LOGINSatu hal yang harus Bella tahu dan terima adalah kenyataan bahwa orang setampan Evan pasti bukan hanya dirinya yang naksir. Oke. Kali ini Bella akan jujur sejujur-jujurnya: ia jatuh cinta pada Evan sejak pertama kali bertemu dengannya. Namun, rasanya sulit menerima fakta bahwa saingannya akan sebanyak ini. Bella tidak minder. Soal cantik, ia juga cantik. Tapi kalau harus dibandingkan soal kesuksesan, ia bukan apa-apa dibandingkan wanita-wanita lain yang maju menginginkan posisi sebagai istri Evan. Lagi pula, mereka semua statusnya sama, hanya teman bagi Evan. Sedangkan Bella satu tingkat lebih maju, yaitu calon istri. ‘Calon istri. Wkwkwk.’ Bella hampir tergelak membayangkannya, padahal hanya dirinya yang menganggap begitu. Buktinya, Evan lempeng saja. ‘Apa aku nekat aja, ya? Kata pepatah, kalau dunia tak merestui, kita bikin tragedi. Hamil duluan gitu?’ Entah pepatah mana yang sedang ia kutip. Yang jelas, pikiran itu membuat Bella menampar pipinya sendiri dua kali. “AA
Bella tidak melepas heels putihnya.Kakinya sudah protes sejak pukul enam. Tumitnya berdenyut, jari-jarinya terasa seperti dijepit pintu. Tapi dalam kamus Bella, sepatu hanya dilepas di kamar atau di kamar mandi, dan tidak ada pengecualian untuk pesta ulang tahun di rumah laki-laki yang baru saja menyodorkan teh kepadanya. Maka ia duduk tegak di bangku dekat kolam lotus, tersenyum kepada siapa saja yang lewat, sementara Leo mendengkur halus di bahunya.Ia menyesap teh tawar itu dengan satu tangan, pelan-pelan, takut Leo terbangunLangkah heels terdengar di paving, lalu berhenti di depannya.Wanita cantik yang tadi mengobrol dengan Evan berdiri di sana sambil membawa selimut bayi bergambar awan. Gaun kuning berhias renda putih jatuh sederhana di tubuhnya, dan rambut hitam sebahunya tertata rapi dan indah.“Gigi ketahan sama Tante Diana di dekat kue, jadi aku yang ambilkan.” Suaranya tenang dan hangat. “Boleh?”Bella mengangguk. Wanita itu membentangkan selimut di atas tubuh kecil Leo d
Pukul empat sore, matahari mulai condong dan menumpahkan cahaya keemasan di sela dedaunan pohon mangga tua di halaman belakang rumah Diana.Bella berdiri di ambang halaman sambil memeluk pot keramik putih berisi anggrek hitam yang dibungkus pita krem. Ia mengenakan dress panjang berwarna biru muda dengan potongan elegan dan sederhana. Bagian atasnya pas di tubuh, dengan lengan pendek dan garis leher yang tidak berlebihan, sementara roknya melebar lembut hingga mendekati mata kaki. Rambut hazelnya ditata setengah terikat, membiarkan sebagian helainya jatuh membingkai wajah. Heels putih dan tas kecil senada melengkapi penampilannya.Dandanannya sudah ia ganti tiga kali sebelum akhirnya memilih tampilan itu. Bukan karena ia ingin terlihat sempurna di pesta ulang tahun Diana. Setidaknya, itulah alasan yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.Setelah kejadian oli di garasi, ia sempat mempertimbangkan memakai sepatu datar. Namun, setelah bercermin cukup lama, Bella memutuskan bahwa hee
Bella terbangun pukul dua siang. Orang pertama yang ia cari adalah Evan, tetapi sosok itu sudah tidak ada. Yang duduk di tepi kasurnya sekarang adalah ibunya. “Gimana perutnya? Sudah mendingan?” tanya Sintia sambil menempelkan punggung tangan ke dahi Bella. Bella hanya mengangguk. Matanya masih sempat melirik ke pintu, lalu ke jendela, lalu ke pintu lagi. “Cari siapa?” tanya Sintia tanpa menoleh. “Nggak cari siapa-siapa.” “Evan pamit jam dua belas lewat. Dia nungguin Mama pulang dulu, sampai Mama nggak enak.” Sintia menarik tangannya dengan senyum yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. “Padahal Mama cuma kirim pesan.” “Tiga kali, Ma.” “Biar jelas.” Bella membenamkan wajah ke bantal, sementara Sintia terkekeh pelan. “Kelas Mama tadi gimana?” tanya Bella cepat-cepat, jelas sekali sedang mengalihkan pembicaraan. “Lancar. Cuma mahasiswanya nanya terus, jadi molor. Pulang-pulang Mama laper.” Sintia menepuk lutut putrinya. “Makanya kamu tuh jangan suka telat makan. La
Bukan memapah, bukan sekadar membantunya berjalan. Benar-benar menggendongnya!Refleks, Bella melingkarkan tangan ke leher laki-laki itu. Matanya membulat, sementara jantungnya yang sejak tadi sibuk melawan rasa sakit mendadak punya kesibukan lain.‘Ya ampun. Evan menggendongku!’Kalau saja perutnya tidak sedang terasa seperti dipelintir, mungkin Bella sudah menjerit kegirangan.“Kamar kamu di mana?” tanya Evan, sama sekali tidak menyadari kekacauan di kepala Bella.“Lurus ... terus belok kiri,” jawab Bella terbata-bata.Evan berjalan mengikuti arahannya dengan langkah mantap, sementara Bella berusaha mengabaikan jarak wajah mereka yang terasa terlalu dekat. Aroma parfum Evan tercium samar. Lengannya menopang tubuh Bella dengan hati-hati, dan entah kenapa itu membuat Bella sedikit lebih tenang.Di tengah rasa sakit yang menyiksa, ada bagian kecil dari dirinya yang ingin waktu berhenti sebentar. Bukan karena sakitnya, tentu saja, melainkan karena ia sedang berada dalam gendongan Evan.
Malamnya Aca mengundang Bella dan teman-teman bank lainnya makan malam di rumahnya. Katanya, ada kabar bahagia. Suami Aca sampai sengaja menyingkir ke rumah mertua supaya para perempuan itu bebas berisik. Bella datang paling akhir sambil menenteng puding cokelat. Alasannya macet. Padahal macetnya cuma lima menit, sisanya habis di ruang kerja seorang laki-laki berkacamata. Di ruang tamu, Raisa, Vina, Gladys, dan Sindi sudah lesehan mengelilingi meja yang penuh makanan. Raisa dari Customer Service, Vina teman satu meja Bella di teller, Gladys dari marketing, dan Sindi teller junior yang paling ceria. Ada ayam bakar, capcay, spaghetti, pizza, salad, dan camilan segudang. Satu kotak martabak sudah tinggal bungkusnya saja. “Telat banget, Bel,” kata Vina. “Martabaknya sudah dibantai Sindi.” “Aku cuma bantu ngabisin, Mbak!” bela Sindi dengan pipi menggembung. “Wih, Ca.” Raisa menatap meja. “Ini mau makan malam atau kondangan?” “Namanya juga kabar bahagia.” Aca keluar dari dapur sa







