Share

Mimpi Buruk Di Depan Bar
Mimpi Buruk Di Depan Bar
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Rachel, mahasiswa baru di sebuah kampus seni.

Sejak punya pacar, aku selalu pergi ke bar setiap akhir pekan.

Setiap kali alkohol mulai terasa, gairahku menjadi semakin kuat.

Perlahan-lahan, aku pun tenggelam dalam suasana seperti itu.

Akhir pekan ini pun tiba lagi. Aku dan pacarku, bersama beberapa teman pergi minum di bar dekat kampus.

Di dalam bar, banyak sekali pria tampan dan wanita cantik.

Demi menjaga gengsi pacarku, aku sengaja mengenakan kemeja berpotongan V yang dalam, menonjolkan bagian dadaku yang montok dan bulat, memperlihatkan lekukan yang dalam.

Suasana di bar sangat terbuka, atmosfer yang panas langsung membuat hatiku terasa gelisah.

Beberapa pria di sofa diam-diam melirik ke arah dadaku.

Tatapan mereka yang tajam membuat hatiku bergejolak.

Setelah minum beberapa gelas, sikap dan perilaku semua orang jadi lebih lepas.

Salah satu pria di sana yang katanya seorang dosen dari kampus sebelah bernama Calvin.

Dia berceletuk, “Mahasiswiku semuanya sangat genit, semuanya berlomba-lomba ingin dipermainkan olehku.”

Perkataannya membuatku merasa agak jijik dan agak berlebihan.

Kemudian, seorang perempuan di sampingnya bertanya,

“Benarkah? Untuk apa mereka itu sampai berlomba-lomba untuk dipermainkan kamu?”

Calvin tertawa dan menjawab,

“Karena mereka belum pernah melihat yang sebesar milikku.”

Begitu kata-kata itu keluar, semua orang di sana langsung terkejut dan kagum.

Bahkan ada gadis yang menjulurkan tangan untuk mencoba meraba ukurannya.

Bahkan hatiku pun agak goyah. Jakun Calvin sangat besar dan ciri maskulinnya sangat jelas.

Pria seperti itu biasanya juga memiliki kemampuan yang kuat dalam hal tersebut.

Sebaliknya, meskipun berwajah polos, pacarku tak mampu memuaskanku.

Setiap kali aku belum merasakan apa-apa, dia sudah memakai celananya kembali.

Perbandingan ini membuatku merasa agak gelisah.

Setelah minum cukup banyak, kami mulai merasa pusing.

Begitu keluar dari bar, dunia sudah terasa seperti berputar.

Di bawah pengaruh alkohol, tubuhku terasa seperti sawah yang kekeringan, sangat membutuhkan hujan musim semi untuk membasahinya.

Aku hanya ingin segera pergi ke hotel bersama pacarku untuk melampiaskannya.

Namun, baru berjalan dua langkah, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing.

Kakiku lemas dan seluruh tubuhku tersungkur di pinggiran trotoar.

Sialan! Aku ini primadona kampus yang polos. Menginap di pinggir jalan saat malam hari, kalau sampai terlihat orang bisa gawat.

Bagaimana aku bisa mempertahankan citraku di kampus?

Namun yang lebih tak kusangka, pacarku juga mabuk berat. Dia tiba-tiba memelukku dan kedua tangannya terus-menerus meraba ke dalam rokku.

Ini di jalan raya! Tenaganya sangat besar, aku sama sekali tak bisa melepaskan diri.

Aku hanya bisa berseru dengan lemas,

“Ini bukan hotel, jangan lepas bajuku di sini. Bagaimana kalau ada yang lihat?”

Namun, pacarku seolah tak mendengar, gerakan tangannya tetap tak berhenti.

Sebuah tangan besar sudah menyelinap masuk ke dalam rokku, meremas bokongku yang bulat dengan kuat.

Aneh, sejak kapan telapak tangan pacarku jadi setebal dan sekuat ini?

Remasannya membuat seluruh tubuhku menegang, tapi anehnya terasa cukup nyaman.

Aku menoleh ke sekeliling. Untungnya sudah sangat malam, tak ada orang di sekitar.

Jadi, aku membiarkan pacarku meraba-raba tubuhku.

Bagaimanapun, sensasi nikmat seperti ini jarang terjadi. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus ini.

Melihat aku tak melawan, pacarku menjadi semakin berani.

Dia menindih tubuhku, menempel padaku dengan aroma alkohol yang menyengat.

Aku bahkan bisa merasakan hembusan napas beraroma alkohol dari hidungnya.

Yang lebih parahnya lagi, kedua tangannya melingkar dari belakang punggungku, meremas kedua dadaku dengan kuat.

“Uhh… jangan di sini… masih ada orang. Bukankah lebih baik kalau kita ke hotel saja? Biar aku yang bayar kamarnya.”

Pacarku tetap diam dan tangannya malah menyelinap masuk dari dalam kemejaku!

Karena aku memakai baju kerah rendah, dia cukup mudah untuk mengulurkan tangan ke dalam.

Buah dada yang padat itu berubah-ubah bentuk di bawah remasan telapak tangannya.

Remasannya membuat seluruh pori-pori tubuhku terbuka, menimbulkan sensasi nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Sejak kapan teknik pacarku menjadi sehebat ini? Remasannya membuat tulang-tulangku terasa lemas.

Terutama bagian pentilnya, itu memang sangat sensitif.

Dia menggunakan jarinya untuk memelintir dan mempermainkannya dengan sangat cepat.

Bagian pentil pun langsung mengeras.

Aku berusaha sekuat tenaga menahan rasa geli di tubuhku, menutup mulutku agar tidak ada rintihan yang lolos.

Mungkin karena pakaian yang ketat membatasi gerakan jarinya, detik berikutnya, dia tiba-tiba menarik kemejaku dan menyentaknya ke bawah dengan kuat….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 7

    Mengikuti ingatan, aku berjalan menuju ruang kelas.Perjalanan yang hanya sepuluh menit itu terasa seperti setengah abad bagiku.Aku disambut oleh tatapan-tatapan penuh perhatian. Aku bahkan curiga bahwa bisik-bisik orang sekitarku semuanya sedang membicarakanku.Begitu sampai di kelas, teman-teman sekelas menatapku sambil tertawa pelan.Aku memandang mereka dengan perasaan muak.Saat itulah, dosen waliku datang. Dengan nada yang sangat tegas, dia berkata pada seluruh mahasiswa di kelas,“Dalam kejadian ini, Rachel itu korban. Kalau kalian menertawakan seorang korban, itu sama saja dengan mendukung pelaku kejahatan. Perbuatan kalian ini melanggar peraturan kemahasiswaan. Siapapun yang berani mengejek lagi, aku akan membatalkan nilai akademisnya!”Begitu kata-kata dosen itu keluar, seketika suasana kelas menjadi hening.Aku melihat pemandangan ini dengan lega, seolah-olah semua ini adalah awal kehidupan yang baru bagiku.Tak lama kemudian, teman-teman sekelasku tak lagi mengejekku.Mer

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 6

    Ribuan kali dia bilang mencintaiku.Dia juga bilang akan menikahiku begitu lulus kuliah.Tanpa sadar, jariku mengusap layar hingga ke bagian paling atas kolom komentar.Di sana ada sebuah komentar yang diunggah tiga jam yang lalu.[Akhirnya muncul juga aslinya, aku pikir hanya diriku yang tahu tentang dia.]Di bawahnya ada yang membalas, [Coba ceritakan lebih detail?]Komentar itu menjawab, [Aku kenal pacarnya, kami satu laboratorium.][Setahuku hubungan mereka sangat baik, setiap hari pamer kemesraan. Tsk… entah pacarnya tahu atau nggak masalah ini.]Aku menatap komentar itu lama sekali.Dia tahu.Bagaimana mungkin dia tak tahu?Bukan hanya tahu, bahkan dia yang merekamnya.Aku sangat marah, tapi saat ini video itu sudah ada di tanganku.Aku menelepon polisi.Suara operator terdengar tenang, menanyakan apa keperluanku.Aku bilang ingin lapor polisi.Setelah memberikan penjelasan yang singkat dan jelas, aku pun mematikan telepon.Setelah itu, aku duduk di sofa dan menunggu.Sambil menu

