LOGINMy Alpha Series Book 1 Jude: Despite being an alpha with a destined mate somewhere, I wanted nothing to do with her. After everything I've witnessed since I was a boy I learned one thing, to love is to destroy. That’s what happened to my father and I'll be damned if I let history repeat itself. My father shaped me into the ultimate alpha. One who doesn't put anything above his pack, not even a mate. Elijah his wolf: My human buddy here is full of shit. Don’t listen to him. He doesn’t even know what love is and he's sitting here giving you stupid advice on it. He turned his heart to stone and decided to turn his back on our mate. Stick with me and you'll know the true meaning of love because as soon as I lay eyes on her, I'll give my life to protect her. Yeah that’s right, screw you Jude. Move over it’s time for me to take control now. Davina: A mate? Yeah more like a heart stabbing BASTARD! At least I had my pretty convincing reason to try and kill him. But what the fuck was his excuse? Why not reject me and send me on my way? Why such cruelty? Rowena her wolf: Ok so I know it’s pretty bad that our mate tried to kill us, but on the bright side, his kind hearted wolf stopped him. He'll take care of us now. I know it from the bottom of my heart. You’ll see Davina, we'll be safe again. Two human mates hell bent on killing each other for their own reasons. Their two wolves hell bent on taking control and mating to each other like they're meant to be. Which side will win?
View More"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar."
Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol.
Kalla menarik napas panjang dan menguatkan diri sekali lagi ketika ingat ucapan CEO perusahaan yang baru saja meng-interview-nya. Begitu blak-blakan dan menyentil hingga dia tidak bisa lagi menahan emosi.
"Memang dia pikir dirinya siapa? Jangan mentang-mentang CEO jadi seenaknya ngatain orang. Hah!"
Gadis itu melamar sebagai sekretaris CEO, menyesuaikan bidang perkuliahannya yang lulus satu tahun lalu. Baginya bisa sampai ke tahap interview adalah hal yang membanggakan di perusahaan besar sekelas Ganesha Group.
Terlebih ketika melihat tampang CEO-nya secara langsung begitu masuk ruang interview. Dia jadi tahu definisi tampan yang sesungguhnya. Nyaris semua kesempurnaan ada pada pria dengan potongan rambut curly back side, tapi agak panjang itu.
Kalla tidak menyangka jika CEO Ganesha Group jenis CEO wanna be yang sering dia lihat di dracin-dracin pendek kesukaannya. Seketika kepalanya berimajinasi liar, mengundang kikikan kecil tak tahu malu.
Mata Kalla sampai tak berkedip saat melihat pria itu melempar senyum tipis padanya. Dadanya pun tanpa bisa dicegah langsung berdebar kencang. Bahkan dia sempat terserang grogi ketika dua interviewer lain menanyainya, sebelum akhirnya CEO tampan itu mengeluarkan suara yang mematikan.
"Saya tidak butuh sekretaris fresh graduated non experience. Yang bahkan pengalaman berorganisasi pun tidak ada. Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti saudari."
Padat, jelas, dan nyelekit.
Pangkal alis Kalla kontan menyatu mendengar ucapan bernada sinis itu. Senyum yang dia kembangkan sejak masuk ruang interview perlahan raib.
Dia tidak percaya ada manusia bertampang malaikat tapi mulutnya pedas seperti setan. Otak kosong dan manja, pria itu bilang? Hah!
Darimana pria itu bisa menyimpulkan seperti itu hanya dengan interview singkat begini?
Selama ikut beberapa wawancara kerja, baru kali ini Kalla mendapat hinaan secara langsung seperti ini. Hatinya jelas tidak terima.
Persetan dengan muka tampan dan pekerjaan! Dia mendongak, menatap lurus wajah malaikat iblis itu. Lalu, ucapan yang seharusnya tidak terlontar pun meluncur dari mulutnya.
"Mungkin saya berotak kosong, tapi setidaknya saya punya attitude dan manner yang bahkan seorang CEO seperti Anda tidak punya."
Kalla puas ketika melihat wajah tampan itu berubah kecut. Pria itu pasti tidak menyangka bahwa gadis cukup punya nyali untuk menyerang balik.
"Saya memang butuh kerjaan. Tapi sepertinya saya terlalu berharga untuk menjadi sekretaris CEO akhlakless seperti Anda," lanjut Kalla lantang tanpa peduli resiko yang akan dia dapat. Toh sudah pasti dirinya tidak lolos.
Wajah para interviewer di depannya terlihat syok. Sementara CEO arogan itu tampak merah padam. Lantas kalimat penolakan atas dirinya pun meluncur.
It's OK! Everything's gonna be OK!
Kalla menarik napas panjang, lalu berjalan dengan langkah tegar keluar dari gedung jangkung itu. Dia tidak mau terlihat lemah dan ingin mereka tahu bahwa pekerjaan bukan hanya ada di Ganesha.
Namun ketika jaraknya makin jauh dari gedung itu, ketegaran itu pun perlahan menghilang. Wajah Kalla berubah lusuh dan kehilangan semangat. Dia berjalan dengan bahu meluruh. Sejak hari ini, total sudah ada 20 perusahaan—dari yang bergengsi hingga biasa saja—menolak dirinya.
Sampai Kalla bingung sendiri, sebenarnya apa yang ada pada dirinya? Kenapa bisa memiliki nasib sesial ini?
Perlukah dia mandi kembang tujuh rupa untuk buang sial? Sejak dirinya lulus setahun lalu belum ada satu pun lamarannya yang sukses menembus salah satu perusahaan. Mentok sampai interview saja.
Kalla makin nelangsa saat teringat ibunya. Ibu punya harapan besar padanya, tapi dia selalu mengecewakan. Kalla malu di usia dewasa begini masih saja menjadi beban keluarga.
Masih berada di area yang dikelilingi gedung apartemen dan perkantoran, Kalla menyeret langkah menuju sebuah taman bermain anak yang jadi salah satu fasilitas dari kawasan elit kota ini.
Taman itu sedang sepi dan dia memutuskan duduk di salah satu ayunan yang ada di sana.
Sambil memikirkan langkah selanjutnya, dia mengemut lolipop cokelat yang senantiasa ada di dalam tas.
Kepalanya dia sandarkan di tali ayunan seraya bergoyang pelan. Meski masih ada sedikit tersisa rasa kesal pada CEO sialan itu, hidup tetap harus berjalan kan?
PLUK!
Sebuah bola yang datang entah dari mana mengenai kakinya lalu berhenti tepat di bawahnya. Kalla berhenti berayun dan mengambil bola warna-warni itu. Tatapnya lantas bergulir guna mencari pemilik bola tersebut. Dan tidak jauh dari tempatnya dia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga atau empat tahunan tengah memandanginya.
Anak laki-laki bermata bulat dengan pipi kemerahan yang menggemaskan. Kulitnya putih dan rambutnya tebal. Baru seupil saja garis ketampanannya sudah kelihatan. Dia benar-benar lucu.
"Halo," sapa Kalla memasang wajah ceria. "Ini bola kamu?" tanyanya tersenyum.
Anak itu terus memandanginya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Kalla mengacungkan bola itu padanya. "Ini ambil," katanya ramah berusaha tidak membuat anak itu takut. Karena sepertinya anak itu sedang bersikap waspada.
Melihat tidak ada reaksi dari anak tersebut, Kalla celingukan, mencari keberadaan seseorang. Bisa saja anak itu datang bersama orang tuanya. Namun, matanya yang mengedar tidak menemukan siapa pun selain dirinya dan anak itu.
Kalla kembali tersenyum. "Kamu sendiri?"
Anak itu kembali mengangguk tapi masih berdiri di tempat sambil memandangi Kalla.
"Mama sama papa kamu mana?"
Kali ini anak itu menggeleng. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bikin Kalla bingung. Wanita 23 tahun itu berinisiatif mengambil lolipop di tasnya. Lalu mengacungkan benda itu.
"Kamu mau ini?"
Kini tatapan si anak beralih ke lolipop tersebut. Menatap beberapa saat lalu mengangguk malu-malu. Dan Foilaah! Tanpa diperintah anak itu mendekat dengan sendirinya.
Dia mengambil lolipop dari tangan Kalla. "Terima kasih, Onti Cantik," katanya dengan suara yang sangat sopan.
Tak pelak hal itu membuat senyum Kalla mengembang cerah. Anak itu menyebutnya cantik! Anak kecil selalu berkata jujur kan? Mendadak mood Kalla naik seketika hanya mendengar pujian tulus dan ucapan terima kasih dari anak menggemaskan itu.
"Jangan panggil Onti dong. Kakak aja, ya," ucapnya terdengar tak tahu malu. Tapi anak itu mengangguk dan menurut.
"Kakak Cantik."
Ah, dipuji bocil saja Kalla sudah bahagia. Dia lantas membantu anak itu membuka bungkus lolipop. Dan keduanya berakhir duduk bersampingan di atas ayunan.
"Nama kamu siapa?" tanya Kalla saat melihat wajah anak itu yang berubah ceria.
"Kael."
Kalla mengulum senyum. "Nama kita hampir mirip."
Anak itu menoleh, mata bulatnya berbinar indah. "Nama kakak siapa?"
"Namaku Kalla. Kael dan Kalla, mirip kan?"
Kael mengangguk, lalu kembali mengemut lolipopnya. Sepertinya dia bahagia sekali makan loli, seperti baru pertama kali makan.
"Kael, kamu ke sini sendiri?" Saat anak itu mengangguk, Kalla bertanya lagi. "Papa mama kamu mana?"
"Papa kerja, Mama nggak tau."
'Papa kerja' bisa Kalla pahami, tapi kalau 'mama nggak tau' dia kurang paham maksudnya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Kalla lagi. Orang tuanya cukup ceroboh juga membiarkan anak sekecil Kael berkeliaran sendirian.
Tanpa Kalla duga, Kael menunjuk salah gedung tinggi yang ada di kawasan itu. Peak Apartemen?!
Wow, ternyata anak itu putra orang tajir. Bisa-bisanya anak balita sultan berkeliaran sendirian di sini tanpa pengawasan. Bagaimana
kalau ada yang menculik? Orang tuanya benar-benar teledor.
"Kakak Cantik, Mau enggak jadi mamaku?"
Eh?!
Thank you to all the readers for reaching this far. Thank you to those who supported me during my writing of this book, you guys kept me going and always encouraged me with your comments and gems. I hope you enjoyed reading this book as much as I enjoyed writing it and I hope it kept you excited and reached your expectations until the very end. Don’t be shy to drop a comment and let me know your thoughts on this book, I’m always happy to read them. I’m off now to write the sequel for my other book “On The Border”. Make sure to check it out along with my other book “The Half Blood Luna” if you haven’t read them already. I’m also thinking about a spin off novel for Cedric and Maria’s story, but the plot is not fully developed in my head yet. Would you be interested to read their story? Let me know. With Love, The Black Daisy
The Moon Goddess’s POV I stand there on the balcony, as the slightly cold wind plays with my hair and white dress. I was watching my beautiful child from afar, Davina. She has grown into the best version of herself now, no longer lost, hurt, scared, hopeless, nor unhappy. She was wearing an alluring long, off shoulder straps, red dress. Her hair cascading down her back, shiny and straight, was being blown by the wind, giving her a look of a queen, which she most certainly was. She just stepped outside to the balcony attached to the ball room where she was just introduced to her whole pack as their Luna, and Jude’s official mate. The pack, after witnessing everything that took place on that field this morning, and how she went through hell and back to bring back their alpha, welcomed her with arms wide open and bowed down to her, vowing to always respect and protect her. Not that she was incapable of protecting herself. The ball was just about to end and Davina wanted to catch som
Jude’s POV“Holy shit! I still can’t believe everything you just told me” I said in wide disbelief as my mind tried to make sense of everything that happened after I died.We were all gathered in my bedroom. Davina was still sleeping deeply against my chest while I absently played with her silky long hair.Robert, Ian, and Irena were all sitting next to each other at the foot of the bed, facing us.I suspected Davina would turn dark due to my demise, but I didn’t expect it would go this far. She killed all the alphas, plus Robert’s sister and she did it all without an ounce of hesitation.“It could have been worse, honestly. I mean for a minute there, everyone truly believed that she was going to side with Lucy and destroy everyone who stands in her way, including us. Her love for you kept her sane thank goddess” said Ian in relief.“It wasn’t that” said Irena disagreeably.“What then?” I asked her curiously.“Her love for you is what turned her dark. She was gone, consumed wholly by
Davina’s POV With every ounce of concentration I had in me, and using every shred of power I could muster from my wolf Rowena; which she so willingly gave to me, I started casting what was probably the strongest spell that ever existed until now. It took a considerable amount of time to be performed. The incantation was complicated to read and very long, but I pronounced all the words with complete precision and focus, willing my entire being to believe that I will be able to pull it off. I finished the last word and I swear, my heart was going to explode out of anticipation. My eyes froze on Jude’s face. The seconds were stretching out to an unbearable degree. Then I felt it. The most intense pressure started building within me. The power that surged through me whenever I cast a spell usually wasn’t painful or anything, but this time it was. The power that claimed me whole like never before, was tearing me apart from the inside out. The power was slowly destroying my insides,
Davina’s POVWho the hell is Lucy?I thought to myself. I inspected her face as my brain tried to place if I had met with her before or not. It came up empty.She had short brown hair and deep cold blue eyes.The eyes.There was a familiarity to that particular shade of blue.And then it hit me.Lucy, Robe
Davina’s POVI thought I felt all the loss I could ever feel when I watched my mom die right in front of my eyes. I thought that nothing could ever measure up to that painful loss ever again.But I was so wrong.So very wrong.Imagine the pain I felt when she died and multiply that amount with infinity,
Jude’s POVWho would have thought, a day will come where I will give up my instinctive need to always be in control, my dominance, my alpha role where no one dares to tell me what to do or order me around, and become an obedient submissive?I certainly never saw that coming, not in my wildest dreams.Y
Davina’s POVI kept crying and holding on to him for a whole hour maybe. At some point during that time, he moved us to a more comfortable position. We were sitting at the edge of the bed and next thing I know, we were both in the middle of the bed with his back leaning against his headboard and my b






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore