로그인Ivan hanyalah penulis thriller biasa yang sedang mengalami kebuntuan ide (writer's block) parah. Namun, laptopnya tidak pernah berhenti bekerja. Setiap kali Ivan terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, ia menemukan bab-bab baru di dokumennya. Bab-bab yang tidak pernah ia ingat telah ditulisnya. Bab-bab yang menceritakan kejahatan Agnia—tokoh fiksi wanita ciptaannya—dengan detail yang terlalu mengerikan untuk sekadar imajinasi. Awalnya, Ivan mengira ia gila. Atau mungkin ada penguntit yang membobol apartemennya. Namun, ketika mayat-mayat di dunia nyata mulai bermunculan persis sesuai urutan bab di laptopnya, Ivan sadar. Agnia bukan lagi sekadar tinta. Dia ingin keluar. Dan dia tidak suka akhir cerita yang Ivan rencanakan.
더 보기Cahaya blitz kamera itu seperti silet. Menusuk retina, membelah isi kepalaku yang sudah berdenyut sejak dua jam lalu.
"Ivan! Lihat sini, Ivan!"
"Satu senyum lagi, Pak Penulis Cinta!"
Aku memamerkan deretan gigiku. Senyum nomor empat: Senyum Rendah Hati yang Memikat. Ini adalah topeng favoritku. Topeng yang membuat buku-bukuku terjual jutaan kopi. Topeng yang membuat wanita-wanita kesepian di depanku ini merasa basah hanya dengan membayangkan aku menulis puisi untuk mereka.
Di hadapanku berdiri seorang gadis dengan kardigan merah muda yang warnanya menyakitkan mata. Dia memegang buku terbaruku, Janji di Bawah Gerimis, seolah itu kitab suci. Tangannya gemetar.
"Mas Ivan," suaranya bergetar, seperti tikus yang tercekik. "Bab terakhirnya... itu indah sekali. Saya menangis semalaman."
Aku menatap matanya yang berair. Di dalam kepalaku, aku melihat diriku sendiri meludahinya. Indah? Itu sampah. Itu adalah tumpukan klise busuk yang kudaur ulang dari tiga novelku sebelumnya. Kau menangis karena kau bodoh. Kau menangis karena hidupmu kosong dan kau membiarkan aku mengisinya dengan gula-gula beracun.
Tapi tentu saja, Senyum Nomor Empat tidak goyah.
"Terima kasih," kataku lembut. Suaraku terdengar berat dan hangat hasil latihan bertahun-tahun di depan cermin. "Air matamu adalah tinta bagi jiwaku."
Gadis itu terkesiap, seakan baru saja kucumbu. Dia pergi dengan wajah memerah, mendekap buku itu di dada. Berikutnya. Antrean ini tidak ada habisnya. Mereka seperti zombi yang lapar akan romansa murahan.
"Kau hebat hari ini, Van."
Itu suara Sarah, editor sekaligus manajerku, saat kami akhirnya masuk ke dalam limosin yang kedap suara. Hening. Akhirnya hening.
Aku melonggarkan dasi yang rasanya seperti jerat gantung diri. "Berapa lama lagi aku harus melakukan sirkus ini, Sarah?"
"Sampai kau berhenti menjadi bestseller, yang mana tidak mungkin terjadi," Sarah tertawa, menepuk lututku. Dia tidak melihat tanganku yang mengepal gemetar di atas jok kulit. Atau mungkin dia melihatnya, tapi memilih abai. Bagi Sarah, aku bukan manusia. Aku adalah mesin pencetak uang berwujud pria melankolis yang tampan.
"Istirahatlah. Kau tampak... pucat," tambah Sarah, melirik sekilas ke arahku.
"Hanya kurang tidur," dustaku. Padahal aku tidur sepuluh jam sehari. Masalahnya, aku tidak pernah merasa bangun. Rasanya aku selalu bermimpi buruk, dan acara tanda tangan buku tadi adalah bagian terburuk dari mimpi itu.
Apartemenku menyambut dengan dingin. Sunyi. Mewah. Dan kosong.
Lantai marmer memantulkan bayanganku yang menyedihkan. Hanya ada satu makhluk hidup yang menyambutku. Leo, anjing French Bulldog kecilku, berlari tertatih dari ruang tengah.
"Hei, kawan," sapaku datar.
Leo berhenti dua meter di depanku. Dia tidak mengibaskan ekor. Dia menatapku dengan mata bulatnya yang hitam, memiringkan kepala. Kadang aku merasa anjing ini tahu. Dia tahu tuannya adalah penipu. Dia tahu bau parfum mahal yang menempel di jas ini menutupi bau busuk dari jiwaku yang mulai membusuk karena kebosanan.
Leo mendengus, lalu berbalik dan pergi meninggalkanku. Bahkan anjingku sendiri muak melihatku.
Aku melempar jas seharga lima ribu dolar itu ke lantai. Masa bodoh.
Aku berjalan menuju ruang kerja. Dindingnya dipenuhi rak buku mahoni yang tinggi, penuh dengan novel-novel romance karyaku yang diterjemahkan ke dalam dua puluh bahasa. Piala penghargaan berjejer di atas perapian. Mereka terlihat seperti batu nisan.
Di sini berbaring Ivan Sandlers, pria yang mati tercekik oleh kata-kata manisnya sendiri.
Aku duduk di depan laptop. Layar menyala, menyilaukan ruangan yang sengaja tidak kunyalakan lampunya. Kursor berkedip di atas halaman kosong.
Sarah menunggu draf bab pertama untuk novel Cinta di Musim Gugur.
Jari-jariku melayang di atas keyboard. Otakku mencoba merangkai kalimat tentang pertemuan romantis di kafe Paris. Tapi tanganku menolak. Jari-jariku kaku, seolah sarafnya putus.
Aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku tidak bisa menulis satu kata pun tentang cinta. Rasanya ingin muntah. Ada rasa asam yang naik ke kerongkonganku.
"Cukup," bisikku pada kegelapan.
Aku menekan tombol Backspace. Menghapus judul Cinta di Musim Gugur.
Lalu, sesuatu yang aneh terjadi. Saat judul itu hilang, rasa mual itu lenyap. Digantikan oleh getaran halus di ujung jariku. Sebuah denyut nadi baru.
Aku butuh darah. Aku butuh rasa takut. Aku butuh sesuatu yang nyata, bukan plastik berwarna merah muda.
Jemariku mulai bergerak sendiri. Bukan perintah dari otakku, tapi dari naluri purba yang terpendam di sumsum tulang. Aku mengetik satu nama.
A G N I A
Siapa dia? Aku belum tahu. Tapi saat nama itu tertulis di layar putih, udara di ruang kerjaku mendadak terasa lebih dingin. Bayangan di sudut ruangan tampak memanjang, seolah merespons panggilanku.
Aku mulai mengetik. Bukan dengan gaya bahasa puitis mendayu-dayu. Tapi dengan kalimat yang pendek. Tajam. Kasar. Seperti pukulan palu.
Agnia tidak butuh cinta. Agnia butuh pisau lipat yang tajam. Dia berdiri di pinggir jembatan penyeberangan, menatap arus lalu lintas di bawah. Bukan untuk melompat. Tapi membayangkan bagaimana suara tulang yang patah jika dia mendorong seseorang.
Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, senyumku bukan topeng. Gigi-gigiku terasa gatal. Jantungku berpacu.
Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t
esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr
“Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya
Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band
"Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan ma
Dapur kembali sunyi setelah langkah kaki Nuri menghilang di balik pintu kamarnya.Aku masih berdiri di dekat rak piring. Panci di atas kompor sudah kumatikan, tapi uap tipis masih mengepul dari air yang nyaris mendidih. Bau mi instan setengah matang bercampur dengan aroma minyak tanah dan lembapnya
Tiga malam setelah surat itu, aku memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi di balik tirai.Bukan berarti aku akan mengungkapkan identitasku. Bukan berarti aku akan mengetuk pintunya dan berkata, "Aku yang menulis puisi itu, Nuri. Aku yang meninggalkan mawar. Aku yang meneleponmu tengah malam."Tidak.
Aku baru saja kembali dari rute kedua. Bang Jali memberiku tambahan wilayah karena Udin masih sakit. Gerobakku berat, bajuku basah oleh campuran keringat dan air hujan, dan punggungku terasa seperti akan patah. Tapi aku tidak langsung masuk kamar.Aku berdiri di halaman kost, di bawah rintik hujan y
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.