Se connecterLe Maître de la famille Moreau a été assassiné par une famille rivale, laissant derrière lui sa femme veuve, Irina. Son frère cadet, mon mari Gabriel, a pris sa place en tant que Maître de famille. Ce titre était assorti d'un devoir : assurer la pérennité de la lignée de Moreau en donnant un enfant à la veuve de son frère. « Adrienne est stérile depuis des années, c'est à Irina de faire ce qu'elle n'a pas pu faire, la famille Moreau ne peut pas être sans héritier. » La voix d'Isoline était pleine de mépris. Gabriel m'a serrée contre lui en murmurant des promesses. « Dès qu'Irina sera enceinte, je jure de ne plus jamais la toucher. » « Adrienne, tu es la seule que j'aime. » Trois mois, et il n'a pas mis les pieds dans notre chambre. Après qu'il m'ait ignorée devant tout le monde, choisissant Irina encore et encore, je suis finalement partie. J'ai pris ce qui m'appartenait et j'ai laissé une chose en partant : un test ADN. C'était mon dernier cadeau à Gabriel.
Voir plus"Sayaaang… akhirnya, akhirnya kamu pulang!"
Tiba-tiba, dua lengan halus melingkar dari belakang dan mengunci pinggang Dimas.
Deg!
Sesuatu yang empuk menempel penuh di punggung Dimas. Wangi melati langsung tercium dari leher yang menempel di bahunya, lalu napas hangat menyentuh tengkuknya.
"Kok baru pulang sih, Mas?" Suara itu berbisik setengah mengantuk. "Aku nungguin dari jam tujuh sampai ketiduran di sofa. Katanya Jumat pulang cepet..."
Dimas membeku dengan satu tangan masih di colokan. Itu suara Laras. Rupanya, istri majikannya itu ketiduran di sofa rotan pojok gazebo, dan sekarang mengira punggung yang dia peluk adalah punggung suaminya.
Lengan Laras justru makin erat. Tangan kanannya naik pelan-pelan ke dada Dimas, lalu berhenti di situ dan meremas kaus Dimas yang tipis.
"Mas jahat banget. Aku udah dandan dari sore, tahu. Peluk aku sebentar aja, ya?"
"Napas, Dim. Napas," batin Dimas, padahal dadanya sudah naik-turun tidak karuan di bawah telapak tangan Laras.
Dimas menelan ludah dua kali sebelum suaranya keluar, serak dan pelan.
"Ma-maaf, Nya..."
"Loh?" Seketika, remasan di kaus Dimas terlepas.
Laras melepas pelukannya, lalu bangkit dan mundur dua langkah. Dimas pun buru-buru berdiri dan memutar badan.
Lampu bola-bola kuning masih menyala berderet di atas meja gazebo, sedangkan sofa rotan di pojoknya gelap karena tidak kena lampu.
Di bawah lampu bola-bola kuning itu, barulah Dimas melihat jelas penampilan perempuan yang barusan memeluknya. Istri majikannya yang berumur 29 tahun itu memakai gaun satin hijau zamrud dengan tali bahu yang tipis sekali. Potongan dadanya turun rendah, sehingga belahnya terlihat jelas tiap kali dia menarik napas.
Ulang tahun pernikahan? Lalu kenapa piringnya masih bersih begitu?
Agaknya tidak aneh juga, karena Nyonya Laras sendiri tampak kesepian, tak pernah disentuh suami. Jangankan disentuh, dikecup kening atau sekadar dipanggil dengan nada manja, sama sekali tidak pernah!
Wajah Laras memerah. Satu tangannya refleks menutup dada atas, meski itu tidak banyak membantu.
Sungguh, di mata Dimas, Nyonya Laras sangat cantik. Wajahnya teduh, alisnya tipis, hidungnya mancung, serta ada lesung pipi di kiri setiap kali dia tersenyum. Pun sekarang, dengan rambut yang berantakan bekas tidur dan gaun yang kusut di bagian perut, Nyonya Laras tetap tampak menawan.
Sayang beribu sayang, perempuan secantik Nyonya harus memiliki suami seperti Reza, majikan Dimas.
Laras menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya berguncang menahan tawa, sementara pipinya makin merah. "Ya ampun, Dim... Aku kira kamu Mas Reza. Lagian, kamu kok diam aja dari tadi aku pegang-pegang? Suka, ya?"
Telinga Dimas langsung panas sampai ke tengkuk. "Sa-saya cuma kaget!"
"Kaget kok jantungnya kenceng banget?" Laras melirik tangannya sendiri, lalu tertawa kecil. "Tadi kerasa, loh, di telapak tanganku. Deg-degannya kenceng banget."
"Itu... itu karena saya habis jongkok. Kalau jongkok kelamaan, darahnya naik semua."
Mendengar alasan itu, tawa Laras pecah lagi. Kali ini, dia sampai harus berpegangan ke tiang gazebo. "Ya udah, lain kali kalau aku salah peluk lagi, kamu langsung bilang, ya. Jangan nunggu sampai tanganku nyampe dada kamu dulu."
"I-iya. Lain kali saya langsung batuk."
Mendengar itu, Laras mengangkat alis. "Batuk? Kalau kamu batuk, aku malah ngira Mas Reza masuk angin, terus aku peluk makin kenceng."
Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi karena tidak menemukan jawaban apa pun. Kedua tangannya makin rapat di depan celana, karena celananya belum juga longgar.
Sesudah itu, Laras merapikan tali gaunnya, lalu memutar badan setengah ke kiri dan ke kanan. "Menurut kamu, gaun ini kebuka banget, nggak? Aku belinya khusus buat malam ini, tapi dari tadi aku malu sendiri. Suka, nggak, sama gaunnya?"
"Su-suka... eh, bagus. Pasti Pak Reza suka." Dimas menjawab terbata-bata. Pasalnya, tali gaun yang dibuka membuat gaun itu agak kendur sedikit, sehingga tatapan mata Dimas langsung mengarah ke sana.
"Suka atau bagus? Yang jujur, dong."
Dimas menggaruk tengkuknya, sedangkan matanya tetap di lantai gazebo.
"Kamu aja tadi sampai nggak napas, apalagi Mas Reza, ya? Huft, moga aja Mas Reza suka sama gaunku."
Begitu nama suaminya keluar dari mulutnya sendiri, tawa Laras mereda. Matanya pindah ke meja, ke dua piring bersih dan lilin yang tinggal seruas jari itu, lalu senyumnya turun pelan-pelan.
"Udah jam berapa sekarang?"
"Jam sepuluh lewat. Tadi Bi Inah nyuruh saya matiin lampunya."
Laras mengangguk kecil, kemudian merapikan lipatan serbet yang sebenarnya sudah rapi. "Maaf ngerepotin kamu ya, Dimas. Suamiku entah ke mana, padahal aku sudah mempersiapkannya dari siang tadi."
Dari samping bangku, Dimas menjawab tanpa berani mengangkat kepala. "Loh, Nya, nggak masalah. Lagian, ini sudah tugas saya. Toh, saya kerja di sini jadi tukang kebun. Ini, colokannya tinggal saya cabut, terus..."
Belum sempat Dimas menyelesaikan ucapannya, deru mobil terdengar masuk ke garasi.
"Itu pasti Mas Reza." Laras langsung menegakkan punggung, lalu menarik tali gaunnya kembali ke bahu. Kain di perutnya dia usap dengan dua telapak tangan, kemudian dia setengah berlari menuruni tangga gazebo.
Tak lama, Reza keluar dari pintu samping garasi dengan kemeja biru yang tergulung sampai siku. Laki-laki 36 tahun itu berjalan ke pintu belakang sambil membaca ponsel, lalu melewati gazebo yang terang benderang tanpa menoleh sedikit pun.
Sungguh suami tak tahu diri!
Cepat-cepat, Laras menahan lengan suaminya di depan tangga gazebo. "Duduk sebentar aja ya, Mas. Sepuluh menit. Hari ini empat tahun kita nikah, aku udah siapin makan malam dari sore. Pliss, ikut ya, ngerayain sebentar aja..."
Reza menepis tangan itu, lalu bilang dengan suara datar bahwa dia capek kerja seharian dan rapat direksi sampai malam. Menurutnya, yang Laras bisa cuma menunggu di rumah, lalu menuntut perhatian begitu suaminya pulang. Dagunya kemudian menunjuk lilin dan kue di meja gazebo, disusul dengusan pendek.
Dengan suara yang hampir tidak keluar, Laras menjawab. "Aku cuma minta ditemani makan, Mas. Itu aja."
Plak!
Kepala Laras terlempar ke samping sampai bahunya membentur pegangan tangga gazebo. Rambutnya menutupi separuh wajah, sementara lampu bola-bola di atas meja ikut bergoyang.
"Dasar nggak becus! Istri lain, kalau suaminya pulang kerja, itu nyiapin suaminya istirahat. Kamu nyiapin lilin buat ngerengek samaku!" ucap Reza sambil mengibaskan tangan yang barusan dia pakai menampar.
