MasukAdrian terdiam. Otaknya masih mencoba mencari jawaban logis, tapi semakin sulit. Suara itu bukan mimpi, bukan ilusi. Keduanya mendengar hal yang sama.
Raina menghela napas panjang, lalu menatap Adrian dengan raut serius. “Yan, menurutmu… kita harus gimana? Apa… kita perlu nyari ustadz? Tanya, gitu. Tentang apa yang sebenernya kita alami ini.” Adrian mengusap wajahnya, termenung sebentar. Ia ingin bilang nggak perlu, tapi mulutnya kelu. Bagaimana bisa ia bilang semua ini kebetulan, kalau barusan ia sendiri jelas mendengar suara perempuan meminta tolong? “Kalau memang itu… sesuatu…” Raina ragu menyebut kata “hantu”. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu melanjutkan, “…kita kan nggak bisa hadapin sendirian. Aku takut, Yan.” Adrian menatapnya. Ada rasa iba melihat Raina begitu pucat dan gemetar. Ia tahu Raina bukan tipe orang yang berani, apalagi dalam hal gaib. Namun kali ini, Adrian pun sama takutnya. Ia akhirnya mengangguk. “Oke, Rai. Kita coba cari ustadz. Kalau nggak hari ini, besok. Aku juga pengen tau penjelasan sebenarnya.” "Pagi ini saja Yan, aku ada kenalan Ustadz deket kos an aku, kita tanya tanya beliau saja dulu yah" ajak Raina. Pagi itu sekitar jam 7.00 WIB, keduanya sepakat menemui seorang ustadz di rumahnya dekat kompleks kos Raina. Ustadz itu dikenal bijak, sering dimintai nasihat warga sekitar. Namanya Ustadz Fahmi. Mereka datang dengan wajah letih, mata sayu karena semalaman hampir tak tidur. Ustadz Fahmi menyambut dengan ramah, mempersilakan duduk di ruang tamu rumahnya yang sederhana. “Silakan, Nak Raina, Nak ...??? sambil melihat ke arah Adrian. "Adrian, Pak Ustadz" sambil menyalam tangan Ustadz Fahmi. "Baik Nak Adrian. Ayo silakan duduk. Oh ...ya, Ada apa pagi-pagi sudah datang begini? Wajah kalian pucat sekali.” Raina menatap Adrian sejenak, meminta isyarat siapa yang harus memulai cerita. Akhirnya, dengan suara bergetar, ia menceritakan dari awal tentang bau pandan di kantor setiap malam, tentang rasa merinding yang selalu datang bersamaan, tentang sosok bayangan yang sempat ia lihat di lorong absen. Adrian menambahkan pengalamannya, bagaimana ia mencium bau pandan di kos Raina, bagaimana ia bermimpi bertemu seorang perempuan cantik keturunan Tionghoa, hingga tubuhnya seakan ditindih tak bisa bergerak, dan terakhir suara samar minta tolong menjelang subuh tadi. Ustadz Fahmi mendengarkan dengan seksama. Tidak sekalipun ia memotong, hanya sesekali mengangguk dengan wajah serius. Setelah keduanya selesai bercerita, ustadz itu menarik napas panjang. “Anak-anakku,” ujarnya lembut. “Dalam Islam, kita diajarkan bahwa selain manusia, Allah juga menciptakan makhluk lain yang tak kasat mata, yang kita sebut jin. Mereka juga berkelompok, ada yang muslim, ada yang kafir, ada yang baik, ada yang jahat. Kadang, sebagian dari mereka bisa mengganggu manusia.” Raina menggenggam tangannya erat, tubuhnya tegang mendengarnya. Adrian menelan ludah. “Suara yang kalian dengar, bau yang kalian hirup, bahkan mimpi yang terasa nyata… bisa saja bagian dari gangguan jin. Mereka memang suka menakuti, suka membuat manusia ragu, takut, bahkan tergoda. Apalagi jika ada kelemahan di hati kita, takut berlebihan, lalai ibadah, atau jauh dari zikir.” Adrian mengangguk perlahan. Kata-kata ustadz itu masuk akal, tapi tetap menimbulkan rasa tidak nyaman. “Tapi, jangan