Chapter: Extra Part 3 – Happy Ending Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela rumah mereka. Suara tawa anak-anak memenuhi ruang tamu, berbaur dengan aroma bubur hangat dan roti panggang yang sedang disiapkan Gian. Afie duduk di sofa, perutnya yang sudah membesar akibat kehamilan pertama menonjol lembut. Ia menatap pemandangan itu, hatinya terasa hangat seperti musim semi yang lembut. “Mas Gian… kau benar-benar hebat,” bisik Afie, matanya menatap suaminya penuh cinta. Gian sedang sibuk menyiapkan sarapan, mengenakan celemek bergambar karakter kartun favorit anak-anak mereka, tampak serius tapi lucu. “Hebat? Ah, aku lebih dari hebat! Aku adalah kepala keamanan keluarga sekaligus koki profesional rumah tangga!” Gian menjawab dengan nada bangga sambil menuang jus jeruk ke gelas. Afie terkekeh, matanya berbinar. Ia merasa hidupnya kini lengkap dari badai panjang yang dulu menimpa hidupnya, kini mereka memiliki rumah yang penuh cinta, tawa, dan warna. Anak-anak mereka, Bian, si kakak laki-laki yang ene
Terakhir Diperbarui: 2025-11-03
Chapter: Extra Part 2– Pelangi BaruPagi itu, sinar matahari masuk lembut melalui jendela kamar mereka. Afie bangun perlahan, tangan terletak di perutnya yang mulai membulat, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Ah… aku masih tidak percaya,” gumamnya sendiri. “Benar-benar… ada kehidupan kecil di sini.” Gian, yang sudah berada di dapur, menoleh begitu mendengar suara Afie. Matanya berbinar, senyum tak bisa disembunyikan. Segera ia melangkah cepat ke kamar, tangan mengambil piring sarapan yang baru selesai ia buat. “Kau bangun, sayang?” tanya Gian sambil meletakkan piring di meja samping tempat tidur. “Aku buatkan sarapan favoritmu, telur orak-arik, roti gandum, dan jus jeruk.” Afie terkekeh. “Gian… kau benar-benar protektif sejak aku bilang aku hamil, ya?” Gian mengangkat bahu dengan senyum polos, tapi tatapannya penuh arti. “Protektif? Tentu saja! K
Terakhir Diperbarui: 2025-11-03
Chapter: Extra Part 1 – Akhirnya Setelah BadaiPagi itu, udara di sekitar rumah keluarga Afie terasa hangat dan damai.Matahari memantul lembut di kaca jendela, menembus tirai tipis yang sedikit bergoyang karena angin pagi. Aroma bunga segar memenuhi ruang tamu, berpadu dengan wangi kue dan kopi yang baru diseduh. Semua terasa biasa, tapi bagi Afie, hari itu istimewa.Ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun putih sederhana dengan hiasan renda halus di lengan dan leher. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi sedikit bunga lily putih. Setiap kali ia menatap bayangannya sendiri, ada rasa hangat yang mengalir di dada campuran antara gugup, bahagia, dan lega.Badai panjang itu sudah berlalu, batinnya. Semua luka masa lalu, semua kesalahan yang membuatnya rapuh, semua ketidakpastian yang menahan hatinya selama ini, kini terasa jauh.Di ruangan lain, Gian juga bersiap dengan jas hitam rapi. Tangan kanannya menggenggam kaku buket bunga lily putih,
Terakhir Diperbarui: 2025-11-03
Chapter: Bab 154 - Siapa Yang Kau Tangisi MasBandara sore itu ramai luar biasa. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah tergesa, koper berderak di lantai, dan pengumuman penerbangan bergema dari pengeras suara.Namun bagi Gian, semua itu terasa jauh, seolah-olah ia hidup di dunia yang berhenti berputar.Suara tawa, dering ponsel, bahkan aroma kopi dari kedai di sudut terminal tak mampu menembus dinding kehampaan yang menyelubungi hatinya.Dunia di sekelilingnya penuh warna, tetapi dalam dirinya hanya ada satu nama yang bergema tanpa henti Afie.Ia duduk di ruang tunggu, di kursi panjang yang menghadap ke landasan pacu. Sinar matahari sore memantul di kaca besar di depannya, menyorot wajah yang lelah dan mata yang sembab.Tubuhnya sedikit menggigil, bukan karena udara dingin dari pendingin ruangan, melainkan karena guncangan emosi yang menumpuk terlalu lama.Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan. Setiap suara pengumuman keberangkatan yang menyebut kota tujuan membuat jantun
Terakhir Diperbarui: 2025-11-03
Chapter: Bab 153 - Melepas Di Bandara Beberapa hari terakhir, hati Afie tak pernah benar-benar tenang. Malam-malamnya selalu diisi dengan kecemasan yang tidak bisa dijelaskan.Kabar tentang Gian yang mulai lelah menunggu, bahkan sempat menangis, terus terngiang di telinganya seperti gema yang enggan menghilang.Ia duduk di balkon apartemennya, menatap langit malam yang bertabur bintang.Di tangannya, secangkir teh melati yang sejak setengah jam lalu tak disentuh. Uapnya sudah menipis, namun pikirannya justru semakin pekat.Afie menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia meyakinkan diri bahwa keputusannya untuk menjaga jarak adalah yang terbaik.Ia pikir, dengan menjauh, waktu akan mengajarkan Gian untuk memahami batasan, untuk melepaskan.Tapi ternyata, semakin jauh ia mencoba pergi, semakin kuat bayangan tatapan sendu Gian menghantui setiap langkahnya.Ada hal yang tak bisa ia pungkiri, setiap kali mendengar namanya disebut, dadanya terasa hangat sekaligus nyeri
Terakhir Diperbarui: 2025-11-02
Chapter: Bab 152 - Gelisah Hari-hari setelah pertemuan di taman terasa berjalan begitu lambat bagi Gian.Setiap menit yang berlalu seolah menuntut kesabaran yang tak pernah ia miliki.Ia sudah berjanji pada Afie untuk menunggu, tapi ternyata menunggu jauh lebih melelahkan daripada apa pun yang pernah ia alami.Setiap pagi, begitu membuka mata, bayangan Afie langsung hadir dalam benaknya.Wanita itu bukan hanya seseorang yang ia cintai, Afie sudah menjadi bagian dari napas, dari hidup yang tak bisa ia lepaskan begitu saja.Setiap kali Gian mencoba mendekat, jarak itu seperti dinding tak kasat mata, ada, namun tak bisa ditembus.Ketika datang ke kantor atau sekadar mengintip dari jauh, pemandangan yang ia lihat selalu sama.Afie duduk di balik meja kerja dengan ekspresi serius, tenggelam dalam tumpukan dokumen.Kadang ia berdiskusi dengan Ryan, kakaknya, kadang berbicara dengan para paman tentang strategi perusahaan.Afie terlihat begitu fokus, begi
Terakhir Diperbarui: 2025-11-02

Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam
Setiap pukul nol nol dini hari, studio radio tempat Ardian Sagara dan Raina Mahesa bekerja dipenuhi aroma pandan yang lembut dan aneh, karena tak seorang pun membawa bunga atau daun pandan.
Awalnya mereka mengira hanya halusinasi karena lelah siaran malam. Namun ketika suara perempuan samar menyusup lewat setiap kesempatan dan menyebut satu nama “Mei Lin...” hidup Ardian tak pernah sama lagi.
Aroma itu bukan sekadar wangi. Ia adalah panggilan dari arwah seorang gadis Tionghoa yang mati tragis dua puluh tahun lalu, terkubur tanpa nama di taman liar tempat pandan tumbuh. Mei Lin tak ingin menakuti siapa pun, ia hanya ingin ditemukan dan dimakamkan dengan layak. Tapi untuk mencapainya, ia mengikat nyawa gadis yang disukai Ardian sebagai jaminan. Demi menyelamatkan keduanya, Ardian harus menelusuri misteri masa lalu yang kelam. ritual keluarga, perjanjian darah, dan sebuah cermin yang menjadi penjara arwah.
Di antara bisikan malam dan suara siaran yang tak pernah berhenti, Ardian belajar satu hal, tidak semua arwah datang untuk menakuti, sebagian datang untuk menuntaskan kisah yang belum sempat diakhiri.
“Dan malam itu, di balik aroma pandan yang lembut, suara itu berbisik... "Tolong, selamatkan aku.’” Bagaimana ceritanya, yuk baca terus novelnya hingga tamat.
Happy Reading
Baca
Chapter: Bab 139 Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m
Terakhir Diperbarui: 2025-12-21
Chapter: Bab 138 Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat
Terakhir Diperbarui: 2025-12-21
Chapter: Bab 137 Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik
Terakhir Diperbarui: 2025-12-21
Chapter: Bab 136 Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li
Terakhir Diperbarui: 2025-12-21
Chapter: Bab 135 Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.
Terakhir Diperbarui: 2025-12-20
Chapter: Bab 134 Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar
Terakhir Diperbarui: 2025-12-20
Chapter: Bab 190 - Ending Anaya duduk di sofa ruang tengah, matanya tak lepas menatap Raka yang sedang menimang Raya.Bayi kecil mereka yang baru beberapa minggu lahir tampak nyaman di pelukan ayahnya. Setiap kali Raka berbicara lembut, bayi itu tampak menenangkan diri.Anaya tersenyum, merasa hangat sekaligus terharu melihat suaminya yang dulu dikenal serius dan kadang kaku, kini berubah total menjadi ayah yang penyayang, sabar, dan lembut.“Mas… makasih ya udah jadi papa terbaik buat Raya,” bisik Anaya pelan, suaranya hampir tercekat oleh perasaan haru.Raka menoleh, wajahnya yang biasanya penuh tawa kini serius tapi hangat.“Sayang… aku cuma ngelakuin apa yang aku rasain. Aku nggak bisa bayangin kalau nggak ada aku di samping kalian berdua,” jawabnya sambil menepuk lembut kepala Raya.Anaya menunduk, memandang suaminya dengan mata berbinar. Ia merasa jatuh cinta lagi, tapi kali ini cintanya lebih dalam dan tenang.Setia
Terakhir Diperbarui: 2025-12-20
Chapter: Bab 189 - Kebahagiaan Sebagai OrangtuaMalam itu sunyi, hanya terdengar suara angin dan detak jam dinding di kamar Raya.Matahari sudah lama tenggelam, tapi bagi Raka dan Anaya, malam masih penuh dinamika. Tepat tengah malam, suara tangisan kecil dari kamar bayi terdengar.Kali ini bukan tangisan biasa Raya bangun dengan suara yang nyaring, menandakan ingin sesuatu.Raka yang sudah berpengalaman beberapa malam terakhir langsung duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang masih sedikit mengantuk.“Tenang, Sayang… Papa siap,” gumamnya pada Anaya yang ikut terbangun. Anaya masih setengah terpejam, rambut acak-acakan, tapi matanya berbinar menatap suami.Dengan sigap, Raka mengambil bayi mungil itu dari crib. Raya yang masih merengek digendongnya dengan hati-hati.“Sabar ya, Nak… papa udah jago sekarang,” kata Raka sambil menepuk punggung Raya lembut.Anaya tertawa kecil dari samping.“Mas… serius jaga? Aku takut liat
Terakhir Diperbarui: 2025-12-20
Chapter: Bab 188 - Cucu Pertama Keluarga AnayaSuasana di rumah Raka terasa hidup sekali pagi itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyoroti ruang keluarga yang dipenuhi mainan bayi, boneka, dan selimut lembut.Raya, bayi perempuan mungil yang baru berusia beberapa bulan, tengah terbaring di bouncer-nya, matanya yang bulat mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu.Anaya duduk di sofa, masih sedikit mengantuk tapi tersenyum lembut melihat tingkah anaknya. Ia mengusap lembut rambut Raya, yang sesekali menggerakkan tangan mungilnya seolah ingin meraih dunia.“Tuh kan, manis banget,” kata Anaya sambil tersenyum,“kayak mamanya, polos dan lugu.”Raka yang duduk di sampingnya ikut tersenyum, tapi matanya tak bisa lepas dari bayi mungil itu.“Iya, tapi jangan lupa, dia juga ada darah bandel papanya,” godanya sambil mengedip nakal ke arah Anaya.Belum sempat Anaya menanggapi, terdengar ketukan di pintu. Mama Anaya masuk dengan senyum lebar, diikuti Papa Anaya yang tampak b
Terakhir Diperbarui: 2025-12-20
Chapter: Bab 187 - Cicit KesayanganMalam itu, rumah Raka–Anaya tampak semakin hidup dari biasanya.Lampu-lampu hangat menyoroti ruang tengah yang penuh dengan tawa, suara canda, dan aroma makanan ringan yang baru saja disiapkan oleh Bik Onah.Di tengah keramaian, Opa Hartono berdiri sambil menggendong Raya dengan penuh perhatian. Tangannya yang sudah keriput namun lembut itu menahan tubuh kecil bayi perempuan mereka, sementara matanya menatap penuh kasih sayang.“Cicit sayang…” suara Opa terdengar lembut namun bersemangat, seolah bayi mungil itu benar-benar mengerti setiap kata yang diucapkannya.“Kamu harus tau ya… karena campur tangan Opa, mama dan papamu bisa bersatu. Jadi, kamu lahir di keluarga yang penuh cinta ini.”Raka berdiri di samping, menatap ayahnya dengan wajah setengah geli, setengah terharu.“Opa… jangan terlalu lebay. Nanti Raya jadi terbiasa sama drama keluarga besar kita,” ujarnya sambil terseny
