Share

2. DARAH NAGA HITAM SAKTI

Penulis: Mona Cim
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-14 21:05:28

Sebelum tubuh Zien Cheng terhempas ke tanah, tubuhnya tiba-tiba mengambang di udara untuk beberapa detik hingga terjatuh ke tanah dengan lembut. Raut wajahnya pucat pasi, matanya tertutup rapat, dan bibirnya kering. Namun, aroma darah yang teramat unik seolah menarik keras kesadarannya.

"Engg ...hhh ...." Zien Cheng melenguh begitu merasakan sekujur tubuhnya terasa ngilu. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka. Hamparan langit di sela-sela semak yang ia rebahi terlihat sangat indah.

"A-aku m-masih hidup?" gumamnya terbata-bata.

Tiba-tiba aroma khas itu tercium kembali. Entah mengapa hanya karena aroma itu, menimbulkan dorongan kuat untuk Zien Cheng bangkit dari posisinya. Walau teramat tertatih dan rasa remuk di tubuhnya, akhirnya Zien Cheng dapat bangkit juga. Pandangannya langsung terfokus pada sebuah gua tua yang ada di sampingnya.

"Gua apa itu?" Zien Cheng menelisik sekitar. Tak ada siapapun di sekitar sana. Bahkan nyaris tak ada jalan untuk di pijak. Zien Cheng terpaksa menerobos semak-semak cukup tinggi itu untuk masuk ke dalam gua.

Baru saja Zien Cheng memasuki gua tersebut, Zien Cheng merasakan energi yang luar biasa. Hanya mencium aroma asing itu dengan mata tertutup, rasa sakitnya hilang seketika. Zien Cheng merasa tubuhnya dengan perasaan takjub.

"Tubuhku sudah tak terasa sakit lagi hanya dengan menghirup aroma kuat ini. Baunya seperti darah, tetapi ini sangat berbeda. Bahkan aku bisa merasakan energi yang sangat kuat di sekitar sini. Aku sangat yakin pasti ada sesuatu di dalam gua ini," monolog Zien Cheng.

Langkahnya yang masih sedikit tertatih semakin memasuki gua tua itu. Hingga ketika ia berbelok ke sebuah ruangan, tampaklah sesuatu yang tak biasa. Ada sebuah pedang yang menancap di atas batu. Pedang tersebut dilumuri oleh darah yang berwarna hitam pekat.

"Pedang?" Zien Cheng mendekati pedang itu, memandanginya dengan saksama. Perlahan namun pasti, telunjuknya terjulur ingin menyentuh darah hitam itu. Ketika ujung jarinya bersentuhan dengan darah tersebut, secara mengejutkan semua darah yang membaluri pedang itu terserap ke tubuh Zien Cheng.

"Aaarrrgghhhhhh!" Zien Cheng berteriak keras ketika seluruh tubuhnya terasa bergejolak hebat. Hingga tubuhnya ambruk seketika. Dalam keadaan tak sadarkan diri itu, Zien Cheng tertarik ke alam bawah sadar. Di mana dia sudah berada di sebuah gunung yang begitu tinggi dan bersalju.

"Di mana aku?" Zien Cheng berjalan dengan ragu dengan mulut yang mengeluarkan asap putih.

Tiba-tiba terdengar suara dari langit. Tak ada wujud dari suara itu, tetapi sangat jelas jikalau kata-kata itu ditujukan padanya.

'Kau mungkin sangat bingung dengan apa yang terjadi sekarang.  Tetapi bukan hal itu yang penting kau ketahui. Ketahuilah dirimu terpilih menjadi penerus Pendekar Naga Hitam yang telah tiada ribuan tahun yang lalu.'

Zien Cheng tentu sangat terkejut mendengarnya. Dirinya tak bodoh untuk tahu soal Pendekar Naga Hitam yang sangat meleganda itu. Zien Cheng bahkan pernah mendengar jikalau peninggalan pendekar tersebut belum ditemukan hingga sekarang.

"Siapa kau? Bagaimana kau bisa mengatakan hal konyol itu. Atas dasar apa orang lemah sepertiku menjadi penerus Pendekar Naga Hitam? Aku bahkan tak memiliki kekuatan apapun," komentar Zien Cheng menatap ke arah atas.

'Sekarang pada tubuhmu sudah mengalir darah Pendekar Naga Hitam. Kau bisa dengan cepat mempelajari ilmu pedang dengan pedang yang tertancap di gua. Lalu untuk menjadi pewaris ilmu Pendekar Naga Hitam seutuhnya, kau harus masuk ke perguruan tertinggi di Pulau Bunga Petir. Kau bisa menemukan petunjuk keberadaan kitab sakti peninggalan Pendekar Naga Hitam untuk menjadi yang terhebat.'

Belum lagi Zien Cheng sempat menjawab. Tiba-tiba badai salju bergulung ke arahnya. Zien Cheng tak sempat menghindar. Tubuhnya ikut tergulung dengan badai itu. Secara mengejutkan kedua matanya terbuka lebar. Hal yang ia lihat pertama kali adalah langit-langit gua.

"A-aku baru saja bermimpi aneh. Apakah benar aku memilik sebagian kecil kekuatan Pendekar Naga Hitam sekarang?"

Zien Cheng langsung bangkit dari posisinya. Pemuda itu menarik dengan muda pedang yang tertancap di atas batu itu. Seketika cahaya biru tua memancar dari pedang tersebut. Kedua netra Zien Cheng berbinar. Ia begitu takjub dengan kilau itu.

Zien memasang kuda-kuda, bersinar menghunuskan pedang itu ke udara. Sekali tebasan saja membuat mata pedang itu mengeluarkan kembali cahaya berwarna putih. Entah keahlian dari mana, Zien bergerak dengan lincah sambil mengayunkan pedang dengan sebuah jurus yang indah. Gua yang tadinya gelap, kini menjadi terang karena cahaya kekuatan itu. Tebasan terakhir Zien Cheng membuat obor yang menempel pada dinding gua pun menyala.

Zien Cheng tersenyum bangga. "Aku tak lemah lagi. Akulah pemilik kekuatan Pendekar Naga Hitam yang sangat diidamkan semua orang-orang terkuat di setiap sekte."

Zien Cheng menatap pedang itu dengan sangat bergairah. "Aku akan bangkit dengan kekuatan baru. Aku akan berlatih sekuat tenaga hingga mampu menjadi murid yang terpilih berangkat ke Pulau Bunga Petir!"

Zien Cheng keluar dari gua itu dengan langkah yang gagah berani. Kedua netranya memancarkan gairah yang begitu menyala. Kilasan balik berbagai hinaan dan kesakitan yang ia terima selam inipun kembali terbayang.

Saat kecil, dirinya dikucilkan. Dirinya dihina karena anak haram ketua sekte dengan seorang selir dari sekte lain. Bahkan ketika ayahnya mengalami berbagai serangan mental dan hujatan dari muridnya sendiri, Zien Cheng ikut menyaksikannya. Hingga ketika ia beranjak remaja, ayahnya tiba-tiba menghilang begitu saja yang akhirnya tahta digantikan oleh saudara tertua ayahnya, Paman Gong Cheng.

"Akan aku buktikan pemuda lemah dan pembawa sial seperti yang mereka katakan adalah satu-satunya orang yang akan menguasai dunia persilatan!"

Maka di tengah hutan terlarang itu, Zien Cheng berlatih pedang seorang diri. Ia kembali mengingat jurus penting yang sempat ia pelajari sebelum dibuang ke jurang. Jurus itu semakin sempurna dengan kekuatan alami naga hitam yang ia miliki. Setiap tebasan pedang menghasilkan cahaya kekuatan. Tubuh lemahnya yang telah dialiiri darah naga hitam pun menjadi jauh lebih kuat dan geraknya begitu gesit.

"Hyaaaaaat!" Zien Cheng menebas seekor babi hutan yang mendekatinya dari arah belakang. Seketika babi hutan itu tewas di tempatnya.

Zien Cheng terkejut dengan kemampuannya sendiri. Sekarang dia memiliki pendengaran yang tajam dan insting yang sangat kuat. Ia dapat mendengar langkah kaki babi hutan yang berlari mendekatinya dan ia menyerang balik tepat pada waktunya.

"Ini luar biasa," gumam Zien Cheng.

Tiba-tiba darah babi hutan yang mengotori pedangnya pun mengeluarkan cahaya merah. Tak lama darah itu terserap oleh mata pedang hingga akhirnya lenyap seketika. Zien Cheng memperhatikan dengan saksama kilau pedang itu. Hingga terdengar suara seseorang yang persis seperti pada mimpinya.

'Setiap darah lawan yang terserap oleh pedangmu, maka bertambah pula kekuatan pedang itu. Sebaliknya, jika pedang itu menyerap darah orang yang tak seharusnya kau bunuh, maka berkuranglah kekuatannya.'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   25. SANG DEWI PENYELAMAT

    "Katakan siapa dirimu dan apa tujuanmu mengikutiku?" ancam Zien Cheng dengan tatapan tajam.Pria misterius itu terdiam sambil mengambil ancang-ancang. Sementara Zien Cheng masih menunggu jawaban dengan rahang yang masih mengeras. Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat familiar."Zien Cheng, tolong!"Zien Cheng menoleh ke sumber suara. Pada moment itulah pria misterius itu dengan cepat berguling ke kanan dan melarikan diri. Zien Cheng hendak mengejar pria misterius itu, tetapi ia juga khawatir dengan suara teriakan Peng Hao. Maka ia pun memutuskan untuk kembali, mencari temannya yang sempat ia tinggalkan begitu saja.Zien Cheng berlari ke arah yang sesuatu instingnya. Kegelapan malam itu memang mempersulit langkahnya, tetapi suara Peng Hao benar-benar tak bisa ia abaikan. Hingga Zien Cheng mampu menemukan temannya terduduk di tanah."Peng Hao!" Zien Cheng mendekat dengan cemas. "Kau tak apa?""Zien Cheng!" Peng Hao lekas menegakkan tubuhnya. "Kau harus tau ada yang barus

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   24. PERTARUNGAN DI TENGAH KEGELAPAN

    Enam kendi yang termuat dalam gerbobak itu mereka dorong bersama-sama. Zien Cheng dan Peng Hao memutuskan untuk pulang setelah bercerita cukup panjang. Hari sudah mulai gelap. Tak ada penerangan apapun yang mereka bawa untuk perjalanan mereka."Apa hutan ini memang tak diberi penerangan sama sekali biasanya? Bukankah ini satu-satunya jalan yang dilalui oleh penghuni pulau ini?" "Mungkin mereka sudah hafal dengan jalanan di sini, Peng Hao. Sehingga tak perlu penerangan apapun untuk melewati hutan ini. Ya jika perlu, mereka hanya membawa obor sendiri," sahut Zien Cheng."Ya malangnya kita tak membawa satupun obor. Apa kita akan menemui jalan keluar? Aku pertama kali ke pantai melewati melewati hutan ini.""Tenang saja. Kita pasti menemukan jalan keluarnya. Jika tidak, tak masalah untuk bermalam di sini. Kita akan pulang ketika hari mulai terang," sahut Zien Cheng tetap tenang."Aku sungguh beruntung ada kau di sini. Jika sendirian, aku sudah menangis di perjalanan," kata Peng Hao terta

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   23. LETAK KITAB ILMU PENDEKAR NAGA HITAM

    Semakin dalam alam bawah sadar membawa Zien Cheng menembus lautan, maka tampaklah seorang pria dengan pakaian pendekar serba hitam sedang bertapa di dalam sebuah gua bawah laut. Meski wajahnya tak terlihat, tetapi Zien Cheng dapat melihat bayangan naga hitam yang mengelilingi pendekar tersebut.'Dia pendekar naga hitam?'Tiba-tiba Zien Cheng merasakan penglihatannya diserer kembali ke lautan paling dalam hingga mencapai dasar laut. Ada sebuah kerang raksasa yang berkilau di sana. Dalam penglihatan Zien Cheng, kerang raksasan itu terbuka sendiri. Tampaklah sebuah kitab berwarna hitam di dalamnya. Sampul kitab itu tercetak motif naga hitam yang timbul. Di sini Zien Cheng sudah sadar, bahwa ia sedang diperlihatkan keberadaan kitab ilmu pendekar naga hitam yang harus ia cari."Hei, kau! Bangun!"Kesadaran Zien Cheng bagai tersedot. Penglihatannya seketika kabur dan gelap. Begitu ia membuka mata, Zien Cheng sudah berada di dunia nyata. Zien Cheng mendongkak, mendapati Senior Bo di hadapann

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   22. HUKUMAN PEMBUKA RAHASIA

    Zien Cheng bergabung pada pelatihan ketiga ketika sore menjelang. Walau dua pelatihan tertinggal, tetapi pemuda itu tetap mengikuti latihan terakhir untuk hari ini."Sekarang lakukan gerakan yang dilatihkan dari pelatihan satu dan pelatihan dua hari ini. Lalu disambung dengan pelatihan ketiga. Gerakan paling kacau akan mendapatkan hukuman!" titah Senior Bo.Senior Bo menoleh ada Zien Cheng yang menatapnya penuh arti. Perlahan muncul seringai kecil di bibir murid senior tersebut. Ia sengaja melakukan hal ini, sebab tahu jikalau Zien Cheng tertinggal dua pelatihan. Sialnya, hari ini hanya Senior Bo yang melatih mereka."Mulai!"Semua murid melakukan gerakan jurus yang dilatihkan dari pelatihan satu dan dua. Sebagian besar dari mereka melakukannya dengan baik. Meski ada beberapa orang yang lupa gerakan yang diajarkan. Namun, tentu saja yang paling kacau adalah Zien Cheng. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan seraya meniru gerakan mereka.'Sial. Mengapa dia melakukan ini padaku? Tentu saja ku

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   21. SERANGAN PANAH

    Sebuah anak panah menancap di tanah. Sontak saja membuat Zien Cheng langsung mengamankan Mei An di belakang tubuhnya. Ditariknya pedang di samping tubuhnya, lalu memasang posisi siaga dengan tatapan siaga menatap sekitar."Siapa kau?! Jangan jadi pengecut hanya melakukan penyerangan secara sembunyi-sembunyi saja. Tidakkah kau malu dengan tindakan hinamu ini?" ketus Zien Cheng.Tiba-tiba dari arah samping kanan, melesat sebuah anak panah lagi. Tetapi kali ini Zien Cheng dapat menangkisnya dengan cepat. Hingga anak panah itu terjatuh ke tanah."KELUAR KAU BRENGSEK!" teriak Zien Cheng marah."Zien Cheng, lebih baik kita segera pergi dari sini," ucap Mei An yang ada di belakangnya."Tidak, Mei An. Jika kita lengah menuju jalan pulang, penjahat itu bisa saja memanah kita dari belakang. Aku tak ingin kau terluka, Mei An," sahut Zien Cheng."Aku bisa mengatasinya. Percayalah," sahut Mei An."Bagiamana bisa--"Mei An langsung menangkap anak panah yang meluncur ke arah punggung Zien Cheng. Gad

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   20. MENCARI TANAMAN OBAT

    Senior Bo menghadap Pimpinan Wang yang sedang memantau asrama dari atas gedung tertinggi istana sekte Bung Petir. Perasaannya yang gelisah rupanya langsung ditangkap oleh pimpinan sekte tersebut bahkan sebelum ia mengadu."Apa yang tengah kau khawatirkan, Bo Hong Shan?" tanya Pimpinan Wang tanpa mengalihkan tatapannya pada asrama yang penuh dengan murid sedang berlatih."Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa Mei An kan pergi menemani murid ren--maksudku murid junior yang bernama Zien Cheng menjalani hukumannya. Mei An ikut dengannya pergi ke hutan terdalam mencari tanaman obat langka. Bukankah ini sedikit berlebihan, Ketua?""Apa yang berlebihan dari kegiatan mereka?""Y-ya ... berlebihan karena Mei An harus menemaninya. Zien Cheng sedang mendapatkan hukuman. Biar saja dirinya yang menjalani sendiri. Mengapa Mei An harus ikut bersamanya?" sahut Senior Bo.Pimpinan Wang kini menghadapkan tubuhnya pada Senior Bo dengan raut wajah yang kelewat tenang. "Mei An yang mengatakannya sendi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status