Share

Chapter 5

last update Last Updated: 2025-12-23 18:14:01

“Sel.”

“Selene.”

“SELENE!”

Panggilan terakhir itu membuat Selene sedikit tersentak.

“Hah! 

Selene akhirnya menatap Fiona yang sedari tadi sudah memanggilnya beberapa kali semenjak dosen sudah keluar kelas. Saat ini kelas yang tadinya dipenuhi mahasiswa cuma tertinggal Selene, Fiona dan beberapa anak yang terlihat ingin melanjutkan tugas kelompok.

“Are you okay? Kamu dari tadi kelihatan banyak pikiran”

Selene menghela nafas sejenak. 

Memang benar, sejak makan malam semalam pikiran Selene langsung kemana-mana. Memang benar makan malam itu awalnya ditujukan untuk Leonard Romano agar bisa menemukan calon istrinya. Tapi tetap saja, Selene tidak menyangka di antara dirinya dan Rosetta, dirinya lah yang akan dipilih. 

Selene menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikiran lalu menatap Fiona yang sedari tadi hanya terdiam menatap Selene dengan tatapan aneh.

“Sel, what’s wrong?”

‘What’s wrong? A lot!’

Itu yang dipikirkan Selene tapi sekali lagi gadis itu hanya menghela nafas. 

“Ayo pergi dulu…” 

Selene melirik beberapa orang yang masih berada di ruang kelas itu. Karena berita ini privasi Selene tidak mau ada seseorang selain orang terdekatnya yang mendengar.

Mendengar itu Fiona menghela nafas.

“Baiklah, kita juga masih ada waktu sebelum lanjut ke kelas struktur beton, eh? Kalau kelas Inter masih di jam yang sama kan?”

“Masih kok”

Selene bersiap dan memasukkan tab-nya ke dalam totebag cream kesayangannya, lalu berdiri.

“Ayo ke cafe Arcadia, aku belum nyobain cheesecake barunya mereka.”

Mendengar itu Fiona mengernyit.

“Bukannya udah pernah? Waktu itu kan kamu ngirim gambarnya ke chat?”

Selene terdiam sejenak. 

‘Ah… aku belum cerita tentang itu juga ya?’

Waktu yang dimaksud Selene adalah yang waktu ia tiba-tiba diputusin Matteo saat mau mengumumkan keberhasilannya saat diterima kompetisi karya tulis ilmiahnya.

Kepala Selene mendadak berdenyut.

“Itu, nanti aku ceritain sekalian deh…”

Fiona menatap Selene sebentar lalu mengangguk, tampak seperti mengerti apa yang akan diceritakan.

“Kalau gitu ayo, sebelum masuk.”

Keduanya pun lanjut berjalan ke arah parkiran.

“Kamu kesini naik mobil?”

“Iya.”

“Naik motorku aja yuk! biar bisa nyalip, kan nanti kesini lagi.”

Selene yang mendengar itu mengiyakan.

“Boleh.”

Motor Fiona meluncur keluar parkiran kampus, menyelip di antara mobil dengan lincah. Selene duduk di belakang, satu tangan berpegangan di jaket Fiona, satu lagi sibuk menahan pikirannya sendiri supaya tidak lompat ke mana-mana.

Angin siang menerpa wajahnya, tapi kepala Selene dipenuhi kejadian di atas kejadian lainnya yang menimpanya minggu ini.

Cafe Arcadia muncul di ujung jalan, sebuah bangunan dua lantai dengan logo emas kecil yang terasa homey, cafe tersebut bernuansa cozy-green, dengan banyak tanaman dan cahaya alami yang membuatnya terasa sangat nyaman.

Begitu mereka masuk, pendingin udara langsung menyapu kulit. Musik lembut mengalun, cukup pelan untuk tidak mengganggu percakapan. Siang hari membuat kafe itu tidak terlalu penuh. Beberapa mahasiswa duduk dengan laptop terbuka, memang tempat ini merupakan tempat hidden gem bagi para mahasiswa yang ingin bersantai dengan tenang. Tempatnya sedikit tersembunyi namun tenang, minuman dan dessert yang disajikan pun enak. 

Saat memasuki cafe tersebut terlihat satu meja kosong di sudut dekat jendela membuat Fiona langsung menuju meja itu.

Mereka duduk. Fiona menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Selene dengan ekspresi menunggu. Selene melepas totebag-nya, meletakkannya di kursi sebelah. Keduanya memesan minuman dan dessert, lemon cheesecake dan caramel latte untuk selene dan matcha pudding dan juga green tea latte untuk Fiona.

Selene menatap pesanan temannya itu.

“Kamu maniak matcha.”

“Enak tahu! By the way…”

Fiona memulai dan menumpukan sikunya keatas meja, kedua tangannya bertaut dibawah dagu dan menatap Selene lurus.

“What is going on with you?”

Selene menghela nafas lalu meminum caramel lattenya sedikit sebelum berbicara.

“Aku putus dengan Matteo.”

“AKHIRNYAAA!!!”

Seruan Fiona itu membuat Selene mengerjapkan matanya, wajah gadis itu tampak bingung. Belum selesai dengan kebingungannya Fiona sudah menangkup tangan gadis berambut ash brown itu.

“Sel, asal kamu tahu, aku sama Hana udah nungguin banget kamu putus sama makhluk itu!”

‘Makhluk itu?’

“Kamu sadar ga sih Sel, kalau kamu itu dimanfaatin doang sama cowo beban itu?”

“Hah?”

“Ih! Asal kamu tahu Alex kemaren cerita dia nyesel udah ngenalin parasit berkaki dua itu.”

‘Ini perasaanku aja, apa hinaannya makin kreatif ya?’

“Kamu ingat ga? Yang waktu itu mobilmu mogok? Tapi si babi itu malah bilang ga bisa bantu karena lagi nganterin si Rosette Rosette itu pulang?”

Tentu saja Selene ingat. Hari itu Selene pulang malam sehabis kerja kelompok, untung saja Fiona masih dekat dan belum jalan jauh dari kampus. Akhirnya Fiona memanggil beberapa orang dan membantunya menyalakan kembali mobilnya yang ternyata aki mobilnya kena karena gadis itu lupa mematikan headlight mobilnya. 

“Sel, kamu tuh terlalu baik…” 

Selene hanya bisa diam mendengar ucapan Fiona.

“Terus kamu seharian ini begitu karena si Mattai itu?”

“Matteo Fi…”

“Kebagusan namanya, Mattai aja lebih cocok.”

Selene menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. 

“Ya… itu salah satunya sih, tapi ada lagi.”

“Kenapa? Dia ketahuan selingkuh sama Rosette?”

Ucapan itu membuat Selene kaget.

“Kamu tahu?”

Fiona terlihat memutar bola matanya.

“Itu sudah rahasia umum Sel! Astaga! Kamu jarang ngeliat gosip kampus sih…”

“Aku baru tahu kemarin,” Jawabnya pelan. “Pas siang kita dapat email keterima lomba, waktu mau ngajak dia ngedate disini aku tiba-tiba diputusin.”

Fiona mendengus. 

“Let me guess? Dia lagi bareng Rosette?”

Selene mengangguk.

“Yah… baguslah kalian putus, jadi kamu ga disedot makhluk itu lagi.”

Selene mengangkat alisnya. 

“Disedot? Apanya?”

“Energi, duit, waktu, perhatian.” 

Fiona menghitung di jarinya. 

“Paket lengkap.”

Selene tertawa kecil, kali ini dengan alasan yang lebih pahit. 

“Iya juga.”

Fiona menyandarkan punggungnya, lalu menatap Selene lagi, lebih tajam. “Tapi tadi kamu bilang ‘salah satunya’. Artinya ada lagi yang ada dipikiranmu?”

Selene menghela napas panjang. Kali ini lebih berat. 

“Ada.”

“Oke… kenapa Sel?”

Selene menarik nafas.

“Aku mau dijodohin.”

Kalimat itu membuat Fiona yang sedang meminum matcha lattenya tersedak.

“HAH?!”

Selene hanya mengangguk.

“Bohong.”

“Ngapain aku bohong masalah gini?”

Oh Shit! Ini seperti yang di drama-drama itu bukan? Yang perjodohan antar pewaris.”

Selene mengernyitkan dahinya, bingung antara ingin tersinggung atau tidak karena yang diucapkan Fiona memang benar.

“Ya begitulah…”

Mata Fiona tampak berbinar-binar.

“Sudah kuduga! Kamu tuh cocoknya memang sama yang sama-sama kaya Sel!”

Selene semakin menyipitkan matanya.

“But he’s older than me!”

“Bagus dong! Dewasa, tidak seperti Mattai!”

“10 tahun Fi…!”

“Daddy dong!”

Selene menepuk jidatnya.

“Fi!”

“Apa? Bener kan? Ganteng gak?”

“Fiona!”

Selene tidak habis pikir dengan pikiran temannya yang satu ini.

“Itu penting tahu Sel!”

“Ga lucu!”

“Lucu tahu!” Bantah Fiona. “Setelah ketemu sama Matteo langsung dijodohin sama pewaris kaya raya.” Lanjutnya.

Selene hanya diam dan memakan cheesecakenya yang sedari tadi belum dimakan.

“Salah aku cerita ke kamu.” Ucap Selene sedikit memanyunkan bibirnya.

Fiona akhirnya tersenyum.

“Oke… Serious talk, siapa calonmu?”

“...Leonard Romano.”

Fiona tampak memiringkan kepalanya.

“Romano… Romano… Seperti pernah dengar tapi dimana ya?”

“Dia CEO Romano Engineering Group, memang bukan ranah kita sih tapi-”

“Ah!”

Fiona tampak menjentikkan jarinya sebelum Selene sempat selesai menjelaskan.

“Itu perusahaan yang terkenal banget di antara Fakultas Teknik Kelautan kan?”

“Hah?”

“Iya! Aku kenal sama anak dari teknik perkapalan, katanya itu salah satu perusahaan top yang favorit banget!”

“...”

“Sering kerja sama dengan kampus kita juga katanya!”

“Fi… kamu kayaknya kenal sama semua orang ya?”

“Kebetulan, kemarin aku ngobrol sama orang di fotokopian depan kampus sambil nungguin.”

Selene kembali geleng-geleng kepala, memang di antara teman-teman kampusnya Fiona lah anak paling ekstrovert yang Selene kenal. 

“Ya, intinya begitu.”

“Pertanyaanku belum dijawab Sel,”

“Hah?”

“Ganteng gak?”

Ingin sekali rasanya Selene menjitak kepala temannya ini, tapi gadis itu hanya bisa menghela nafas. 

Selene langsung mengingat rupa pria itu, rambut blondenya yang tertata rapi, mata birunya yang tajam, garis rahang yang tegas. Walau umurnya sudah memasuki umur tiga puluhan, pria itu tak tampak se tua yang Selene pikirkan malah…

“Ganteng…”

Pipi Selene memanas, karena ia tiba-tiba mengingat kecupan di punggung tangannya. Gadis itu menatap punggung tangannya sendiri.

“Gentleman juga…”

“Oh…”

Selene tersentak lalu mendongakkan kepalanya menatap Fiona yang berada di seberangnya. Dan benar saja sebuah senyuman yang menyebalkan muncul disitu.

“Fi.”

“Emangnya pas ketemu, kalian ngapain aja?” Tanya Fiona dengan nada keponya.

“Gak ngapa-ngapain, cuma dinner terus nanya-nanya kesibukan, habis itu…”

“Habis itu?”

Selene meletakan tangannya di atas pangkuannya dan melihat ke arah lain selain ke arah Fiona.

“Habis itu pulang, nothing special.”

“Nothing special?” Fiona mengulang, jelas nggak percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu.

Selene mengangguk cepat. 

“Iya. Nothing Special.”

Fiona menyipitkan mata, jelas menyadari kebohongan teman introvert yang telah ia adopsi itu.

“Cara kamu ngomong ‘nothing special’ itu mencurigakan.”

“Perasaanmu doang kali.”

Fiona ingin membantah ucapan Selene lagi namun mata gadis berambut pendek tersebut tak sengaja melirik ke arah pintu depan cafe, raut wajahnya yang sedari tadi terlihat santai mendadak berubah, ekspresi yang tadinya menunjukkan wajah ingin meledek tiba-tiba mengeras. Bibirnya langsung mengkerut, matanya menjadi tajam dan tangannya yang sedari tadi dengan santai memegang cup matcha latte atau menyendokkan puding langsung mengepal.

Selene yang melihat perubahan raut wajah Fiona mendadak bingung dan mulai membuka mulutnya, hendak bertanya namun satu suara membuyarkan pikirannya.

“Selene.”

Oh no.

Selene mengenal suara ini, suara yang sudah hampir selama setahun lebih memenuhi pikirannya. Selene menutup matanya dan menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Matanya terbuka saat tangan Fiona menggenggam tangannya dari bawah meja. Mata tajam gadis itu tampak masih memelototi pria yang saat ini berdiri di sebelahnya.

Selene Akhirnya menoleh menatap pria berambut hitam yang memanggil namanya tadi. Pria yang saat ini seharusnya sudah tak memiliki hubungan apa-apa dengannya lagi.

“...Matteo.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blissful Marriage   Chapter 27

    11.37Selene tidak bisa menyangka dirinya akan terlelap 4 jam setelah sarapan pagi tadi. Walaupun ia memang bergadang semalaman, ia pikir ia akan tertidur setidaknya dua atau tiga jam saja.Untung saja gadis itu libur hari ini.Selene lalu memutuskan untuk mandi karena merasa tubuhnya lengket. Walau ruangan itu full AC, tetap saja gadis itu merasa ia masih perlu untuk mandi setidaknya sehari sekali walau sedang libur.Setelah mandi dan mengenakan pakaian santai. Selene mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum."Udah siang juga, enak masak atau beli ya…" Gumamnya.Selene akhirnya memutuskan untuk membuka ponselnya awalnya ia hanya ingin membuka app untuk bisa memesan makanan, tetapi begitu menyalakan ponselnya, benda pipih berbentuk kotak itu langsung menunjukkan banyak notifikasi.Bukan cuma satu atau dua notifikasi ponsel baru dinyalakan.Tapi ratusan.Instagram: 847 notificationsTwitter: 589 notificationsWhatsApp: 125 messagesMis

  • My Blissful Marriage   Chapter 26

    Selene menatap langit-langit kamarnya.Jam digital di meja samping menunjukkan pukul 04:47."Bisa gila aku."Gadis itu sudah mencoba berbagai posisi tidur. Miring ke kanan, miring ke kiri, tengkurap, meringkuk dan juga terlentang. Tapi tidak ada yang berhasil membuatnya tidur.Benar-benar menyebalkan."Argh!" Selene akhirnya menyerah dan duduk di tempat tidur, rambutnya berantakan seperti sarang burung.Selene melirik jam lagi.05:15"Sudah jam segini dan aku masih belum tidur dari semalam…"Matanya sebenarnya terasa berat, tapi ia tetap tak bisa tertidur. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Leonard tanpa baju terus muncul di benaknya.Untung saja ia hanya memiliki satu mata kuliah hari ini, dan itu di siang hari.Gadis itu mencoba untuk memejamkan mata kembali tetapi…Kruyuukkkk….Perutnya berbunyi, sepertinya sandwich yang semalam ia makan hanya mengganjal perutnya sebentar.Selene sekali lagi melirik jam digital di jam samping,05:30."…Dia sudah bangun belum ya?" Selene bertanya

  • My Blissful Marriage   Chapter 25

    Nafas Leonard terasa berat, mata biru miliknya membulat melihat rumah tempatnya dibesarkan sekarang menjadi begitu hancur. Sofa kain berwarna putih gading yang selalu menjadi tempatnya bermain dan bercerita bersama kedua orang tuanya kini memiliki bercak-bercak merah yang begitu pekat.Ruangan yang dulu begitu rapi kini hancur. Vas bunga kristal kesayangan milik ibunya pecah berserakan di lantai, memantulkan cahaya lampu yang berkedip-kedip. Lukisan keluarga jatuh dari dinding, bingkainya retak. Meja kopi terbalik. Sofa robekIni adalah neraka."Leo! Bawa bundamu dan Arggghhh—"Nafas remaja berumur delapan belas tahun itu tercekat. Namun ia menuruti ucapan dari ayahnya, panutan hidupnya itu dan pergi mencari sang ibu."Bunda!""Leo! Lari jangan kesini!"Teriak sang ibu dari ujung lorong."Tapi—""LEO LARI!"BANG—"!!!"Pria dengan perawakan tinggi itu tersentak duduk di atas kasurnya. Nafasnya memburu, tangannya menggenggam seprai kasurnya erat."…Mimpi."Rambut pirangnya sedikit bas

  • My Blissful Marriage   Chapter 24

    Kelas terakhir Selene hari ini dibatalkan karena dosennya mendadak sakit. Gadis itu menatap pengumuman di group chat dengan perasaan lega sekaligus bingung.Jam menunjukkan pukul dua siang . Masih terlalu siang untuk pulang, tapi Selene juga tidak punya rencana lain. Hari ini ia tak ada jadwal lain selain kelas yang seharusnya berlangsung sampai jam empat nanti."Sel, kita ke cafe yuk?" Ajak Fiona yang seharusnya berada di kelas yang sama dengannya di dalam mata kuliah yang baru saja dibatalkan itu."Skip dulu Fi, aku mau pulang dulu."Fiona menyeringai."Pulang kemana? Ke 'rumah'?" gadis itu memberi penekanan pada kata rumah sambil mengedip-ngedipkan mata."Fi..."Selene sudah memberitahukan kalau ia semalam baru saja tiba-tiba pindah rumah, dan Fiona seperti biasa bereaksi heboh seperti biasa. Untung saja Selene memberitahukannya di tempat yang sepi dan bukan di kantin kampus atau di kafe Arcadia seperti biasanya."Oke, oke. Pulang yang aman ya~"Selene hanya menggelengkan kepala se

  • My Blissful Marriage   Chapter 23

    Selene tersentak bangun, tubuhnya terduduk kaget sambil melihat ke sekelilingnya.'Ini bukan kamarku.'Namun tak lama kemudian, gadis itu mulai menghela nafas dan merilekskan tubuhnya."Oh iya juga… Semalam kan aku diculik…"Apakah penculikan kata yang tepat?Jika benar diculik, maka tidak ada yang akan tahu dimana dirinya berada. tapi ini…Mungkin lebih tepatnya dipindahkan tanpa persetujuan?Selene menatap ruangan yang masih terasa asing ini. Interior yang benar-benar berbeda dari kamar tempatnya tumbuh besar. Kamar ini didominasi warna abu-abu dan putih. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menerangi ruangan. Berbeda dengan kamar miliknya yang didominasi warna soft dan feminim.Selene menunduk dan melihat piyama yang digunakannya, sebuah piyama satin berlengan panjang berwarna hitam. Sepertinya piyama yang sangat lembut itu memang masih baru karena Selene masih dapat mencium bau baju baru saat memakainya semalam.Selene mengambil ponselnya untuk melihat jam.

  • My Blissful Marriage   Chapter 22

    "Bertahanlah sebentar lagi. Kita bisa langsung pulang setelah pengumuman tanggal pernikahan."Itulah yang dikatakan Leonard satu jam yang lalu.Selene menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan kening berkerut. Walau Selene tidak hafal setiap jalan yang ada di kota ini, setidaknya ia tahu jelas jalan menuju rumahnya.Atau lebih tepatnya jalan menuju ke kediaman Cromwell yang berada di area kompleks elit."Kita mau ke mana?" Tanya Selene setelah memberanikan diri."Kemana lagi? Pulang."Selene langsung menoleh ke arah Leonard yang berada di sebelahnya."Ini bukan jalan ke rumahku.""Of course, karena kita ke rumahku." Jawab Leonard sedikit terkekeh."Apa?""Ke rumahku," ulang Leonard. "Tenang, sebentar lagi kita sampai kok."Tak Selene duga perkataan "kita" yang pria itu ucapkan satu jam yang lalu benar-benar bermakna KITA.Dalam artian Selene dan Leonard.Bersama."Apa kau gila?!"Kalimat itu membuat Leonard menghembuskan nafas geli. Mereka telah bertemu lima kali dan dua diantar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status