Terakhir Diperbarui: 2025-12-19
Chapter: Bab 186 - Opa MendominasiMalam itu suasana di rumah Hartono terasa hangat luar biasa.Lampu gantung di ruang keluarga menyala lembut, memantulkan bayangan hangat ke dinding, sementara aroma kue hangat dari dapur membuat semua orang merasa nyaman.Opa Hartono duduk di sofa, Raya kecil dalam pelukannya, tertawa kecil sambil mengangkat tangan mungilnya.“Nah kan… berkat opa, kalian punya cicit cantik sekarang!” serunya dengan suara keras namun hangat.Tawa lebar langsung pecah di seluruh ruangan. Raka yang duduk di samping Anaya ikut tersenyum lebar, memandang putrinya yang lucu sambil menggeleng.“Opa… keterlaluan deh. Tapi… iya, makasih, Opa,” Anaya berkata, pipinya memerah.Bik Onah dan sopir yang biasa ikut menjaga rumah pun ikut tertawa. Mereka melihat Raka dan Anaya yang sibuk bergantian menatap Raya, sementara Opa sesekali menggelitik pipi cucunya.“Aduh, lihat ini, imut banget! Opi seneng banget!” Opa berseru sambil tertawa ngakak.Raka menghela n
Terakhir Diperbarui: 2025-12-19
Chapter: Bab 185 - Buka RahasiaSuasana sore itu begitu hangat. Matahari mulai condong ke barat, menebarkan cahaya keemasan melalui jendela ruang keluarga besar, sementara tawa dan obrolan hangat masih mengisi udara.Raya tidur di gendongan Anaya, yang duduk di sofa dengan Raka di sampingnya.Semua anggota keluarga berkumpul, mulai dari Opa Hartono dan Ibu, hingga Pak Herlambang dan Bu Nia, orang tua Anaya. Bahkan sepupu-sepupu Raka ikut menyela dengan komentar kocak mereka.Tiba-tiba, Opa Hartono yang sejak tadi duduk sambil menimang Raya berdiri dan menepuk tangan.“Baiklah, sepertinya momen ini tepat untuk aku buka rahasia lama,” ujarnya sambil tersenyum misterius. Semua mata tertuju padanya, termasuk Raka dan Anaya yang saling berpandangan, penasaran.Ibu Hartono menimpali dengan senyum kecil,“Iya, ini sebenarnya sudah lama ingin kami ceritakan. Semuanya bermula dari ide gila Opa…” Suara Ibu sedikit serak menahan tawa, membuat semua oran
Terakhir Diperbarui: 2025-12-18

Bos Galak, I Love U
Blurb :
Nizam Respati Anwar, CEO Niaga Perkasa dikenal sebagai pria dingin, galak, dan anti perempuan. Di perusahaannya, tak ada satu pun wanita di lingkar kepercayaannya. Semua asistennya laki-laki. Tak ada ruang untuk perasaan, apalagi cinta.
Sampai Inara Prameswari datang.
Sebagai karyawan baru di bawah kepemimpinannya, Inara seharusnya hanya menjadi nama lain dalam daftar staf. Namun tanpa disadari Nizam, kehadiran gadis itu membangkitkan kenangan lama tentang Nana, gadis kecil di masa lalu yang lembut, ceria, dan selalu menemaninya di hari-hari paling sepi.
Senyum Inara, caranya peduli, dan ketulusan yang tak dibuat-buat perlahan meruntuhkan dinding es di hati Nizam yang telah lama membeku. Perasaan itu ia sembunyikan rapat-rapat, di balik sikap dingin dan amarah yang justru semakin sering muncul.
Apakah Inara mampu bertahan menghadapi bosnya yang terkenal galak dan tak tersentuh?
Ataukah justru ia yang akan menaklukkan gunung es bernama Nizam Respati Anwar dan menyembuhkan luka lama yang tak pernah sembuh?
Sebuah kisah cinta kantor tentang bos dingin, gadis hangat, dan perasaan yang tumbuh diam-diam.