buru-buru menyimpulkan. Bisa jadi ini hanya kebetulan. Bisa jadi hanya pikiran kalian yang terlalu was-was. Ingat, jin itu lemah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin Allah. Kalau pun ini benar gangguan, itu ujian agar kalian lebih mendekatkan diri pada-Nya.” Raina menatap ustadz penuh harap. “Terus, Ustadz… kita harus gimana?” Ustadz Fahmi tersenyum lembut. “Dekatkan diri kepada Allah. Perbanyak doa, perbanyak zikir. Jangan tinggalkan sholat. Bacalah Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, terutama sebelum tidur. Jika itu hanya kebetulan, insyaAllah akan berlalu. Tapi kalau memang ada hal lain… akan ada petunjuk yang Allah tunjukkan. Jangan takut. Karena yang harus kita takuti hanya Allah.” Raina menunduk, matanya berkaca-kaca. Ada rasa lega, tapi juga semakin banyak pertanyaan di hatinya. Adrian mengangguk. “Terima kasih banyak, Ustadz.” “Jangan lupa,” tambah Ustadz Fahmi, “Jangan sampai rasa takut kalian membuat kalian lupa. Setan akan semakin senang jika kalian sibuk takut, tapi lupa pada Allah. Itu tipu daya mereka.” Setelah mendapatkan nasehat dari Ustadz Fahmi, mereka pulang dengan perasaan campur aduk. Raina merasa sedikit lebih tenang, karena ada pegangan spiritual yang bisa ia jalani. Adrian, meski masih skeptis, mulai bisa menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata. Raina dan Adrian masih berada di kos Raina. Udara pagi menyapu lembut jendela kamar, sementara aroma teh dan kopi sisa semalam masih tersisa samar. Meski ketegangan tadi malam belum sepenuhnya hilang, keduanya mencoba menenangkan diri. Adrian duduk di sofa, masih teringat suara samar perempuan yang terdengar menjelang subuh, sementara Raina menepuk-nepuk tangannya sendiri, menenangkan jantung yang masih berdegup kencang. “Yan… kamu baik-baik saja?” tanya Raina, suara lembut tapi masih terdengar tegang. Adrian mengangguk, menatap kosong ke arah jendela. “Iya… cuma masih agak kaget sama suara tadi pagi. aku masih nggak ngerti… kenapa semua ini bisa terjadi.” Raina menunduk, menyandarkan punggung ke dinding. “Aku juga nggak ngerti sepenuhnya. setelah ketemu pak ustadz tadi, aku merasa sedikit lega. Setidaknya sekarang kita punya pegangan.” Adrian menghela napas, matanya menyapu ruangan. “Ya… setidaknya kita tahu, kalau ada sesuatu, kita harus mendekatkan diri sama Allah. Itu yang penting.” Raina tersenyum tipis, meski hatinya masih sedikit was-was. “Iya. aku mau ngomong sesuatu, Yan.” Adrian menoleh, penasaran. “Apa itu?” Raina menatap mata Adrian, suaranya menurun seperti berbisik. “Mulai sekarang… kalau aku siaran malam, aku pengen kamu nemenin aku sampai aku pulang ke kos. Aku takut kalau sendirian.” Adrian menahan tawa, menggeleng. “Hah? Masa aku harus nemenin terus? Makanya cari pacar, jangan mengandalkan aku terus. Aku kan juga ada urusan.” Raina tertawa pelan, matanya berbinar nakal. “Selama kamu dan aku masih jomblo, aku akan menyusahkanmu selamanya.” Adrian menoleh, tersenyum tipis. Dalam hatinya, rasa hangat tiba-tiba mengalir. Malam-malam horor yang mereka alami membuatnya sadar betapa berharganya Raina untuknya, meski ia belum berani mengungkapkan perasaan itu. Raina menepuk lengan Adrian, senyum nakalnya tetap tersisa. “Lihat saja, Yan. Aku bakal bikin kamu terbiasa. jangan salah paham… ini cuma buat senyum-senyum pagi