Short
Mon mari mafieux doit un enfant à sa belle-sœur

Mon mari mafieux doit un enfant à sa belle-sœur

Par:  ShirleyComplété
Langue: French
goodnovel4goodnovel
8Chapitres
3.3KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Le Maître de la famille Moreau a été assassiné par une famille rivale, laissant derrière lui sa femme veuve, Irina. Son frère cadet, mon mari Gabriel, a pris sa place en tant que Maître de famille. Ce titre était assorti d'un devoir : assurer la pérennité de la lignée de Moreau en donnant un enfant à la veuve de son frère. « Adrienne est stérile depuis des années, c'est à Irina de faire ce qu'elle n'a pas pu faire, la famille Moreau ne peut pas être sans héritier. » La voix d'Isoline était pleine de mépris. Gabriel m'a serrée contre lui en murmurant des promesses. « Dès qu'Irina sera enceinte, je jure de ne plus jamais la toucher. » « Adrienne, tu es la seule que j'aime. » Trois mois, et il n'a pas mis les pieds dans notre chambre. Après qu'il m'ait ignorée devant tout le monde, choisissant Irina encore et encore, je suis finalement partie. J'ai pris ce qui m'appartenait et j'ai laissé une chose en partant : un test ADN. C'était mon dernier cadeau à Gabriel.

Voir plus

Chapitre 1

Chapitre 1

"Sayaaang… akhirnya, akhirnya kamu pulang!"

Tiba-tiba, dua lengan halus melingkar dari belakang dan mengunci pinggang Dimas.

Deg!

Sesuatu yang empuk menempel penuh di punggung Dimas. Wangi melati langsung tercium dari leher yang menempel di bahunya, lalu napas hangat menyentuh tengkuknya.

"Kok baru pulang sih, Mas?" Suara itu berbisik setengah mengantuk. "Aku nungguin dari jam tujuh sampai ketiduran di sofa. Katanya Jumat pulang cepet..."

Dimas membeku dengan satu tangan masih di colokan. Itu suara Laras. Rupanya, istri majikannya itu ketiduran di sofa rotan pojok gazebo, dan sekarang mengira punggung yang dia peluk adalah punggung suaminya.

Lengan Laras justru makin erat. Tangan kanannya naik pelan-pelan ke dada Dimas, lalu berhenti di situ dan meremas kaus Dimas yang tipis.

"Mas jahat banget. Aku udah dandan dari sore, tahu. Peluk aku sebentar aja, ya?"

"Napas, Dim. Napas," batin Dimas, padahal dadanya sudah naik-turun tidak karuan di bawah telapak tangan Laras.

Dimas menelan ludah dua kali sebelum suaranya keluar, serak dan pelan.

"Ma-maaf, Nya..."

"Loh?" Seketika, remasan di kaus Dimas terlepas.

Laras melepas pelukannya, lalu bangkit dan mundur dua langkah. Dimas pun buru-buru berdiri dan memutar badan.

Lampu bola-bola kuning masih menyala berderet di atas meja gazebo, sedangkan sofa rotan di pojoknya gelap karena tidak kena lampu.

Di bawah lampu bola-bola kuning itu, barulah Dimas melihat jelas penampilan perempuan yang barusan memeluknya. Istri majikannya yang berumur 29 tahun itu memakai gaun satin hijau zamrud dengan tali bahu yang tipis sekali. Potongan dadanya turun rendah, sehingga belahnya terlihat jelas tiap kali dia menarik napas.

Ulang tahun pernikahan? Lalu kenapa piringnya masih bersih begitu?

Agaknya tidak aneh juga, karena Nyonya Laras sendiri tampak kesepian, tak pernah disentuh suami. Jangankan disentuh, dikecup kening atau sekadar dipanggil dengan nada manja, sama sekali tidak pernah!

Wajah Laras memerah. Satu tangannya refleks menutup dada atas, meski itu tidak banyak membantu.

Sungguh, di mata Dimas, Nyonya Laras sangat cantik. Wajahnya teduh, alisnya tipis, hidungnya mancung, serta ada lesung pipi di kiri setiap kali dia tersenyum. Pun sekarang, dengan rambut yang berantakan bekas tidur dan gaun yang kusut di bagian perut, Nyonya Laras tetap tampak menawan.

Sayang beribu sayang, perempuan secantik Nyonya harus memiliki suami seperti Reza, majikan Dimas.

Laras menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya berguncang menahan tawa, sementara pipinya makin merah. "Ya ampun, Dim... Aku kira kamu Mas Reza. Lagian, kamu kok diam aja dari tadi aku pegang-pegang? Suka, ya?"

Telinga Dimas langsung panas sampai ke tengkuk. "Sa-saya cuma kaget!"