Gabriel a traversé la foule et s'est dirigé vers les marches.Toutes les caméras des journalistes sont braquées sur lui.« Maître Moreau ! Que répondez-vous à ces allégations ? »« Abandonnez-vous vraiment votre propre enfant ? »« La famille Moreau est-elle confrontée à une crise de succession ? »Gabriel les a tous ignorés.Il s'est approché d'Irina et l'a regardée de haut.« Ça suffit. »Sa voix n'était pas forte, mais elle a fait taire toute la foule.« Tu as fini ce spectacle ? »Irina a serré le bébé contre elle, la peur se lisant dans ses yeux.« Gabriel, j'essaie juste de donner à notre fils ce qu'il mérite... »« Ce qu'il mérite ? » Gabriel a ricané. « Un enfant que tu as engendré avec Christophe Roman. Dis-moi, qu'est-ce qui donne à son fils bâtard le droit d'utiliser mon nom ? »La foule a explosé dans une vague de halètements et de murmures.Les journalistes ont pris des photos avec frénésie.Le visage d'Isoline a pâli.« Gabriel ! Qu'est-ce que tu racontes ? »« Je dis la
La main de Gabriel s'est lentement dirigée vers l'arme qu'il portait à la taille.Le métal était froid et impitoyable.« Gabriel ! » Isoline a crié de terreur. « Qu'est-ce que tu fais ? »« Ce que j'aurais dû faire depuis longtemps. »Sa voix était d'un calme terrifiant.Irina a vu le mouvement et son visage est devenu tout blanc.« Tu n'oserais pas ! J'ai des preuves sur toute la famille Moreau ! »« Tu crois que je me soucie des preuves ? » Gabriel s'est mis à rire, d'un son creux et mort. « Adrienne est partie, il n'y a plus rien à perdre. »A ce moment-là, Antoine a fait irruption dans la pièce.« Maître ! Un convoi de véhicules du FBI s'approche du domaine ! »La main de Gabriel s'est figée.Il a regardé le sourire triomphant d'Irina et a lentement retiré sa main.« Tu as gagné », a-t-il dit, « mais ça ne va pas durer. »« Emmenez-la », a-t-il ordonné aux gardes, « donnez-lui de l'argent et sortez-la de Paris. »« Et faites en sorte que je ne la revoie jamais. »Irina a été escort
Entre-temps, j'avais déjà décollé quelques instants avant que l'avion ne s'écrase, atterrissant sain et sauf dans un tout nouveau monde.La nuit tombait sur le quartier des diamantaires d'Anvers.J'étais assise dans mon nouveau atelier, un diamant bleu sans défaut à la main.« Mlle Auffray », mon assistant, Henri, est entré, « votre première pièce est terminée. »Il a posé une boîte à bijoux exquise.A l'intérieur se trouvait un collier en platine avec un pendentif.Il était fait des mêmes rubis que ceux que j'avais pris dans le domaine des Moreau.« Excellent », ai-je dit en caressant le collier. « Renaître de ses cendres. »« Par ailleurs », Henri m'a tendu un chèque, « un collectionneur de London est très intéressé par vos créations, voici l'acompte. »Un million d'euros.Ma nouvelle identité, ma nouvelle carrière étaient florissantes. Je fusionnais les techniques anciennes de ma grand-mère avec la précision moderne, créant des pièces que le monde n'avait jamais vues.Entre mes main
Gabriel s'est levé brusquement de sa chaise, faisant entendre un rugissement : « Qu'est-ce que tu as dit ? »Il s'est jeté sur Antoine, l'attrapant par le col.« Tu mens ! »Le garde du corps a tremblé. « Nous venons de recevoir l'appel de l'ATC, l'avion d'Adrienne s'est écrasé au-dessus des montagnes, il a subi de fortes turbulences... ils disent que le fuselage s'est désintégré. Les services de recherche et de sauvetage sont en route, mais le site de l'accident se trouve sur un terrain accidenté. Monsieur... l'avion est tombé de trois mille pieds, il n'y a pratiquement aucune chance de survie. »La prise de Gabriel s'est relâchée et il s'est effondré dans son fauteuil.Le monde a tourné, sa vision s'est transformée en noir. « Non... Adrienne ! »C'était sa faute.Il l'avait laissée partir seule.Le jour de son anniversaire.Il s'est levé d'un bond et s'est précipité vers la porte.« Gabriel ! » Isoline s'est précipitée à l'intérieur, Irina à sa suite. « Tu ne peux pas partir ! Il s'a
Irina a pris lentement la main de Gabriel et l'a pressée doucement contre son abdomen gonflé.« Sens ça. »« Notre petit vient de me donner un coup de pied. Je me demande s'il n'est pas mécontent de quelque chose. »Les yeux de Gabriel se sont agrandis, tout son corps s'est tendu sous l'effet de l'e
Le lendemain matin, avant que le soleil n'ait complètement éclairé le domaine, j'ai entendu frapper brutalement à ma porte.« Isoline vous demande de vous présenter dans le salon, immédiatement. » a dit un garde, sur un ton qui ne laissait aucune place au refus.Je venais de sortir de la douche, mes
Le silence de la nuit a été rompu, la porte a été frappée avec frénésie, un garde a poussé un cri fort.« Maître ! C'est une urgence ! »Le nom d'Irina était clairement reconnaissable dans le bruit.Gabriel s'est levé du lit.« Qu'est-ce qu'il y a ? » Il a enfilé une chemise et a ouvert d'un coup se
Sur le grand hippodrome de Moreau, mon mari, Gabriel, prenait la veuve de son frère, Irina, dans ses bras et la laissait se blottir contre lui. Son ventre gonflé portait l'héritier qu'il avait été chargé de lui donner, c'était le fruit des nuits qu'il avait passées dans son lit, et non dans le mien


















Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.