ANMELDENDemi sebuah wasiat terakhir dari sahabatnya yang telah tiada, Andina Julianti terpaksa menikah dengan Evandi Sebastian Gunawan—seorang pria dingin, kejam, dan tak pernah benar-benar melepaskan cintanya pada mendiang istrinya, Zahra. Pernikahan yang seharusnya menjadi jembatan perlindungan bagi Dara, putri kecil yang mereka jaga bersama, justru berubah menjadi ikatan penuh luka yang tak terucap. “Kalau saya nggak bisa dapat bahagia dari Akang, setidaknya saya dapat sesuatu yang bisa menyelamatkan hidup saya. Uang!" Bagi Andina, ini bukan tentang cinta. Ini tentang bertahan hidup. Tentang menukar harga diri dengan masa depan keluarga yang lebih layak. Sementara bagi Evan, Andina hanyalah pengganti—tanpa hati, tanpa arti. "Sudah saya duga kamu memang mata duitan. Tapi untuk ukuran perempuan matre, saya cukup terkejut kamu masih perawan." Namun, di balik hubungan yang dibangun atas dasar kesepakatan dingin dan kebutuhan, perlahan muncul keterikatan yang tak bisa lagi dikendalikan. Di antara hinaan, luka batin, dan transaksi yang tak pernah setara, benih rasa itu tumbuh… memerangkap keduanya dalam jerat nikmat yang menyakitkan. Karena dalam permainan ini, bukan hanya tubuh yang terikat, tapi juga hati yang diam-diam mulai saling mengikat.
Mehr anzeigen"Kita lakukan sekarang! Agar tak ada lagi drama berkepanjangan tentang nafkah batin yang tak terpenuhi juga gugur kewajiban saya dalam satu malam."
Meski sudah tahu hal ini akan terjadi, ucapan si Tampan dengan wajah datar tetap berhasil menyentil hati mungilku yang malang. Ikrar yang terjalin di antara kita seolah tak berarti apa-apa saat ijab lantang yang dia lontarkan tadi pagi, terjadi berdasarkan permintaan seseorang. "Oke." Suaraku yang sempat tercekat di tenggorokan akhirnya keluar. Berusaha menutupi kegugupan, dengan perlahan kulepaskan handuk yang membungkus kepala, dan mulai menanggalkan pakaian. Bisa aku rasakan lelaki di hadapan tampak memerhatikan dengan seksama setiap gerakan yang dilakukan. "Cepat!" "Sabar atuh!" Aku mendelik, lalu membuka satu per satu kancing piama yang sialnya malah tersangkut benang. Dia berdecak kesal, lalu segera menggantikan tugasku dengan cara yang barbar. Hanya sekali sentakan, kancing piama yang kukenakan pun berhamburan di lantai. Padahal ini baju tidur kesayangan yang belinya pake paylater cicilan 3 bulan. Setelah mengamati tubuhku sebentar, dia langsung membaringkanku tak ubahnya mangsa yang siap diterkam. Tak ada pemanasan, semua dilakukan dengan cepat dan tanpa perhitungan. Hal itu tentu menyebabkan rasa perih yang ditimbulkan dari hasil penyatuan mulai menjalar di seluruh badan. Walau bagaimana pun ini pengalaman pertamaku. Dan apa yang dia lakukan sudah menghancurkan ekspektasiku tentang malam pertama yang seringkali diceritakan teman-teman. "Kita boleh saja terikat raga, tapi tidak dengan jiwa. Sampai kapan pun hati saya tetap milik Zahra!" Setelah dahaganya berhasil terpenuhi lelaki dua puluh delapan tahun itu beranjak bangkit. Sejenak dia menatap jejak yang tertinggal di seprai, ada seringai kepuasan di sana, tapi tak bertahan. Segera dia memasang kembali wajah datar, lalu berpakaian. "Lakukanlah sampai kamu bosan, saya nggak keberatan. Kalau nggak bisa memberikan hatimu, setidaknya berikanlah sebagian kecil hartamu sebagai balasan atas apa yang udah saya lakukan." Mendengar kata-kataku, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu. Dia berbalik menatapku. "Sudah saya duga kamu memang mata duitan. Walau sedikit terkejut tapi saya apresiasi kejujuranmu. Untuk ukuran perempuan matre saya cukup terkejut kamu masih perawan." Bisa dikatakan aku sama sekali tak tersinggung disebut demikian. Di dunia yang segala-galanya butuh uang inilah aku bertahan. "Hidup itu harus realistis. Kalau saya nggak bisa mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan yang sama-sama nggak kita inginkan, setidaknya saya teh bisa dapat kekayaan bilamana suatu saat Akang bosan, lalu berakhir mencampakkan. Toh, keperawanan saya yang udah Akang ambil tadi nggak bisa juga dikembalikan, kan?" Dia terbungkam, tapi tatapannya menyerang. Terlihat nyalang dan tajam di waktu yang bersamaan. "Sama satu lagi! Nggak semua orang melarat yang butuh duit larinya 'jualan'. Jadi tolong jangan disamaratakan." Seringai tampak kembali di wajahnya yang enak dipandang. "Ternyata saya salah menilaimu." "Emangnya gimana Akang menilai saya?" "Lupakan. Untuk yang barusan saya transfer setelah ini. Dan akan terus saya lakukan tiap kali kita berhubungan." "Oke, makasih." "Cih, kamu merasa bangga saya perlakukan seperti p*lacur berkedok istri?" "Nggak apa-apa. Toh, kita terikat secara halal, dan udah kewajiban Akang memberikan nafkah lahir maupun batin, pun saya yang memberikan hak Akang sebagai bentuk pengabdian istri." "Terserah." "Jangan lupa dateng lagi, ya, Kang Epen. Pintu kamar ini selalu terbuka untukmu. Muach." Aku mengerlingkan mata, melakukan ciuman jarak jauh yang berhasil membuatnya bergidig. Mungkin merinding, geli atau mungkin jijik? Apa pun itu aku tak peduli. "Jangan harap!" Aku hanya bisa tersenyum getir begitu dia berlalu dan membanting pintu. Topeng yang sejak awal dikenakan akhirnya bisa kulepaskan bersama dengan ledakan emosi yang sejak tadi sudah berjejalan minta diluapkan. Semua itu kutumpahkan di dalam bekapan bantal. Persis seperti yang selalu kamu ceritakan, Ra. Dia memang bajingan, tapi sedikit lebih baik dari yang kubayangkan. *** Dulu aku berpikir bahwa dongeng Cinderella dan Putri-putri Disney hanya kisah kehaluan tingkat dewa yang selalu berhasil memikat para penikmat fiksi dan romantisasi. Namun, sekarang aku merasakan yang demikian. Meski alurnya cukup berseberangan, setidaknya ada kesamaan di bagian dinikahi pangeran tampan dan tinggal di istana besar. Berbeda dari ibu tiri dan dua saudara kejam, dalam kisahku justru yang kejam adalah kehidupan dan sang pangeran. Sementara dua saudara dan ibu tiri tak ambil bagian. Karena yang mengambil peran paling besar adalah sang Ibu Peri, atau Zahra Almahira di sini. Ya dialah yang punya kuasa atas keberlangsungan pernikahanku dan suaminya, Evandy Sebastian Gunawan. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak ini bahwa seorang Andina Julianti akan dinikahi Tuan Muda Evan, satu-satunya putra pengusaha tambang yang juga punya perusahaan besar. Bagai mimpi yang menjadi kenyataan begitu juga awal kehidupan baruku dimulai. "Papa berangkat dulu, ya, Sayang!" Dengan setelan yang sudah rapi, si Pangeran kejam yang dua hari lalu menggahiku tanpa perasaan itu mendaratkan kecupan di kening peri kecilnya, Dara Maisya Setiawan. Bocah lima tahun ini yang menjadi alasanku menyetujui pernikahan. Jangan harap ada drama cuti panjang untuk menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru. Walaupun duitnya tak berseri tapi aku tidak yakin dia mau menghamburkannya begitu saja untuk bermesraan dengan gadis biasa-biasa saja sepertiku. Bahkan setelah menghabiskan satu malam dia langsung mengurung diri di kamar. Apa aku memang tak semenarik itu, atau memang dia punya gangguan orientasi s*ksual? Entahlah, seingatku Zahra tak pernah membahasnya. "Uti Dina nggak dicium juga, Pa? Biasanya sebelum berangkat Papa juga cium Mama. Sekarang Uti Dina istri Papa juga, kan?" Aku tersenyum lebar