로그인Sudah beberapa hari sejak kabar perjodohan antara Ayu dan Raka menyebar ke seluruh penjuru desa.Sejak saat itu pula, hampir setiap hari Ayu harus berhadapan dengan satu hal yang sama.Raka.Bukan Raka yang dahulu gemar mengejeknya.Bukan pula Raka yang selalu mencari-cari alasan untuk menggodanya sampai Ayu kesal setengah mati.Raka yang sekarang justru datang dengan sikap yang berbeda.Lebih tenang.Lebih sabar.Dan entah mengapa, jauh lebih menyebalkan karena tidak pernah menyerah.“Ayu.”Suara Raka terdengar dari halaman rumah.Ayu yang sedang menyapu teras berhenti sejenak. Ia menutup mata sambil menghela napas panjang.Lagi.Sejak pagi tadi, ia sudah bisa menebak Raka akan datang.Benar saja.Ketika menoleh, Ayu melihat Raka berdiri di dekat pagar sambil membawa beberapa buah mangga dari kebunnya.“Apa lagi?” tanya Ayu datar.Raka tersenyum santai.“Membawakan mangga.”“Aku tidak minta.”“Memang.”Raka melangkah mendekat lalu meletakkan keranjang mangga di atas meja teras.“Angg
Berita mengenai perjodohan itu semakin hari semakin ramai diperbincangkan warga desa. Hampir semua orang sudah mengetahui bahwa keluarga Ayu dan keluarga Raka berencana menyatukan kedua anak mereka.Namun, jika Ayu masih diliputi kebingungan, Raka justru menunjukkan sikap yang sangat berbeda.Laki-laki itu sama sekali tidak keberatan.Bahkan, diam-diam Raka merasa senang dengan keputusan kedua keluarga tersebut.Pagi itu, Raka sengaja datang ke rumah Ayu dengan alasan ingin membicarakan perkembangan hasil panen. Namun, begitu melihat Ayu sedang menyapu halaman, senyum lebar langsung terukir di wajahnya.“Pagi, calon istriku.”Tangan Ayu yang sedang memegang sapu langsung berhenti, terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar.Setelah tau siapa pelakunya Ayu menoleh menatap tajam.“Jangan panggil aku begitu!”Raka justru tertawa kecil, kini menggoda Ayu adalah hal yang amat sangat membahagiakan.“Kenapa? Bukankah memang sedang dibicarakan?”“Dibicarakan, bukan berarti sudah terjadi.”
Kabar tentang perjodohan Ayu dan Raka ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk menyebar.Seolah angin membawa berita itu dari satu rumah ke rumah lainnya, dari warung kopi di ujung desa hingga teras-teras rumah yang biasa menjadi tempat para ibu berkumpul pada sore hari.“Benarkah Ayu sama Raka akan dijodohkan?”“Katanya begitu. Bahkan keluarga mereka sudah membicarakannya.”“Wah, kalau benar, cocok juga sebenarnya. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga baik.”Percakapan semacam itu terdengar hampir di setiap sudut desa.Ada yang terkejut, ada yang mendukung, ada pula yang sekadar menikmati berita tersebut sebagai bahan pembicaraan. Bagi sebagian orang, perjodohan itu bukan lagi rahasia keluarga.Namun bagi Ayu, kabar tersebut justru membuat langkahnya terasa semakin berat.Pagi itu, ketika ia berjalan menuju rumah seorang warga untuk mengantarkan beberapa catatan mengenai hasil panen, beberapa pasang mata langsung mengarah kepadanya.Bisikan-bisikan kecil terdengar di belakangn
Suasana kamar Ayu malam itu terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Lampu tidur berwarna kuning temaram memantulkan bayangan gelisah di dinding kamarnya. Di atas meja belajar, sebuah buku harian terbuka begitu saja, namun tak sepatah kata pun tertulis sejak satu jam yang lalu. Pikirannya benar-benar kacau, melayang pada percakapan serius di ruang tamu tadi bersama sang ayah, Pak Surya.Permintaan waktu untuk berpikir yang ia ucapkan kepada ayahnya ternyata tidak lantas membuat hatinya tenang. Sebaliknya, waktu luang itu justru menjadi bumerang yang terus memutar ulang berbagai skenario mengerikan di kepalanya. Di satu sisi, Ayu adalah anak perempuan yang sangat berbakti. Ia tahu betul seberapa besar pengorbanan Pak Surya selama ini demi biaya sekolahnya dikota. Pak Surya tidak pernah meminta banyak hal darinya, dan baru kali ini sang ayah terlihat begitu antusias serta menaruh harapan besar pada sebuah keputusan hidup Ayu."Ayah hanya ingin yang terbaik untuk masa depanmu, Nak. Pak Bu
Malam telah turun sepenuhnya di desa, setelah siangnya terjadi keributan kecil diteras rumahnya.Suara jangkrik terdengar bersahutan dari balik halaman rumah, sesekali diselingi suara angin yang menggerakkan dedaunan pohon mangga di samping rumah.Lampu-lampu teras menyala temaram, menciptakan suasana hangat setelah hari yang cukup melelahkan.Ayu baru saja meletakkan piring kosongnya ketika ia hendak berdiri dari meja makan.“Biar Ayu yang cuci piringnya, Pak.”Namun tangan Pak Surya terangkat, menghentikannya.“Tidak usah. Biar nanti saja.”Ayu mengernyit.“Kenapa, Pak?”Pak Surya tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu hanya mengambil gelas tehnya, menyeruput perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja.“Ada yang ingin Bapak bicarakan denganmu.”Seketika Ayu terdiam.Nada suara bapaknya terdengar berbeda.Tidak seperti biasanya.Ayu kembali duduk.“Masalah sawah?”“Bukan.”“Masalah gagal panen?”“Bukan juga.”Ayu semakin bingung.Pak Surya menghela napas panjang. Tatapan
Sore itu, rumah Ayu tidak seramai biasanya.Angin berembus pelan melewati halaman, membawa aroma tanah yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Di atas meja kayu di teras, beberapa lembar kertas berserakan. Ada catatan hasil panen, perhitungan biaya pupuk, laporan dari para petani, hingga beberapa foto kondisi sawah yang diambil beberapa hari lalu.Ayu duduk berhadapan dengan Raka.Keduanya tampak serius.“Kalau kita tetap menggunakan cara yang sama untuk musim berikutnya, kemungkinan gagal lagi cukup besar,” ujar Ayu sambil menunjuk salah satu catatan.Raka menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya tertuju pada angka-angka di hadapannya.“Aku sudah bicara dengan tiga kelompok tani pagi tadi. Mereka bilang tanah di bagian timur masih terlalu basah. Kemungkinan penyakit tanaman menyebar dari sana.”Ayu mengangguk.“Berarti kita harus memperbaiki sistem drainasenya.”“Bukan cuma itu.” Raka mengambil selembar kertas lain. “Kita juga perlu mengubah jadwal tanam. Jangan semuanya seremp
Suasana pabrik bising dengan suara mesin yang berderu konstan. Aroma khas material produksi memenuhi ruangan. Ayu berjalan di samping Pak Seto (Kepala Pengawas). Ayu tampak profesional mengenakan atasan berwarna deep brown yang sangat kontras dengan kulitnya."Di sebelah sini adalah area pengemasan,
Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih ha
Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah r
Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah me







