Share

The Cost of Betrayal

Author: Juno Bug
last update Last Updated: 2026-02-15 04:28:46

Fraya melangkah menyusuri lorong menuju area rekreasi yang lebih mirip klub eksklusif daripada fasilitas sekolah. Di tangannya, cangkir kopi berukuran large dari kafetaria masih mengepulkan uap panas. Langkahnya mantap, mengabaikan debaran jantungnya yang berpacu liar.

​Ia bukan tipe pencari masalah, tapi melihat Florence hancur telah membangunkan sisi lain dalam dirinya yang selama ini ia kunci rapat.

​Begitu pintu bar terbuka, aroma alkohol ringan dan parfum mahal langsung menyergap indranya. Fraya menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang remang itu, hingga matanya terpaku pada gerombolan cowok di sudut ruangan. Di sana, Axel sedang tertawa keras, seolah dunia berada dalam genggamannya. Di sampingnya, Damian Harding tampak bersandar malas dengan mata terpejam, sementara Louis Partridge dan Russo sibuk menimpali lelucon Axel.

​Fraya berjalan mendekat. Suara sepatu ketsnya di atas lantai kayu memicu perhatian kecil, namun ia terus maju hingga berdiri tepat di depan meja mereka.

​Axel berhenti tertawa. Ia menatap Fraya dengan tatapan meremehkan yang sudah sangat akrab bagi gadis itu. "Well, lihat siapa yang datang. Si jenius dari Asia. Mau minta tanda tangan atau mau kusembunyikan di balik loker lagi?"

​Teman-temannya tertawa, kecuali Damian yang kini membuka mata, menatap Fraya dengan dahi berkerut—seolah sedang mencoba membaca isi pikiran gadis itu.

​"Aku ke sini bukan untuk lelucon murahanmu, Axel," suara Fraya terdengar tenang, namun mengandung getaran yang mengancam. "Aku ke sini untuk menanyakan satu hal. Florence Hunt. Does the name rings anything to you?"

​Seketika, tawa Axel lenyap. Ia bertukar lirik dengan Russo sebelum kembali menatap Fraya dengan senyum miring yang menyebalkan. "Oh, si gadis Skotlandia itu? Dia manis, memang. Tapi hey, di Milford, segalanya bergerak cepat. Dia hanya hiburan singkat untuk minggu yang membosankan."

​"Hiburan?" desis Fraya. "Kamu memintanya backstreet, berjanji tidak akan menyakitinya, lalu mencampakkannya setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau?"

​Axel mengedikkan bahu dengan sangat santai, seolah yang ia bicarakan adalah cuaca, bukan perasaan seseorang.

"Jangan terlalu serius, Alexa. Dia sendiri yang mau percaya. Di dunia ini, yang lemah akan selalu dimanfaatkan. Itu hukum alam."

​Axel kemudian menoleh ke arah teman-temannya. "Kalian dengar itu? Gadis ini mencoba menjadi pahlawan untuk si cengeng Florence. Hei, Axel tidak pernah menjanjikan kejelasan pada siapa pun, kan?"

​"Tapi dia pacarmu!" bentak Fraya, suaranya mulai meninggi.

​"Pacar?" Axel tertawa sinis. "Aku tidak punya pacar. Dia hanya salah satu dari sekian banyak cewek yang mengemis perhatianku. Kamu mau menjajalnya juga? Aku punya slot kosong untuk minggu depan."

​Kalimat terakhir Axel memicu siulan nakal dari Russo, namun Louis tampak tidak nyaman, dan Damian—Damian hanya diam dengan tatapan yang semakin tajam tertuju pada Fraya.

​Fraya merasakan panas menjalar dari dadanya hingga ke telinga. Penghinaan itu bukan hanya untuk Florence, tapi untuk seluruh harga diri perempuan yang pernah Axel injak-injak.

​"Kamu benar, Axel. Yang lemah akan selalu dimanfaatkan," Fraya berbisik, mendekat ke arah Axel hingga cowok itu bisa mencium aroma kopi yang kuat.

"Tapi kamu salah satu hal. Aku tidak lemah."

​"Oh ya? Lalu apa yang akan kamu lakukan, Alexa? Mengadu pada Mrs. Witherspoon?" tantang Axel dengan wajah congkak yang hanya berjarak beberapa inci dari Fraya.

​Fraya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Axel dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. Detik berikutnya, ia mengangkat cangkir kopinya tinggi-tinggi.

​"You really deserve this, Idiot!"

​Byur!

 

 

 

Siraman kopi itu mungkin hanya mengenai Axel, namun efeknya seperti ledakan yang melumpuhkan lima cowok di bar tersebut. Mereka mematung, terjebak dalam keheningan yang menyesakkan, hanya bisa menatap Axel yang basah kuyup dan Fraya yang berdiri tegak dengan mata yang menyala-nyala.

​"You really deserve this, idiot!" tandas Fraya pedas.

​Axel berbalik, wajahnya merah padam menahan malu sekaligus murka.

Sambil mengusap wajahnya yang lengket secara kasar, ia meraung, "WHAT THE FUCK DID YOU DO TO ME!? HOW DID YOU—"

​Kata-katanya terhenti di udara saat matanya menangkap sosok Florence yang berdiri di samping Fraya. Gadis itu tampak hancur; matanya bengkak, menatap Axel dengan campuran rasa takut, kecewa, dan amarah yang mendalam.

​"Masih mau tanya kenapa kamu pantas disiram kopi?" desis Fraya. "Kamu tidak sadar kalau kelakuan brengsekmu itu lebih kotor dari tumpahan kopi ini?"

​"Kamu temannya si bodoh ini?" Axel menuding Florence dengan dagunya, tatapan meremehkannya kembali muncul.

​Seketika, kesabaran Fraya habis. Tanpa memedulikan risiko, ia menyambar kerah kemeja Axel yang basah, menariknya hingga wajah mereka sejajar. Teman-teman Axel—kecuali Damian yang masih terpaku—refleks maju untuk melerai, namun aura Fraya saat itu benar-benar mengintimidasi.

​"Bukannya minta maaf, kamu malah menghinanya bodoh?!" teriak Fraya tepat di depan wajah Axel. "Yang bodoh itu kamu! Kamu tidak pantas mendapatkan Florence!"

​Dan sebelum Axel sempat membalas, Fraya melayangkan tinju keras tepat di hidung cowok itu. Brak! Axel tersungkur mundur, hidungnya mulai mengucurkan darah segar. Fraya merasakan tangannya berdenyut, namun kepuasan batinnya jauh lebih besar.

​Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan tiga buah benda tipis, lalu melemparkannya tepat ke wajah Axel yang masih merintih. Damian, yang menyaksikan dari kejauhan, refleks menutup mulut saat melihat apa yang dilemparkan Fraya: Tiga buah kondom.

​"Kalau kamu ingin terus tidur dengan perempuan lain, setidaknya gunakan itu untuk keselamatan mereka. FOR THEIR FUCKING SAKE. NOT YOU. Jangan biarkan kebodohanmu merusak hidup orang lain. Cukup Florence yang terakhir."

​Kalimat itu telak menghantam harga diri Axel. Ia terdiam seribu bahasa. Fraya segera menarik Florence keluar dari bar dengan langkah lebar. Namun, di ambang pintu, Fraya berhenti dan menoleh kembali ke arah Axel yang sedang dibantu berdiri oleh teman-temannya.

​"Dan kalau kamu berani mendekati Florence lagi," suara Fraya merendah, dingin dan mematikan. "Bukan cuma hidungmu yang akan kupatahkan. Tapi kupastikan apa yang ada di antara kakimu tidak akan pernah bisa digunakan oleh perempuan mana pun lagi."

​Begitu Fraya menghilang di balik pintu, bar itu tetap hening. Namun bagi Damian Nicholas Harding, sesuatu dalam dirinya mendadak bergeser. Keterpanaan yang asing menjalar di seluruh sarafnya, membuatnya kelu tak berfungsi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Pink Tape

    ​Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.​Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk di halaman belakang rumahnya yang begitu luas. Mantel tebal yang dikenakannya membungkus tubuh dengan rapat, sebuah upaya untuk menghalau dingin yang sejak tadi mencoba menusuk hingga ke tulang.Ia merapatkan syalnya, hingga kain itu nyaris menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat.​Harley, pelayan setia yang berdiri mematung di sampingnya, melirik sekilas. Mungkin dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya.Kalau memang sudah tahu kedinginan, kenapa Nyonya tetap memaksakan diri duduk di luar begini? Namun, ia tetap setia menunggu sang nyonya besar yang terkenal memiliki hati selembut malaikat itu.​Arnelia mengalihkan pandangannya sejenak dari kerumunan anak-anak yang asyik bermain, lalu

