Share

BAB 39. KEMARAHAN MEI AN

Penulis: Mona Cim
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-25 22:14:09

Suara erangan bersahutan di lapangan utama. Di mana para murid sedang menahan beban batu cukup besar di punggung mereka dengan menumpu tubuh mereka menggunakan kedua tangan kanan jari-jari kaki. Satu per satu murid menyerah. Hingga batu di punggung mereka terguling ke tanah.

Zien Cheng yang dulunya menjadi yang terlemah, kini menjadi salah satu murid yang bertahan menahan beban di punggungnya.

Senior Bo berjalan santai dengan kedua tangan di belakang tubuh sambil memperhatikan murid-murid yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 39. KEMARAHAN MEI AN

    Suara erangan bersahutan di lapangan utama. Di mana para murid sedang menahan beban batu cukup besar di punggung mereka dengan menumpu tubuh mereka menggunakan kedua tangan kanan jari-jari kaki. Satu per satu murid menyerah. Hingga batu di punggung mereka terguling ke tanah.Zien Cheng yang dulunya menjadi yang terlemah, kini menjadi salah satu murid yang bertahan menahan beban di punggungnya.Senior Bo berjalan santai dengan kedua tangan di belakang tubuh sambil memperhatikan murid-murid yang kewalahan. Ia tertawa remeh melihat tangan bergetar Peng Hao."Jangan fokus pada rasa lelahmu. Jika kau menganggap batu di punggungmu berat, maka tubuhmu akan merespons hal yang sama. Kau akan lebih cepat lelah dan ingin menyerah," kata Senior Bo.Zien Cheng yang mendengar kata-kata Senior Bo, mengangguk paham. Apa yang dikatakan Senior Bo sama seperti yang dikatakan oleh Guru Gong padanya. Zien Cheng memejamkan matanya. Ia kembali mengalirkan energi Qi dengan sempurna, hingga mampu meringankan

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 38. SANDIWARA

    Zien Cheng baru saja kembali ke asrama ketika malam sudah larut setelah menghabiskan waktu latihan secara diam-diam di sungai yang sebelumnya ia datangi. Niatnya untuk ke kamar terhenti begitu melihat Tian Feng yang duduk menyendiri di luar kamarnya dengan raut wajah yang terlihat marah. Rasanya ingin Zien Cheng ingin menyapa, tetapi ia teringat bagaimana bencinya Tian Feng padanya. Hingga ia kembali ingin melewatinya saja."Kau tak melihat ada aku di sini?"Zien Cheng menoleh. "Ah, aku melihatmu. Tapi ... ada apa? Kau sendirian di luar kamar selarut ini?""Aku sedang bertengkar dengan dua makhluk keparat di dalam sana. Mereka benar-benar membuatku jengkel sehingga aku diusir oleh mereka. Aku keluar karena tak ingin harga diriku diinjak oleh mereka. Tapi ternyata udara malam dingin juga. Entah apakah aku bisa bertahan hingga esok atau tidak," tutur Tian Feng panjang lebar.Zien Cheng mengangguk paham. "Perlu aku berbicara dengan mereka? Sepertinya aku bisa membujuk mereka."Tian Feng

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 37. TEMAN BARU

    Zien Cheng sedang membersihkan dirinya di aliran air yang cukup deras. Tak jauh darinya ada Peng Hao yang mencoba ilmu menguatkan insting. Kemampuan Peng Hao memang di bawah Zien Cheng. Akan tetapi, kemampuan pemuda itu tak dapat diragukan. Meski ia hanya bisa menangkap sedikit demi sedikit ilmu yang sedang ia pelajari.Saat Zien Cheng memeras pakaiannya, ia menoleh ada suara-suara yang terdengar berdatangan ke arah mereka. Ternyata mereka adalah empat dari murid sekte Bunga Petir juga.Zien Cheng mencoba acuh. Ia tetap meneruskan kegiatannya menjemur pakaiannya di atas batu ketika panas sedang terik."Hei, Zien Cheng!" panggil seorang murid yang Zien Cheng tak tahu namanya. Perawakan pemuda itu berisi dan tanpa rambut kepala."Eng?" Zien Cheng menoleh adanya."Sejujurnya kami ini sudah lama penasaran denganmu. Kau seringkali dikatain murid buangan oleh tiga murid dari sekte Kongdang. Tetapi yang aku lihat, kemampuanmu bahkan kadang lebih unggul dari mereka. Apa kami boleh tahu kau be

