Mag-log inRaina melangkah cepat keluar dari mushola kecil kantor.
Wajahnya pucat, nafasnya masih memburu setelah mendengar bisikan menyeramkan itu. Telapak tangannya dingin, meski keringat tipis menempel di punggung. Lorong menuju ruang siar terasa lebih panjang dari biasanya, setiap langkah kakinya seperti menggema dan menambah sesak di dada. Ia menunduk, berharap bisa segera sampai di depan pintu studio. Namun, langkah buru-burunya justru membuatnya menabrak seseorang. “Eh, aduh!” seru suara perempuan. Raina langsung mendongak. “Mbak Vega… maaf, aku nggak lihat tadi.” Mbak Vega, senior di kantor sekaligus salah satu penyiar senior, menatap Raina dengan dahi berkerut. Ia memegangi map yang hampir terjatuh, lalu tersenyum tipis. “Kamu kenapa, Rai? Kayak dikejar setan aja jalannya,” candanya, meski matanya menyiratkan rasa heran. Raina menghela napas cepat, mencoba menenangkan diri. Pertanyaan itu justru makin membuatnya gelisah. Dengan ragu, ia berbisik, “Mbak… kamu cium bau pandan nggak?” Vega sempat menatap kosong sejenak, lalu terkekeh santai. “Iya, kok. Kayaknya tetangga dekat kantor lagi masak bubur kacang hijau kali. Wangi banget, ya? Malah bikin aku jadi pengen bubur kacang.” Raina tercekat. Ia memandang Mbak Vega yang tampak biasa saja. Tidak ada tanda-tanda ketakutan, tidak ada wajah pucat seperti dirinya. Justru Mbak Vega terlihat tenang, seolah bau pandan itu hal wajar. “Oh… iya, mungkin ya,” Raina berusaha tersenyum, meski senyumnya kaku. Dalam hatinya, ia bergolak "Apa jangan-jangan aku cuma paranoid? Masa iya semua ini cuma perasaanku aja?" Ia tak ingin terlihat aneh. Ia menunduk sopan, lalu melanjutkan langkahnya menuju studio. Kehadiran Mbak Vega sedikit membuatnya lebih tenang. Tak lama, terdengar suara langkah berat dari arah lorong belakang. “Eh, ada Bang Yudis…” gumam Vega sambil melambai. Raina menoleh, dan benar, sosok Bang Yudis muncul dengan kamera di bahu. Wajahnya penuh keringat, kemeja kusut, jelas baru pulang liputan. “Assalamualaikum!” sapa Yudis bersemangat. “Capek banget liputan, panasnya kayak apa aja di luar siang tadi.” Raina tersenyum kecil. “Waalaikum salam, Bang. Baru balik ya?” “Iya, Rai. Mau langsung setor footage.” Raina menarik napas lega. Sekarang, selain ada Mbak Vega, juga ada Bang Yudis. "Setidaknya aku nggak sendirian. Amanlah…" pikirnya, meski hatinya belum sepenuhnya tenang. Studio siar malam itu cukup hening. Raina memasang headset, membuka naskah iklan, dan menyiapkan DAS dan rundown acara. Tangannya sibuk mengatur tombol mixer, namun pikirannya masih melayang pada bau pandan yang terus membayanginya. “Fokus, Rai… jangan kebanyakan mikir…” ia berbisik pada diri sendiri. Siaran berlangsung normal. Lagu-lagu mengalun, jeda iklan mengisi, dan suaranya yang lembut tetap terdengar profesional di udara. Tidak ada gangguan. Tidak ada suara aneh. Tidak ada bau pandan. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Sekitar pukul delapan malam, saat jeda iklan, Raina merasakan dorongan dari perutnya. Ia menggeliat gelisah di kursi, lalu menghela napas. “Aduh… kebelet pipis lagi,” gumamnya. Ia menoleh ke arah ruangan. Mbak Vega sudah pulang sekitar setengah jam lalu, setelah menyelesaikan beberapa laporan. Bang Yudis pun sepertinya sedang di ruang editing. Berarti, lorong menuju toilet akan sepi. Raina menggigit bibir bawahnya, menimbang. Ia tidak suka melewati lorong belakang sendirian, apalagi setelah kejadian tadi. Tapi menahan pipis jelas bukan solusi. “Udahlah, cepet aja. Nggak usah lama-lama,” katanya dalam hati. Ia melepas headset, berdiri, lalu keluar dari studio. Lorong menuju toilet terasa dingin menusuk. Lampu neon di atas kepalanya berkelip pelan, menimbulkan bayangan samar di dinding. Raina memeluk tubuhnya sendiri, berjalan cepat sambil menunduk. Baru beberapa langkah, hidungnya menangkap sesuatu. Aroma itu lagi. Bau pandan. Samar. Tapi jelas. Seakan-akan ada seseorang yang baru saja membuka tutup kukusan berisi bubur kacang hangat, lalu aromanya menyusup ke udara. Raina berhenti di depan pintu toilet. Tangannya sempat terangkat hendak mendorong pintu, tapi tubuhnya gemetar. “Ya Allah… jangan sekarang, jangan lagi…” bisiknya