로그인Saat sedang mandi, tiba-tiba listrik padam. Aku pun terpaksa mengenakan jubah tidur dan kembali ke kamar untuk beristirahat. Tak disangka, dalam gelap gulita, sepasang tangan besar tiba-tiba memelukku erat dari belakang. Celaka! Ternyata aku salah masuk ke kamar keponakanku…
더 보기"Menikah dengan dia?" Arandita menunjuk ke arah Bastian yang tengah fokus bicara dengan Pramoedya dengan tangan kanan yang gemetar sedangkan salah satu tangan memegangi ujung belakang gaunnya. Wajah gadis itu sudah tampak basah dengan air mata.
30 menit yang lalu saat pengantin pria hendak mengucapkan kalimat qabul, seorang wanita dengan bayi merah dalam pangkuan menghentikan acara tersebut dan mengaku bahwa ayah biologis dari putrinya adalah pengantin pria."Iya Aran, semoga saja dia tidak keberatan," ujar sang ibu sambil mengelus pundak putrinya."Iya Bas, adikmu bermasalah hingga tidak mungkin meneruskan pernikahan ini, sementara para tamu penting sudah mulai berdatangan. Sepertinya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan reputasi keluarga kita, Papa harap kamu setuju. Dengan begini, kamu juga bisa membuktikan pada semua orang bahwa kabar yang beredar itu tidak benar," ucap Pramoedya dan Bastian menghembuskan nafas berat lalu mengusap gusar wajahnya.Bastian melirik ke segala arah dimana orang-orang menatap Arandita dengan iba. Dari belakang dirinya berdiri, beberapa wartawan sudah mulai berdatangan. Sepertinya keluarga mereka harus bersyukur atas keterlambatan awak media."Baiklah, Pa."Persetujuan Bastian membuat keluarga Pramoedya dan Furqan seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Rasa panik yang sedari tadi melanda sedikit demi sedikit mulai berkurang."Baiklah, kalau begitu kita mulai," ujar Pramoedya mengajak putranya ke meja ijab karena tidak ingin semua tamu menunggu lebih lama lagi.Pria dewasa dengan celana kain berwarna merah maroon, dan jas berwarna senada dengan ujung jas berwarna kehitaman, disertai kemeja hitam tersembul dari balik dasi yang juga berwarna hitam berjalan tegap ke arah meja ijab. Wajah tampan dengan hidung bangir serta mata hazel dan rahang yang tegas itu langsung mengalihkan pandangan semua orang."Ingat namanya Arandita Al Furqan binti Furqan Ubaidillah," bisik Pramoedya di telinga putranya dan Bastian hanya menjawab dengan anggukan."Sudah tahu kan, mas kawinnya apa?""Tahu, Pa."Di sisi lain Arandita pun menurut saat dituntun oleh sang ibu dan disuruh duduk kembali di tempatnya semula.Semua orang yang berada di sekitar meja ijab terlihat tegang. Arandita sendiri diam bagai patung dengan posisi wajah yang masih menunduk. Angin bertiup, dingin membelai pipi, membuat ia terlarut dalam kesunyian yang diciptakan sendiri meskipun dalam keadaan sekitar yang ramai. Saat ini, Arandita merasa berada di tempat lain, bukan lagi di acara pernikahan dirinya.Sampai Bastian selesai mengucapkan kalimat qabul dan kata sah terdengar dari setiap sudut ruangan, gadis itu masih setia menunduk, tidak sadar bahwa dirinya sudah resmi menjadi seorang istri.Devina menyenggol bahu Arandita sehingga gadis itu kaget dan mendongak."Iya, Bu?""Salami tangan suamimu!" perintah sang ibu dengan suara lembut.Arandita mengangguk lalu menatap sekilas wajah Bastian yang ekspresinya begitu datar. Dengan gugup ia meraih tangan pria yang baru saja menjadi suaminya itu dan mencium.Suasana canggung langsung terasa, ternyata tidak hanya Arandita yang khawatir, hampir semua orang yang hadir pun khawatir dengan rumah tangga mereka ke depannya. Akankah rumah tangga sakinah mawadah dan warahmah mewarnai kehidupan sepasang suami istri yang sama-sama menerima pernikahan dengan keterpaksaan itu?Bastian menatap wajah Arandita sekilas, lalu dengan lembut dia mengecup kening gadis tersebut."Maaf, saya harus melakukan ini, demi terlihat ini seperti pernikahan normal," bisiknya.Arandita mengangguk, ia cukup tahu diri dan tidak pernah berharap banyak pada pernikahannya dengan Bastian.Setelah menyalami semua anggota keluarga kedua mempelai dituntun ke dalam kamar dan pakaiannya diganti dengan warna yang senada , barulah mereka berdiri di depan pelaminan untuk menyambut para tamu undangan yang akan memberikan ucapan selamat.Acara terus berlangsung dan para tamu undangan disuguhkan dengan hiburan musik. Tentu saja langsung membuat suasana menjadi heboh setelah drama pernikahan sedari pagi. Keduanya menyambut para tamu dengan senyum yang dipaksakan.Malam menjelang dan tamu undangan sudah pergi, menyisakan hanya keluarga dan beberapa kerabat dekat saja. Bastian memutuskan untuk pergi ke kamar dan Arandita mau tidak mau juga membuntuti sang suami masuk ke dalam kamar hotel yang kini menjadi kamar pengantin mereka.Sunyi, tak ada suara dari kedua pasangan suami istri baru yang ternyata memilih menghabiskan waktu dengan duduk termenung di pinggir ranjang. Hingga akhirnya Arandita memutuskan untuk mandi terlebih dahulu kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.Kelopak bunga mawar berjatuhan ke lantai, aromanya membuat sesak di dada Arandita karena langsung teringat pada Bobby, pria yang seharusnya menjadi teman sekamarnya sekarang.Tak jauh berbeda, Bastian mengikuti jejak Arandita. Membersihkan diri lalu ikut merebahkan tubuh. Mereka berdua tidur dengan punggung yang berlawanan arah. Melewati malam pertama dengan mengarungi mimpi masing-masingEsok hari mereka pamit untuk tinggal di rumah Bastian. Kedua orang tua Arandita bahagia melihat anak dan menantunya terlihat akur meskipun tidak banyak bicara, bahkan rambut keduanya terlihat sama-sama basah."Ini kamarku, tapi mulai hari ini akan menjadi kamarmu. Semoga kau betah." Bastian berjalan masuk ke dalam kamar. Sengaja tidak memberikan kamar yang lain agar Pramoedya tidak lagi menganggapnya lelaki yang tidak normal.Arandita tersenyum sebab Bastian sudah mulai bicara banyak padanya."Dan tenang saja nanti aku tidur di ruang kerja." Pria itu membuka ruang kerja yang berada di dalam kamar itu juga. Walaupun hanya ruang kerja, tetapi cukup luas dan nyaman jika ditempati untuk tidur, bahkan di ruangan itu juga ada kasur, tempat Bastian bermalas-malasan setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Bisa dikatakan kamar Bastian memiliki ruangan kamar yang double.Arandita langsung terdiam karena ternyata pikirannya salah."Oh ya, karena pernikahan ini sama-sama tidak kita inginkan, aku membuat surat ini. Aku pikir ini akan menguntungkan untuk kita berdua."Arandita meraih map yang disodorkan Bastian."Kontrak perjanjian?" tanya Arandita dengan bibir bergetar. Ia masih tidak percaya manusia seserius Bastian bisa mempermainkan pernikahan.,Kami sedang bergulat. Dia yang masih muda dan kuat tiba-tiba mendorongku keras. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang.Bagian belakang kepalaku membentur lantai. Bintang-bintang berkilat di mataku, lalu semuanya gelap. Aku pingsan seketika.Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat kembali siuman, aku mendapati diriku bukan di rumah sakit, melainkan dikurung di sebuah gubuk kotor.Di sudut-sudut dinding tampak banyak lubang tikus, di lantai berserakan kotoran mereka. Bau busuk menusuk hidung sampai membuatku ingin muntah.Aku menahan rasa mual dan perlahan berusaha bangkit."Ada orang nggak? Tolong!"Aku berteriak beberapa kali, tapi tak ada satu pun jawaban. Hatiku langsung takut, jangan-jangan Bima mengurungku?Aku menatap sekeliling. Tempat ini sepertinya sebuah ruang bawah tanah. Selain satu pintu di depan, sisanya hanyalah dinding beton yang dingin.Kepalaku masih terasa pusing, bagian belakangnya berdenyut nyeri.Sambil menahan sakit, aku memegangi kepala, dengan
"Kalau gitu kamu setuju?"Matanya bagai pisau yang menusukku.Aku tahu aku tak punya pilihan saat ini. Tak berdaya, wajahku memerah, aku menggertakkan gigi, dan akhirnya mengangguk. "Ya, aku... aku setuju...""Haha, gini dong!"Bima berseri-seri. Setelah menyimpan ponselnya, ia memeluk dan menciumku dengan penuh semangat.Teringat kami sedang berada di bioskop, aku gelisah. "Gimana kalau... kita pesan kamar saja?""Tidak perlu, di sini lumayan kok!"Dia berbaring di atasku, seperti anjing yang sedang bermanja-manja, lidahnya menjilati leherku.Aku masih khawatir, dan terus memohon, "Tapi... gimana kalau suamiku kembali...""Jangan khawatir, suamimu belum bisa kembali untuk sementara waktu. Dia sedang sibuk mengurus Laras."Laras?!Aku terkejut dan segera mendorongnya."Katakan, siapa Laras?!"Menyadari kesalahannya, wajah Bima memucat, tetapi kemudian senyumnya kembali."Haha, kamu... kamu salah dengar. Apa Laras?! Aku tidak bilang gitu!"Dia kemudian tersenyum dan melambaikan tanganny
Aku memutar bola mataku dan terus menonton.Namun, seiring film itu semakin menegangkan, hasratku benar-benar menggebu, dan aku tak kuasa menahan diri untuk perlahan meraih ke balik rokku...Tanpa kusadari, tindakan ini akan membawaku ke jurang yang mengerikan, mengungkap rahasia mengerikan yang selama ini disembunyikan Bima dan suamiku!Saat itu, jari-jariku terus bergerak, aku menggigit bibir, takut mengeluarkan suara.Tepat saat aku tenggelam dalam kenikmatan yang tak terkendali, tiba-tiba aku mendengar tawa Bima."Oh, Tante Dian, berani sekali! Ini di bioskop loh!"Terkejut, aku menoleh dan melihat Bima menatapku dengan senyum tipis!Ya ampun, dia ternyata tidak tertidur!Wajahku langsung memucat dan memerah, luar biasa malu.Tapi ketika aku melihatnya masih memegang ponselnya, aku benar-benar tercengang.Mungkinkah dia baru saja... merekamku!?Pikiran itu membuatku takut."Bima, apa yang kamu lakukan? Berikan ponselmu!"Aku segera menerjang untuk merebut ponselnya, tetapi Bima han
Dia terkekeh dan menggoda, "Kenapa, Tante Dian? Apa Tante lupa? Tadi malam, Tante...""Anggap saja kejadian tadi malam sebagai mimpi. Kita lupakan saja!"Merasa bersalah, aku buru-buru menyela, "Pokoknya, lain kali hati-hati. Cepat ganti baju. Aku sudah buatin sarapanmu. Aku mau kerja."Setelah itu, aku berdiri meraih tasku, dan pergi.Duduk di kantor, pikiranku dipenuhi dengan apa yang terjadi di ranjang dengan Bima tadi malam.Begitu aku memejamkan mata, alat besar Bima yang luar biasa tampak di depan mataku.Aduh, sayang sekali! Rasanya hampir saja aku merasa puas!Lambat laun, aku mulai basah lagi.Dengan putus asa, aku bersembunyi di toilet wanita di tempat kerja dan diam-diam masturbasi.Malam itu sepulang kerja, aku berkeliaran di sekitar lingkungan seperti jiwa yang tersesat.Aku khawatir tentang apa yang mungkin terjadi malam ini, dan kali ini, aku tak yakin bisa menahan diri.Saat aku sedang bergulat dengan ini, klakson mobil tiba-tiba berbunyi di belakangku.Saat berbalik, a
"Tante Dian, jangan buru-buru dong! Malam ini panjang, dan kita masih punya banyak waktu!"Bima memelukku erat, benda besarnya sengaja menahan diri untuk tidak masuk, malah menggesek pinggulku."Bima, cepatlah! Tante sudah tidak tahan lagi!"Aku begitu panik hingga hampir menangis, dan aku memohon l
Setelah pulang ke rumah, aku melemparkan kalimat, "Makan malam masak sendiri!" padanya, lalu buru-buru berlari masuk ke kamar.Mengambil mainan dari bawah bantal, aku berbaring di tempat tidur, dengan cepat melepas celana dalam dan menekan tombolnya. Dengan suara "dengung", aku menutup mulutku, tubu
Namaku Dian, wanita berkulit putih dan berwajah cantik, yang bisa dibilang cukup menarik perhatian.Ketika pulang kerja pada jam sibuk, aku akhirnya berhasil naik ke bus yang penuh sesak. Namun baru saja berdiri, aku merasa ada seseorang yang menyentuhku dari belakang.Pencabul! Tapi memang, di dal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.