kita.” Adrian menghela napas panjang, tersenyum tipis. “Ya udah, terserah kamu. Tapi jangan heran kalau aku bosan nantinya.” Raina tertawa, lalu mengajak Adrian ke luar menuju ke warung makan di deket kosnya. Pagi itu mereka menikmati sarapan bareng. Aroma roti bakar dan kopi masih hangat, bercampur wangi teh manis yang membuat pagi terasa nyaman. Sambil duduk di meja, Raina memesan dua porsi roti bakar, telur dadar, segelas kopi untuk Adrian, dan teh hangat untuk dirinya. Adrian hanya tersenyum, memperhatikan Raina yang sibuk memesan makanan. “Rai…” Adrian mulai, suaranya lembut. “Aku… tadi malam dan pagi ini… aku nggak ngerti kenapa bisa sampai begitu. Tapi setelah ketemu ustadz, aku merasa… kita harus sama-sama hati-hati. Jangan sampe kejadian itu bikin salah paham atau takut terus-menerus.” Raina mengangguk, menatap Adrian, lalu menunduk malu-malu. “Aku juga nggak enak, Yan. kamu nggak perlu terlalu mikirin aku. Aku akan belajar kuat dan nggak terlalu takut.” “Ya, tapi aku juga nggak bisa pura-pura nggak peduli,” jawab Adrian jujur. “Aku pengen kita saling jaga. Kalau kita berdua hati-hati, insyaAllah hal itu nggak akan ganggu kita lagi.” Raina tersenyum tipis, menatap ke arah makanan yang sudah tersaji. “Aku janji… nggak akan ngomong ke orang lain. Tapi tetap… aku pengen kamu nemenin aku kalau siaran malam. plese ya Yan, kalau kamu nggak mau aku mau minta pindah ke staff aja” Adrian tersenyum, mengangguk. “Baiklah… janganlah. Aku janji akan nemenin kamu.” Keduanya menuntaskan sarapan dengan ringan. Sambil sesekali bercanda, mereka membicarakan rencana kerja sore Raina dan rapat Adrian. Suasana pagi itu terasa hangat, jauh berbeda dari ketegangan semalam.. Raina menatap Adrian sebentar, matanya berbinar. “Ya udah, habis sarapan ini aku pulang yah, mau beres beres kos dulu, aku dinas jam tiga sore. Jangan lupa Yan hari ini kamu ada rapat dengan Tim Produksi Jam 10.00 WIB, dah buruan pulang, masih ada waktu 1,5 jam lagi.” Adrian menatapnya, tersenyum tipis, menahan perasaan yang belum ia ungkapkan. Adrian yakin malam-malam berikutnya pasti akan penuh tantangan, tapi pagi ini mereka masih bisa menikmati sedikit ketenangan bersama.. Meski rasa takut semalam masih tersisa samar, keduanya tahu satu hal, mereka lebih kuat jika saling menemani. Soal bau pandan itu? Entah mengapa, kehadirannya kini terasa seperti pengingat bahwa malam-malam misterius itu belum benar-benar selesai. Lepas maghrib di tempat kerja, Raina baru saja keluar dari Mushola melaksanakan sholat Maghrib sebentar, ia masih menyajikan instrument penanda untuk jeda sesaat. Baru saja keluar dari Mushola dan melewati lorong menuju studio siarnya, sesuatu kembali terjadi. Bau pandan itu muncul lagi. Samar, menyelinap lewat sela-sela lorong itu. Raina menghentikan langkahnya sesaat, tubuhnya kembali menegang. Lalu suara lirih itu kembali terdengar, lebih jelas dari sebelumnya. “…tolong aku…” Tubuh Raina membeku, kali ini suara itu terdengar seakan tepat di samping telinga. ***Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m
Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat
Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik
Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li
Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.
Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar