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 36. KEMAMPUAN LUAR BIASA

    Semua murid sudah berkumpul di dekat tebing yang semalam mereka gunakan untuk berlatih. Kini saatnya mereka melakukan pengambilan nilai. Grandmaster dan Senior Bo menjadi penilai, sementara An Ran mengawasi para murid. Tak jauh dari mereka juga ada Mei An yang sedang duduk di samping kotak obatnya.Pengambilan nilai pun dimulai. Satu per satu murid menunjukkan kemampuannya. Tak sedikit yang jatuh hanya sekali pijakan ke tebing. Ada juga yang jatuh saat menginjak batu di tengah air, hingga yang mampu naik ke atas dengan susah payah. Murid yang cidera langsung dipapah menuju tempat yang sudah disediakan, di mana Mei An telah menunggu dengan obat-obatannya."Zien Cheng!"Namanya dipanggil. Zien Cheng melangkah menuju tempat awalan untuk pengambilan nilai. Seketika fokus semua murid tertuju padanya. Walau dicap murid buangan atau rendahan, tetapi secara tak langsung Zien Cheng menjadi murid yang paling diperhatikan kemampuannya. Ada yang mulai merasa khawatir akan kemampuannya yang semaki

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 35. TAK DIRESTUI

    Mei An meletakkan anak panah yang dibawa oleh Zien Cheng tadi malam di atas meja, tepat di hadapan ayahnya. Pimpinan Wang menatap anak panah itu dengan tatapan dingin, lalu melirik pada putrinya datar."Dari mana kau menemukan anak panah ini?""Aku mendapatkannya dari Zien Cheng yang terluka tadi malam.""Zien Cheng? Murid baru itu lagi-lagi mendapatkan serangan? Ke mana dia pergi?""Ayah, ke mana ia pergi itu bukan hal yang penting sekarang. Hal yang penting adalah mengapa penguntit itu hanya mengincar Zien Cheng? Padahal di sini banyak sekali murid baru. Bahkan aku yang seringkali menyelinap keluar untuk mengambil tanaman obat pun tak mendapati serangan seperti ini. Apa yang sebenarnya mereka incar dari Zien Cheng?"Pimpinan Wang tak langsung menjawab. Pria tua itu mengalihkan tatapannya ke arah jendela yang terbuka lebar. "Kau bertanya pada Ayah seakan-akan kau ingin menuntut sebuah pengakuan atau pertanggung jawaban, Mei An. Apakah pria itu sungguh sangat berarti bagimu?"Mei An l

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 34. PENGUNTIT DAN PEMANAH

    Guan Chen masuk ke kamar kamarnya. Ada Tian Feng dan Fang Xio yang sedang mengamati sketsa sebuah tebing yang di bawahnya terdapat aliran air. Persis seperti tempat latihan mereka sore tadi."Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Guan Chen seraya duduk di samping Fang Xio."Kami sedang membayangkan pengambilan nilai besok. Bagaimana pun juga, nilai keempat kita harus bagus. Aku sama sekali tak terima jikalau Zien Cheng mengalahkan kita bertiga. Oleh sebab itu, kita harus mengatur strategi," sahut Fang Xio.Guan Chen berdecih. "Kalian masih merasa takut dengan bocah itu?"Fang Xio sontak saja geram mendengarnya. "Kau terlalu meremehkan musuh, Guan Chen. Jangan tutup matamu. Kau masih ingat bukan bagaimana Zien Cheng berhasil mengambil pedang yang aku letakkan dengan susah payah pada pohon yang paling tinggi? Bagaimanapun juga, di Kongdang, hanya aku yang dapat memanjat setinggi itu. Zien Cheng tak akan dapat melakukannya. Tapi kau lihat sendiri bagaimana dia pulang membawa pedang itu.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status