author-banner
Arifah Kusuma
Author

Novel-novel oleh Arifah Kusuma

Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)

Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)

Bagi Ayu, kembali ke desa setelah bertahun-tahun merantau di ibukota adalah misi untuk membuktikan bahwa dia bukan lagi gadis kecil yang bisa dirundung. Namun, rencana ketenangannya hancur saat sosok Raka—musuh bebuyutannya sejak zaman masih ingusan—muncul dengan senyum miring yang sama menyebalkannya. Raka yang sekarang bukan lagi bocah ingusan yang suka menarik kuncir rambut Ayu, melainkan pria dewasa yang makin hobi mengusik ketenangannya dengan cara yang... berbeda. Dari perdebatan di pesta rakyat, di pasar pagi, hingga adu mulut di tengah sawah, Ayu sadar satu hal, Raka adalah ujian kesabaran terberatnya. Namun, di balik sikap jahil Raka yang memicu darah tinggi, ada tatapan teduh yang perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Ayu. Apakah benci ini benar-benar karena rasa kesal, atau hanya tameng untuk menutupi rasa yang dulu pernah ada?
Baca
Chapter: Bab 5: Di Bawah Terik Matahari
Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah mencapai puncaknya.Setelah pagi tadi berburu kuliner didesa bersama sang sepupu, kali ini Ayu melangkah hati-hati di atas pematang sawah yang sempit. Sepatunya yang biasa ia gunakan untuk berjalan di aspal ibu kota kini harus berkompromi dengan tanah kering yang sesekali pecah. Di depannya, Pak Surya—ayah Ayu—berjalan dengan langkah mantap. Lelaki paruh baya itu mengenakan kemeja flanel kusam yang lengannya digulung hingga siku, sebuah caping lebar melindungi wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia namun tetap memancarkan wibawa."Hati-hati, Yu. Pematang yang ini agak miring karena kemarin habis diguyur hujan deras," ucap Pak Surya tanpa menoleh, namun tangan kanannya terulur ke belakang
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 4: Udara Pagi
Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih hangat akibat selimut tebal. Di sampingnya, Reya masih bergulung layaknya kepompong raksasa, hanya menyisakan ujung rambutnya yang berantakan mencuat keluar."Rey, bangun. Katanya mau cari sarapan?" Ayu mengguncang bahu sepupunya itu.Reya hanya bergumam tidak jelas, menarik selimutnya lebih tinggi. "Lima menit lagi, Yu... semalam kita ghibah sampai jam dua pagi, ingat?"Ayu terkekeh. Semalam, setelah pulang dari Pesta Rakyat dengan perasaan dongkol akibat ulah Raka, mereka memang menghabiskan waktu berjam-jam di bawah temaram lampu kamar Mbah. Mereka menertawakan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil hingga mengumpat habis-habisan tentang betapa menyebalkannya wajah Raka yang sok tampan
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 3: pesta rakyat
Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah ritual syukur tahunan atas panen padi yang melimpah ruah. Suara gamelan bertalu-talu dari arah balai desa, menyatu dengan tawa anak-anak yang berlarian membawa kembang api kecil.Ayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya penuh dengan aroma khas kampung halamannya. Ia mengenakan gamis sederhana namun anggun, sementara rambutnya yang biasanya diikat, malam ini ia biarkan tergerai rapi."Ayu! Jangan melamun terus, ayo ke stand sebelah sana! Katanya ada kerak telor dan dawet ayu yang paling enak se-kecamatan!" teriak Reya, sepupunya yang punya energi layaknya baterai yang tidak pernah habis.Ayu tertawa kecil, melangkah menyusul Reya yang sudah lebih dulu berdiri di depan sebuah gero
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 2: Kembalinya Ayu
Selama lima tahun itu, komunikasi dengan orang tua hanya bisa dilakukan melalui panggilan telepon setiap akhir pekan. Sedangkan ayahnya, yang biasanya hanya berbicara sebentar, selalu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang sama: “Jangan khawatir tentang kami, nak. Fokuslah pada kuliahmu. Kampung ini akan selalu ada untukmu.” Namun, tiga bulan yang lalu, panggilan telepon dari ibunya datang tidak pada hari biasa, dan suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit bergetar ketika memberitahu bahwa ayahnya telah mengalami sakit kepala yang cukup parah dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.Sejak saat itu, setiap panggilan telepon selalu diakhiri dengan permintaan yang sama dari ayahnya: “Pulanglah, Ayu. Kampung ini membutuhkanmu. Sawah, kebun, dan pabrik kita membutuhkan orang yang bisa mengelolanya dengan baik. Ayah sudah tua dan ingin segera beristirahat.” Ayu tidak bisa menolak permintaan itu; hati nya merasa tertekan. Setelah menyelesaikan semua a
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 1: Bujuk Rayu
Telepon genggam itu bergetar di meja kerja Ayu, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan ketukan jari pada papan ketik. Nama "Ibu" terpampang di layar, disertai emoji hati berwarna merah muda yang sudah lama tidak digantinya. Ayu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan ia tahu betul apa isi dari panggilan ini. Ini bukan panggilan basa-basi biasa. Ini adalah panggilan misi. "Halo, Bu," jawab Ayu, berusaha terdengar ceria, meskipun ia baru saja menyelesaikan revisi dokumen yang memakan waktu tiga jam non-stop. "Halo, Nduk. Baru selesai kerja, Nak?" Suara Ibu, lembut dan hangat, segera menyelimuti Ayu, sebuah kontras yang menenangkan dari kebisingan kota yang ia tinggali. "Iya, Bu. Baru banget ini. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" "Alhamdulillah, kami baik, Nak. Bapakmu barusan aja selesai minum jamu kunyit asam buat pegal-pegalnya. Dia lagi nonton TV di depan." Jeda sejenak,. "Kamu sendiri gimana? Mak
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Anda juga akan menyukai
Penghancuran yang Berbahaya
Penghancuran yang Berbahaya
Romansa · Qi River's Old Stream
369.2K Dibaca
Annoying Marriage
Annoying Marriage
Romansa · Selfie Hurtness
367.7K Dibaca
SATU MALAM BERSAMA MILIARDER
SATU MALAM BERSAMA MILIARDER
Romansa · Tania ratna
366.7K Dibaca
CEO Dingin Itu Ayah Anakku
CEO Dingin Itu Ayah Anakku
Romansa · Galuh Arum
353.5K Dibaca
Gendut Alasan Suami Mendua
Gendut Alasan Suami Mendua
Romansa · RENA ARIANA
351.6K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status