Baca
Chapter: Bab 7 # Kembali ke Setelah AwalHAH?!” “Turki loh, Nar!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Baik banget sih.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Inara?” “Iya, Mas.” “Kamu kenapa suaramu sengau?” “Aku flu.” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07
Chapter: Bab 6 # Yang Tak Terucapkan“Zam… itu bukan Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan… nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab. Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 5 # Di Bawah Bulan yang SamaFamily gathering Niaga Perkasa akhirnya terlaksana sesuai rencana. Area perkemahan yang luas di kaki perbukitan itu dipenuhi tenda-tenda karyawan yang berdiri rapi, berjajar seperti barisan kecil penuh harapan. Tawa dan suara riuh bercampur dengan aroma tanah basah dan asap api unggun yang mulai menyala satu per satu. Di bagian yang sedikit lebih tinggi, agak terpisah dari keramaian, berdiri satu tenda berwarna gelap. Tenda itu milik Nizam Respati Anwar. Sejak kecil, Nizam memang terbiasa dengan jarak. Bahkan saat berkemah. Tempat itu mengingatkannya pada halaman rumah masa kecilnya, tempat ia sering memasang tenda kecil bersama Nana. Mereka tidak pernah membawa peralatan lengkap. Tidak ada matras mahal atau lampu gantung. Hanya tikar tipis, beberapa makanan ringan, kue-kue dari rumah, dan segenggam permen manis yang selalu Nana simpan di saku bajunya. Namun justru di situlah tawa paling jujur pernah lahir. Di dalam tendanya, Nizam bisa mendengar sorak-sorai karyawan yang sedan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 4 # Aura yang MengusikDi rumah orang tuanya, Nizam duduk dengan punggung tegak. Suasana ruang keluarga terasa hangat, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Ia berusaha menghormati keinginan papa dan mamanya, tapi ada batas yang ingin ia jaga. “Pa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Apa tidak terlalu dini kalau kita langsung bicara soal pertunangan?” Papa menatapnya lama. “Zam, Papa pikir kamu sudah waktunya memikirkan dirimu sendiri. Papa lihat kamu tidak pernah ada inisiatif mendekati perempuan. Kamu masih normal, kan?” Nizam menghela napas pelan. “Pa… bukan begitu. Nizam hanya belum siap berkomitmen. Nizam ingin fokus bekerja dulu.” Mamanya tersenyum lembut, mencoba menengahi. “Pelan-pelan saja. Anggap penjajakan. Saling mengenal.” “Ya,” sambung Papa. “Papa dan Mama juga tidak memaksa.” Nizam mengangguk. “Kalau sebatas penjajakan, Nizam bisa terima. Tapi untuk bertunangan… sepertinya belum.” Papa tersenyum kecil. “Terserah kamu. Papa dan Mama ikut keputusanmu.” Nizam menghela napas
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 3 # Bos Galak yang PanikTubuh Inara ambruk tepat di depan mereka. “INARA!” Suara panik itu keluar lebih dulu dari mulut Nizam bahkan sebelum siapa pun sempat bergerak. Detik berikutnya, ruangan mendadak kacau. Bunga refleks menjerit, Dimas berdiri kaku dengan wajah pucat, Pak Seno langsung melangkah cepat, sementara Riza nyaris menjatuhkan map yang ia pegang. “Inara! Bangun!” Bunga mengguncang bahu gadis itu. Inara tak bergerak. Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan, napasnya sangat pelan. “Cepat panggil dokter!” perintah Nizam keras. Semua tersentak. Itu… Nizam Respati Anwar. CEO yang biasanya dingin, galak, dan anti kepanikan. kini suaranya meninggi, rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal kuat. “Jangan heboh!” lanjutnya. “Kalau karyawan lain tahu, semua bisa panik!” Pak Seno mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya hubungi dokter perusahaan sekarang.” “Riza!” Nizam menoleh tajam. “Bawa dia ke ruang istirahat saya. Sekarang.” Riza tidak bertanya. Ia langsung mengangkat tubuh Inara d
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 2 # Di Hadapan Bos GalakSelama hampir dua jam berdiri di sudut ruangan itu, Inara Prameswari merasa hidupnya sedang diuji habis-habisan. Jantungnya berdetak tak karuan sejak pukul delapan lima belas, sejak pintu ruang CEO tertutup di belakangnya dan suara galak pria itu menggema tanpa ampun. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Nizam Respati Anwar terdengar seperti palu yang menghantam satu per satu kepercayaan dirinya. Galak banget, itu satu-satunya kesimpulan yang berputar-putar di kepala Inara. Bagaimana bisa seorang CEO berbicara setajam itu? Nada suaranya dingin, tegas, dan sama sekali tak menyisakan ruang bagi rasa ragu atau rasa kasihan. Ia memotong jawaban kandidat lain tanpa ekspresi, mengoreksi dengan tajam, bahkan sesekali menyindir tanpa menurunkan volume suara. Inara berdiri mematung. Kakinya pegal bukan main. Berdiri dari jam delapan lima belas hingga hampir pukul sepuluh, dengan sepatu kerja yang sejak pagi sudah basah dan terasa dingin, membuat betisnya berdenyut nyeri. Belum lagi pikiran
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04