แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-27 20:22:07

Mobil terus melaju membelah jalanan kota. Citra duduk di samping Yusuf di kursi belakang, sementara seorang sopir mengemudikan mobil dengan tenang. Suasana di dalam mobil begitu hening, hanya suara mesin dan deru kendaraan di luar yang sesekali terdengar.

Perlahan, Citra melirik ke samping.

Yusuf duduk tegak di sana, tatapannya tertuju ke luar jendela. Dari sudut pandangnya, Citra dapat melihat garis hidung pria itu yang mancung dan rahang tegas yang memberinya kesan dewasa.

Sepasang matanya terlihat berbeda dari pria-pria yang pernah ia temui. Tatapannya tajam, tetapi entah mengapa masih menyimpan sedikit kehangatan yang sulit dijelaskan. Ditambah lagi, bentuk bibirnya cukup indah, membuat wajah Yusuf terlihat semakin menarik.

Namun, semua itu tidak mengubah apa pun.

Setampan apa pun pria di sampingnya, Citra tetap tidak bisa menerima pernikahan ini. Baginya, pernikahan tersebut hanyalah sebuah ikatan yang dipaksakan oleh keadaan, bukan sesuatu yang lahir dari cinta ataupun keinginannya sendiri.

"Kenapa?" tanya Yusuf tiba-tiba.

Suaranya terdengar dalam dan berat, tenang tanpa sedikit pun nada tergesa. Ia bahkan tidak menoleh, masih memandang ke luar jendela seolah sudah mengetahui sejak tadi bahwa Citra diam-diam memperhatikannya.

"Heh! Dengar, ya. Kita bahkan nggak saling kenal, jadi kenapa kamu malah memaksakan pernikahan ini?!" tanya Citra dengan nada geram. Ia menoleh sepenuhnya dan menatap Yusuf dengan kesal.

Barulah Yusuf mengalihkan pandangannya.

Sepasang mata pria itu menatap lurus ke arahnya. Tatapan yang tajam, tetapi anehnya justru terasa menenangkan, seolah tidak ada hal di dunia ini yang mampu membuatnya kehilangan kendali.

"Darimana kau tahu aku memaksamu?" tanyanya santai.

Tidak ada nada tersinggung, tidak pula ekspresi marah. Ia mengucapkannya dengan begitu datar dan tenang hingga membuat Citra semakin kesal.

"Ini buktinya! Kita menikah!" balas Citra cepat. Ia menyipitkan mata, lalu menatap Yusuf dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan penuh curiga.

Atau jangan-jangan...

"Jangan-jangan kamu sebenarnya cowok nggak laku?" tuduhnya.

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Yusuf hanya menatapnya tanpa berkedip. Lalu, salah satu sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.

"Cukup banyak wanita yang berharap berada di posisimu sekarang," ucapnya pelan.

Nada suaranya tetap tenang, bukan menyombongkan diri, melainkan seperti sedang menyampaikan sebuah fakta.

Mendengar itu, Citra malah mendengus.

"Pede banget. Terus, kalau itu benar, kenapa nggak menikah sama wanita itu?" tanya Citra, masih belum percaya.

Yusuf menoleh perlahan. Tatapannya tetap tenang.

"Kamu lupa sudah menabrak mobilku?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alis.

Citra mengerjap.

"Hei, masalahnya cuma mobil! Harusnya aku cukup bayar, nggak perlu sampai menikah!" balasnya dengan nada sinis.

"Ya, tapi kamu mau bayar pakai apa?" tanya Yusuf.

Kali ini, sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Bukan senyum ramah, melainkan senyum tipis yang seolah sudah mengetahui jawabannya.

"Tentunya pakai—" Ucapan Citra terputus. Mendadak ia teringat sesuatu. Papanya. Pria itu bahkan tidak mau peduli padanya, apalagi membantunya membayar kerugian sebesar itu.

Ekspresinya perlahan berubah.

Yusuf memperhatikannya beberapa detik, lalu bertanya dengan suara rendah dan tenang, "Pakai apa?"

Citra menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar kesal, tetapi juga kehabisan kata-kata. "Tapi... tetap saja nggak harus menikah juga!" protesnya akhirnya.

Yusuf menatapnya sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangan ke luar, "Benar," ucapnya tenang.

Citra mengernyit.

"Tapi, apa kata orang kalau kita tinggal satu rumah tanpa ikatan pernikahan?" ucap Yusuf dengan nada tenang. "Aku punya nama baik. Sedangkan kamu harus membayar utangmu dengan tubuhmu."

"Apa?" Citra panik. Refleks, ia langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Hei! Jangan kurang ajar!" pekiknya geram.

Yusuf menatapnya beberapa detik, lalu mengembuskan napas pelan. "Bukan seperti yang otak kotormu pikirkan." Tatapan tajamnya tetap terlihat teduh dan suaranya masih terdengar rendah serta mantap. "Kamu akan menjadi pembantuku." katanya lagi.

Citra berkedip beberapa kali. "Hah?"

"Kamu memasak, membersihkan rumah, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, bahkan menyiapkan kebutuhanku. Anggap saja itu cara melunasi utangmu."

Citra terdiam. Entah kenapa, ia justru merasa sedikit lega. Setidaknya pria ini bukan orang mesum. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sesaat.

Tunggu.

Pembantu?

Kedua matanya langsung membelalak. "Apa?! Pembantu?!" pekiknya lagi. "Enak saja! Memangnya aku kelihatan seperti pembantu?"

Yusuf menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menjawab dengan santai, "Kamu bahkan belum mulai bekerja, tapi sudah protes."

"Cih! Pokoknya aku nggak mau!"

"Baik." Jawaban singkat itu justru membuat Citra terdiam. Yusuf kembali menatap ke luar jendela. "Kalau begitu, lunasi saja harga mobilku."

Seketika, Citra kembali kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa melotot ke arah pria di sampingnya sambil menggertakkan gigi.

Pria ini...

Benar-benar menyebalkan.

Di kursi depan, sang sopir lagi-lagi melirik melalui kaca spion, lalu diam-diam menggeleng pelan.

Sepertinya, Nona Muda itu baru saja masuk ke dalam dunia majikannya yang mustahil dimenangkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 77

    "Astaga, kamprett!" gumam Citra kesal. Ia memegang pinggangnya yang terasa sangat pegal. Ia tak melihat keberadaan Yusuf di sampingnya. "Aku ini persis seperti perempuan bayaran, tapi versi halal," katanya konyol. Yusuf yang keluar dari kamar mandi mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Citra, ia menahan senyum sambil bersandar pada kusen pintu memperhatikan Citra. Lalu Citra terlihat meraih ponselnya di bawah bantalnya, ia menghubungi Ara. Satu kali terdengar nada sambung, lalu dua kali dan terdengar suara sahabatnya itu. Citra meletakkan ponselnya dan memperbesar volume suara. Karena kedua tangannya sibuk memijat dirinya sendiri. "Halo," jawab Ara dengan suara lesu. "Hey, aku udah kerja keras buat kamu. Mulai sekarang panggil aku Kakak!" ucap Citra dengan angkuh. "Hehehe..." Ara pun terkekeh lucu mendengarnya, "Kak Citra, gimana aku udah bisa masuk kerja belum?" tanya Ara penuh semangat. "Harusnya sih udah, kalau sampai dia ingkar janji aku sunat dia!" uc

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 76

    Khik...khik...khik...khik... Suara ponsel Ctra berdering. Yusuf langsung membuka mata dengan lebar, bahkan ia langsung bangkit duduk dan memegang dadanya. Tapi kemudian ia tersadar bahwa itu suara ponsel Citra. Tangan Citra meraihnya di samping bantalnya dengan mata tertutup, "Halo..." jawabnya dengan mengantuk. "Astaga," gumam Yusuf kesal lalu melempar bantai pada muka Citra. Buk. "Hey!" pekiknya kesal. "Ganti nada dering ponselmu itu!" perintah Yusuf. "Ih, apasih?! Nggak jelas," gerutunya. "Ck!" Yusuf langsung menuju kamar mandi dan Citra kini menatap layar ponsel yang masih menyala dan melihat nama Ara di sana, ternyata panggilan masih berlanjut, "halo..." "Citra, tadi malam aku langsung diantarkan pulang ke rumah dan kamu tahu? Sekarang samua pasilitas aku dicabut!" ucap Ara penuh kesedihan. "Hah?" Mata Citra langsung melebar mendengarnya, sungguh tak menyangka jika sahabatnya juga merasakan apa yang ia rasakan, "kamu serius? Jangan bercanda dong..." kata C

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 75

    Yusuf berjalan mendekat lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Citra. Tatapannya tetap tertuju pada tangan Citra yang masih memegang dasi pria di sampingnya. "Teruskan," ucap Yusuf datar. Citra mengerutkan kening. "Apa?" Yusuf menyandarkan tubuhnya pada sofa. Deg. Citra menutup mata sesaat setelah menyadari suara barusan. Yusuf? Ia benar-benar sangat takut sekali, bagaimana jika Yusuf menghukumnya? Mengambil kembali kartunya? Tapikan Yusuf sudah berjanji untuk tidak mengambilnya lagi, apakah dia akan menepati janjinya? "Tadi kamu melakukan sesuatu pada dia, bukan?" tanya Yusuf. Ia memantik rokoknya dan menghisapnya perlahan. Citra langsung melepaskan dasi yang sejak tadi dipegangnya. "Enggak..." katanya, "ehem..." ia berdehem pelan sambil menatap Yusuf. Deg. Benar, itu Yusuf. Ia menggigit bibir bawahnya dan baru sadar Maya tidak ada di tempatnya lagi yang ada hanya Yusuf saja. "Sini," Yusuf mengerjakan jarinya meminta Citra untuk mendekat kearahnya.

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 74

    Citra menatap jam dinding. "Jam delapan," gumamnya. Ia kemudian meraih tasnya dan berjalan keluar dari apartemen. Namun, baru saja membuka pintu, Citra langsung dikejutkan oleh kehadiran Maya yang sudah berdiri di depan pintu. "Maya?!" seru Citra sambil mengelus dadanya. "Aku bikin kamu terkejut, ya?" tanya Maya merasa bersalah. Namun, tatapan Maya kemudian beralih memperhatikan penampilan Citra. "Mau ke mana? Aku baru aja mau ketemu kamu," katanya. "Aku mau keluar. Mau ikut nggak?" tawar Citra. "Kemana?" Maya bertanya bingung. "Cari model tampan," jawab Citra sambil tersenyum lebar. Maya langsung mengernyitkan kening. "Cari model?" "Iya. Ayo, kamu juga udah waktunya mengakhiri masa jomblo." Tanpa menunggu jawaban, Citra langsung menarik tangan Maya. "Eh... Citra!" Maya tersentak, tetapi akhirnya ikut berjalan karena Citra sudah menarik tangannya dengan penuh semangat. *** Suasana klub begitu ramai. Alunan musik terdengar keras, sementara lampu-lampu be

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 73

    Tama pun langsung masuk. Citra mendorong Yusuf sekuat tenaga, pria itu tersenyum lalu mundur. Cepat-cepat Citra turun dari meja dan merapikan kemejanya. "Bos, ini berkas proyek yang anda minta," kata Tama menyerahkan sebuah map. Yusuf pun menerimanya, ia bersandar pada meja lalu membuka map itu sesaat. Tak lama kemudian kembali menutupnya dan melirik Citra. "Aku permisi dulu, Bos," pamit Tama lalu ia pergi. Yusuf pun memberikan map di tangannya pada Citra. Citra menerimanya dan membukanya, matanya langsung berbinar karena itu adalah proyek untuknya. "Mas?" tanyanya seakan belum percaya. Yusuf pun tersenyum melihat wajah bahagia Citra. "Makasih, aku bakalan buktikan ke Papa dan Mama kalau aku ini sebenarnya bisa," katanya penuh semangat. Yusuf pun menarik pinggang Citra hingga begitu dekat dengannya. "Mas, ih?!" kesal Citra sambil berusaha untuk melepaskan dirinya. "Kenapa? Kamu mau pergi begitu saja?" tanya Yusuf. "Ini kantor!" protes Citra. "Berarti di r

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 72

    “Ya ampun, badan aku remuk semua...” Citra memegang punggungnya yang terasa pegal. “Kamu kenapa?” tanya Maya yang baru saja datang. “Nggak apa-apa,” jawab Citra malas. Padahal, Citra masih ingat betul apa yang terjadi semalam. Yusuf benar-benar membuat tubuhnya terasa lelah. Maya yang merasa ada sesuatu mulai memperhatikan Citra dari atas sampai bawah. “Apa sih?” tanya Citra bingung. “Abis ngapain kalian tadi malam?” goda Maya dengan senyum jahil. Citra langsung menutup mulut Maya dengan telapak tangannya. Ia buru-buru melihat ke sekeliling. Untung saja kantor masih cukup sepi. Maya melepaskan tangan Citra sambil terkikik. “Aku tahu...” katanya lagi dengan senyum penuh arti. “Ih, apaan sih!” Citra langsung kesal. Belum sempat Maya menjawab, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Beberapa karyawan yang melihat sosok itu langsung berdiri dan memberikan salam hormat. Citra ikut menoleh. Yusuf. Pria itu berjalan dengan wajah datarnya seperti biasa. Citra

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status