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 5

    Sayangnya, tidak ada rekaman video saat Calvin melecehkanku di luar.Jika tidak, aku pasti akan meminta tanggung jawab mereka!Keesokan harinya, setelah kelas berakhir, tiba-tiba Calvin datang mencariku dari kampus sebelah.Dengan wajah menjijikkan, dia bertanya padaku, “Rachel, malam itu kamu pasti merasa sangat geli dan tersiksa, ‘kan? Sekarang kamu juga sudah putus, bagaimana kalau aku saja yang membantumu?”Sambil bicara, dia nekat mengulurkan tangan ingin menyentuhku.Aku menepis tangannya dengan marah dan berkata dengan tegas, “Pak Calvin, tolong jaga sikapmu. Jangan lupa kalau kamu itu seorang dosen!”Namun, Calvin tetap bersikap kurang ajar. Dia masih saja mencoba main tangan.“Sudahlah, jangan pura-pura. Sekarang kamu jomblo, pasti merasa kesepian dan tersiksa, ‘kan? Aku datang untuk bantu menyelesaikan masalahmu.”Dia mengulurkan tangan lagi, mencoba menyentuhku.Aku mundur beberapa langkah, menyilangkan tangan di depan dada dan menatapnya dengan penuh kebencian.“Kalau kam

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 4

    Aku berteriak histeris, “Aku bukan wanita jalang, itu semua karena Calvin yang memaksaku!”“Lagipula aku juga sedang mabuk, kesadaranku sama sekali nggak jernih. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu dalam keadaan sadar?”Namun, pacarku sama sekali tak mau mendengarkan penjelasanku. Dia tetap memasang ekspresi jijik yang sama. “Bukannya kamu sendiri yang memanggilnya papa? Kamu bahkan bilang kalau kamu menginginkannya.”“Malam ini kamu pakai baju yang begitu sexy, bukannya tujuannya biar bisa kenalan dengan lebih banyak pria tampan di bar demi memuaskan hasrat kotormu itu?!”Seketika, aku hancur terpuruk. Kata papa itu memang benar keluar dari mulutku.Namun, aku tak pernah sekalipun berniat untuk mengenal pria lain di bar.Emangnya aku terlahir sebagai wanita jalang yang bisa memanggil orang asing dengan sebutan papa?Seketika, mentalku mulai goyah.Sepertinya apa yang dikatakan pacarku itu benar. Aku memang selalu merasa kurang puas dan masalah ukuran pacarku yang kecil selalu

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 3

    Tepat saat aku meneriakkan kata-kata itu, tiba-tiba Calvin menghentikan aksinya.Aku kira dia akan segera memuaskanku, tapi tak disangka dia malah berdiri dan memakai celananya kembali.Tubuhku terasa seperti melayang di udara, seluruh tubuhku terasa kosong dan hampa, sangat ingin diisi dengan kasar.Namun, tiba-tiba Calvin melambaikan tangan ke arah depan.“Keluarlah, aku sudah selesai mengujinya.”Aku merasa bingung dengan apa yang dia katakan.Tak lama kemudian, muncul sebuah bayangan dari tikungan jalan seberang.Ternyata itu pacarku!Dia berdiri tegak di sana, menatapku dari kejauhan.Kemudian, Calvin berkata, “Tadi aku sudah mengujinya dan ternyata dia nggak menolak sama sekali. Dia pasti sangat liar di luar sana. Wanita seperti ini lebih baik nggak perlu dipertahankan.”Mendengar itu, duniaku seolah berputar.Ternyata, semua ini adalah jebakan yang direncanakan pacarku sendiri.Dia hanya ingin menguji apakah aku bisa menjaga kesetiaanku!Tenggorokanku terasa tercekat, jantungku

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 2

    Seketika, dua buah dada putihku melompat keluar.Angin malam yang dingin berhembus, membuatku merasa sangat malu.“Ja… jangan… ini masih di jalanan, bukan di kamar. Kamu senang kalau sampai dilihat orang?”Namun, pacarku malah terlihat sangat bersemangat. Bukan hanya meraba dan meremas, dia bahkan memperhatikan setiap detail lekuk tubuhku dengan teliti.Kegembiraannya seolah-olah ini adalah pertama kalinya dia melihat tubuhku.Untungnya, orang-orang di sekitar jaraknya cukup jauh, jadi mereka tak bisa melihat jelas apa yang sedang kami lakukan.Jika tidak, mungkin besok aku sudah viral.Namun, pacarku masih belum puas. Detik berikutnya, dia menyingkap rok pendekku sampai ke pinggang.Dia menempelkan tubuhnya rapat-rapat pada bokongku yang montok.Ugh… perasaan ini sungguh luar biasa.Meski terhalang lapisan celana, aku bisa merasakan benda miliknya terus menusuk-nusuk di celah bokongku.Semakin lama semakin dalam, hingga celana dalamku ikut terdorong masuk.Astaga! Pacarku minum obat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status