Share

Bab 7

last update Huling Na-update: 2025-11-07 20:01:43

Sambungan telepon berakhir, meninggalkan Raina yang masih berusaha menstabilkan napasnya. Ia menatap sekeliling studio, memastikan dirinya aman.

Beberapa menit kemudian, suara pintu studio berderit pelan. Seorang pria bertubuh tambun masuk dengan raut wajah santai.

“Eh, Rai, gimana lancar semua siaran kita!” sapanya ceria.

Raina mendongak. “Boim, iya aman…”

Boim, penyiar pengganti malam itu, sudah tiba. Ia melepaskan jaketnya dan langsung duduk di kursi operator. Kehadirannya membuat beban di dada Raina sedikit berkurang. Setidaknya, kini ia tidak sendiri menunggu Adrian.

“Aku gantian siar ya, kamu udah capek banget kan? Wajahmu pucat banget, lagi sakit?” tanya Boim sambil memutar kursinya.

Raina tersenyum kaku. “Nggak, cuma… kurang tidur aja.”

Boim mengangguk, lalu menyalakan headsetnya.

“Ya udah, aku ambil alih deh. Kamu santai aja di sini. masih nunggu Adrian kan”

"He emm ...masih ngantri di POM dia"

Raina menghela napas lega. Ia duduk di pojok studio, mencoba mengalihkan pikiran sambil menunggu Adrian datang.

Boim, dengan suara khasnya yang renyah, mulai menyapa pendengar lewat udara.

Rasa takut itu masih membayangi. Bayangan kaki di bawah pintu toilet seolah menempel di benaknya, tak mau pergi.

Sekitar setengah jam kemudian, setelah memutar beberapa lagu, Boim membuka headsetnya sebentar.

“Rai, aku ke toilet bentar, ya, pantau in lagu, siapa tau vacum” katanya ringan.

"Oke im, aman"

Jantung Raina langsung mencelos. Ia refleks menoleh, ingin mencegah, tapi lidahnya kelu. Kalau ia bilang jangan ke toilet, Boim pasti curiga. Ia tidak mau dianggap aneh atau pengecut.

Raina hanya diam, menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya.

Boim pun keluar, menutup pintu studio.

Lorong kembali hening. Detik-detik terasa panjang. Raina duduk gelisah, menatap jarum jam yang seolah bergerak lambat.

"Ya Allah… semoga Boim nggak lihat apa-apa. Semoga aman…"

Beberapa menit kemudian, pintu studio terbuka lagi. Boim masuk sambil mengibaskan tangannya di depan Raina.

“Eh, Rai…” katanya dengan nada heran.

Raina menegakkan tubuhnya, matanya menatap penuh cemas.

“Kenapa, Im?”

Boim terkekeh.

“Wangi amat ya kamar mandi kita. Bukan kayak pengharum biasa. Aku pikir baunya lemon atau lavender… eh, malah pandan.”

Raina tercekat.

Jantungnya berdetak begitu kencang hingga rasanya memenuhi telinga.

Boim menambahkan sambil tertawa kecil,

“Aku tadi udah mikir, jangan-jangan ada yang masak bubur kacang di pantry. Hahaha. Tapi ini di toilet kok wangi pandan, aneh juga ya?”

Raina menelan ludah. Tangannya yang gemetar kini berusaha meremas ujung blazernya. Bibirnya ingin sekali terbuka, ingin bilang kalau tadi pintu toilet dihantam keras dari dalam. Kalau tadi ia melihat bayangan kaki yang berdiri diam di sana.

Tapi suara itu hanya tertahan di tenggorokan.

Boim menoleh lagi, masih santai.

“Kenapa? Kok mukamu pucat? Jangan bilang kamu juga cium bau pandan itu?”

Raina memalingkan wajah, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan suara hampir tak terdengar, ia bicara dengan suara pelan.

“Tadi… di toilet… nggak ada siapa-siapa kan Im. Cuma wangi pandan aja kan ya.”

"Iya, Wangi pandan Rai"

Raina masih terduduk di kursinya, wajahnya pucat pasi. Tangan yang sejak tadi berusaha ia tenangkan malah semakin gemetar. Suara Boim tadi masih terngiang di telinganya.

"Wangi amat ya kamar mandi kita, bukannya bau pengharum… eh malah bau pandan."

Jantung Raina seperti dipukul keras. Ia menelan ludahnya susah payah. Nafasnya terasa sesak.

“Boim…” suara Raina lirih, bergetar.

“Di toilet tadi… kamu nggak lihat ada siapa-siapa? Maksudku… orang lain selain kamu?”

Boim yang sedang membuka tas selempangnya menoleh heran.

“Hah? Nggak ada, Rai. Cuma aku. Lagian aku nggak lama juga di sana. Kenapa, emangnya?”

Raina menunduk cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya.

“Nggak, cuma nanya doang…”

“Kenapa sih mukamu tegang gitu?” Boim mencoba bercanda, menepuk pelan meja.

“Santai kali, Rai. Mungkin staf kebersihan pasang pewangi baru. Lagian bau pandan tuh enak kan, bikin laper malah.”

Raina tersenyum kaku. Senyum yang sama sekali tidak berhasil menutupi kegundahannya.

Dalam hatinya, ia tahu… bau pandan yang menyeruak itu bukan wangi biasa. Apalagi setelah kejadian pintu toilet dipukul keras tadi.

Beberapa menit kemudian, suara langkah cepat terdengar dari lorong. Raina mendongak.

Adrian muncul dengan wajah sedikit letih, tapi tetap ada rona cemas di matanya begitu melihat Raina.

“Rai…” Adrian memanggil, nadanya serius.

“Kamu kenapa pucet gitu?”

Raina hanya diam. Tatapan matanya kosong menembus meja studio.

Mereka berdua pamit kepada Boim dan mengajaknya pulang

"Im kita pulang duluan ya" pamit Adrian dan Raina.

"Okey, Hati hati ya, Istirahat Rai....muka kamu pucet banget tuh"

"Iya Im, makasih ya"

Adrian dan Raina meninggalkan studio dan menuju ke R4. sambil berjalan Adrian penasaran dengan apa yang terjadi.

“Rai… ada apa?” tanyanya lembut, jemarinya menyentuh punggung tangan Raina.

Raina menghela nafas panjang, lalu pelan-pelan mulai menceritakan apa yang ia alami sejak tadi sore.

Tentang bau pandan yang terus mengikuti. Tentang suara lirih minta tolong. Tentang pintu toilet yang seperti dipukul keras.

Ia bercerita terbata-bata, suaranya nyaris berbisik, tapi ekspresi wajahnya jelas sekali menunjukkan betapa syok dirinya.

Adrian mendengarkan tanpa menyela. Sesekali matanya menatap serius, alisnya mengernyit. Saat Raina selesai bercerita, Adrian menarik nafas panjang.

“Ya ampun, Rai…” gumamnya.

“Kenapa kamu nggak langsung telepon aku dari tadi?”

“Aku… aku nggak mau bikin keributan. Lagian ada Mbak Vega sama Bang Yudis juga…” jawab Raina pelan.

Adrian bangkit, meraih tas Raina yang sedang dipegangnya .

“Ya sudah, jangan difikirkan. Kita pulang aja sekarang. Aku nggak mau kamu sendirian lagi di kantor malam-malam kayak gini.”

Mobil Adrian melaju pelan membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan menyorot ke dalam kabin, menambah wajah pucat Raina semakin jelas terlihat.

Tangannya memegang perut, sesekali menggerak-gerakkan kaki gelisah.

Adrian melirik. “Kenapa? Kamu sakit perut?”

Raina menggigit bibir.

“Aku… kebelet pipis. Dari tadi. Tapi aku nggak berani ke toilet lagi…”

Adrian terdiam sejenak, lalu menepikan mobil di depan sebuah minimarket yang masih buka.

“Yuk, turun. Kamu bisa ke toilet di sini. Aman kok.”

Raina menatapnya penuh syukur.

“Makasih, Yan…”

Sebelum masuk, Adrian menggenggam tangannya.

“Aku tunggu di depan. Jangan takut.”

Beberapa menit kemudian, Raina keluar dari toilet minimarket dengan wajah sedikit lebih lega.

Meski begitu, kegelisahan masih terpancar di matanya. Adrian yang menunggunya di mobil langsung memperhatikan.

“Rai…” panggilnya pelan ketika mobil kembali melaju.

“Aku serius, lho. Kalau kamu ngerasa nggak nyaman siaran, mending kamu pindah aja ke staf. Aku bisa ngomong sama manajer. Aku nggak sampai hati lihat kamu kayak gini. Kayak orang… phobia pandan.”

Raina menoleh cepat, matanya melebar.

“Jangan bilang gitu. Aku nggak phobia. Aku cuma… takut. Aku nggak ngerti kenapa selalu bau itu yang muncul.”

Adrian menghela nafas, berusaha menenangkan.

“Ya sudah. Nanti kita pikirin sama-sama. Sekarang pulang dulu. kamu istirahat aja ya.”

Raina mengangguk pelan. Tak lama, mobil berhenti di depan kosannya. Adrian menunggu sampai Raina masuk ke dalam pagar, barulah ia memutar balik mobil menuju rumahnya sendiri.

Malam itu, setelah membersihkan diri, Adrian merebahkan tubuh di ranjangnya. Namun rasa kantuk tak kunjung datang. Bayangan wajah pucat Raina terus mengusik pikirannya.

Akhirnya, entah jam berapa, matanya mulai terpejam. Alih-alih tidur tenang, Adrian kembali terjebak dalam mimpi yang terasa begitu nyata.

Ia berdiri di tepi pantai, matahari sore merona jingga, angin laut berhembus hangat.

Di sampingnya, Raina tersenyum lebar, tampak begitu bahagia. Mereka berlari-lari kecil ke arah ombak, bermain air sambil tertawa.

Hati Adrian terasa damai melihat tawa Raina. Rasanya semua beban hilang.

Setelah puas bermain, mereka berjalan menyusuri pantai. Langkah kaki membawa mereka ke sebuah taman yang penuh bunga warna-warni.

Mawar, anggrek, melati, semuanya bermekaran indah. Raina berlari kecil, mengitari taman dengan wajah berbinar.

Adrian mengikuti, matanya tak lepas dari sosok gadis itu. Bahagia… sungguh Raina terlihat bahagia.

Ketika mereka sampai di ujung taman, Adrian tertegun.

Di hadapan mereka terbentang hamparan tanaman pandan raksasa. Daunnya tinggi menjulang, aroma khasnya memenuhi udara, berbaur dengan wangi bunga.

“Astaga…” Adrian berbisik.

Raina menatapnya, lalu tersenyum.

“Wanginya enak ya, Yan…” ucapnya lembut.

Adrian hendak meraih tangannya, tapi tiba-tiba tanah di sekitar hamparan pandan bergetar. Daun-daun besar itu bergerak seperti hidup. Dalam sekejap, akar-akar hitam mencuat keluar, melingkar ke arah kaki Raina.

“Raina!” teriak Adrian, panik.

Sebelum sempat ia menarik Raina, tubuh gadis itu tersedot masuk ke dalam hamparan pandan, seperti ditelan tanah.

“RAINA!!!” Adrian berteriak histeris, mencoba meraih tangan yang perlahan menghilang.

“Jangan! Aku nggak akan biarin kamu pergi! Raina… dengar aku! Tolong!”

Tangannya hanya menggenggam udara.

“Toloooooong!” jerit Adrian keras.

“Adrian! Adrian!”

Suara ketukan keras di pintu kamarnya terdengar samar. Adrian masih terperangkap dalam mimpi, tubuhnya berguncang.

Pintu akhirnya terbuka. Bimo, Teman se kosnya masuk, mengguncang tubuh Adrian yang penuh keringat.

“Yan! Bangun, Yan! Kamu mimpi buruk!”

Adrian tersentak, matanya terbuka lebar. Nafasnya terengah-engah. Jantungnya berdetak kencang, wajahnya basah oleh keringat dingin.

“Ra… Raina…” gumamnya dengan suara serak.

Bimo heran dan menatapnya cemas.

“Kamu kenapa sih? Dari tadi teriak-teriak, kayak orang ketakutan banget. mimpi buruk Yan”

Adrian menatap kosong ke langit-langit. Bayangan hamparan pandan dan suara jeritan Raina masih menempel di benaknya.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan, berbisik lirih…

“Kenapa semua ini selalu kembali ke… bau pandan?”

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 139

    Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 138

    Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 137

    Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 136

    Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 135

    Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 134

    Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status