author-banner
Arifah Kusuma
Author

Novels by Arifah Kusuma

Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)

Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)

Setelah bertahun-tahun merantau, Ayu kembali ke desa. Namun rencana ketenangannya hancur saat bertemu musuh bebuyutannya yang kini menjadi pria dewasa yang suka mengusiknya dengan cara berbeda. Di balik sikap jahilnya yang membuat darah tinggi, ada tatapan teduh yang meruntuhkan benteng pertahanannya. Apakah benci yang mereka rasakan benar-benar tulus, atau hanya tameng untuk rasa yang dulu pernah ada?
Read
Chapter: Bab 13: Curiga merayap
Ayu menatap hamparan sawah yang mulai menguning sebelum waktunya. Daun-daun padi tampak layu, seperti kehilangan daya hidup. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah yang seharusnya segar, namun kini terasa aneh di hidungnya.Sejak penyelidikan kecil yang ia lakukan bersama Raka beberapa hari lalu, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Mereka menemukan beberapa karung pupuk tanpa label jelas di gudang kosong dekat balai desa.Selain itu, ada botol-botol pestisida dengan tulisan yang sebagian terhapus, seolah sengaja disamarkan. Raka menduga ada sesuatu yang tidak beres, dan Ayu pun merasakan hal yang sama.“Ada yang janggal, Yu,” kata Raka waktu itu. “Kalau ini pupuk resmi, pasti ada izin edar atau merek yang jelas.”Ayu hanya mengangguk, tapi di dalam hatinya muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan. Desa mereka selama ini dikenal subur dan aman. Tidak pernah ada kasus seperti ini.Malam itu, Ayu memberanikan diri berbicara kepada ayahnya, Pak Suryo. Ia menemukan ayahnya se
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 12: Skenario klasik
Ayu tidak pernah menyangka bahwa bakatnya dalam merangkai plot misteri akan benar-benar berguna untuk menyelamatkan bisnis keluarganya. Di dalam mobilnya yang diparkir agak jauh dari jalur utama, Ayu memperhatikan truk bermuatan gabah itu bergerak perlahan meninggalkan area penimbangan.Ia tidak langsung menyalakan mesin. Dengan napas yang diatur tenang, ia mengambil sebuah syal berwarna terracotta—warna favoritnya yang selalu memberikan kehangatan di tengah cuaca mendung—dan melilitkannya longgar di leher. Warna itu tidak hanya membuatnya tampak elegan, tapi juga memberinya rasa kendali."Dua ton. Itu bukan jumlah yang bisa disembunyikan di bawah jok mobil," gumam Ayu.Ayu mulai membuntuti truk itu dari jarak aman. Alih-alih menuju jalur utama ke pabrik pusat, truk tersebut berbelok ke arah jalan setapak yang lebih sempit, membelah hutan jati yang meranggas. Insting detektif Ayu berteriak. Ini bukan rute resmi.Truk itu berhenti di sebuah gudang tua beratap seng yang tampak terbengka
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab 11: Selisih yang berbicara
Matahari baru saja melewati puncaknya, namun hawa panas di area penimbangan gabah terasa seolah sang surya tepat berada di atas kepala. Ayu mengusap pelipisnya yang berkeringat. Rambutnya diikat kuda dengan kencang, menampakkan wajahnya yang kini tidak lagi dihiasi cemberut. Masa-masa "ngambek" karena celetukan ayahnya sudah ia simpan rapat di laci masa lalu. Kini, Ayu yang berdiri di sana adalah seorang profesional.Ia mengenakan kemeja katun berwarna khaki tua dan celana kain cokelat—paduan warna yang membumi, sangat serasi dengan lingkungan sawah dan pabrik yang kini menjadi kantor sementaranya. Di tangannya, papan klip yang kini sudah penuh dengan coretan data teknis menjadi senjata utamanya."Ayo, Pak, lanjut. Karung ke-45!" seru Ayu tegas, suaranya mengatasi kebisingan mesin conveyor di kejauhan.Tanpa dampingan Pak Suryo, para pekerja awalnya mengira mereka bisa sedikit santai. Namun, mereka salah besar. Ayu justru jauh lebih teliti daripada ayahnya. Ia tidak hanya berdiri dan
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Bab 10: Skakmat Ayu
Berbeda dengan rumah Ayu yang penuh dengan aroma masakan rumahan dan godaan canda tawa, kediaman Raka adalah sebuah manifestasi dari kemewahan yang sunyi. Lantai marmer yang dingin dan pencahayaan lampu yang dramatis memberikan kesan minimalis sekaligus angkuh—persis seperti pemiliknya.Raka melepas jam tangan mahalnya, meletakkannya di atas meja rias dengan denting kecil yang garing. Ia bercermin sejenak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin pabrik. Kemeja *navy* yang ia kenakan hari ini sudah sedikit kusut, tapi itu tidak mengurangi aura "tengil" yang seolah sudah mendarah daging dalam dirinya.Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Ayu yang sedang marah—dengan mata yang menyala dan bibir yang mengerucut—selalu muncul tanpa diundang. "Penyelidik kecil yang keras kepala," gumam Raka sambil menyeringai tipis.Ketukan di pintu menghentikan lamunannya. Pak Adi berdiri di ambang pintu dengan wajah serius yang jarang ia tunjukkan."Raka, turun ke bawah. Ada yang perlu
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Bab 9: Cemberut berkepanjangan
Keheningan melanda di dalam mobil perjalanan pulang setelah dari pabrik, Ayu duduk bersandar di kursi penumpang depan, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Bibirnya mengerucut, membentuk gurat kekesalan yang sudah bertahan sejak celetukan Ayahnya di depan Raka tadi.Atasan cokelat espresso yang tadi ia kenakan dengan penuh rasa percaya diri, kini terasa seperti beban. Warnanya yang gelap seolah mewakili mendung yang tiba-tiba bergelayut di hatinya. Setiap kali bayangan wajah Raka—yang mendadak terdiam seribu bahasa—muncul di kepalanya, Ayu akan menggeram pelan dan mengganti posisi duduknya dengan kasar."Ayu, kamu mau makan malam apa nanti?" tanya Pak Suryo sambil tetap fokus pada kemudi. Nadanya terdengar biasa saja, seolah-olah ia tidak baru saja meledakkan bom atom di tengah hubungan profesional putrinya."Terserah," jawab Ayu singkat, nyaris seperti desisan."Atau kita beli martabak di depan kompleks? Langganan kamu, kan?""Nggak mood."Pak Suryo melirik sekilas, lalu han
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Bab 8: Bising dan pusing
"Aku sudah bilang, Raka. Data di bagian sortir ini tidak masuk akal. Ada selisih hampir dua ton antara hasil panen yang masuk dengan yang masuk ke penggilingan. Kamu tidak bisa cuma bilang ini 'penyusutan alami'," suara Ayu tajam, meski ia berusaha mengecilkan volumenya agar tidak menarik perhatian seluruh karyawan.Raka mendengus, sebuah senyum tipis yang meremehkan tersungging di bibirnya. "Ayu, dengar. Bisnis itu bukan cuma soal angka di kertas yang kamu pegang dengan tangan gemetar itu. Ada variabel lapangan yang tidak kamu mengerti. Jangan karena kamu sedang menulis skenario misteri, lalu kamu menganggap setiap selisih angka adalah sebuah konspirasi kriminal.""Ini bukan soal imajinasi!" potong Ayu cepat. "Ini soal integritas. Ayahku mempercayakan kerja sama ini karena dia yakin perusahaanmu bisa diandalkan. Tapi kalau pengawasnya saja seceroboh kamu...""Ceroboh?" Raka melangkah maju, membuat Ayu refleks mundur selangkah hingga punggungnya nyaris menyentuh pagar besi. "Aku suda
Last Updated: 2026-04-14
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status