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   New Kind Of Obsession

    Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.​Sudah berapa hari ini pula, Fraya Alexandrea praktis menjelma menjadi pusat dari segala poros gosip yang berputar liar di koridor sekolah. Setiap kali ia baru turun dari mobil setelah Papa mengantarnya, Fraya pasti akan dilempari tatapan menghakimi yang menilai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah-olah semua pasang mata di sana tengah mencoba mencari tahu mantra apa yang digunakan gadis Indonesia itu sampai bisa membuat seorang Harding kehilangan akal sehat di tengah lapangan. Kalau saja dirinya lagi di Indonesia, pasti Fraya dicurigai sudah main dukun. Dengan kata lain, mengguna-guna Damian Harding.​Namun, di antara riuh tatapan sinis itu, terselip pula binar kekaguman dari beberapa siswi yang

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sweet As Poison, Strong As Addiction

    Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris magis. Ruangan itu tampak begitu hidup, kombinasi antara denyut musik yang sanggup merontokkan dinding, kerumunan manusia yang berdansa dalam euforia tanpa batas, serta dentingan botol-botol minuman mahal yang diacungkan tinggi-tinggi ke udara—seolah-olah setiap orang di sana baru saja berhasil menggenggam dunia dalam telapak tangan mereka.​Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, Damian Harding menengadah. Kepalanya tersandar lesu pada sandaran sofa kulit, membiarkan matanya bermandikan cahaya lampu yang berkerlap-kerlip dan berputar gila di langit-langit. Ia tertegun, seolah sedang menghitung bintang di tengah buaian alkohol yang entah sudah botol keberapa yang berhasil ia tanda

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   A Broken Pieces

    ​"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"​Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga mau berhenti meskipun hanya untuk sejenak. Namun, Nicholas kecil telanjur kehilangan kendali atas kakinya sendiri. Di usia sembilan tahun, ambisinya sering kali lebih besar dari kekuatan fisiknya. Ia tersungkur hebat. Tubuh mungilnya terpelanting ke depan, mencium rumput sintetis dengan bunyi debum yang menyesakkan, hingga beberapa helai rumput tercabut paksa dari akarnya.​Nicholas—bocah berambut emas dengan sepasang mata biru sedalam samudra—meringis. Rasa panas merayap di lutut dan sikunya, namun ada satu titik yang berdenyut jauh lebih menyakitkan: dagunya.​Bocah itu tertegun saat melihat setetes warna merah pekat jatuh, mengotori hijaunya rumput. Disusul tetesan kedua, lalu ketiga. Bau

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Unspoken Waiting

    Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni sekolah pun akhirnya tiba. Hari pertama babak final pertandingan Lacrosse antara Milford Hall dan Easwood High. Pertandingan babak final ini rencananya akan diselenggarakan dua hari berturut-turut dengan Milford Hall sebagai tuan rumah.Atmosfer di Milford Hall mendadak berubah menjadi medan energi yang meluap-luap. Seluruh jajaran murid dan guru sepakat menghentikan aktivitas belajar-mengajar lebih awal, memberikan ruang bagi semangat yang membuncah untuk mengalir menuju lapangan hijau. Semua bergerak serentak, berbondong-bondong memenuhi setiap sudut tribun panjang dan besar yang telah disediakan. Teriakan membahana mulai memenuhi cakrawala lapangan Lacrosse, menciptakan keriuhan yang sanggup menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Antusiasme yang berada di titik didih ini membuat setiap jengkal kursi penonton mustahil untuk menyisakan ruang kosong.Warna-warna kebanggaan sekolah berkibar di mana-mana, menyambut partai final y

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Calling Ovation

    Pelajaran Bahasa Jerman bagi Fraya tak ubahnya sebuah labirin tanpa ujung yang dipenuhi kerikil tajam. Meskipun sesi tutor bersama Damian mulai menunjukkan progres meningkat, Fraya belum bisa sepenuhnya bernapas lega. Nilai sempurna yang ia incar-tiket emas menuju Oxford-masih terasa seperti cakrawala; tampak begitu indah namun seolah terus menjauh setiap kali ia mencoba melangkah mendekat.​Jika sebelumnya Fraya sudah mulai menguasai tata bahasa Jerman yang rumitnya bikin sakit kepala, kali ini Fraya harus berhadapan dengan tembok besar bernama Hörverstehen atau metode mendengar dalam test Bahasa Jerman. Bagi Fraya, tahap ini yang masih sulit ia kuasai. Tahap ini merupakan momok paling sulit untuk Fraya. Setiap kali masuk ke sesi kuis dadakan berbasis audio, ia rasanya lebih ingin menghantamkan kepalanya saja ke tembok daripada harus menghadapi kegagalan lagi. Telinganya seolah kehilangan ketajaman. Kosakata yang ia tangkap lebih sering salah berakhir meleset jauh dari maksud asli y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status