lirih. Ia menunduk, menempelkan telapak tangan di dada, mencoba mengatur napas. semakin ia mencoba tenang, semakin jelas bau pandan itu menusuk inderanya. Deg. Deg. Jantungnya berdetak kencang. Sebelum ia sempat membuka pintu ... BRAKKKK! Suara keras menghantam pintu toilet dari dalam. Seperti ada yang memukulnya dengan tenaga penuh. Daun pintu berguncang hebat, membuat Raina hampir terjerembab mundur. Matanya membelalak, tubuhnya membeku di tempat. BRAKKKK! Suara itu terdengar lagi, lebih kencang, membuat gagang pintu berguncang. Seolah ada sesuatu atau seseorang di dalam, mencoba menerobos keluar. Raina terhuyung mundur, punggungnya menempel pada dinding lorong. Tangannya gemetar, tak sanggup bergerak. Bau pandan semakin pekat, menusuk hidung hingga membuatnya mual. “Ya Allah… tolong…” bisiknya, hampir menangis. Lorong hening. Tak ada suara lain. Hanya pintu toilet yang barusan berguncang keras, kini perlahan diam. Ketenangan itu justru lebih menakutkan. Raina menatap pintu toilet dengan wajah pucat, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia ingin lari, tapi kakinya berat seperti dipaku ke lantai. Pada detik itu ... Dari celah bawah pintu toilet, tampak samar… bayangan sepasang kaki. Diam. Berdiri menghadap ke arah pintu. Raina menahan napas. Tubuhnya hampir limbung. "Siapa yang ada di dalam? Bukankah tadi toilet kosong…?" BRAKKKK!!! Pintu toilet kembali bergetar keras. Raina menjerit tertahan, lalu dengan sekuat tenaga ia berlari meninggalkan lorong itu, tak berani menoleh ke belakang. Raina berlari terbirit-birit meninggalkan lorong toilet. Nafasnya tersengal, kakinya seakan tidak menyentuh lantai. Ia tak berani menoleh, hanya ingin menjauh sejauh-jauhnya dari pintu toilet yang barusan berguncang hebat. Karena terlalu panik, langkahnya terhenti mendadak ketika tubuhnya menabrak sesuatu. “Eh, astaghfirullah! Rai, hati-hati dong!” suara berat itu membuatnya terperanjat. Tubuh Raina hampir terpelanting, untung Bang Yudis dengan sigap menahan bahunya. Kamera kecil yang disampirkannya di bahu hampir jatuh, namun segera ia betulkan. Raina menatapnya dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak, nafasnya memburu seperti habis lari maraton. “Lho, kamu kenapa? Kayak lihat hantu aja,” tanya Bang Yudis heran, matanya meneliti wajah Raina yang jelas-jelas ketakutan. Namun Raina tidak menjawab. Bibirnya bergetar, tapi suaranya tak kunjung keluar. Hatinya masih digelayuti rasa ngeri. Bayangan sepasang kaki di bawah pintu, bau pandan yang pekat, dan dentuman keras seolah ada yang berusaha menerobos keluar. “Rai?” Bang Yudis memanggil lagi, kali ini lebih lembut. “Kenapa? Ada apa di toilet?” Raina menggeleng cepat, lalu menunduk. “Nggak… nggak apa-apa, Bang.” Ia tidak punya cukup tenaga untuk menjelaskan. Lagipula, siapa yang bakal percaya kalau ia bilang pintu toilet dihantam keras dari dalam? Orang-orang pasti menganggapnya berlebihan. Bang Yudis menatapnya ragu, tapi akhirnya hanya menghela napas panjang. “Ya sudah, hati-hati ya. Jangan lari-lari gitu lagi. Aku pulang dulu.” Raina mengangguk pelan, meski tubuhnya masih gemetar. Ia buru-buru masuk ke studio, menutup pintu dengan cepat seolah itu bisa melindunginya dari ketakutan yang baru saja ia alami. Di dalam studio, suasana hening menyambut. Lampu meja menyala redup, monitor menampilkan gelombang suara lagu yang sedang diputar. Raina merosot ke kursinya, memegangi dadanya yang berdetak tak karuan. Tangannya gemetar hebat hingga headset yang hendak ia pegang nyaris terjatuh. Ia merasa tidak sanggup sendirian. Perasaan ngeri itu terlalu kuat. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel. Jari-jarinya mencari satu nama yang selalu bisa diandalkan, Adrian. Telepon tersambung. Suara Adrian terdengar, sedikit bising di latar belakang. “Halo, Rai? Kenapa? Suaramu kok panik gitu?” ***Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m
Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat
Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik
Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li
Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.
Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar







