Share

Chapter 6

Penulis: Crystalicious.V
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 20:04:25

Selene ingin sekali berteriak pada takdir, semesta sepertinya suka sekali bercanda karena kejadian yang terus menerus menimpa dirinya minggu ini.

‘Kenapa?! kenapa laki-laki ini muncul lagi? Bukankah dia yang kemarin minta putus?’

Pikir Selene yang ingin sekali pergi dari cafe ini sekarang juga. Matteo masih berdiri di samping meja mereka dengan ekspresi yang membuat Selene ingin menjambak rambut hitam pria itu hingga botak. Ekspresi orang yang selalu mengira dirinya akan terus memiliki ruang di hati wanita bermata hazel tersebut.

“Selene,” ulangnya, seolah satu panggilan itu cukup untuk mengembalikan sesuatu yang sudah selesai.

Selene menatapnya tanpa berdiri dari kursinya.

Pria di depannya itu terlihat sama. Rambut hitamnya masih disisir rapi, kemeja nya disetrika mulus. Tidak ada tanda seseorang yang baru saja memutuskan hubungan lewat telepon, lalu ditemukan sambil berboncengan mesra dengan perempuan lain.

“Kenapa?” tanya Selene akhirnya. 

Matteo tampak terkejut, tidak menyangka Selene yang biasanya memiliki hati yang lembut itu bisa mengeluarkan nada seketus itu, ditambah lagi nada itu ditujukan padanya. Pria yang sudah lama disukai gadis itu.

“Aku cuma nggak nyangka ketemu kamu di sini.”

“Ha.”

Selene tertawa sinis.

Apanya yang tidak nyangka? Matteo sudah tahu sejak awal mereka pacaran kalau Cafe ini merupakan cafe favorite Selene. Tempat dimana Selene selalu pergi ketika sedang stress, senang atau sekedar ingin mengerjakan tugas di luar kampus maupun rumah.

Fiona mendecak pelan dari seberang meja.

“Ini Cafe umum, bukan rumahmu.” Ketus Fiona.

Matteo melirik Fiona sekilas, lalu kembali menatap Selene, mengabaikan Fiona seolah gadis berambut bondol itu tidak ada.

“Aku cuma mau ngobrol,” Ucapnya. “Bentar aja.”

Selene menghela nafas kasar, sedangkan Fiona yang berada di seberang gadis berambut wavy itu tampak emosi karena diabaikan.

“Ngobrolin apa?” 

Selene akhirnya menjawab, karena gadis itu yakin jika tidak pria itu tidak akan pindah.

“Soal kemarin,” jawab Matteo cepat.

Selene mengernyit, gadis itu benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan pria itu.

“Kemarin apanya? Kita tidak pernah membahas apapun lagi semenjak kau minta putus.”

Matteo tertawa kecil, nada suaranya mulai terdengar defensif. “Sel, jangan gitu. Waktu itu aku lagi stress dan kamu tahu kan aku—”

“Matteo, Cukup ya.” Selene akhirnya memotong ucapan pria itu sambil memijat pelipisnya.

Biasanya Selene akan dengan bodohnya mempercayai Matteo. Pria itu biasanya akan mengatakan jika Selene terlalu paranoid atau Selene terlalu mengekang dan tidak membiarkan pria itu punya kebebasan. Namun setelah diberi kebebasan pun pria itu bukannya membaik malah melakukan hal yang paling Selene benci di dunia ini, Selingkuh.

Selene bisa memaafkan berbagai jenis kesalahan dan kekurangan namun selingkuh? Itu adalah satu hal yang tidak bisa Selene tolerir.

"Kamu tahu kan aku paling benci bajingan yang suka selingkuh?"

Mata Selene terbuka dan akhirnya menatap Matteo tepat ke arah mata pria yang sekarang telah menjadi mantan pacarnya itu.

“Selingkuh pun kamu tidak becus, seenggaknya pinteran dikit! Ternyata satu kampus tahu kamu selingkuh.”

Mendengar ucapan Selene Matteo mengatupkan rahangnya, walau terpaksa pria itu mulai bersuara lagi kali ini dengan suara yang lebih lantang.

“Kamu lebih percaya mereka daripada aku? Sel, yang punya hubungan itu kita bukan mereka. Kamu ngapain lebih dengerin omongan orang sih?”

"Matteo! Pelankan suaramu! Kamu ngeganggu pengunjung lain."

Kalimat itu membuat Matteo terdiam sesaat sebelum pria itu mulai menyeringai meremehkan. Dan benar saja, pengunjung cafe mulai melirik ke arah meja mereka, beberapa sambil berbisik.

"Kalau tidak mau jadi bahan tontonan ayo kita ngobrol sebentar."

Selene mau tak mau akhirnya berdiri perlahan.

Fiona langsung menatapnya, dahinya menunjukkan kerutan, bibirnya menurun jelas tidak setuju dengan pilihan Selene untuk mengobrol berdua saja dengan Matteo, tangannya mengencang di pergelangan Selene, menahan gadis itu.

Selene menepuk tangan itu pelan.

“Bentar aja,” katanya lirih. “Aku mau dengar.”

Fiona menghela napas panjang, tapi akhirnya tangan Selene ia lepaskan.

“Kalau gitu lima menit,” katanya sambil menatap Matteo. “Lewat dari itu aku samperin.”

Matteo tanpa rasa bersalah hanya menghembuskan nafas meremehkan sebelum menuntun Selene menjauh dari meja dan berhenti di dekat pintu samping kafe. Masih terlihat orang lalu-lalang, masih terdengar suara dari dalam cafe Arcadia yang hidup, dan yang terpenting Fiona masih dapat melihat mereka berdua.

“Apa?”

Tanya Selene yang tak mau berlama-lama membuang waktunya.

"Sel, ayo balikan."

Ucapan itu membuat Selene termangu.

'Balikan? Serius dia ngomong gitu?'

"Ngaco kamu! Balikan? Kamu pikir aku semurah itu?"

Matteo menangkap tangan gadis itu dengan kedua tangannya dan menampakkan wajah yang seolah-olah ia adalah lelaki paling tersakiti di dunia.

“Sel, aku waktu itu kecapean dan lagi butuh teman buat cerita. Kamu terlalu sibuk,makanya aku dekat dengan Rosetta.”

Selene menatapnya sebentar lalu tertawa, sebuah tawa nanar karena sekali lagi, menurut pria di depannya ini itu semua salahnya.

“Serius?” ucapnya. “Makanya kamu ke sini?”

"Rosetta udah nggak bales chat aku lagi Sel, sekarang aku bakal fokus ke kamu doang."

"Ya iyalah fokus ke aku orang Rosetta udah gak nanggepin kamu!"

Matteo mengangkat bahu, jelas tersinggung oleh ucapan Selene yang dengan tepat menamparnya.

“Jangan sok dingin deh. Kamu juga pasti masih mikirin aku.”

Selene terdiam mendengar itu.

Gadis itu tercengang karena keberanian dan kepercayaan diri pria itu.

The Audacity!?

“Aku udah ke sini baik-baik loh,” lanjut Matteo, suaranya mulai menajam. “Aku masih ingat Cafe favorit kamu."

'Tadi katanya ga nyangka? Sekarang terang-terangan ngaku kalau emang pengen ketemu."

Ditambah lagi, kenapa ucapannya itu terdengar seperti mengingat tempat favorit pacar sendiri adalah hal yang sangat luar biasa? Apa selama ini mengenal Selene hanyala beban emosional untuk Matteo?

Setelah putus dan berfikir bukan dengan lensa cinta, Selene sekali lagi menemukan satu demi persatu red flag yang ada pada pria itu.

'Dulu aku mikir apa confess ke makhluk ini?'

"Niat awalku mau ngobrol. Tapi ya tipikal kamu, pasti langsung defensif.”

Matteo sekali lagi dengan tidak tahu dirinya bersuara.

“Defensif?” ulang Selene benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Matteo.

“Iya. Dari dulu kamu gitu,” Matteo menghela napas dramatis tampak sekali pria itu sedang mengolah kata-kata yang ujungnya akan kembali menyalahkan Selene. “Kamu terlalu emosional. Makanya aku capek.”

'Terlalu emosional katanya? Aku?'

“Oh,” Selene mengangguk pelan wajahnya kembali mengeras. “Jadi ini salahku lagi sekarang?”

Matteo mendengus. “Ya enggak salah kamu doang. Tapi kamu juga harus introspeksi. Kamu tuh selalu ngerasa paling tersakiti, selalu victim mentality.”

'Excuse me?! Aku gak salah dengar?'

Apakah pria ini tidak mendengar ucapannya sendiri saat ini? Selene, yang selalu saja salah di mata pria itu disebut memiliki victim mentality?!

Selene menoleh sebentar ke arah Fiona memberikan kode lewat mata kalau berbicara dengan pria di depannya tidak akan kemana-mana. Fiona yang melihat itu berdiri, rahangnya mengeras mempersiapkan diri kalau-kalau pria berambut hitam itu kelewatan batas.

“Kamu tuh setahun udah hidup dari uangku! Terus selingkuh, with my step-sister! gak cukup disitu sehabis itu kamu mutusin aku di telpon, ngomong depan muka ku aja enggak,” Selene kembali menatap Matteo alisnya mengkerut, rahangnya mengatup dan matanya yang biasanya selalu tampak lembut itu menatap tajam ke arah pria di depannya.

“Terus kamu bilang aku yang emosional?”

"Hey, yang selingkuh siapa? kan sudah aku bilang, Rosetta itu cuma temen dan kamu kan sibuk sama lomba-lomba gak jelasmu itu."

Ha.

'Lomba tidak jelas?'

Jelas sekali Matteo tidak akan memberikan ucapan selamt padanya hari itu, meski mereka tidak memutuskan hubungan hari itu.

Mata Selene memanas.

'Itu hebat'

Tiba-tiba ucapan seseorang muncul di benaknya. Ucapan dari seorang pria yang, baru pertama kali ditemuinya kemarin malam.

'Kau pasti sudah bekerja keras agar bisa lolos seleksi itu.'

Seorang pria dengan rambut blondenya yang tertata rapi dengan mata biru yang selalu tampak serius.

'kau hanya melakukan hal yang kau suka, what's wrong with that?'

Ucapan itu mampu membuat Selene kembali lebih tenang.

Di sisis lain, Matteo lanjut tertawa sinis.

“Lagian kamu kan yang nawarin bantu. Sekarang kenapa malah sok jadi korban?”

Detik itu juga, Selene mengatupkan rahangnya keras, kesabaran Selene sudah berada di ambang batas.

“Kamu tau kenapa Rosetta nge-ghosting kamu?” Selene melangkah maju satu langkah. “Karena begitu dia dapet kamu, dia sadar kamu itu cuma cowok yang punya ego tinggi tapi kemampuannya kecil.”

Matteo tersentak. “Jaga ucapan mu!”

“BUAT APA?” Selene pada akhirnya membentak.

Beberapa orang di kafe menoleh, beberapa pelayan cafe tampak sibuk membersihkan hal random di dekat mereka untuk mendengar pertengkaran itu. Fiona pun akhirnya sudah berdiri tepat di samping Selene me wanti-wanti pergerakan pria berambut hitam tersebut.

“Kamu tuh tipikal cowok haus validasi, yang butuh pelampiasan buat ngerasa jantan,” lanjut Selene, suaranya naik. “Begitu ceweknya berhenti ngurusin ego kamu, kamu panik.”

Wajah Matteo memerah tampak menahan amarah.

“Jangan sok pinter deh. Kamu juga gak bisa kan tanpa aku? yang ngejar-ngejar dulu—”

BLASH.

Ice caramel latte miliknya yang dibawakan Fiona menghantam wajah dan dada Matteo.

Bukan cuma ciprat. hampir segelas.

Sebenarnya caramel lattenya tinggal setengah, tetapi esnya sudah mencair sehingga menambah volume air yang ada di gelasnya.

Kopi menetes dari rambutnya ke kerah kemeja. Bau manis pahit langsung menyebar.

Cafe menjadi hening.

Beberapa orang berhenti melakukan kegiatannya untuk menonton drama gratis yang ada di depan mereka.

Selene masih memegang gelas kosongnya.

“DENGERIN BAIK-BAIK,” ucapnya keras, suara Selene sedikit bergetar namun mantap.

“AKU BUKAN CEWEK YANG BISA KAU INJEK SEMBARANGAN LALU BALIK PAS KAU LAGI KESEPIAN.”

Matteo terpaku, mulutnya terkatup rapat, tangannya mengepal kencang menatap Selene dengan mata menyala marah.

“Kau bakal nyesel,” gumamnya.

Selene tertawa remeh.

"Nyesel mutusin kau? Kayaknya ga mungkin deh."

Kepalan Tangan Matteo mengeras sebelum bergerak. Selene membeku melihat sebuah kepalan bergerak cepat menujunya.

"Selene!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • My Blissful Marriage   Chapter 27

    11.37Selene tidak bisa menyangka dirinya akan terlelap 4 jam setelah sarapan pagi tadi. Walaupun ia memang bergadang semalaman, ia pikir ia akan tertidur setidaknya dua atau tiga jam saja.Untung saja gadis itu libur hari ini.Selene lalu memutuskan untuk mandi karena merasa tubuhnya lengket. Walau ruangan itu full AC, tetap saja gadis itu merasa ia masih perlu untuk mandi setidaknya sehari sekali walau sedang libur.Setelah mandi dan mengenakan pakaian santai. Selene mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum."Udah siang juga, enak masak atau beli ya…" Gumamnya.Selene akhirnya memutuskan untuk membuka ponselnya awalnya ia hanya ingin membuka app untuk bisa memesan makanan, tetapi begitu menyalakan ponselnya, benda pipih berbentuk kotak itu langsung menunjukkan banyak notifikasi.Bukan cuma satu atau dua notifikasi ponsel baru dinyalakan.Tapi ratusan.Instagram: 847 notificationsTwitter: 589 notificationsWhatsApp: 125 messagesMis

  • My Blissful Marriage   Chapter 26

    Selene menatap langit-langit kamarnya.Jam digital di meja samping menunjukkan pukul 04:47."Bisa gila aku."Gadis itu sudah mencoba berbagai posisi tidur. Miring ke kanan, miring ke kiri, tengkurap, meringkuk dan juga terlentang. Tapi tidak ada yang berhasil membuatnya tidur.Benar-benar menyebalkan."Argh!" Selene akhirnya menyerah dan duduk di tempat tidur, rambutnya berantakan seperti sarang burung.Selene melirik jam lagi.05:15"Sudah jam segini dan aku masih belum tidur dari semalam…"Matanya sebenarnya terasa berat, tapi ia tetap tak bisa tertidur. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Leonard tanpa baju terus muncul di benaknya.Untung saja ia hanya memiliki satu mata kuliah hari ini, dan itu di siang hari.Gadis itu mencoba untuk memejamkan mata kembali tetapi…Kruyuukkkk….Perutnya berbunyi, sepertinya sandwich yang semalam ia makan hanya mengganjal perutnya sebentar.Selene sekali lagi melirik jam digital di jam samping,05:30."…Dia sudah bangun belum ya?" Selene bertanya

  • My Blissful Marriage   Chapter 25

    Nafas Leonard terasa berat, mata biru miliknya membulat melihat rumah tempatnya dibesarkan sekarang menjadi begitu hancur. Sofa kain berwarna putih gading yang selalu menjadi tempatnya bermain dan bercerita bersama kedua orang tuanya kini memiliki bercak-bercak merah yang begitu pekat.Ruangan yang dulu begitu rapi kini hancur. Vas bunga kristal kesayangan milik ibunya pecah berserakan di lantai, memantulkan cahaya lampu yang berkedip-kedip. Lukisan keluarga jatuh dari dinding, bingkainya retak. Meja kopi terbalik. Sofa robekIni adalah neraka."Leo! Bawa bundamu dan Arggghhh—"Nafas remaja berumur delapan belas tahun itu tercekat. Namun ia menuruti ucapan dari ayahnya, panutan hidupnya itu dan pergi mencari sang ibu."Bunda!""Leo! Lari jangan kesini!"Teriak sang ibu dari ujung lorong."Tapi—""LEO LARI!"BANG—"!!!"Pria dengan perawakan tinggi itu tersentak duduk di atas kasurnya. Nafasnya memburu, tangannya menggenggam seprai kasurnya erat."…Mimpi."Rambut pirangnya sedikit bas

  • My Blissful Marriage   Chapter 24

    Kelas terakhir Selene hari ini dibatalkan karena dosennya mendadak sakit. Gadis itu menatap pengumuman di group chat dengan perasaan lega sekaligus bingung.Jam menunjukkan pukul dua siang . Masih terlalu siang untuk pulang, tapi Selene juga tidak punya rencana lain. Hari ini ia tak ada jadwal lain selain kelas yang seharusnya berlangsung sampai jam empat nanti."Sel, kita ke cafe yuk?" Ajak Fiona yang seharusnya berada di kelas yang sama dengannya di dalam mata kuliah yang baru saja dibatalkan itu."Skip dulu Fi, aku mau pulang dulu."Fiona menyeringai."Pulang kemana? Ke 'rumah'?" gadis itu memberi penekanan pada kata rumah sambil mengedip-ngedipkan mata."Fi..."Selene sudah memberitahukan kalau ia semalam baru saja tiba-tiba pindah rumah, dan Fiona seperti biasa bereaksi heboh seperti biasa. Untung saja Selene memberitahukannya di tempat yang sepi dan bukan di kantin kampus atau di kafe Arcadia seperti biasanya."Oke, oke. Pulang yang aman ya~"Selene hanya menggelengkan kepala se

  • My Blissful Marriage   Chapter 23

    Selene tersentak bangun, tubuhnya terduduk kaget sambil melihat ke sekelilingnya.'Ini bukan kamarku.'Namun tak lama kemudian, gadis itu mulai menghela nafas dan merilekskan tubuhnya."Oh iya juga… Semalam kan aku diculik…"Apakah penculikan kata yang tepat?Jika benar diculik, maka tidak ada yang akan tahu dimana dirinya berada. tapi ini…Mungkin lebih tepatnya dipindahkan tanpa persetujuan?Selene menatap ruangan yang masih terasa asing ini. Interior yang benar-benar berbeda dari kamar tempatnya tumbuh besar. Kamar ini didominasi warna abu-abu dan putih. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menerangi ruangan. Berbeda dengan kamar miliknya yang didominasi warna soft dan feminim.Selene menunduk dan melihat piyama yang digunakannya, sebuah piyama satin berlengan panjang berwarna hitam. Sepertinya piyama yang sangat lembut itu memang masih baru karena Selene masih dapat mencium bau baju baru saat memakainya semalam.Selene mengambil ponselnya untuk melihat jam.

  • My Blissful Marriage   Chapter 22

    "Bertahanlah sebentar lagi. Kita bisa langsung pulang setelah pengumuman tanggal pernikahan."Itulah yang dikatakan Leonard satu jam yang lalu.Selene menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan kening berkerut. Walau Selene tidak hafal setiap jalan yang ada di kota ini, setidaknya ia tahu jelas jalan menuju rumahnya.Atau lebih tepatnya jalan menuju ke kediaman Cromwell yang berada di area kompleks elit."Kita mau ke mana?" Tanya Selene setelah memberanikan diri."Kemana lagi? Pulang."Selene langsung menoleh ke arah Leonard yang berada di sebelahnya."Ini bukan jalan ke rumahku.""Of course, karena kita ke rumahku." Jawab Leonard sedikit terkekeh."Apa?""Ke rumahku," ulang Leonard. "Tenang, sebentar lagi kita sampai kok."Tak Selene duga perkataan "kita" yang pria itu ucapkan satu jam yang lalu benar-benar bermakna KITA.Dalam artian Selene dan Leonard.Bersama."Apa kau gila?!"Kalimat itu membuat Leonard menghembuskan nafas geli. Mereka telah bertemu lima kali dan dua diantar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status