My Blissful Marriage
Pernikahan politik adalah hal biasa di keluarga elit. Namun Selene Cromwell tak pernah menyangka, ia yang akan dipilih sebagai tunangan Leonard Romano, CEO Romano Engineering Group. Bukan karena perusahaannya bangkrut. Bukan pula karena paksaan.
Melainkan karena Leonard justru memilih Selene dibandingkan adiknya, Rosette, yang hidup di dunia sosialita.
Awalnya, Selene kira Leonard akan sama seperti laki-laki berkuasa pada umumnya, yang hanya menginginkan 'istri pajangan', tetapi...
“Selene, kau tunanganku. Aku berhak mengkhawatirkanmu.”
“Mari kita bicara dengan kepala dingin. Aku tidak ingin tidur saat kau masih marah padaku.”
“…Moonlight, jangan tinggalkan aku.”
Selene tidak mengerti kapan hubungan ini berubah dari kontrak menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Namun satu hal pasti. Ia tidak akan menolak perhatian suami tampan ini!
Read
Chapter: Chapter 2711.37Selene tidak bisa menyangka dirinya akan terlelap 4 jam setelah sarapan pagi tadi. Walaupun ia memang bergadang semalaman, ia pikir ia akan tertidur setidaknya dua atau tiga jam saja.Untung saja gadis itu libur hari ini.Selene lalu memutuskan untuk mandi karena merasa tubuhnya lengket. Walau ruangan itu full AC, tetap saja gadis itu merasa ia masih perlu untuk mandi setidaknya sehari sekali walau sedang libur.Setelah mandi dan mengenakan pakaian santai. Selene mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum."Udah siang juga, enak masak atau beli ya…" Gumamnya.Selene akhirnya memutuskan untuk membuka ponselnya awalnya ia hanya ingin membuka app untuk bisa memesan makanan, tetapi begitu menyalakan ponselnya, benda pipih berbentuk kotak itu langsung menunjukkan banyak notifikasi.Bukan cuma satu atau dua notifikasi ponsel baru dinyalakan.Tapi ratusan.Instagram: 847 notificationsTwitter: 589 notificationsWhatsApp: 125 messagesMis
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: Chapter 26Selene menatap langit-langit kamarnya.Jam digital di meja samping menunjukkan pukul 04:47."Bisa gila aku."Gadis itu sudah mencoba berbagai posisi tidur. Miring ke kanan, miring ke kiri, tengkurap, meringkuk dan juga terlentang. Tapi tidak ada yang berhasil membuatnya tidur.Benar-benar menyebalkan."Argh!" Selene akhirnya menyerah dan duduk di tempat tidur, rambutnya berantakan seperti sarang burung.Selene melirik jam lagi.05:15"Sudah jam segini dan aku masih belum tidur dari semalam…"Matanya sebenarnya terasa berat, tapi ia tetap tak bisa tertidur. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Leonard tanpa baju terus muncul di benaknya.Untung saja ia hanya memiliki satu mata kuliah hari ini, dan itu di siang hari.Gadis itu mencoba untuk memejamkan mata kembali tetapi…Kruyuukkkk….Perutnya berbunyi, sepertinya sandwich yang semalam ia makan hanya mengganjal perutnya sebentar.Selene sekali lagi melirik jam digital di jam samping,05:30."…Dia sudah bangun belum ya?" Selene bertanya
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: Chapter 25Nafas Leonard terasa berat, mata biru miliknya membulat melihat rumah tempatnya dibesarkan sekarang menjadi begitu hancur. Sofa kain berwarna putih gading yang selalu menjadi tempatnya bermain dan bercerita bersama kedua orang tuanya kini memiliki bercak-bercak merah yang begitu pekat.Ruangan yang dulu begitu rapi kini hancur. Vas bunga kristal kesayangan milik ibunya pecah berserakan di lantai, memantulkan cahaya lampu yang berkedip-kedip. Lukisan keluarga jatuh dari dinding, bingkainya retak. Meja kopi terbalik. Sofa robekIni adalah neraka."Leo! Bawa bundamu dan Arggghhh—"Nafas remaja berumur delapan belas tahun itu tercekat. Namun ia menuruti ucapan dari ayahnya, panutan hidupnya itu dan pergi mencari sang ibu."Bunda!""Leo! Lari jangan kesini!"Teriak sang ibu dari ujung lorong."Tapi—""LEO LARI!"BANG—"!!!"Pria dengan perawakan tinggi itu tersentak duduk di atas kasurnya. Nafasnya memburu, tangannya menggenggam seprai kasurnya erat."…Mimpi."Rambut pirangnya sedikit bas
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: Chapter 24Kelas terakhir Selene hari ini dibatalkan karena dosennya mendadak sakit. Gadis itu menatap pengumuman di group chat dengan perasaan lega sekaligus bingung.Jam menunjukkan pukul dua siang . Masih terlalu siang untuk pulang, tapi Selene juga tidak punya rencana lain. Hari ini ia tak ada jadwal lain selain kelas yang seharusnya berlangsung sampai jam empat nanti."Sel, kita ke cafe yuk?" Ajak Fiona yang seharusnya berada di kelas yang sama dengannya di dalam mata kuliah yang baru saja dibatalkan itu."Skip dulu Fi, aku mau pulang dulu."Fiona menyeringai."Pulang kemana? Ke 'rumah'?" gadis itu memberi penekanan pada kata rumah sambil mengedip-ngedipkan mata."Fi..."Selene sudah memberitahukan kalau ia semalam baru saja tiba-tiba pindah rumah, dan Fiona seperti biasa bereaksi heboh seperti biasa. Untung saja Selene memberitahukannya di tempat yang sepi dan bukan di kantin kampus atau di kafe Arcadia seperti biasanya."Oke, oke. Pulang yang aman ya~"Selene hanya menggelengkan kepala se
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: Chapter 23Selene tersentak bangun, tubuhnya terduduk kaget sambil melihat ke sekelilingnya.'Ini bukan kamarku.'Namun tak lama kemudian, gadis itu mulai menghela nafas dan merilekskan tubuhnya."Oh iya juga… Semalam kan aku diculik…"Apakah penculikan kata yang tepat?Jika benar diculik, maka tidak ada yang akan tahu dimana dirinya berada. tapi ini…Mungkin lebih tepatnya dipindahkan tanpa persetujuan?Selene menatap ruangan yang masih terasa asing ini. Interior yang benar-benar berbeda dari kamar tempatnya tumbuh besar. Kamar ini didominasi warna abu-abu dan putih. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menerangi ruangan. Berbeda dengan kamar miliknya yang didominasi warna soft dan feminim.Selene menunduk dan melihat piyama yang digunakannya, sebuah piyama satin berlengan panjang berwarna hitam. Sepertinya piyama yang sangat lembut itu memang masih baru karena Selene masih dapat mencium bau baju baru saat memakainya semalam.Selene mengambil ponselnya untuk melihat jam.
Last Updated: 2026-01-28
Chapter: Chapter 22"Bertahanlah sebentar lagi. Kita bisa langsung pulang setelah pengumuman tanggal pernikahan."Itulah yang dikatakan Leonard satu jam yang lalu.Selene menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan kening berkerut. Walau Selene tidak hafal setiap jalan yang ada di kota ini, setidaknya ia tahu jelas jalan menuju rumahnya.Atau lebih tepatnya jalan menuju ke kediaman Cromwell yang berada di area kompleks elit."Kita mau ke mana?" Tanya Selene setelah memberanikan diri."Kemana lagi? Pulang."Selene langsung menoleh ke arah Leonard yang berada di sebelahnya."Ini bukan jalan ke rumahku.""Of course, karena kita ke rumahku." Jawab Leonard sedikit terkekeh."Apa?""Ke rumahku," ulang Leonard. "Tenang, sebentar lagi kita sampai kok."Tak Selene duga perkataan "kita" yang pria itu ucapkan satu jam yang lalu benar-benar bermakna KITA.Dalam artian Selene dan Leonard.Bersama."Apa kau gila?!"Kalimat itu membuat Leonard menghembuskan nafas geli. Mereka telah bertemu lima kali dan dua diantar
Last Updated: 2026-01-26