Teilen

Bab 2

Richy
Seketika, dua buah dada putihku melompat keluar.

Angin malam yang dingin berhembus, membuatku merasa sangat malu.

“Ja… jangan… ini masih di jalanan, bukan di kamar. Kamu senang kalau sampai dilihat orang?”

Namun, pacarku malah terlihat sangat bersemangat. Bukan hanya meraba dan meremas, dia bahkan memperhatikan setiap detail lekuk tubuhku dengan teliti.

Kegembiraannya seolah-olah ini adalah pertama kalinya dia melihat tubuhku.

Untungnya, orang-orang di sekitar jaraknya cukup jauh, jadi mereka tak bisa melihat jelas apa yang sedang kami lakukan.

Jika tidak, mungkin besok aku sudah viral.

Namun, pacarku masih belum puas.

Detik berikutnya, dia menyingkap rok pendekku sampai ke pinggang.

Dia menempelkan tubuhnya rapat-rapat pada bokongku yang montok.

Ugh… perasaan ini sungguh luar biasa.

Meski terhalang lapisan celana, aku bisa merasakan benda miliknya terus menusuk-nusuk di celah bokongku.

Semakin lama semakin dalam, hingga celana dalamku ikut terdorong masuk.

Astaga! Pacarku minum obat perangsang?

Di bawah rangsangan yang begitu hebat, darah di sekujur tubuhku terasa mendidih.

Perut bagian bawahku terasa penuh dan area di bawah sana mulai basah.

Aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya, kegembiraanku sudah mencapai puncaknya.

Namun, ini di jalanan! Aku tak mau difoto dan diunggah ke situs web yang aneh-aneh.

Jika sampai ketahuan ayahku, aku bisa habis dikuliti olehnya.

Namun, semakin aku khawatir, hal itu malah semakin terjadi.

Detik berikutnya, satu tangan pacarku menarik celana dalamku dan menyentaknya ke bawah dengan lembut….

Seketika, kedua belahan bokongku terekspos sepenuhnya ke udara.

Meski masih memakai baju, tapi bagian pribadiku sama sekali tak tertutup lagi.

Jangan-jangan pacarku punya fetish diselingkuhi?

Namun, demi membuat pacarku menjadi kuat, meski harus mengorbankan sedikit harga diri, aku sudah tak peduli lagi.

Di bawah pengaruh alkohol, aku berlutut di lantai dengan posisi menungging, bokongku terangkat tinggi.

Aku agak menggoyangkan pinggulku, seolah memberi kode padanya untuk segera masuk dan memuaskanku.

Pria itu memegang pinggangku dari belakang, bersiap meluncurkan serangan.

Tepat saat itu! Dengan pandanganku yang kabur, aku melihat sosok yang kukenal berdiri di tikungan jalan seberang.

Ternyata itu pacarku!

Lalu siapa orang yang ada di belakangku?

Memikirkan itu, aku langsung merinding. Aku segera menoleh ke belakang.

Aku langsung membeku di tempat.

Orang di belakangku bukan pacarku, melainkan Calvin, pria yang baru saja minum bersama kami!

Pantas saja aku merasa tekniknya sangat hebat dan ukurannya sangat besar.

Bukannya dia itu seorang dosen? Tak disangka, ternyata di baliknya seliar ini.

Aku menatapnya dengan penuh ketakutan, “Pak Calvin, kamu… kamu apain?”

Dia tersenyum nakal ke arahku, tapi gerakan tangannya sama sekali tak berhenti.

Dia membuka ikat pinggangnya, mengeluarkan benda yang luar biasa besar ke arahku.

Aku bahkan bisa merasakan hawa panas keluar dari benda itu.

“Karena sudah ketahuan, jangan salahkan kalau aku nggak sungkan lagi.”

Aku meronta ingin meminta tolong pada pacarku, tapi saat menoleh, pacarku sudah menghilang di tikungan jalan.

Seketika, aku merasa seperti wanita mabuk yang sedang dipungut di jalanan.

Ini benar-benar menginjak-injak harga diriku!

Namun, kenikmatan yang diberikan Calvin seperti mesin yang tak bisa berhenti.

Apalagi saat bokongku merasakan hawa panas yang membara itu, tanpa sadar tubuhku terus mengeluarkan cairan.

Ditambah efek alkohol, aku tak punya tenaga sama sekali.

Aku hanya bisa berusaha merapatkan kedua pahaku sekuat tenaga agar dia tak bisa masuk dari belakang.

Namun, Calvin seolah kehilangan akal sehatnya, kedua tangannya membuka paksa kakiku yang rapat.

Dia bahkan terus menggoda bagian sensitifku dengan tangannya secara liar.

“Rachel, jangan pura-pura lagi. Kamu pakai baju yang begitu sexy ke sini, bukannya memang mau menggodaku?”

Tiba-tiba, aku menyesali keputusanku memakai baju berkerah rendah. Alih-alih menggoda pacar sendiri, aku malah memancing serigala mesum.

Aku meronta hebat, tapi tangannya membuat sekujur tubuhku lemas.

Dia benar-benar ahli.

Dia memainkan jarinya di sepanjang celah tubuhku, memberikan sensasi, tapi sengaja menunda kepuasaanku, seolah ingin memancing sisi liarku keluar.

“Dasar jalang, kamu tahu nggak kalau dirimu sudah sangat basah? Bahkan lebih banyak dari air seni… kamu sudah sangat menginginkannya, ‘kan?”

“Panggil aku papa, aku akan memuaskanmu.”

Jika bukan karena sisa kewarasanku yang masih bertahan, tubuhku pasti sudah tidak tahan untuk langsung mendudukinya.

Aku menggertakkan gigi sekuat tenaga, bersetubuh dengan orang asing di pinggir jalan benar-benar memalukan.

“Nggak mau! Aku nggak akan panggil kamu papa.”

Tiba-tiba, dia menghentikan gerakan tangannya.

Seketika, hatiku terasa hampa, seperti ada sesuatu yang hilang.

Lalu detik berikutnya, sesuatu yang sangat panas menempel erat padaku.

Benda itu bergesekan naik turun di sela bokongku.

Sensasi hebat ini seratus kali lipat lebih kuat dari jari! Aku merasa seperti ada ribuan semut yang merayap masuk ke dalam tubuhku.

Bahkan sumsum tulangku pun terasa geli.

“Uhh… ahh… aku sudah hampir nggak kuat lagi.”

Calvin berbisik di telingaku,

“Dasar jalang, tubuhmu sangat geli, ‘kan? Biar kulihat kamu bisa bertahan berapa lama lagi.”

Dia mempercepat tempo gesekannya dan tubuhku memproduksi cairan pelumas secara gila-gilaan.

Saat ini, aku merasa gairah di perut bagian bawahku seakan langsung naik ke otak. Hasrat dalam tubuhku sudah tak bisa ditahan lagi.

Aku benar-benar menyerah!

“Papa, cepat puaskan aku.”
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 7

    Mengikuti ingatan, aku berjalan menuju ruang kelas.Perjalanan yang hanya sepuluh menit itu terasa seperti setengah abad bagiku.Aku disambut oleh tatapan-tatapan penuh perhatian. Aku bahkan curiga bahwa bisik-bisik orang sekitarku semuanya sedang membicarakanku.Begitu sampai di kelas, teman-teman sekelas menatapku sambil tertawa pelan.Aku memandang mereka dengan perasaan muak.Saat itulah, dosen waliku datang. Dengan nada yang sangat tegas, dia berkata pada seluruh mahasiswa di kelas,“Dalam kejadian ini, Rachel itu korban. Kalau kalian menertawakan seorang korban, itu sama saja dengan mendukung pelaku kejahatan. Perbuatan kalian ini melanggar peraturan kemahasiswaan. Siapapun yang berani mengejek lagi, aku akan membatalkan nilai akademisnya!”Begitu kata-kata dosen itu keluar, seketika suasana kelas menjadi hening.Aku melihat pemandangan ini dengan lega, seolah-olah semua ini adalah awal kehidupan yang baru bagiku.Tak lama kemudian, teman-teman sekelasku tak lagi mengejekku.Mer

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 6

    Ribuan kali dia bilang mencintaiku.Dia juga bilang akan menikahiku begitu lulus kuliah.Tanpa sadar, jariku mengusap layar hingga ke bagian paling atas kolom komentar.Di sana ada sebuah komentar yang diunggah tiga jam yang lalu.[Akhirnya muncul juga aslinya, aku pikir hanya diriku yang tahu tentang dia.]Di bawahnya ada yang membalas, [Coba ceritakan lebih detail?]Komentar itu menjawab, [Aku kenal pacarnya, kami satu laboratorium.][Setahuku hubungan mereka sangat baik, setiap hari pamer kemesraan. Tsk… entah pacarnya tahu atau nggak masalah ini.]Aku menatap komentar itu lama sekali.Dia tahu.Bagaimana mungkin dia tak tahu?Bukan hanya tahu, bahkan dia yang merekamnya.Aku sangat marah, tapi saat ini video itu sudah ada di tanganku.Aku menelepon polisi.Suara operator terdengar tenang, menanyakan apa keperluanku.Aku bilang ingin lapor polisi.Setelah memberikan penjelasan yang singkat dan jelas, aku pun mematikan telepon.Setelah itu, aku duduk di sofa dan menunggu.Sambil menu

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 5

    Sayangnya, tidak ada rekaman video saat Calvin melecehkanku di luar.Jika tidak, aku pasti akan meminta tanggung jawab mereka!Keesokan harinya, setelah kelas berakhir, tiba-tiba Calvin datang mencariku dari kampus sebelah.Dengan wajah menjijikkan, dia bertanya padaku, “Rachel, malam itu kamu pasti merasa sangat geli dan tersiksa, ‘kan? Sekarang kamu juga sudah putus, bagaimana kalau aku saja yang membantumu?”Sambil bicara, dia nekat mengulurkan tangan ingin menyentuhku.Aku menepis tangannya dengan marah dan berkata dengan tegas, “Pak Calvin, tolong jaga sikapmu. Jangan lupa kalau kamu itu seorang dosen!”Namun, Calvin tetap bersikap kurang ajar. Dia masih saja mencoba main tangan.“Sudahlah, jangan pura-pura. Sekarang kamu jomblo, pasti merasa kesepian dan tersiksa, ‘kan? Aku datang untuk bantu menyelesaikan masalahmu.”Dia mengulurkan tangan lagi, mencoba menyentuhku.Aku mundur beberapa langkah, menyilangkan tangan di depan dada dan menatapnya dengan penuh kebencian.“Kalau kam

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 4

    Aku berteriak histeris, “Aku bukan wanita jalang, itu semua karena Calvin yang memaksaku!”“Lagipula aku juga sedang mabuk, kesadaranku sama sekali nggak jernih. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu dalam keadaan sadar?”Namun, pacarku sama sekali tak mau mendengarkan penjelasanku. Dia tetap memasang ekspresi jijik yang sama. “Bukannya kamu sendiri yang memanggilnya papa? Kamu bahkan bilang kalau kamu menginginkannya.”“Malam ini kamu pakai baju yang begitu sexy, bukannya tujuannya biar bisa kenalan dengan lebih banyak pria tampan di bar demi memuaskan hasrat kotormu itu?!”Seketika, aku hancur terpuruk. Kata papa itu memang benar keluar dari mulutku.Namun, aku tak pernah sekalipun berniat untuk mengenal pria lain di bar.Emangnya aku terlahir sebagai wanita jalang yang bisa memanggil orang asing dengan sebutan papa?Seketika, mentalku mulai goyah.Sepertinya apa yang dikatakan pacarku itu benar. Aku memang selalu merasa kurang puas dan masalah ukuran pacarku yang kecil selalu

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 3

    Tepat saat aku meneriakkan kata-kata itu, tiba-tiba Calvin menghentikan aksinya.Aku kira dia akan segera memuaskanku, tapi tak disangka dia malah berdiri dan memakai celananya kembali.Tubuhku terasa seperti melayang di udara, seluruh tubuhku terasa kosong dan hampa, sangat ingin diisi dengan kasar.Namun, tiba-tiba Calvin melambaikan tangan ke arah depan.“Keluarlah, aku sudah selesai mengujinya.”Aku merasa bingung dengan apa yang dia katakan.Tak lama kemudian, muncul sebuah bayangan dari tikungan jalan seberang.Ternyata itu pacarku!Dia berdiri tegak di sana, menatapku dari kejauhan.Kemudian, Calvin berkata, “Tadi aku sudah mengujinya dan ternyata dia nggak menolak sama sekali. Dia pasti sangat liar di luar sana. Wanita seperti ini lebih baik nggak perlu dipertahankan.”Mendengar itu, duniaku seolah berputar.Ternyata, semua ini adalah jebakan yang direncanakan pacarku sendiri.Dia hanya ingin menguji apakah aku bisa menjaga kesetiaanku!Tenggorokanku terasa tercekat, jantungku

  • Mimpi Buruk Di Depan Bar   Bab 2

    Seketika, dua buah dada putihku melompat keluar.Angin malam yang dingin berhembus, membuatku merasa sangat malu.“Ja… jangan… ini masih di jalanan, bukan di kamar. Kamu senang kalau sampai dilihat orang?”Namun, pacarku malah terlihat sangat bersemangat. Bukan hanya meraba dan meremas, dia bahkan memperhatikan setiap detail lekuk tubuhku dengan teliti.Kegembiraannya seolah-olah ini adalah pertama kalinya dia melihat tubuhku.Untungnya, orang-orang di sekitar jaraknya cukup jauh, jadi mereka tak bisa melihat jelas apa yang sedang kami lakukan.Jika tidak, mungkin besok aku sudah viral.Namun, pacarku masih belum puas. Detik berikutnya, dia menyingkap rok pendekku sampai ke pinggang.Dia menempelkan tubuhnya rapat-rapat pada bokongku yang montok.Ugh… perasaan ini sungguh luar biasa.Meski terhalang lapisan celana, aku bisa merasakan benda miliknya terus menusuk-nusuk di celah bokongku.Semakin lama semakin dalam, hingga celana dalamku ikut terdorong masuk.Astaga! Pacarku minum obat

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status