Share

Bab 7

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-06-28 11:19:50

Tadi malam...

Yusuf meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan pandangan ke arah sofa.

Citra sudah tertidur.

Tubuhnya meringkuk kecil, selimut yang tadi dibawanya hanya menutupi setengah badan. Bahkan salah satu tangannya hampir menjuntai ke lantai.

Tatapannya kembali jatuh pada wajah Citra. Riasan aneh, tapi malah membuat sudut bibir Yusuf tertarik.

Nafas Citra terdengar pelan dan teratur. Ia benar-benar sudah terlelap.

Yusuf mengembuskan napas pelan. Kemudian ia melangkah mendekat. Ia sedikit membungkuk, lalu menyelipkan satu tangan di bawah lutut Citra dan tangan lainnya di punggungnya. Perlahan, ia mengangkat tubuh wanita itu.

Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan Citra di atas kasur agar lebih nyaman. Lalu ia menarik selimut dan menyelimutinya hingga sebatas dada.

Sesaat ia memperhatikannya, rambutnya sedikit berantakan, bibirnya mengerucut kecil, dan ekspresinya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat terjaga.

Lalu ia mematikan lampu di sisi ranjang dan ikut naik ke atas ranjang.

***

"Astaga, Papa benar-benar tega pada anaknya sendiri, sebenarnya aku anak kandung apa bukan sih," gumamnya sambil menatap dua lembar uang seratus ribu di dalam dompet.

Itulah uang terakhir yang ia miliki. Semua kartunya telah diblokir, dan uang tunai itu hanya tersisa karena ia sempat menariknya beberapa waktu lalu. Bahkan pagi ini untuk pertama kalinya ia naik ojek.

"Kalau aku tahu bakal begini, dari awal aku tarik tunai lima miliar saja. Jadi hidupku nggak akan semenyedihkan ini," gerutunya.

Ia mengangkat pandangan menatap gedung kantor yang berdiri megah di hadapannya. Hari ini adalah hari pertama ia menjalani magang di tempat itu. Ia berharap bisa segera menyelesaikan kuliahnya agar ijazah yang selama ini dianggap sepele akhirnya bisa membantunya mencari pekerjaan.

"Menyesal rasanya nggak serius kuliah dari dulu. Pokoknya aku harus lulus secepatnya..." katanya dengan penuh keyakinan.

Dengan menarik napas panjang, ia menggenggam dompetnya erat-erat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, dua ratus ribu rupiah terasa begitu berharga. Hari ini, ia bukan lagi anak orang kaya yang bisa meminta apa saja. Ia harus bertahan dengan usahanya sendiri.

Citra menarik napas panjang, lalu melangkah memasuki lobi gedung.

Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan bingung. Ini pertama kalinya ia datang ke kantor tanpa sopir, tanpa asisten, dan tanpa seseorang yang membukakan jalan untuknya.

Dengan ragu, ia mendekati meja resepsionis. "Permisi, saya Citra. Hari ini saya mulai magang di sini," ucapnya sopan.

Resepsionis tersenyum ramah. "Selamat pagi, Mbak Citra. Mohon tunggu sebentar, saya hubungi bagian HRD terlebih dahulu."

Citra mengangguk pelan dan berdiri di sana sambil menggenggam tali tasnya. Tak lama kemudian, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun menghampirinya.

"Selamat pagi. Saya Dina dari HRD. Anda Citra, ya?"

"Iya, Bu."

"Baik, ikut saya. Saya akan menjelaskan aturan magang dan memperkenalkan Anda kepada supervisor yang akan membimbing selama di sini."

Citra mengangguk, dan ia merasa gugup. Dunia kerja ternyata jauh berbeda dari yang ia bayangkan.

Dina membawa Citra menuju lift, lalu mereka naik ke lantai delapan. "Divisi tempat kamu magang ada di sini," ujar Dina sambil melangkah keluar dari lift.

Mereka melewati beberapa meja kerja. Suara ketikan keyboard dan dering telepon terdengar di sana-sini. Beberapa karyawan sesekali melirik ke arah Citra.

Dina berhenti di depan sebuah ruangan berdinding kaca.

Tok... tok...

"Masuk."

Dina membuka pintu. Di dalam, seorang pria sedang menatap layar laptopnya.

"Pak, ini Citra, anak magang baru yang akan ditempatkan di divisi Bapak."

Pria itu mengangkat pandangannya dan menatap Citra dari ujung kepala hingga kaki. "Silakan duduk."

Citra pun duduk dengan canggung.

"Saya Arga, supervisor yang akan membimbing kamu selama magang di sini. Selama tiga bulan ke depan, saya berharap kamu serius belajar dan mengikuti aturan yang ada."

"Iya, Pak," jawab Citra cepat, saat ini ia tak bisa mengandalkan nama Papanya, ia benar-benar hanya orang biasa.

"Bagus. Jangan khawatir kalau belum mengerti apa-apa. Tugas kamu di sini adalah belajar. Tapi satu hal yang tidak bisa saya toleransi adalah datang terlambat dan tidak bertanggung jawab."

Citra mengangguk lagi.

"Baik, sekarang saya akan meminta salah satu staf mengantar kamu ke meja kerja dan memperkenalkanmu pada tim."

Citra mengembuskan napas pelan. Setidaknya, hari pertamanya tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Namun, ia sama sekali tidak tahu bahwa hari-hari magangnya nanti akan mengubah hidupnya sedikit demi sedikit.

Pintu ruangan terbuka kembali. Seorang staf buru-buru masuk. "Pak Arga, Pak Direktur Utama sedang berkeliling ke setiap divisi."

Arga langsung berdiri. "Baik."

Belum sempat Citra bertanya, suasana di luar ruangan mendadak berubah. Suara kursi bergeser terdengar bersahutan.

"Selamat pagi, Pak!"

"Selamat pagi, Pak Yusuf."

Citra yang penasaran ikut menoleh ke luar. Ia melihat semua staf berdiri tegak. Arga pun segera keluar dari ruangan.

"Pak Yusuf."

Mendengar nama itu, tubuh Citra seketika membeku.

Yusuf?

Tidak... tidak mungkin.

Dengan jantung berdebar, ia mengintip dari balik pintu. Sesaat kemudian, seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas hitam berjalan santai melewati deretan meja kerja. Tatapannya tenang, tetapi kehadirannya membuat seluruh ruangan terasa menegang.

Itu benar-benar Yusuf. Citra membelalakkan mata. "Astaga..." gumamnya pelan.

Refleks, ia ikut berdiri. Begitu menyadari pria itu adalah Yusuf, ia langsung membalikkan badan dan menundukkan kepala. Bahkan, ia mengangkat map yang tadi diberikan Arga dan menggunakannya untuk menutupi sebagian wajahnya.

"Jangan lihat ke sini... jangan lihat ke sini..." bisiknya panik.

Di luar, Yusuf tetap melangkah dengan tenang. Namun, saat melewati ruangan itu, langkahnya melambat.

Tatapannya mengarah ke sosok wanita yang berdiri membelakangi pintu sambil menutupi wajah dengan map.

Alisnya terangkat sebelah.

Wanita itu... kenapa gerak-geriknya mencurigakan?

Citra semakin panik. Jemarinya mencengkeram map erat-erat sampai sedikit gemetar.

Ya Tuhan... kenapa dari sekian banyak tempat magang, justru ia harus magang di perusahaan milik Yusuf?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 68

    "Mas?" Mata Citra langsung berbinar ketika mobil Yusuf menepi di depan rumahnya, rumah orang tuanya tempatnya dibesarkan. Ia sangat merindukan rumah itu, sangat merindukan kedua orang tuanya. Tapi tiba-tiba saja senyum dibibirnya menghilang, ia menatap Yusuf dalam diam. "Ada apa?" tanya Yusuf menyadari perubahan ekpresi Citra yang tiba-tiba. "Tapi, Papakan lagi marah. Aku udah di coret dari Kartu Keluarga," katanya dengan lesu. Yusuf pun menyentil dahi Citra dengan gemas. "Mas, ih?!" protesnya sambil menggosok dahinya. "Nama kamu bukan di coret tapi dikeluarkan," ucap Yusuf. "Nahkan? Sama aja!" ucap Citra semakin kesal. "Kan kita sudah menikah, jadi kita berdua di dalam kartun keluarga yang sama," jelas Yusuf. Citra mengangguk sambil menatap Yusuf penuh arti. "Apa yang dipikirkan otak kosongmu ini?" tanya Yusuf sambil menunjuk kepada Citra. "Kalau otak kosong berarti nggak bisa mikir, gimana sih?" gerutunya. "Ayo turun," kata Yusuf lalu turun terlebih dahulu ba

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 67

    "Masih marah?" tanya Yusuf yang duduk disisi ranjang dan memperhatikan dada Citra yang setengahnya menyebul keluar. Citra yang menyadari hal itu segera menarik selimut dan menutupi dirinya dengan panik, "Kamu mesum banget sih? Mana nggak ada rasa bersalahnya lagi!" omel Citra. Yusuf hanya bisa tersenyum mendegar keluhan Citra, saat itu ponsel Citra pun berdering. Ia meraih ponselnya susah payah di atas meja nakas, tapi Yusuf tidak membiarkan begitu saja. Ia langsung meraihnya dan memberikan pada Citra. Tentunya Citra menerimanya dengan kesal, bahkan tatapan yang jelas ingin membunuh. Tapi berbeda dengan Yusuf yang hanya tersenyum gemes melihat wajah istrinya itu. "Halo," jawab Citra. "Citra, kok kamu membatalkan diri ikut balap sih?" tanya Ara dari seberang sana. "Siapa yang batalkan?" tanya Citra bingung, tapi kemudian ia menatap Yusuf penuh curiga, "nanti aku telpon lagi," katanya lalu mengakhiri penggilan telepon. Ia tau ada yang harus diurus dengan Yusuf, ia curi

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 66

    Citra juga kembali berbaring terlungkup dan keduanya pun benar-benar menikmati pijatan bersama. "Mbak, udah menikah belom?" tanya Citra pada petugas spa yang memijatnya. "Sudah, Nyonya," jawabnya. "Panggil Citra aja, risih banget pangilan kamu. Biar aktab juga," kata Citra, "kenapa kamu mau menikah? Terus gimana malam pertamanya?" tanya Citra penasaran. "Malam pertama agak perih, tapi," petugas spa itupun tersenyum malu. Citra meliriknya sesaat, "Ck, tapi apa?" tanya Citra makin penasaran. "Nona, bukannya setelah menikah keromantisan itu wajar," katanya lagi sambil melihat banyak tanda merah di tubuh Citra. "Wajar apanya? Remuk badan aku!" keluh Citra. "Memangnya, kamu nggak menikmati?" tanyanya lagi. "Apa yang dinikmati? Penderitaan?!" kesal Citra. "Citra, kamu jangan nakutin aku dong...makin kecil keinginan aku untuk menikah kalau begini," sela Maya. "Nggak usah nikah, May. Nggak enak!" keluh Citra. "Tapi masa iya aku mau jadi perawan tua?" tanya Maya dengan

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 65

    "Astaga, iblis sialan!" umpatnya penuh kekesalan. Pagi ini sekujur tubuh Citra terasa remuk, bahkan untuk bergerak saja rasanya sangat sulit. Tangannya bergerak meraih lampu tidur kemudian hendak memukulnya ke kepala Yusuf. Tapi ternyata ranjang di sampingnya kosong, tidak ada Yusuf disana. Dengan kecewa ia pun kembali meletakkan lampu tidur di atas meja nakas. Ia melirik pintu kamar mandi, ia yakin pria itu ada disana. Ia perlahan turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi. Tapi tidak lupa membawa teko, dan begitu melihat Yusuf ia akan melenyapkan pria itu. Pria yang ia anggap sebagai iblis karena sudah merampas kesuciannya. Tapi saat berdiri sesaat di depan pintu kamar mandi ia tak mendengar suara apapun, seperti tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam sana. Ia pun semakin penasaran, ia memberanikan diri membuka pintu dan dipastikan jika ada Yusuf ia akan langsung melenyapkan. Tapi? Citra lagi-lagi tidak melihat siapapun tidak ada Yusuf disana. Ia benar-be

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 64

    "Nyonya, makan malam sudah siap," kata pelayanan yang datang langsung ke kamar Citra. Citra yang berbaring di ranjang tidak peduli sama sekali, ia masih belum bisa melupakan apa yang telah dilakukan Yusuf padanya. "Aku nggak lapar!" jawabnya ketus. Pelayanan pun mengangguk lalu keluar. Citra pun memeluk bantal guling dan kembali menangis, ingatan itu tetap saja berputar di kepalanya tidak bisa disingkirkan sama sekali. Saat itu pintu kamar kembali terbuka, Citra tau itu adalah pelayanan dan entah berapa kali sudah pelayan masuk memintanya untuk segera makan malam. Dan kali ini pun ia tidak mau, ia tidak berselera sama sekali untuk makan. "Pergi! Kamu dengar nggak? Aku bilang aku nggak mau makan!" katanya tanpa menoleh. Lalu terasa ranjang bergerak, dan ada tangan yang menyentuh wajahnya. Citra pun menoleh, ternyata itu Yusuf. Cepat ia menepis tangan pria itu. Baginya Yusuf bukan manusia tapi iblis. "Jangan sentuh aku!" katanya seorang menegaskan. "Kamu nggak lapar?" tanya Y

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 63

    Hay pembaca, terimakasih sudah menunggu l love you, selamat membaca.**"Kemana dia?" tanya Yusuf. "Ibu Citra pergi bersama Nona Maya, mereka mereka latihan balap," jelas asisten Tama. Yusuf langsung bangkit dari duduknya, berbagai pikiran buruk langsung menggerogoti isi pikirannya. Bagaimana jika Citra jatuh. Bagaimana jika terluka, cidera ataupun hal lebih buruk dari itu terjadi? "Kenapa dia tidak peduli pada keselamatan dirinya sendiri?" gumam Yusuf lalu berjalan keluar dari ruangannya. Asistennya Tama pun cepat mengikutinya, tapi saat akan memasuki lift ia malah mendegar sesuatu. "Sayang, aku tidak mungkin melirik dia...dia cuma mantanku saja...dulu dia bahkan mengodaku habis-habisan makanya aku bisa pacaran dengan anak manja itu, pokoknya dia harus dipenjara, kamu bantu aku," kata Yuda. Yusuf pun kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam lift, ketika pintu lift tertutup ia pun berkata pada asistennya, "Pecat dia!" "Baik, Pak," jawab Tama cepat. "Segera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status