Masuk
Di atas gunung yang tinggi dihuni oleh sekte terlemah di Benua Selatan yakni sekte Kongdang. Di mana pimpinan sekte tersebut telah menghilang secara misterius. Hanya putranya yang malang yang tetap berada di sana, yakni seorang pemuda bernama Zien Cheng.
Di saat semua murid sekte Kongdang mempelajari jurus penting masuk perguruan tinggi, seorang murid yang sedang melakukan hukuman menyapu halaman, memperhatikan setiap gerakan dengan detail. Dialah Zein Cheng. Zien Cheng dengan semangat menggunakan sapu sebagai pedang untuk turut berlatih.
"Heh, Zien Cheng! Menyapu yang benar!" tegur Paman Gong. Satu-satunya pengawas para murid yang paling kejam dan juga adik dari ayahnya Zien Cheng.
Buru-buru Zien menghentikan aksinya. Ia kembali menyapu dedaunan kering dengan serius. Sesekali melirik Paman Gong yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Aku sudah memperingatimu untuk tahu diri, Zien Cheng. Jangan melewati batas. Aku pastikan kau tak ada waktu untuk mempelajari ilmu penting masuk perguruan tinggi itu. Sampai kapanpun, kau akan menjadi murid rendahan di tempat ini!"
Zien Cheng mengeratkan pegangannya pada sapu yang terbuat dari bambu. Untuk kesekian kalinya ia menahan kuat-kuat gejolak amarah yang ada di hatinya. Jika melawan pun percuma. Luka pada tubuhnya hanya akan bertambah lebih banyak lagi.
"Maafkan aku, Paman Gong. Aku akan menyapu dengan serius," ujarnya sebelum melangkah pergi untuk menyapu tempat yang maaih kotor.
Zien Cheng kembali menyapu, tetapi matanya tetap melirik ke arah para murid yang berlatih. Ingin rasanya ikut berlatih bersama mereka. Hingga tiba-tiba Guru Hwang menoleh padanya.
"Kau yang menyapu di sana! Ke marilah!"
Zien Cheng mendongak kepalanya dengan antusias. Ia melirik Paman Gong yang hanya bisa diam dengan tampang merengut. Pria itu tak dapat melarangnya jika Guru Hwang sendiri yang memanggilnya. Buru-buru Zien Cheng menghampiri tempat latihan itu.
"Ada apa Guru memanggilku?" tanya Zien Cheng dengan sopan.
Guru Hwang menunjuk tempat di sampingnya. "Berdirilah di sini dan tunjukkan jurus yang telah kau pelajari sembari menyapu tadi."
Zien Cheng terkejut mendengar permintaan sang guru. Ia melirik wajah murid-murid yang saat ini sedang duduk bersila dengan tatapan sinis padanya. Namun, ia tak bisa melewatkan kesempatan ini.
"Baik, Guru," sahutnya menurut. Zien Cheng memberanikan diri untuk berdiri di hadapan para murid yang jumlahnya sekitar dua puluh empat orang.
Zien Cheng menampilkan senyuman pada wajah kucel itu untuk sekadar menyapa mereka. Namun, tak ada yang berminat membalas senyumnya. Maka Zien Cheng langsung memasang posisi kuda-kuda.
"Tak banyak yang aku pelajari karena aku melihatnya sambil menyapu. Tetapi aku dapat mengingatnya dengan baik dan mencoba menggabungkan dengan teknikku sendiri," ujarnya.
Zien Cheng pun memulai gerakannya dengan dengan cukup lincah, lalu memberikan sedikit gerakan yang ia ciptakan sendiri. Hingga jurus yang ia pelajari dari kejauhan tadi terlihat sangat menarik. Walau gerakan itu terlalu lemah, tetapi sangat detail jika diberi dorongan tenaga lebih banyak.
'Dia bisa menghafal gerakan jurus hanya dengan melihat sesekali. Walau fisiknya terlihat lemah, tetapi dia bisa melakukannya dengan detail' batin Guru Hwang.
Walau terkenal sebagai murid yang paling lemah fisiknya, tetapi daya ingat Zien Cheng tak dapat diragukan lagi. Hal inilah yang menjadi kewaspadaan murid yang lainnya.
"A-ah!" Zien Cheng tak dapat menahan beban tubuhnya sendiri. Hingga terduduk di lantai dengan cukup keras. Mengundang tawa puas para murid yang menonton.
"HAHAHAH!"
"Aku pikir dia sehebat itu. Aku hampir melongo. Tapi lihatlah si bodoh itu. Dia terjatuh tanpa tersandung apapun. Benar-benar lemah!"
"Hei, Zien Cheng! Makanlah dengan benar, baru bergabung dengan kami!"
"Dengan fisik lemahmu, kau bermimpi ingin ikut pergurungan tinggi? Aku rela membantu menginjak mimpimu itu. Hahaha!"
Guru Hwang tak pernah menghentikan pembulian seperti itu. Justru beliau ingin melihat bagaimana Zien Cheng merespons hinaan itu.
Zien Cheng yang tadinya bersimpuh di lantai, kini berdiri dengan cukup tegak menghadap mereka semua
"Tak ada yang salah dengan mimpiku. Fisik yang lemah bisa dilatih. Ilmu yang kurang bisa ditambah. Tapi mulut yang seringkali menghina, pada akhirnya akan menjadi sampah!" cetus Zien Cheng dengan mata yang berkaca-kaca.
Sontak saja perkataan itu membuat murid lain bergemuruh dadanya. Mereka ingin sekali menyerang Zien Cheng sekarang juga. Namun di depan mereka masih ada Guru Gong yang memperhatikan mereka.
"Apa yang dikatakan oleh Zien Cheng benar. Sebelum mempelajari ilmu lebih dalam lagi, seorang ksatria harus mempelajari ilmu kemanusiaan. Seorang Ksatria, Pendekar, bahkan seorang pemimpin harus bisa bersikap dengan bijaksana dan menjadi panutan. Mulut yang gemar menghina bukanlah pemilik jiwa Ksatria," tutur Guru Hwang sebelum pergi meninggalkan tempat latihan. Itu artinya, latihan telah berakhir.
Zien Cheng buru-buru melarikan diri dari tempat itu. Sudah pasti murid yang lain menaruh dendam pada dirinya akan kata-kata beraninya tadi.
"Astaga Zien ... apa yang telah kau katakan tadi. Jika mereka membalas dendam, maka habislah kau malam ini," keluh Zien Cheng merutuki dirinya sendiri sambil berjalan cepat menuju kediamannya.
Namun tiba-tiba ...
BRUK!
Zien Cheng terjerembab. Sebuah kain tiba-tiba mengurung kepalanya hingga Zien Cheng tak dapat melihat sekitar. Hingga pukulan keras menghantam tengkuknya. Zien Cheng ambruk seketika.
Zien Cheng tak tahu berapa lama ia pingsan dan di mana ia sekarang berada. Yang pasti, posisinya sekarang berdiri dengan tubuh terikat di sebuah pohon.
"S-siapa kau?! Apa yang kau lakukan padaku!" teriak Zien Cheng dengan tatapan meliar di dalam kain hitam itu.
Tiba-tiba seseorang menarik kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah tiga pemuda sekte Kongdang . Guan Feng, Chen Tian, dan Fang Xio.
"Apa yang kalian—engg!" Zien Cheng tercekat ketika Guan Feng mencekik lehernya dengan kuat. Wajah Zien Cheng memerah, matanya melotot, dan mulutnya sudah tak bisa mengeluarkan suara.
"Masih ingin bicara, HAH?!" bentar Guan Feng menyeringai. Ia kemudian melepas cengkraman itu.
Hhaaahhh! Hhaahhh!
Zien Cheng meraup udara dengan rakus sambil terbatuk-batuk. Ia nyaris menangis ketika melihat Chen Tian dan Fang Xio bersiap memukulinya dengan sebuah kayu.
"A-aku m-mohon ampuni aku. Apapunnhh apapun salahku aku mohon maafkan aku," ucap Zien Cheng penuh harap.
Sempat tercipta kelegaan di hati Zien Cheng ketika pengikat tubuhnya di lepas dari pohon. Namun, bukan untuk lepaskan dalam artian sebenarnya. Melainkan, untuk mempermudah mereka menyiksa Zien Cheng.
"SERANG!" seru Guan Feng semangat.
"ARRGGHH!" Zien Feng berteriak kesakitan ketika tubuhnya mulai dipukuli oleh tiga murid itu.
BUGH! BRUK! BUGH!
"ARRRGHHH! H-henti-kkann! Arrgh ....!"
Di bawah sinar rembulan yang redup, penyiksaan terhadap Zien Cheng terus berlangsung dengan sadis. Hingga ketika kesadaran Zien Cheng telah habis, salah satu dari mereka menyeret lengan Zien Cheng ke tepi jurang.
"Kau serius ingin membuangnya di sini, Guan Feng?" tanya Chen Tian.
"Tak ada tempat yang terbaik selain di jurang ini. Jurang yang terkenal angker ini adalah tempatnya binatang buas bersarang. Setidaknya si bodoh ini bermanfaat untuk binatang di bawah sana," ujar Guan Feng seraya melempar tubuh Zien Cheng ke bawah.
Zien Cheng terjatuh dalam keadaan fisik yang penuh luka dan hati yang meronta akan ketidakadilan. Malam itu menjadi malam yang sangat bersejarah. Tanpa ada yang tahu, jika tetesan darah Zien yang jatuh membangkitkan sesuatu yang telah lama terkubur di bawah sana.
Apa yang terjadi pada Zien Cheng selanjutnya?
Suara erangan bersahutan di lapangan utama. Di mana para murid sedang menahan beban batu cukup besar di punggung mereka dengan menumpu tubuh mereka menggunakan kedua tangan kanan jari-jari kaki. Satu per satu murid menyerah. Hingga batu di punggung mereka terguling ke tanah.Zien Cheng yang dulunya menjadi yang terlemah, kini menjadi salah satu murid yang bertahan menahan beban di punggungnya.Senior Bo berjalan santai dengan kedua tangan di belakang tubuh sambil memperhatikan murid-murid yang kewalahan. Ia tertawa remeh melihat tangan bergetar Peng Hao."Jangan fokus pada rasa lelahmu. Jika kau menganggap batu di punggungmu berat, maka tubuhmu akan merespons hal yang sama. Kau akan lebih cepat lelah dan ingin menyerah," kata Senior Bo.Zien Cheng yang mendengar kata-kata Senior Bo, mengangguk paham. Apa yang dikatakan Senior Bo sama seperti yang dikatakan oleh Guru Gong padanya. Zien Cheng memejamkan matanya. Ia kembali mengalirkan energi Qi dengan sempurna, hingga mampu meringankan
Zien Cheng baru saja kembali ke asrama ketika malam sudah larut setelah menghabiskan waktu latihan secara diam-diam di sungai yang sebelumnya ia datangi. Niatnya untuk ke kamar terhenti begitu melihat Tian Feng yang duduk menyendiri di luar kamarnya dengan raut wajah yang terlihat marah. Rasanya ingin Zien Cheng ingin menyapa, tetapi ia teringat bagaimana bencinya Tian Feng padanya. Hingga ia kembali ingin melewatinya saja."Kau tak melihat ada aku di sini?"Zien Cheng menoleh. "Ah, aku melihatmu. Tapi ... ada apa? Kau sendirian di luar kamar selarut ini?""Aku sedang bertengkar dengan dua makhluk keparat di dalam sana. Mereka benar-benar membuatku jengkel sehingga aku diusir oleh mereka. Aku keluar karena tak ingin harga diriku diinjak oleh mereka. Tapi ternyata udara malam dingin juga. Entah apakah aku bisa bertahan hingga esok atau tidak," tutur Tian Feng panjang lebar.Zien Cheng mengangguk paham. "Perlu aku berbicara dengan mereka? Sepertinya aku bisa membujuk mereka."Tian Feng
Zien Cheng sedang membersihkan dirinya di aliran air yang cukup deras. Tak jauh darinya ada Peng Hao yang mencoba ilmu menguatkan insting. Kemampuan Peng Hao memang di bawah Zien Cheng. Akan tetapi, kemampuan pemuda itu tak dapat diragukan. Meski ia hanya bisa menangkap sedikit demi sedikit ilmu yang sedang ia pelajari.Saat Zien Cheng memeras pakaiannya, ia menoleh ada suara-suara yang terdengar berdatangan ke arah mereka. Ternyata mereka adalah empat dari murid sekte Bunga Petir juga.Zien Cheng mencoba acuh. Ia tetap meneruskan kegiatannya menjemur pakaiannya di atas batu ketika panas sedang terik."Hei, Zien Cheng!" panggil seorang murid yang Zien Cheng tak tahu namanya. Perawakan pemuda itu berisi dan tanpa rambut kepala."Eng?" Zien Cheng menoleh adanya."Sejujurnya kami ini sudah lama penasaran denganmu. Kau seringkali dikatain murid buangan oleh tiga murid dari sekte Kongdang. Tetapi yang aku lihat, kemampuanmu bahkan kadang lebih unggul dari mereka. Apa kami boleh tahu kau be
Semua murid sudah berkumpul di dekat tebing yang semalam mereka gunakan untuk berlatih. Kini saatnya mereka melakukan pengambilan nilai. Grandmaster dan Senior Bo menjadi penilai, sementara An Ran mengawasi para murid. Tak jauh dari mereka juga ada Mei An yang sedang duduk di samping kotak obatnya.Pengambilan nilai pun dimulai. Satu per satu murid menunjukkan kemampuannya. Tak sedikit yang jatuh hanya sekali pijakan ke tebing. Ada juga yang jatuh saat menginjak batu di tengah air, hingga yang mampu naik ke atas dengan susah payah. Murid yang cidera langsung dipapah menuju tempat yang sudah disediakan, di mana Mei An telah menunggu dengan obat-obatannya."Zien Cheng!"Namanya dipanggil. Zien Cheng melangkah menuju tempat awalan untuk pengambilan nilai. Seketika fokus semua murid tertuju padanya. Walau dicap murid buangan atau rendahan, tetapi secara tak langsung Zien Cheng menjadi murid yang paling diperhatikan kemampuannya. Ada yang mulai merasa khawatir akan kemampuannya yang semaki
Mei An meletakkan anak panah yang dibawa oleh Zien Cheng tadi malam di atas meja, tepat di hadapan ayahnya. Pimpinan Wang menatap anak panah itu dengan tatapan dingin, lalu melirik pada putrinya datar."Dari mana kau menemukan anak panah ini?""Aku mendapatkannya dari Zien Cheng yang terluka tadi malam.""Zien Cheng? Murid baru itu lagi-lagi mendapatkan serangan? Ke mana dia pergi?""Ayah, ke mana ia pergi itu bukan hal yang penting sekarang. Hal yang penting adalah mengapa penguntit itu hanya mengincar Zien Cheng? Padahal di sini banyak sekali murid baru. Bahkan aku yang seringkali menyelinap keluar untuk mengambil tanaman obat pun tak mendapati serangan seperti ini. Apa yang sebenarnya mereka incar dari Zien Cheng?"Pimpinan Wang tak langsung menjawab. Pria tua itu mengalihkan tatapannya ke arah jendela yang terbuka lebar. "Kau bertanya pada Ayah seakan-akan kau ingin menuntut sebuah pengakuan atau pertanggung jawaban, Mei An. Apakah pria itu sungguh sangat berarti bagimu?"Mei An l
Guan Chen masuk ke kamar kamarnya. Ada Tian Feng dan Fang Xio yang sedang mengamati sketsa sebuah tebing yang di bawahnya terdapat aliran air. Persis seperti tempat latihan mereka sore tadi."Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Guan Chen seraya duduk di samping Fang Xio."Kami sedang membayangkan pengambilan nilai besok. Bagaimana pun juga, nilai keempat kita harus bagus. Aku sama sekali tak terima jikalau Zien Cheng mengalahkan kita bertiga. Oleh sebab itu, kita harus mengatur strategi," sahut Fang Xio.Guan Chen berdecih. "Kalian masih merasa takut dengan bocah itu?"Fang Xio sontak saja geram mendengarnya. "Kau terlalu meremehkan musuh, Guan Chen. Jangan tutup matamu. Kau masih ingat bukan bagaimana Zien Cheng berhasil mengambil pedang yang aku letakkan dengan susah payah pada pohon yang paling tinggi? Bagaimanapun juga, di Kongdang, hanya aku yang dapat memanjat setinggi itu. Zien Cheng tak akan dapat melakukannya. Tapi kau lihat sendiri bagaimana dia pulang membawa pedang itu.