saat melihat wajah Kang Epen--nama panggilan kesayanganku untuk si kejam yang tampak kesal. Dengan sengaja kusodorkan kening ke hadapannya setelah menyingkap poni agar tak terhalang. Meski enggan, dengan gerakan cepat dia mendaratkan kecupan, lalu berbisik. "Yang ini nggak masuk hitungan, kan?" "Nggak, tenang aja. Kalau kecupnya di bibir baru tambah gopek." Dia memutar bola mata dan berlalu begitu saja. Sepertinya dia memang setakut itu aku mengandung anaknya, lalu menguras habis harta bendanya yang sebenarnya tak akan habis tujuh turunan. Terbukti saat dia memastikan kalau aku tidak akan hamil usai kami berhubungan. Tenang aja, Kang. Kamu tak segagah itu hingga bisa membuahi tanah yang gersang hanya dengan sekali disiram. Lagi pula, aku juga tak setertarik itu untuk punya anak. Bebanku sudah terlalu banyak, aku tak ingin lagi menambahnya. *** "Hai, Ra! Baru tiga hari tapi rasanya aku udah kena mental, hehe. Dia mah emang selalu begitu, ya? Nggak kebayang gimana perjuanganmu buat naklukin Kang Epen sampe bisa sebucin sekarang." Di depan sebuah makam yang baru berusia enam bulan, kutekuk kaki dan menopang dagu dengan kedua tangan. "Tapi aku akan berusaha keras bertahan, setidaknya buat Dara." Tanpa sadar air mataku meleleh saat mengusap nisan, tapi kupertahankan agar senyumnya tak hilang. Aku hanya tak mau mengeluh di hadapannya. Karena perempuan luar biasa seumuranku sudah banyak berjasa sepanjang persahabatan kita sejak masa SMA. Kepergian Zahra diiringi oleh isak tangis banyak orang, tak terkecuali Kang Epen yang histeris saat mengantarnya sampai ke tempat peristirahatan terakhir. Dia pergi dengan tenang, tak ada penyakit mematikan. Sepertinya malaikat mencabut nyawanya dengan perlahan dan penuh perhitungan agar tak terlalu menyakitkan. Sampai saat jiwanya meninggalkan raga, senyuman menghiasi wajahnya yang meneduhkan. Entah apa yang membuat Zahra memilihku di antara sekian banyak orang yang dia kenal. Dia bilang, kalau hanya aku yang paling dia percaya untuk menjaga Dara dan menggantikan posisinya sebagai istri Kang Epen. Mungkin Zahra lupa kalau suaminya bukan anak kecil yang perhatiannya bisa dengan mudah dialihkan ke mainan. Dia lelaki dewasa yang logikanya selalu berjalan lebih dulu daripada perasaan. "Walaupun keliatan tegar, tapi aku tahu semua harapannya ikut terkubur bersamamu, Ra. Dia bahkan bersikap seakan-akan seluruh cintanya udah abis di kamu. Tapi, nggak apa-apa. Aku cuma perlu memastikan kalau dia nggak berubah kayak dulu lagi, kan? Memastikan agar semua usaha yang udah kamu lakukan untuknya nggak sia-sia. Sampai saat itu tiba, aku bakal pastiin Dara nggak akan kehilangan sosok ibu dalam keluarga utuh yang setiap anak mimpikan." Sejenak aku menarik napas panjang dan menguatkan diri. "Makasih banyak buat semuanya, ya. Tanpa kamu mungkin aku nggak akan bisa hidup kayak sekarang. Walau perjalanannya akan sangat panjang, semua yang terjadi akan berusaha kujalani dan nikmati dalam jerat luka ini. Kalau kamu bisa, mungkin aku juga. Mungkin, ya, Ra. Aku nggak janji bisa sekuat kamu." ***"Istrimu tadi sempat nanya. Katanya apa masih ada kemungkinan hamil setelah vasektomi?" "Terus kamu jawab apa?" "Ya, kujawab apa adanya. Kalau nggak ada teknologi dan kemampuan dokter manapun yang bisa menandingin kuasa Tuhan." "Katamu prosedur ini paling efektif untuk mencegah kehamilan?!" "Efektif bukan berarti bisa mencegah 100% Evandi Sebastian Gunawan. Kadang otak pintarmu tak bekerja kalau berkaitan dengan hal-hal yang kau hindari. Sama halnya dengan IUD, Spiral, k*ndom, bahkan steril. Risiko untuk kebobolan akan selalu ada. Karena fungsi KB, kontrasepsi, dll itu hanya untuk mencegah, bukan menyalahi kodrat manusia untuk berekproduksi, kecuali kalau memang ada gangguan di dalam organ. Understand?" Percakapan dengan dokter Fransiska di ruang pemeriksaan kala itu terus berputar-putar di kepala Evan. Sejak setengah jam yang lalu dia masih berdiri di tempatnya memerhatikan Syafira dan Tami yang membawa barang-barang Dina keluar dari kediamannya. Evan cukup mengerti b
Rahangnya kembali mengeras. "Keputusan apalagi yang kuambil tanpa melibatkanmu, Din? Sejak kembalinya Dara aku berusaha keras tak menutupi apa pun lagi." Aku menggeleng. "Enggak!" Aku tertawa kecil, tetapi suara itu terasa pahit. "Akang udah banyak berubah sejauh ini. Akulah yang salah di sini, akulah yang sejak awal memang nggak tahu diri. Karena dalam pernikahan ini akang yang punya kendali, kita punya kesempatan dan aku setuju." Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia mendekat. "Sudah cukup bertele-telenya," tegasnya. "Sekarang katakan apa alasanmu berakhir di rumah sakit ini?" Aku diam. "Kamu nggak mengidap penyakit serius yang menyebabkanmu mati dalam waktu dekat ini, kan?" Entah kenapa kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam dadaku terasa lucu sekaligus menyakitkan. Aku tertawa. "Hahaha ...." Tawaku terdengar menggema di ruangan. "Kenapa?" tanyaku sambil menatapnya. "Akang takut jadi duda yang ditinggal mati dua kali?"
Dua hari berlalu. Kondisiku berangsur membaik meski dokter masih memintaku untuk banyak beristirahat. Emak dan adik-adikku bergantian menjagaku, sementara urusan rumah dan restoran mulai mereka bagi agar tidak semuanya bertumpu pada satu orang. Aku bahkan tidak lagi menyentuh ponsel terlalu sering karena setiap kali layar menyala, nama Kang Epen selalu muncul di sana. Panggilan demi panggilan. Pesan demi pesan. Semuanya kubiarkan tanpa jawaban. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya belum tahu harus menjawab sebagai siapa. Sebagai istrinya? Sebagai perempuan yang sedang marah? Atau sebagai seorang ibu yang sedang berusaha melindungi anaknya dari ayah yang bahkan belum tahu keberadaannya? "Teh, si A Epan neleponan wae," kata Shafira dari ambang pintu sambil memperlihatkan ponselku yang sejak tadi tergeletak di meja. "Fira bingung jawabna." Aku menghela napas panjang. "Udah biarin aja." Syafira masuk dan duduk di kursi dekat ranjang. Dia menatapku beberapa saat sebelum ak
Kesadaranku perlahan kembali ketika mataku terbuka di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung. Kepala masih terasa berat, tubuhku lemas seperti baru saja melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, sementara pandangan yang semula kabur perlahan mulai menemukan bentuk. Langit-langit putih di atas kepala menjadi benda pertama yang berhasil kukenali, disusul suara alat medis yang terdengar teratur dari sisi ranjang. Aku menarik napas pelan, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini, sebelum ingatan tentang pertengkaranku dengan adik-adik kembali menghantam seperti gelombang yang tak memberi kesempatan untuk menghindar. Pintu terbuka perlahan, lalu seorang suster masuk sambil membawa beberapa lembar catatan pemeriksaan. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika menyadari aku sudah sadar, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi lebih hati-hati setelah melihat mataku yang masih kosong menatapnya. Ia mendekat, memeriksa infus dan
Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m
"Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U
"Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat ke
"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.