MasukKisah seorang gadis sederhana bernama Alena yang harus menuruti kemauan sang Paman untuk menjadi istri pengganti bagi seorang putra milyader.Ia harus berpura-pura menjadi Avena--saudara kembarannya yang tiba-tiba menghilang.Alena tidak hanya mendapat perundungan dari keluarga Kakak iparnya tapi, juga menjadi bulan-bulanan Elmer, si Adik bungsu dari suami Avena. Sementara Kaindra, sang Kakak ipar selalu memperlakukan Alena kasar karena pria itu tahu bahwa wanita yang bersamanya bukanlah istrinya, Avena.Bagaimana kisah selanjutnya Alena dalam rumah mewah keluarga Mahendra? Dapatkah ia bertahan dari segala macam siksaan batin Kaindra dan Elmer?
Lihat lebih banyakKarina:
I sat on the couch, staring at the flickering candles, the soft glow of their light dancing across the walls. The room was perfect—rose petals scattered across the table, their faint fragrance mixing with the aroma of the dinner I had spent hours preparing. The cake stood proudly on the counter, a delicate swirl of frosting adorned with a “5” I had painstakingly crafted.
The cake had taken ages to bake, and even though I knew my limitations in the kitchen, today, I had tried my best to challenge my boundaries, all because I wanted to do something special for the love of my life.
It was supposed to be a celebration, a moment to mark our fifth year together. Five years of love, laughter, sacrifice, and promises. Five years of us, Karina and Ethan—partners, soulmates, and soon-to-be husband and wife.
But as I looked around the room, the perfection of the setting felt hollow. He wasn’t here. He was supposed to be here hours ago.
I glanced at the clock. Midnight. Midnight on what should have been our night, our anniversary.
For a moment, my mind went into overdrive, thinking about all the worst case scenarios. Had something happened to him on the way home? Had he been hurt? But I shook my head, trying my best to ignore the dark thoughts and focus on the positives.
Recently, he had been doing this quiet often. Coming home late, sometimes staying at the office even when it was the weekends. I started to feel a bit lonely and insecure, but then I would tell myself that he was simply working hard to secure more deals. He was a hard working man, a go-getter, and I loved that about him.
So maybe...that's what this was about as well, right? Him being at the office, burning the midnight oil for a secure future. For us.
My phone buzzed, snapping me out of my thoughts. I grabbed it with hope fluttering in my chest, praying it was him saying he was on his way. And it was him. But the message was like a dagger through my heart.
"Hey, Kitty. Running late. Don’t wait up."
Don’t wait up? On our anniversary? After everything I’d planned? My grip tightened on the phone as tears blurred my vision. I couldn’t believe he’d become this person—so consumed by work, so distant. So... indifferent.
I told myself to calm down, to be patient. He’s busy, I thought. He’s doing all this for us. But even as I tried to convince myself, the hollow ache in my chest grew. How long could I keep lying to myself?
A few minutes later, my phone buzzed again. This time, it was an unknown number. My brows furrowed as I hesitated before opening the message. Attached to it was a video. My fingers trembled as I pressed play, the screen lighting up with an all-too-familiar figure. Ethan.
At first, I didn’t understand. He was laughing, carefree, with a drink in his hand. Shots lined up on a bar in front of him. And then I saw her. A woman draped across him, her arms around his neck, her lips brushing against his ear as she whispered something. I couldn’t hear it, but I could see the way his face lit up—how he turned to her with a smile I hadn’t seen in years. And then... he kissed her.
The air left my lungs in a violent gasp, my phone slipping from my hands and clattering to the floor. I couldn’t believe what I’d just seen. My chest felt like it was caving in, my pulse roaring in my ears as my mind raced. How? Why?
I sank to the floor, my hands clutching at my chest as if I could physically hold the pieces of my breaking heart together. The candles continued to flicker around me, their soft light now mocking me. The roses, the dinner, the cake—it was all a lie. The love I thought we had, the life I thought we were building—it felt like it had been shattered in an instant.
I stared at my phone, my heart pounding in my chest as the video played over and over on the screen. Ethan—my Ethan—was there, his arms wrapped around a woman I didn’t recognize. Her long hair cascaded down her back as she leaned into him, their lips meeting like they had done this a thousand times before.
I don’t know how long I had been playing the video on repeat. My mind raced, trying to make sense of what I was seeing.
I wanted to scream, to cry, to throw something, but all I could do was sit there, frozen in disbelief. How did it come to this? How had the man I loved, the man I sacrificed everything for, become a stranger?
Empat tahun kemudian."Ah … terimakasih. Ini bagus sekali. Tidak menyangka bertemu dengan orang Indonesia yang menjadi seniman jalanan." Seorang gadis tertawa senang melihat hasil lukisan dengan latar menara Eiffel.Gadis itu menyodorkan selembar uang kertas euro, namun ditolak oleh pria itu. "Tidak. Terimakasih. Itu untuk kenang-kenangan kamu saja," balasnya datar tanpa senyum."Oke, tampan. Siapa namamu? Kelak kita akan ketemu di Indonesia."Pria itu hanya diam sambil sibuk membereskan peralatan gambarnya lalu pergi sengan tak acuh membuat dua gadis yang baru saja di lukisnya termangu.Ia berjalan dengan menenteng kotak peralatan gambar menuju ke sebuah apartemen. Ia masuk ke sebuah lift dan naik ke dalam.Tidak berapa lama, ia membuka sebuah pintu dan yang terhidu hidungnya pertama adalah bau telur goreng."Pas sekali Tuan pulang saat makan siang," teriak Randy."Apa kamu tidak bisa memasak selain telur?" ketusnya sambil menyeduh secangkir cappucino.Randy tertawa kecil dan menghi
Dua pria paruh baya yang dulu pernah mempunyai masa lalu kelam itu duduk saling berhadapan. Pria dengan setelan jas dan terlihat mewah juga berkelas, memandang datar pada pria dengan seragam biru dan ada nomer identitas itu."Apa kabar Seno?""Seperti yang kamu lihat, Dhanu.""Apa yang akan kamu bicarakan padaku?" tanya Dhanu langsung tanpa basa-basi."Kamu tahu bahwa aku telah kehilangan segalanya. Juga kehilangan putra semata wayang ku. Aku di sini tidak akan mengemis padamu atau berharap belas kasihanmu. Tidak Dhanu. Namun … aku hanya ingi kamu tahu tentang putramu. Aku ingin kamu tahu, sebelum kematian merenggut ku.""Apa maksudmu Seno? Putraku siapa?"Pria itu terkekeh. "Tentu saja Elmer. Putra bungsumu itu yang juga telah membunuh putraku, Davin.""Ada apa dengan putraku Elmer?""Kamu terlalu lugu selama ini, Dhanu. Jiwa psikopat dalam tubuh putramu itu bukan kebetulan. Tapi, semua itu ada yang mengendalikan.""Seno, apa maksudmu? Bicaralah yang jelas!" Tuan Dhanu mulai terpanci
"Apa yang membuatmu jadi seperti ini?""Aku tidak tahu. Yang aku tahu, iblis itu telah berhasil menguasaiku.""Kamu bisa mengendalikannya. Kamu masih punya sisi baik jauh dari dalam jiwamu.""Tidak. Aku sudah mencoba dengan sekuat tenaga, tapi hanya kehancuran yang aku berikan pada orang-orang terdekat ku.""Tidak kah kamu tahu, hidup wanita itu hancur?""Aku tahu dan aku lebih hancur darinya. Tapi, paling tidak, aku tidak melihatnya menangis lagi di depan mataku. Karena aku benci melihatnya menangis.""Dan kamu terlalu egois. Sekarang dia tidak hanya menangis, tapi juga hancur. Kamu menghancurkannya Elmer!""Aku tahu! Aku melakukan semua ini demi kebaikannya. Meski dia hancur sekarang, tapi dia tidak akan pernah melihat wajah bengis ku. Tidak akan pernah melihat tatapan nyalangku. Dan yang pasti … aku tidak akan pernah berusaha menyakiti dan membunuhnya. Aku … aku sakit dan selalu terluka melihat sorot ketakutan dan cemas di matanya. Lebih baik aku hidup sendiri dengan cintaku. Cinta
Tuan Dhanu dan Nyonya Merry menyambut kedatangan Alena dengan hangat. Meski mereka kaget kenapa tiba-tiba menantunya ini datang tiba-tiba. Firasat Tuan Dhanu sudah tidak enak dengan kedatangan Lena yang sendiri.Namun, akhirnya ia mengerti setelah Doni menceritakan semuanya."Jadi Elmer hampir membunuh Lena?" Kaindra termangu dengan gusar."Ini yang papi takutkan selama ini. Elmer bisa sewaktu-waktu menyakiti istrinya. Doni … apa menurutmu yang membuat Elmer menjadi beringas seperti itu? Kamu dan Randy yang setiap hari bersamanya."Doni meneguk ludahnya. "Menurut saya dan Randy, penyebabnya adalah ketika Tuan Elmer melihat makam Sonya. Dendam dan sakit hati yang sudah lama terpupuk pada wanita itu dan belum sempat di tuntaskan menjadi penyebabnya. Selama bersama Nyonya Alena, Tuan bisa melupakan wanita itu, karena Nyonya Lena selalu mengalihkan perhatiannya dan selalu membuatnya bahagia.Tapi, karena kejadian itu. Kejadian penyekapan dan penyiksaan terhadap Nyonya Lena dan akhirnya be
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak