LOGINLampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah ritual syukur tahunan atas panen padi yang melimpah ruah. Suara gamelan bertalu-talu dari arah balai desa, menyatu dengan tawa anak-anak yang berlarian membawa kembang api kecil.
Ayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya penuh dengan aroma khas kampung halamannya. Ia mengenakan gamis sederhana namun anggun, sementara rambutnya yang biasanya diikat, malam ini ia biarkan tergerai rapi.
"Ayu! Jangan melamun terus, ayo ke stand sebelah sana! Katanya ada kerak telor dan dawet ayu yang paling enak se-kecamatan!" teriak Reya, sepupunya yang punya energi layaknya baterai yang tidak pernah habis.
Ayu tertawa kecil, melangkah menyusul Reya yang sudah lebih dulu berdiri di depan sebuah gerobak kayu tua. "Pelan-pelan, Rey. Makanannya nggak akan lari ke desa sebelah."
Mereka akhirnya duduk di sebuah bangku bambu panjang, tepat di bawah pohon beringin besar yang dihiasi lampu warna-warni. Di tangan mereka masing-masing sudah ada sepiring kudapan tradisional yang masih mengepul panas. Ayu menyuapkan makanan itu ke mulutnya, memejamkan mata sejenak untuk meresapi rasa gurih dan manis yang memanjakan lidahnya. Untuk sejenak, ia merasa damai. Pesta ini, musik ini, dan kebersamaan dengan Reya adalah penawar letih yang sempurna setelah seminggu penuh berkutat dengan pekerjaan.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan selama tiga menit.
Saat Ayu baru saja hendak meminum dawetnya, matanya tanpa sengaja menyapu kerumunan orang yang tengah menonton pertunjukan tari di panggung utama. Di sana, di antara bayang-bayang lampu yang remang, ia menangkap sebuah siluet. Sosok tinggi, bahu tegap, dan cara berdiri yang terlalu percaya diri—sebuah gestur yang sangat Ayu kenal. Bahkan dari jarak lima puluh meter, Ayu bisa mengenali gaya rambut yang sedikit berantakan itu.
Jantung Ayu mencelos, tapi bukan karena kagum. Itu adalah alarm tanda bahaya.
"Raka..." gumam Ayu lirih, namun nadanya penuh dengan racun.
Reya yang tengah asyik mengunyah, menoleh. "Apa? Raka? Mana? Cowok yang kamu bilang mirip kaktus itu ada di sini?"
Ayu tidak menjawab. Matanya menyipit. Benar saja, siluet itu berbalik, dan lampu panggung menerangi wajahnya dengan jelas. Raka. Musuh bebuyutannya sejak zaman seragam putih-abu-abu masih menempel di badan. Laki-laki yang pernah menaruh katak di tasnya, laki-laki yang selalu memenangkan perlombaan debat dengan cara yang paling menyebalkan, dan laki-laki yang—menurut Ayu—memang diciptakan Tuhan hanya untuk menguji kesabarannya hingga ke titik nol.
"Rey, pergi. Sekarang," bisik Ayu tegas sambil meletakkan gelas dawetnya dengan kasar.
"Hah? Tapi keraknya belum habis, Yu! Sayang banget—"protes Reya saat Ayu berkata harus segera pergi.
"Ayo, Rey! Sebelum dia lihat kita," Ayu menyambar pergelangan tangan sepupunya. Ia mencoba berdiri secepat mungkin, berniat menyelinap di balik kerumunan orang yang sedang antre martabak.
Namun, keberuntungan sedang tidak memihak pada Ayu malam ini. Belum sempat mereka melangkah tiga kaki, sebuah suara bariton yang berat dan terdengar sangat "sengaja" menyapa dari arah belakang.
"Wah, wah. Sepertinya ada yang mau melarikan diri sebelum bayar pajak pemandangan, ya?"
Ayu mematung, bahunya merosot. Ia memejamkan mata sesaat, merutuk dalam hati mengapa ia harus keluar rumah malam ini. Dengan gerakan lambat yang sangat terpaksa, ia berbalik.