"Kaget kok jantungnya kenceng banget?" Laras melirik tangannya sendiri, lalu tertawa kecil. "Tadi kerasa, loh, di telapak tanganku. Deg-degannya kenceng banget."

"Itu... itu karena saya habis jongkok. Kalau jongkok kelamaan, darahnya naik semua."

Mendengar alasan itu, tawa Laras pecah lagi. Kali ini, dia sampai harus berpegangan ke tiang gazebo. "Ya udah, lain kali kalau aku salah peluk lagi, kamu langsung bilang, ya. Jangan nunggu sampai tanganku nyampe dada kamu dulu."

"I-iya. Lain kali saya langsung batuk."

Mendengar itu, Laras mengangkat alis. "Batuk? Kalau kamu batuk, aku malah ngira Mas Reza masuk angin, terus aku peluk makin kenceng."

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi karena tidak menemukan jawaban apa pun. Kedua tangannya makin rapat di depan celana, karena celananya belum juga longgar.

Sesudah itu, Laras merapikan tali gaunnya, lalu memutar badan setengah ke kiri dan ke kanan. "Menurut kamu, gaun ini kebuka banget, nggak? Aku belinya khusus buat malam ini, tapi dari tadi aku malu sendiri. Suka, nggak, sama gaunnya?"

"Su-suka... eh, bagus. Pasti Pak Reza suka." Dimas menjawab terbata-bata. Pasalnya, tali gaun yang dibuka membuat gaun itu agak kendur sedikit, sehingga tatapan mata Dimas langsung mengarah ke sana.

"Suka atau bagus? Yang jujur, dong."

Dimas menggaruk tengkuknya, sedangkan matanya tetap di lantai gazebo.

"Kamu aja tadi sampai nggak napas, apalagi Mas Reza, ya? Huft, moga aja Mas Reza suka sama gaunku."

Begitu nama suaminya keluar dari mulutnya sendiri, tawa Laras mereda. Matanya pindah ke meja, ke dua piring bersih dan lilin yang tinggal seruas jari itu, lalu senyumnya turun pelan-pelan.

"Udah jam berapa sekarang?"

"Jam sepuluh lewat. Tadi Bi Inah nyuruh saya matiin lampunya."

Laras mengangguk kecil, kemudian merapikan lipatan serbet yang sebenarnya sudah rapi. "Maaf ngerepotin kamu ya, Dimas. Suamiku entah ke mana, padahal aku sudah mempersiapkannya dari siang tadi."

Dari samping bangku, Dimas menjawab tanpa berani mengangkat kepala. "Loh, Nya, nggak masalah. Lagian, ini sudah tugas saya. Toh, saya kerja di sini jadi tukang kebun. Ini, colokannya tinggal saya cabut, terus..."

Belum sempat Dimas menyelesaikan ucapannya, deru mobil terdengar masuk ke garasi.

"Itu pasti Mas Reza." Laras langsung menegakkan punggung, lalu menarik tali gaunnya kembali ke bahu. Kain di perutnya dia usap dengan dua telapak tangan, kemudian dia setengah berlari menuruni tangga gazebo.

Tak lama, Reza keluar dari pintu samping garasi dengan kemeja biru yang tergulung sampai siku. Laki-laki 36 tahun itu berjalan ke pintu belakang sambil membaca ponsel, lalu melewati gazebo yang terang benderang tanpa menoleh sedikit pun.

Sungguh suami tak tahu diri!

Cepat-cepat, Laras menahan lengan suaminya di depan tangga gazebo. "Duduk sebentar aja ya, Mas. Sepuluh menit. Hari ini empat tahun kita nikah, aku udah siapin makan malam dari sore. Pliss, ikut ya, ngerayain sebentar aja..."

Reza menepis tangan itu, lalu bilang dengan suara datar bahwa dia capek kerja seharian dan rapat direksi sampai malam. Menurutnya, yang Laras bisa cuma menunggu di rumah, lalu menuntut perhatian begitu suaminya pulang. Dagunya kemudian menunjuk lilin dan kue di meja gazebo, disusul dengusan pendek.

Dengan suara yang hampir tidak keluar, Laras menjawab. "Aku cuma minta ditemani makan, Mas. Itu aja."

Plak!

Kepala Laras terlempar ke samping sampai bahunya membentur pegangan tangga gazebo. Rambutnya menutupi separuh wajah, sementara lampu bola-bola di atas meja ikut bergoyang.

"Dasar nggak becus! Istri lain, kalau suaminya pulang kerja, itu nyiapin suaminya istirahat. Kamu nyiapin lilin buat ngerengek samaku!" ucap Reza sambil mengibaskan tangan yang barusan dia pakai menampar.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.


Pas de commentaire
8
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status