanya sesekali berpapasan dengan senyum tipis itu ada di hadapan sekarang dengan tingkahnya yang membingungkan. "Tepatnya Andina, Kang. Kalau Andi doang berasa saya lanang. Hehe." Aku nyengir untuk mencairkan suasana. Tapi, sialnya dia tak tertawa. Wajahnya masih sedatar sebelumnya. "Terserah. Yang pasti seminggu dari sekarang kita menikah!""Hah
"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur atau kamar sebentar. Kalau pun Bapak tiba-tiba pulang, harusnya, sih kedengeran." Aku mangut-mangut. "Mungkin dia ada urusan dadakan." "Mungkin." Mirna ikut menduga-duga. Setelah membiarkan keheningan berlalu begitu saja, aku baru teringat tentang sesuatu. "Oh, iya. Motor saya udah dibawa Mang Tarman ke bengkel, kan?" Sebelum pergi dengan Dara dan Kang Epen tadi, aku memang sempat memeriksa kondisi Blue. Kurasa tak terlalu parah dan masih bisa diperbaiki. "Udah, Teh. Alhamdulillah katanya masih bisa dibenerin. Yang kena cuma body-nya." "Alhamdulillah Gusti!" "Oh, iya. Teteh mau dibikinin sesuatu?" tawar Mirna kemudian. "Eh, nggak usah! Kalau pun mau saya bisa bikin sendiri
"Yakin mau yang itu?" Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya. "Iya, udah itu aja." Melihat tatapannya yang masih dalam dan tajam, sepertinya lelaki ini masih belum benar-benar percaya. "Tadi katanya mau Vespa GTS?" "Ih, kan becanda atuh, Kang. Yang itu aja udah lebih dari cukup, kok. Saya emang suka memanfaatkan kesempatan, tapi nggak sampe aji mumpung juga." Dia mangut-mangut, lalu mulai mengeluarkan dompet dari saku belakang celana jins-nya. "Ya udah. Mau mobilnya sekalian?" Aku ternganga, lalu mengerjapkan mata. Kebetulan di samping dealer motor lengkap ini, ada showroom mobil juga. "Emang boleh?" "Nggak!" "Yeh, kirain beneran." Refleks aku memukul lengannya yang membuat Bapak Dara memandang dengan kerutan di dahinya. "Makasih, ya, Kang Epen yang kasep." Kemudian aku memasang seny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.