Raka berdiri di sana. Ia mengenakan kemeja flanel gelap dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan kulit yang tampak kontras dengan suasana desa yang sederhana. Senyumnya miring, jenis senyum yang selalu membuat Ayu ingin melempar sesuatu ke wajahnya.
"Halo, Ayu. Sudah lama ya? Kamu masih saja pendek ternyata," ujar Raka sebagai kalimat pembuka.
Ayu merasakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. "Dan kamu masih saja tidak punya sopan santun, Raka. Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu seharusnya sibuk jadi orang kota yang sombong?"
Raka tertawa, suara tawa yang renyah namun di telinga Ayu terdengar seperti suara gesekan amplas. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tatapan tajam Ayu, lalu beralih menatap Reya yang hanya bisa melongo.
"Halo, sepupu Ayu yang cantik. Kamu pasti Reya, kan? Kasihan sekali kamu, malam Minggunya harus dihabiskan dengan nenek sihir ini," ucap Raka dengan nada prihatin yang dibuat-buat.
"Heh! Jaga mulutmu ya, Raka!" potong Ayu cepat. "Ayo, Rey, jangan dengerin omongan orang nggak jelas ini."
Raka justru sengaja menghalangi jalan mereka. Ia memasukkan tangan ke saku celananya, menatap sekeliling pesta rakyat dengan gaya sok puitis. "Padahal aku baru mau bilang, pesta rakyat tahun ini bagus sekali. Terutama karena ada kamu yang menambah... suasana 'panas' di sini. Benar-benar wujud syukur yang luar biasa, kan?"
Ayu melipat tangannya di dada, wajahnya sudah merah padam. "Raka, denger ya. Aku ke sini buat makan, buat tenang, dan buat merayakan panen. Aku nggak butuh basa-basi sampah kamu. Jadi, tolong, minggir."
Raka tidak bergeming. Ia justru sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah Ayu hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar namun mengganggu fokusnya.
"Galak banget. Padahal aku cuma mau tanya satu hal," bisik Raka, matanya berkilat jahil. "Tulisan kamu tentang 'Keadilan di Atas Reruntuhan' itu... bukannya harusnya judulnya 'Curhatan Wanita yang Susah Move On'?"
Ayu terperangah. Laki-laki ini benar-benar tahu cara menginjak harga dirinya sebagai seorang editor dan juga penulis online. Raka adalah satu-satunya orang yang selalu mengkritik tajam kolom tulisannya di buletin mingguan dengan komentar-komentar pedas yang dikirim lewat email anonim—yang belakangan Ayu ketahui identitasnya.
"Kamu..." Ayu menunjuk wajah Raka dengan jari telunjuknya yang gemetar karena emosi. "Kamu bener-bener orang paling menyebalkan yang pernah ada di muka bumi!"
"Terima kasih atas pujiannya, Yu. Itu artinya aku melakukan pekerjaanku dengan baik," balas Raka dengan kedipan mata yang membuat Ayu ingin berteriak saat itu juga di tengah kerumunan.
Pesta rakyat yang tadinya terasa damai, kini benar-benar telah hancur bagi Ayu. Di bawah sinar bulan dan lampu warna-warni, ia tahu, malam Minggunya baru saja berubah menjadi medan perang baru. Dan yang paling ia benci dari semuanya adalah kenyataan bahwa di balik amarahnya yang meluap, ada sebuah getaran aneh yang ia sendiri tak berani akui namanya.
Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah mencapai puncaknya.Setelah pagi tadi berburu kuliner didesa bersama sang sepupu, kali ini Ayu melangkah hati-hati di atas pematang sawah yang sempit. Sepatunya yang biasa ia gunakan untuk berjalan di aspal ibu kota kini harus berkompromi dengan tanah kering yang sesekali pecah. Di depannya, Pak Surya—ayah Ayu—berjalan dengan langkah mantap. Lelaki paruh baya itu mengenakan kemeja flanel kusam yang lengannya digulung hingga siku, sebuah caping lebar melindungi wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia namun tetap memancarkan wibawa."Hati-hati, Yu. Pematang yang ini agak miring karena kemarin habis diguyur hujan deras," ucap Pak Surya tanpa menoleh, namun tangan kanannya terulur ke belakang
Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih hangat akibat selimut tebal. Di sampingnya, Reya masih bergulung layaknya kepompong raksasa, hanya menyisakan ujung rambutnya yang berantakan mencuat keluar."Rey, bangun. Katanya mau cari sarapan?" Ayu mengguncang bahu sepupunya itu.Reya hanya bergumam tidak jelas, menarik selimutnya lebih tinggi. "Lima menit lagi, Yu... semalam kita ghibah sampai jam dua pagi, ingat?"Ayu terkekeh. Semalam, setelah pulang dari Pesta Rakyat dengan perasaan dongkol akibat ulah Raka, mereka memang menghabiskan waktu berjam-jam di bawah temaram lampu kamar Mbah. Mereka menertawakan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil hingga mengumpat habis-habisan tentang betapa menyebalkannya wajah Raka yang sok tampan
Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah ritual syukur tahunan atas panen padi yang melimpah ruah. Suara gamelan bertalu-talu dari arah balai desa, menyatu dengan tawa anak-anak yang berlarian membawa kembang api kecil.Ayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya penuh dengan aroma khas kampung halamannya. Ia mengenakan gamis sederhana namun anggun, sementara rambutnya yang biasanya diikat, malam ini ia biarkan tergerai rapi."Ayu! Jangan melamun terus, ayo ke stand sebelah sana! Katanya ada kerak telor dan dawet ayu yang paling enak se-kecamatan!" teriak Reya, sepupunya yang punya energi layaknya baterai yang tidak pernah habis.Ayu tertawa kecil, melangkah menyusul Reya yang sudah lebih dulu berdiri di depan sebuah gero
Selama lima tahun itu, komunikasi dengan orang tua hanya bisa dilakukan melalui panggilan telepon setiap akhir pekan. Sedangkan ayahnya, yang biasanya hanya berbicara sebentar, selalu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang sama: “Jangan khawatir tentang kami, nak. Fokuslah pada kuliahmu. Kampung ini akan selalu ada untukmu.” Namun, tiga bulan yang lalu, panggilan telepon dari ibunya datang tidak pada hari biasa, dan suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit bergetar ketika memberitahu bahwa ayahnya telah mengalami sakit kepala yang cukup parah dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.Sejak saat itu, setiap panggilan telepon selalu diakhiri dengan permintaan yang sama dari ayahnya: “Pulanglah, Ayu. Kampung ini membutuhkanmu. Sawah, kebun, dan pabrik kita membutuhkan orang yang bisa mengelolanya dengan baik. Ayah sudah tua dan ingin segera beristirahat.” Ayu tidak bisa menolak permintaan itu; hati nya merasa tertekan. Setelah menyelesaikan semua a
Telepon genggam itu bergetar di meja kerja Ayu, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan ketukan jari pada papan ketik. Nama "Ibu" terpampang di layar, disertai emoji hati berwarna merah muda yang sudah lama tidak digantinya. Ayu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan ia tahu betul apa isi dari panggilan ini. Ini bukan panggilan basa-basi biasa. Ini adalah panggilan misi. "Halo, Bu," jawab Ayu, berusaha terdengar ceria, meskipun ia baru saja menyelesaikan revisi dokumen yang memakan waktu tiga jam non-stop. "Halo, Nduk. Baru selesai kerja, Nak?" Suara Ibu, lembut dan hangat, segera menyelimuti Ayu, sebuah kontras yang menenangkan dari kebisingan kota yang ia tinggali. "Iya, Bu. Baru banget ini. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" "Alhamdulillah, kami baik, Nak. Bapakmu barusan aja selesai minum jamu kunyit asam buat pegal-pegalnya. Dia lagi nonton TV di depan." Jeda sejenak,. "Kamu sendiri gimana? Mak







